Perjuangan
Kelas adalah Perjuangan untuk Kekuasaan
Sebuah perjuangan kelas bertujuan mengangkat kelas tertentu ke tampuk
kekuasaan. Dalam arti, bahwa kekuasaan negara secara umum akan mencerminkan
kepentingan dari kelas tertentu. Perjuangan kelas terus terjadi sekalipun kita
tidak menyadarinya karena kelas pemilik modal sebenarnya terus berusaha mempertahankan
keadaan di mana negara berpihak pada pemilik modal. Seperti yang kita tahu,
semua lembaga kekuasaan kini dikuasai oleh para pemilik modal. Jika kita lihat
susunan anggota parlemen, para menteri, bahkan juga para calon presiden, kita
akan mendapati bahwa sebagian besar (bahkan hampir 100%) adalah pengusaha. Jika
para pengusaha bertemu untuk membicarakan penyusunan UU, sudah hampir dapat
dipastikan bahwa isi UU tersebut tidak akan berpihak pada rakyat pekerja. Jika
pemerintah dikuasai oleh pengusaha, kita tidak dapat menyalahkan mereka jika
keputusan yang diambilnya juga menguntungkan pengusaha. Sudah menjadi kewajiban
mereka untuk membuat keputusan semacam itu.
Kelas pengusaha ini berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara.
Terutama sekali mereka berusaha membuat rakyat pekerja tetap bodoh. Mereka
membuat sebuah sistem pendidikan yang mahal sehingga anak-anak rakyat pekerja
tidak sanggup untuk menanggung biaya pendidikan. Oleh karena itu sebagian besar
anak rakyat pekerja kemudian juga terpaksa menjadi pekerja juga. Mereka juga
mengisi pendidikan itu dengan dasar berpikir yang tidak ilmiah dan menjejali
anak dengan pola pikir kapitalis. Di tengah masyarakat, kita terus dicecar
dengan pola hidup boros melalui iklan. Mereka terus memelihara budaya
feudalistik di mana para pemimpin diperbolehkan memiliki kuasa mutlak atas
kawulanya. Tapi, di atas segalanya, mereka mengandalkan perangkat hukum dan
perundang-undangan untuk mencegah munculnya perlawanan terorganisir terhadap
sistem kekuasaan mereka.
Di Indonesia, kita kadang dibingungkan oleh kenyataan bahwa seringkali
peraturan perundangan yang disusun pemerintah merugikan juga para pengusaha.
Namun, jika kita telisik lebih dalam, nampaklah bahwa hal ini sesungguhnya
hanya mencerminkan persaingan antar kaum pengusaha itu sendiri, di mana faksi
(golongan) yang paling dekat dengan kekuassaanlah yang akan diuntungkan oleh
keputusan ekonomi-politik pemerintah. Jangan pula dilupakan tekanan modal
internasional yang seringkali lebih kuat daripada modal nasional dalam hal
pengambilan keputusan pemerintah. Bahkan juga modal nasional itu seringkali
bersikap tunduk menjadi pelayan dari kepentingan modal internasional.
Dengan menandaskan perjuangan kelas, kita berusaha mengangkat perjuangan kelas
agar rakyat pekerja menyadari bahwa merekalah yang seharusnya mengisi
parlemen-parlemen, merekalah yang seharusnya mengisi jabatan-jabatan penting
negara (bahkan juga presiden dan menteri-menteri), merekalah yang harus
mengambil keputusan dalam hal-hal yang menyangkut hukum dan peraturan. Kemudian
kita harus melatih rakyat pekerja itu supaya sanggup melakukan hal-hal
tersebut. Dan, akhirnya, kita harus pula membajakan rakyat pekerja itu agar
sanggup mengambil-alih kekuasaan tersebut dengan cara apapun yang paling
dimungkinkan.
Hanya jika rakyat pekerja duduk di tampuk kekuasaan negara, segala keputusan
yang diambil oleh negara akan memihak pada nasib rakyat pekerja.
