Visitor hari ini: 291
Visitor kemarin: 463
Visitor total: 108515
Hit hari ini: 524
Hit kemarin: 1337
Hit total: 283618
Data sejak: 2007-07-24
download
HOME
Tujuh Prinsip Perjuangan Kelas Cetak E-mail

Perjuangan Kelas adalah Perjuangan untuk Kekuasaan
Sebuah perjuangan kelas bertujuan mengangkat kelas tertentu ke tampuk kekuasaan. Dalam arti, bahwa kekuasaan negara secara umum akan mencerminkan kepentingan dari kelas tertentu. Perjuangan kelas terus terjadi sekalipun kita tidak menyadarinya karena kelas pemilik modal sebenarnya terus berusaha mempertahankan keadaan di mana negara berpihak pada pemilik modal. Seperti yang kita tahu, semua lembaga kekuasaan kini dikuasai oleh para pemilik modal. Jika kita lihat susunan anggota parlemen, para menteri, bahkan juga para calon presiden, kita akan mendapati bahwa sebagian besar (bahkan hampir 100%) adalah pengusaha. Jika para pengusaha bertemu untuk membicarakan penyusunan UU, sudah hampir dapat dipastikan bahwa isi UU tersebut tidak akan berpihak pada rakyat pekerja. Jika pemerintah dikuasai oleh pengusaha, kita tidak dapat menyalahkan mereka jika keputusan yang diambilnya juga menguntungkan pengusaha. Sudah menjadi kewajiban mereka untuk membuat keputusan semacam itu.

Kelas pengusaha ini berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara. Terutama sekali mereka berusaha membuat rakyat pekerja tetap bodoh. Mereka membuat sebuah sistem pendidikan yang mahal sehingga anak-anak rakyat pekerja tidak sanggup untuk menanggung biaya pendidikan. Oleh karena itu sebagian besar anak rakyat pekerja kemudian juga terpaksa menjadi pekerja juga. Mereka juga mengisi pendidikan itu dengan dasar berpikir yang tidak ilmiah dan menjejali anak dengan pola pikir kapitalis. Di tengah masyarakat, kita terus dicecar dengan pola hidup boros melalui iklan. Mereka terus memelihara budaya feudalistik di mana para pemimpin diperbolehkan memiliki kuasa mutlak atas kawulanya. Tapi, di atas segalanya, mereka mengandalkan perangkat hukum dan perundang-undangan untuk mencegah munculnya perlawanan terorganisir terhadap sistem kekuasaan mereka.

Di Indonesia, kita kadang dibingungkan oleh kenyataan bahwa seringkali peraturan perundangan yang disusun pemerintah merugikan juga para pengusaha. Namun, jika kita telisik lebih dalam, nampaklah bahwa hal ini sesungguhnya hanya mencerminkan persaingan antar kaum pengusaha itu sendiri, di mana faksi (golongan) yang paling dekat dengan kekuassaanlah yang akan diuntungkan oleh keputusan ekonomi-politik pemerintah. Jangan pula dilupakan tekanan modal internasional yang seringkali lebih kuat daripada modal nasional dalam hal pengambilan keputusan pemerintah. Bahkan juga modal nasional itu seringkali bersikap tunduk menjadi pelayan dari kepentingan modal internasional.

Dengan menandaskan perjuangan kelas, kita berusaha mengangkat perjuangan kelas agar rakyat pekerja menyadari bahwa merekalah yang seharusnya mengisi parlemen-parlemen, merekalah yang seharusnya mengisi jabatan-jabatan penting negara (bahkan juga presiden dan menteri-menteri), merekalah yang harus mengambil keputusan dalam hal-hal yang menyangkut hukum dan peraturan. Kemudian kita harus melatih rakyat pekerja itu supaya sanggup melakukan hal-hal tersebut. Dan, akhirnya, kita harus pula membajakan rakyat pekerja itu agar sanggup mengambil-alih kekuasaan tersebut dengan cara apapun yang paling dimungkinkan.

