Panduan Penulisan Propaganda Mei Bulan Perlawanan

Menulis untuk website PRP dalam konteks “Mei Bulan Perlawanan, Mei Dirgahayu PRP.”

Kesempatan/undangan untuk menulis artikel singkat 750-1500 kata (sekitar 2- 3 halaman word dengan 1 spasi) terkait tema Mei Bulan Perlawanan, Mei Dirgahayu PRP. Seluruh anggota dan calon anggota diberi kesempatan untuk mengirimkan tulisan, dan akan diberikan imbalan untuk tulisan yang diterbitkan di website PRP.

Anggota dan calon anggota yang tidak berkesempatan menulis didorong untuk mengirimkan video atau audio singkat (yang dapat direkam dengan perangkat telepon genggam) berisikan pendapat mengenai Mei Bulan Perlawanan dan relevansinya buat perjuangan rakyat pekerja saat ini. Tulisan, video atau audio opini singkat bisa dikirimkan ke email Mohamad Zaki Hussein, staf Departemen Propaganda Biro Politik PRP: mohzakih@yahoo.com.

Apa itu Mei Bulan Perlawanan? Sudah sekitar satu dekade kita mengkampanyekan Mei Bulan Perlawanan sebagai agenda aksi dan perayaan yang penting buat rakyat pekerja. Seperti kita ketahui setiap bulan Mei terdapat banyak sekali hari yang penting (baik secara simbolik mau pun secara hakekat/substantial perlu terus diperjuangkan) bagi politik kelas pekerja Indonesia. Berikut daftar hari-hari dalam daftar Mei Bulan Perlawanan:

Tanggal 1 Mei, hari buruh internasional yang baru dapat dirayakan kembali lewat perjuangan militan aksi massa sejak puluhan tahun diberangus rejim otoriter Orde Baru dan sempat turut diharamkan oleh rejim-rejim pengkhianat Reformasi. Tahun ini Mayday hendak diselewengkan dari agenda perjuangan rakyat pekerja terus menerus melawan kapitalisme menjadi agenda pembodohan dan sogokan kepada kaum buruh untuk menjadikan Mayday sebagai hari libur dari perlawanan.

Tanggal 2 Mei, hari pendidikan nasional yang adalah hari yang penting karena pendidikan murah, demokratis, dan membebaskan adalah agenda penting bagi kelas pekerja agar mampu berkuasa dan melawan penindasan. Hari pendidikan adalah perayaan yang menggunakan hari lahir Ki Hajar Dewantara salah seorang pelopor pendidikan melawan kapitalisme kolonial. Di era otoriter Orba hingga neoliberal saat ini pendidikan justru dikembangkan untuk pembodohan dan penyingkiran kelas pekerja. Baik melalui kontrol pemerintah terhadap pengetahuan dari jaman Orba, mau pun dengan komersalisasi pendidikan yang membuat rakyat kesulitan membayar pendidikan yang mahal. Ki Hajar Dewantara adalah seorang penggerak pendidikan pembebasan dengan pendirian Taman Siswa yang memberikan akses sekolah bagi rakyat jelata, dan juga seorang penggubah lagu Internationale yang menjadi lagu “kebangsaan” kelas pekerja di seluruh dunia hingga saat ini.

Tanggal 8 Mei, hari tragedi dibunuhnya pejuang buruh Marsinah pada tahun 1993 oleh aparat militer Orde Baru yang berkoalisi dengan pengusaha. Koalisi ini bertindak represif untuk membungkam demo-demo menuntut kenaikan upah dan hak berserikat yang diikuti almarhumah dan sejawatnya di Porong, Jawa Timur. Kematian Marsinah hingga saat ini belum mendapat keadilan yang tuntas karena rejim Orba maupun rejim2x pengkhianat Reformasi membiarkan para pelaku bebas dari hukuman. Sekalipun Presiden Gus Dur dan Megawati pernah meminta kasus Marsinah diungkap total, nyatanya hingga hari ini negara tidak pernah meminta maaf atau mengajukan solusi agar kekerasan terhadap pejuang buruh dihentikan. Merayakan tragedi pembunuhan Marsinah, adalah bagian perjuangan melawan kekerasan terhadap perjuangan buruh, yang masih terwarisi sampai sekarang dalam berbagai kasus dan bentuk.