Bentuk kekuasaan kelas pekerja harus melalui Dewan Rakyat
Kita dapat mengambil alih kekuasaan melalui jalan apa saja, termasuk jalan
parlementer jika dimungkinkan. Sedapat mungkin kita harus mengusahakan jalan
damai dalam pengambilalihan kekuasaan ini. Namun sejarah telah mengajar pada
kita bahwa kelas pemilik modal tidaklah segan untuk menggunakan kekerasan dalam
mempertahankan hak-hak istimewanya. Kita hanya bisa menggunakan jalan damai
100% jika kita bersedia menyerah pada tuntutan pemilik modal agar tidak
mengganggu-gugat penghisapan yang mereka lakukan. Jika kita bersikeras untuk
membebaskan seluruh rakyat pekerja dari penghisapan dan penindasan, jalan
revolusioner mau tidak mau akan tetap kita tempuh. Persoalannya cuma lebih
cepat atau lebih lambat. Maka, jauh lebih baik kalau dari awal kita sudah
menegaskan bahwa kita tidak akan meninggalkan jalan revolusioner, bahkan
kalaupun kita menempuh metode parlementer dalam perjuangan kita. Ini untuk
terus mengingatkan diri kita sendiri dan seluruh rakyat pekerja bahwa cepat
atau lambat kelas pemilik modal pasti akan mencoba menghancurkan kekuatan terorganisir
rakyat pekerja melalui kekerasan. Dan jika saat itu tiba, kita hanya memiliki
dua pilihan: mengkhianati rakyat pekerja dan tunduk pada ideologi borjuasi;
atau revolusi.
Kelas Pekerja adalah ujung tombak perjuangan
Kenyataannya, kelas pekerja adalah anak kandung kapitalisme. Kapitalisme tidak
dapat hadir tanpa lebih dahulu merampas alat produksi dari para pekerja bebas
(seperti tukang atau tani atau nelayan) dan memaksa mereka untuk menjual tenaga
sebagai kelas pekerja. Kelas-kelas lain dalam masyarakat juga berkonflik dengan
kapitalisme, tapi itu karena kapitalisme sedang berupaya untuk memaksa
kelas-kelas lain itu untuk menyerahkan alat produksi mereka dan menjadi kelas
pekerja. Kasus penggusuran tanah, misalnya, memaksa petani kehilangan alat produksi
mereka yang paling utama, yakni tanah. Karena mereka kehilangan tanah, mereka
akan terpaksa memburuh di kota-kota besar. Pedagang kecil juga tak pernah lepas
dari penggusuran oleh aparat “ketertiban” kota.
Tidak jarang seluruh modal mereka ludas karena barang dagangan mereka dirampas
oleh alat-alat kekerasan rejim. Nelayan dan tukang (empu) tradisional semakin
terpojok dan tersingkir akibat munculnya produksi massal yang menuntut modal
dalam jumlah besar.
Oleh karena mereka berkonflik juga dengan kapitalisme, kita harus merangkul
kelas-kelas tertindas di luar kelas pekerja ini untuk bersama-sama melakukan
perlawanan. Tapi, untuk dapat menuntaskan perlawanan terhadap kapitalisme,
kelas-kelas lain ini harus ditempa agar memahami bahwa masyarakat niscaya akan
terus memodernisasi alat-alat produksi– dengan kata lain, masa depan semua
orang adalah menjadi kelas pekerja. Hal ini akan menjadi sangat penting justru
pasca kemenangan perjuangan kelas, saat sosialisme boleh mulai diwujudkan.
Sosialisme hanya dapat dibangun di atas sebuah masyarakat industrial modern,
dan dalam sebuah masyarakat semacam itu, kelas pekerjalah yang berdominasi
dalam seluruh struktur masyarakatnya. Jika kelas-kelas lain ini tidak menyadari
bahwa kelas pekerjalah yang harus memimpin perjuangan, kelak pasti akan terjadi
bentrokan antara mereka dengan kelas pekerja, justru setelah perjuangan kelas
melawan kapitalisme dimenangkan.