Hanya jika rakyat pekerja duduk di tampuk kekuasaan negara, segala keputusan yang diambil oleh negara akan memihak pada nasib rakyat pekerja.

Bentuk kekuasaan kelas pekerja harus melalui Dewan Rakyat
Kita dapat mengambil alih kekuasaan melalui jalan apa saja, termasuk jalan parlementer jika dimungkinkan. Sedapat mungkin kita harus mengusahakan jalan damai dalam pengambilalihan kekuasaan ini. Namun sejarah telah mengajar pada kita bahwa kelas pemilik modal tidaklah segan untuk menggunakan kekerasan dalam mempertahankan hak-hak istimewanya. Kita hanya bisa menggunakan jalan damai 100% jika kita bersedia menyerah pada tuntutan pemilik modal agar tidak mengganggu-gugat penghisapan yang mereka lakukan. Jika kita bersikeras untuk membebaskan seluruh rakyat pekerja dari penghisapan dan penindasan, jalan revolusioner mau tidak mau akan tetap kita tempuh. Persoalannya cuma lebih cepat atau lebih lambat. Maka, jauh lebih baik kalau dari awal kita sudah menegaskan bahwa kita tidak akan meninggalkan jalan revolusioner, bahkan kalaupun kita menempuh metode parlementer dalam perjuangan kita. Ini untuk terus mengingatkan diri kita sendiri dan seluruh rakyat pekerja bahwa cepat atau lambat kelas pemilik modal pasti akan mencoba menghancurkan kekuatan terorganisir rakyat pekerja melalui kekerasan. Dan jika saat itu tiba, kita hanya memiliki dua pilihan: mengkhianati rakyat pekerja dan tunduk pada ideologi borjuasi; atau revolusi.

Kelas Pekerja adalah ujung tombak perjuangan
Kenyataannya, kelas pekerja adalah anak kandung kapitalisme. Kapitalisme tidak dapat hadir tanpa lebih dahulu merampas alat produksi dari para pekerja bebas (seperti tukang atau tani atau nelayan) dan memaksa mereka untuk menjual tenaga sebagai kelas pekerja. Kelas-kelas lain dalam masyarakat juga berkonflik dengan kapitalisme, tapi itu karena kapitalisme sedang berupaya untuk memaksa kelas-kelas lain itu untuk menyerahkan alat produksi mereka dan menjadi kelas pekerja. Kasus penggusuran tanah, misalnya, memaksa petani kehilangan alat produksi mereka yang paling utama, yakni tanah. Karena mereka kehilangan tanah, mereka akan terpaksa memburuh di kota-kota besar. Pedagang kecil juga tak pernah lepas dari penggusuran oleh aparat “ketertiban” kota. Tidak jarang seluruh modal mereka ludas karena barang dagangan mereka dirampas oleh alat-alat kekerasan rejim. Nelayan dan tukang (empu) tradisional semakin terpojok dan tersingkir akibat munculnya produksi massal yang menuntut modal dalam jumlah besar.

Oleh karena mereka berkonflik juga dengan kapitalisme, kita harus merangkul kelas-kelas tertindas di luar kelas pekerja ini untuk bersama-sama melakukan perlawanan. Tapi, untuk dapat menuntaskan perlawanan terhadap kapitalisme, kelas-kelas lain ini harus ditempa agar memahami bahwa masyarakat niscaya akan terus memodernisasi alat-alat produksi– dengan kata lain, masa depan semua orang adalah menjadi kelas pekerja. Hal ini akan menjadi sangat penting justru pasca kemenangan perjuangan kelas, saat sosialisme boleh mulai diwujudkan. Sosialisme hanya dapat dibangun di atas sebuah masyarakat industrial modern, dan dalam sebuah masyarakat semacam itu, kelas pekerjalah yang berdominasi dalam seluruh struktur masyarakatnya. Jika kelas-kelas lain ini tidak menyadari bahwa kelas pekerjalah yang harus memimpin perjuangan, kelak pasti akan terjadi bentrokan antara mereka dengan kelas pekerja, justru setelah perjuangan kelas melawan kapitalisme dimenangkan.