Tanggal 12 Mei, hari tragedi pembunuhan mahasiswa aktivis perjuangan reformasi di depan kampus Trisakti. Hari yang wajib dirayakan bukan hanya oleh almamater Universitas Trisakti, tetapi seluruh rakyat pekerja Indonesia. Karena pengorbanan nyawa para martir ini, rejim otoriter Orde Baru semakin kehilangan keabsahannya di mata rakyat. Merayakan hari ini juga penting untuk terus menjaga kesetiaan melawan militerisme dan pelanggaran HAM yang terus mengintai hingga saat ini.

Tanggal 13-15 Mei, hari-hari yang menentukan bagi perjuangan rakyat pekerja melawan fitnah dan upaya pembungkaman karena rekayasa rejim Orba lewat “Kerusuhan Mei 1998”. Berbagai kerusuhan diprovokasi oleh rejim orba dan antek-anteknya di berbagai kota Medan, Jakarta, Solo, dan lainnya dengan tujuan membuat gerakan rakyat untuk reformasi tidak semakin membesar dan kuat. Puncaknya pada tanggal 13-15 Mei meletup lah kerusuhan di Jakarta, dimana ratusan rakyat menjadi korban (korban jiwa, korban cacat permanen, atau hilang hingga saat ini) dan terus menerus dicap/diberi stigma sebagai “penjarah/perusuh”. Praktek rekayasa kerusuhan dan sentiment SARA yang terus coba dikobarkan untuk menodai perjuangan aksi massa rakyat hingga saat ini. Termasuk yang baru saja kita saksikan dipertontonkan sejak pemilu 2014 hingga Pilkada DKI 2017. Momen yang harus diperingati untuk menjaga garis perjuangan menuju medan pertarungan politik ke depan. PRP pun mulai didirikan melalui kongres pada tanggal 13-15 Mei 2004, di Solo yang memulai lembaran penyatuan berbagai kelompok gerakan rakyat menjadi perhimpunan rakyat pekerja.

20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional. Hari yang memperingati pertemuan kelompok-kelompok yang bersepakat untuk persatuan perjuangan kebangsaan di masa penjajahan nasionalisme. Sekali pun dalam catatan sejarah pertemuan pendirian organisasi Boedi Otomo ini terbukti bukan kali pertama seruan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajahan kolonialisme akan tetapi hari ini berguna untuk dirayakan dalam semangat membangun kembali kesadaran kebangsaan rakyat pekerja Indonesia yang memiliki visi yang progresif: berbangsa, bahasa, dan bertanah air tanpa penindasan.

21 Mei, Hari Runtuhnya Orde Baru. Tanggal ini dikenang dalam dimana Diktator Suharto yang berkuasa sekitar 32 tahun sejak 1965/1966. Kekuasaan otoriter yang dibangun di atas serangkaian tragedi bagi rakyat pekerja Indonesia: kudeta terhadap pemerintah Sukarno, pembunuhan serta pemenjaraan massal terhadap rakyat pekerja yang dianggap beraliran kiri, pemberangusan demokrasi dan kebebasan ideology-politik rakyat pekerja. Hari ini menjadi pembuktian sejarah bahwa perjuangan politik untuk mengganti rejim dan system mungkin dilakukan. Tentu saja tantangan paska lengsernya Suharto hingga hari ini terus menjadi pengingat bahwa tujuan perubahan rejim dan system yang sungguh-sungguh menjadi tujuan rakyat pekerja harus terus diperjuangkan.