Namun demikian, PRP merangkul semua rakyat pekerja, bukan hanya kelas pekerja,
agar perjuangan rakyat pekerja di luar kelas pekerja dapat diarahkan bukan pada
restorasi (dikembalikannya) pola produksi lama yang ketinggalan jaman,
melainkan menuju satu cara produksi yang lebih modern dan dapat memberi jaminan
produksi yang menghasilkan kelimpahan bagi rakyat banyak. Misalnya, di bidang
pertanian, kita akan memperjuangkan pertanian kolektif yang berskala besar agar
memampukan petani menyerap dan mengembangkan teknologi yang lebih maju. Hal
yang sama juga berlaku di tengah kaum nelayan dan tukang tradisional, di mana
pembaharuan alat tangkap yang lebih memberi jaminan penghidupan merupakan
prioritas perjuangan.
Organisasi untuk Perjuangan Kelas harus didominasi oleh kelas pekerja
Prinsipnya sederhana: kami meyakini bahwa pembebasan kelas pekerja hanya
dimungkinkan melalui perjuangan kelas pekerja itu sendiri. Tidak cukup jika ada
orang di luar kelas kelas pekerja yang “berniat baik” untuk memperjuangan nasib
kelas pekerja tapi tidak mau atau hanya sedikit melibatkan kelas pekerja dalam
perjuangan mereka. Sudah berkali-kali terbukti dalam sejarah bahwa para
“pembebas” kelas pekerja ini pada akhrnya justu mengkhianati perjuangan kelas
pekerja ketika saat-saat yang menentukan tiba, yakni saat di mana benturan
kepentingan antara kelas pekerja dan pemilik modal sudah semakin tak
terhindarkan. Hanya mereka yang benar-benar berkepentingan sajalah yang akan
sanggup bersetia dengan perjuangan sampai ke titik yang penghabisan. Hal ini
sesungguhnya sudah merupakan kebijaksanaan orang-orang tua dari tempo dulu,
sebuah ujar-ujar Konfusius, misalnya, menyatakan, “Daripada memberi ikan, lebih
baik memberi pancing. Daripada memberi pancing, lebih baik mengajar orang
membuat pancing.” Kita akan mengajar dan melatih kelas pekerja agar dapat
mempertahankan kepentingannya sendri berhadapan dengan penindasan dan
penghisapan borjuasi, sampai akhirnya dia dapat memenangkan pertarungan itu
sepenuhnya. Tapi, bagaimana kita dapat mengajar dan melatih kelas pekerja jika
organ atau partai kita tidak diisi dengan sebanyak-banyaknya kelas pekerja?
Manfaat Kepoloporan
Perjuangan kelas pekerja adalah sebuah perjuangan yang sulit. Salah satu
sebabnya adalah karena kita harus melakukan perjuangan itu di bawah
kapitalisme, tapi justru untuk membawa diri kita keluar dari kapitalisme itu.
Ketika kita berjuang di dalam kungkungan kapitalisme, kita tidak hanya akan
berhadapan dengan represi telanjang, namun juga dengan badai propaganda
ideologi kapitalisme yang merasuki kesadaran kita dari segala penjuru. Film,
hiburan, iklan, sampai lirik lagu bahkan juga berita, hampir 100% mengandung
ide-ide yang membenarkan keberadaan kapitalisme sebagai sebuah sistem.