Namun demikian, PRP merangkul semua rakyat pekerja, bukan hanya kelas pekerja, agar perjuangan rakyat pekerja di luar kelas pekerja dapat diarahkan bukan pada restorasi (dikembalikannya) pola produksi lama yang ketinggalan jaman, melainkan menuju satu cara produksi yang lebih modern dan dapat memberi jaminan produksi yang menghasilkan kelimpahan bagi rakyat banyak. Misalnya, di bidang pertanian, kita akan memperjuangkan pertanian kolektif yang berskala besar agar memampukan petani menyerap dan mengembangkan teknologi yang lebih maju. Hal yang sama juga berlaku di tengah kaum nelayan dan tukang tradisional, di mana pembaharuan alat tangkap yang lebih memberi jaminan penghidupan merupakan prioritas perjuangan.

Organisasi untuk Perjuangan Kelas harus didominasi oleh kelas pekerja
Prinsipnya sederhana: kami meyakini bahwa pembebasan kelas pekerja hanya dimungkinkan melalui perjuangan kelas pekerja itu sendiri. Tidak cukup jika ada orang di luar kelas kelas pekerja yang “berniat baik” untuk memperjuangan nasib kelas pekerja tapi tidak mau atau hanya sedikit melibatkan kelas pekerja dalam perjuangan mereka. Sudah berkali-kali terbukti dalam sejarah bahwa para “pembebas” kelas pekerja ini pada akhrnya justu mengkhianati perjuangan kelas pekerja ketika saat-saat yang menentukan tiba, yakni saat di mana benturan kepentingan antara kelas pekerja dan pemilik modal sudah semakin tak terhindarkan. Hanya mereka yang benar-benar berkepentingan sajalah yang akan sanggup bersetia dengan perjuangan sampai ke titik yang penghabisan. Hal ini sesungguhnya sudah merupakan kebijaksanaan orang-orang tua dari tempo dulu, sebuah ujar-ujar Konfusius, misalnya, menyatakan, “Daripada memberi ikan, lebih baik memberi pancing. Daripada memberi pancing, lebih baik mengajar orang membuat pancing.” Kita akan mengajar dan melatih kelas pekerja agar dapat mempertahankan kepentingannya sendri berhadapan dengan penindasan dan penghisapan borjuasi, sampai akhirnya dia dapat memenangkan pertarungan itu sepenuhnya. Tapi, bagaimana kita dapat mengajar dan melatih kelas pekerja jika organ atau partai kita tidak diisi dengan sebanyak-banyaknya kelas pekerja?

Manfaat Kepoloporan
Perjuangan kelas pekerja adalah sebuah perjuangan yang sulit. Salah satu sebabnya adalah karena kita harus melakukan perjuangan itu di bawah kapitalisme, tapi justru untuk membawa diri kita keluar dari kapitalisme itu. Ketika kita berjuang di dalam kungkungan kapitalisme, kita tidak hanya akan berhadapan dengan represi telanjang, namun juga dengan badai propaganda ideologi kapitalisme yang merasuki kesadaran kita dari segala penjuru. Film, hiburan, iklan, sampai lirik lagu bahkan juga berita, hampir 100% mengandung ide-ide yang membenarkan keberadaan kapitalisme sebagai sebuah sistem. Lagipula, secara umum manusia niscaya bersifat konservatif, enggan untuk berubah. Hampir semua orang memimpikan kemapanan dalam hidup mereka. Dalam keadaan semacam ini, mayoritas kelas pekerja sebenarnya menyadari dari pengalaman kongkrit bahwa kepentingan mereka berbeda dari kepentingan pemilik modal. Tapi, mereka tidak dapat menemukan penjelasan yang masuk akal karena semua propaganda dn pendidikan yang mereka terima membenarkan apa yang dilakukan oleh para pemilik modal. Oleh karena konflik batin itulah kemudian banyak anggota kelas pekerja kemudian mengambil sikap tidak peduli. Bagaimana pun juga, ada individu-individu, betapapun kecil jumlahnya, yang mampu keluar dari perangkap ini dan sanggup melihat dengan jelas apa yang terjadi. Oleh karena itulah kemudian orang-orang ini harus memanggul beban untuk membuka mata anggota-anggota kelas pekerja yang lain. Mereka harus berjuang, bukan hanya mengatasi penindasan kapitalisme, tapi juga ketidakacuhan dari kelas pekerja. Inilah tugas yang mereka panggul sebagai pelopor.