Lagipula, secara umum manusia niscaya bersifat konservatif, enggan untuk
berubah. Hampir semua orang memimpikan kemapanan dalam hidup mereka. Dalam keadaan
semacam ini, mayoritas kelas pekerja sebenarnya menyadari dari pengalaman
kongkrit bahwa kepentingan mereka berbeda dari kepentingan pemilik modal. Tapi,
mereka tidak dapat menemukan penjelasan yang masuk akal karena semua propaganda
dn pendidikan yang mereka terima membenarkan apa yang dilakukan oleh para
pemilik modal. Oleh karena konflik batin itulah kemudian banyak anggota kelas
pekerja kemudian mengambil sikap tidak peduli. Bagaimana pun juga, ada
individu-individu, betapapun kecil jumlahnya, yang mampu keluar dari perangkap
ini dan sanggup melihat dengan jelas apa yang terjadi. Oleh karena itulah
kemudian orang-orang ini harus memanggul beban untuk membuka mata
anggota-anggota kelas pekerja yang lain. Mereka harus berjuang, bukan hanya
mengatasi penindasan kapitalisme, tapi juga ketidakacuhan dari kelas pekerja.
Inilah tugas yang mereka panggul sebagai pelopor.
Hakikat Organisasi Pelopor itu
Bagi kami, tandanya sederhana saja: sebuah organisasi pelopor akan terus
mendekatkan rakyat pekerja pada kesadaran bahwa mereka sendirilah yang harus
memegang kekuasaan,. Dan bukan hanya itu, sebuah organisasi pelopor akan terus
mengambangkan jumlah rakyat pekerja yang menyadari ini, dan ini akan tercermin
dalam komposisi keanggotaannya. Jika sebuah organisasi pelopor perjuangan kelas
kelas pekerja masih didominasi oleh borjuis kecil, misalnya, setelah lima tahun bekerja artinya
mereka sudah gagal menjadi pelopor. Mereka tidak sanggup menarik lebih banyak
anggota kelas kelas pekerja ke dalam organisasi mereka, itu artinya apa yang
mereka serukan tidaklah dekat dengan hati dan pikiran kelas pekerja. Namun
sebaliknya, jika sebuah organisasi dapat meraup lebih banyak kelas pekerja
sekalipun, itu belum berarti mereka lantas menjadi pelopor. Kita harus lihat
peningkatan kualitas anggota-anggotanya, apakah mereka sudah dapat bicara
tentang alternatif terhadap kapitalisme atau belum. Jika kerangka perjuangan
mereka masih berada di dalam batas-batas kapitalisme, itu artinya organisasi
masih gagal menanamkan kesadaran kelas kepada kelas pekerja.
Internasionalisme
Internasionalisme gerakan kelas kelas pekerja adalah satu-satunya cara yang
tepat untuk melawan strategi pemilik modal yang juga meluaskan lapangan
permainannya ke tingkat internasional melalui neoliberalisme dan globalisasi.
Mereka menjalin kerjasama di tingkat internasional, baik dalam tingkatan
perusahaan (melalui merger, sindikasi, atau perjanjian dagang) maupun dalam
tingkat kenegaraan (melalui blok-blok perdagangan, IMF, WTO, Bank Dunia).
Dengan semakin globalnya perekonomian, semakin nyata pula bahwa modal tidak
mengenal kebangsaan. Dan ketika modal sudah menjadi global, semakin tidak
mungkin perlawanan hanya dilakukan di satu negeri. Sebuah kesatuan tindakan dan
keserasian gerak dari organisasi-organisasi kelas pekerja sedunia adalah syarat
mutlak bagi kemenangannya. Tentu saja kita menyadari bahwa perjuangan yang
sesungguhnya tetap berlangsung di tingkat nasional, dan bahwa perjuangan ini
tidak akan dapat dimenangkan secara serempak di semua negeri. Namun, tanpa
internasionalisme yang kokoh, tidaklah mungkin ada kemenangan yang akan dapat
dipertahankan untuk waktu lama. Kalaupun ada, kemenangan itu sendiri akan
sia-sia karena ia justru akan terjebak pada chauvinisme-sosial, seperti Uni
Sovyet tempo dulu. Jadi, sebuah organisasi pelopor tidaklah boleh terjebak ke
dalam nasionalisme, ia harus berwatak internasionalis.