Hakikat Organisasi Pelopor itu
Bagi kami, tandanya sederhana saja: sebuah organisasi pelopor akan terus mendekatkan rakyat pekerja pada kesadaran bahwa mereka sendirilah yang harus memegang kekuasaan,. Dan bukan hanya itu, sebuah organisasi pelopor akan terus mengambangkan jumlah rakyat pekerja yang menyadari ini, dan ini akan tercermin dalam komposisi keanggotaannya. Jika sebuah organisasi pelopor perjuangan kelas kelas pekerja masih didominasi oleh borjuis kecil, misalnya, setelah lima tahun bekerja artinya mereka sudah gagal menjadi pelopor. Mereka tidak sanggup menarik lebih banyak anggota kelas kelas pekerja ke dalam organisasi mereka, itu artinya apa yang mereka serukan tidaklah dekat dengan hati dan pikiran kelas pekerja. Namun sebaliknya, jika sebuah organisasi dapat meraup lebih banyak kelas pekerja sekalipun, itu belum berarti mereka lantas menjadi pelopor. Kita harus lihat peningkatan kualitas anggota-anggotanya, apakah mereka sudah dapat bicara tentang alternatif terhadap kapitalisme atau belum. Jika kerangka perjuangan mereka masih berada di dalam batas-batas kapitalisme, itu artinya organisasi masih gagal menanamkan kesadaran kelas kepada kelas pekerja.

Internasionalisme
Internasionalisme gerakan kelas kelas pekerja adalah satu-satunya cara yang tepat untuk melawan strategi pemilik modal yang juga meluaskan lapangan permainannya ke tingkat internasional melalui neoliberalisme dan globalisasi. Mereka menjalin kerjasama di tingkat internasional, baik dalam tingkatan perusahaan (melalui merger, sindikasi, atau perjanjian dagang) maupun dalam tingkat kenegaraan (melalui blok-blok perdagangan, IMF, WTO, Bank Dunia). Dengan semakin globalnya perekonomian, semakin nyata pula bahwa modal tidak mengenal kebangsaan. Dan ketika modal sudah menjadi global, semakin tidak mungkin perlawanan hanya dilakukan di satu negeri. Sebuah kesatuan tindakan dan keserasian gerak dari organisasi-organisasi kelas pekerja sedunia adalah syarat mutlak bagi kemenangannya. Tentu saja kita menyadari bahwa perjuangan yang sesungguhnya tetap berlangsung di tingkat nasional, dan bahwa perjuangan ini tidak akan dapat dimenangkan secara serempak di semua negeri. Namun, tanpa internasionalisme yang kokoh, tidaklah mungkin ada kemenangan yang akan dapat dipertahankan untuk waktu lama. Kalaupun ada, kemenangan itu sendiri akan sia-sia karena ia justru akan terjebak pada chauvinisme-sosial, seperti Uni Sovyet tempo dulu. Jadi, sebuah organisasi pelopor tidaklah boleh terjebak ke dalam nasionalisme, ia harus berwatak internasionalis.