Sosialisme
adalah anti-tesis (lawan) dari kapitalisme. Segala nilai, moral, tata-berpikir, susunan kemasyarakatan dan cara
kerja yang ada di bawah kapitalisme mendapatkan lawannya di bawah sosialisme.
Jika kapitalisme mendewakan kepentingan pribadi, maka sosialisme mendahulukan
kepentingan orang banyak. Jika kapitalisme mengejar kekayaan perorangan,
sosialisme bekerja demi pemerataan kesejahteraan. Jika kapitalisme
memperkenankan eksploitasi terhadap alam dan perempuan (termasuk seksualitas)
demi memberi keuntungan pada segelintir orang, sosialisme berusaha keras
memelihara keharmonisan dengan alam dan martabat perempuan. Jika kapitalisme
menggunakan upah sebagai alat untuk membius buruh agar bekerja membanting
tulang di pabrik-pabrik, sosialisme menggunakan alat-alat kesejahteraan sosial
untuk membuat kehidupan buruh bertambah nyaman. Jika kapitalisme memperkenankan
perang untuk berebut sumberdaya dan memaksa pihak yang lemah untuk tunduk,
sosialisme berupaya memajukan perdamaian dunia dan hanya memperkenankan perang
sebagai alat bela diri. Jika kapitalisme menghancurkan perikehidupan bertani
dengan perampasan-perampasan tanah, sosialisme berusaha memajukan pertanian
dengan melatih kaum tani bekerja dengan cara produksi yang modern dalam
kemandirian dan kebersamaan. Pendeknya, sosialisme berusaha membalik segala
keburukan dan dampak kapitalisme.
Sosialisme ilmiah adalah salah satu cabang sosialisme yang memandang bahwa
sosialisme tidaklah dapat dibangun di ruang hampa. Sosialisme adalah penerus
kapitalisme, dalam arti sosialisme akan menggantikan kapitalisme sebagai cara
hidup. Karena sosialisme adalah penerus kapitalisme, ia akan membangun dirinya
dengan memanfaatkan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai kapitalisme. Karena
sekalipun dicapai dengan mengorbankan rakyat banyak, tak dapat disangkal bahwa
kapitalisme menghasilkan berbagai kemajuan. Sosialisme ilmiah tidak menolak
kemajuan ini, melainkan akan merangkulnya, memberinya arah baru sehingga
bermanfaat bagi khalayak ramai, dan mengaturnya secara demokratis, di mana
semua orang – laki-laki dan perempuan – berhak bersumbang-saran dan
bahu-membahu demi kemajuan bersama.
Sosialisme ilmiah juga menganggap bahwa kemajuan ilmu pengetahuan adalah cara
terbaik untuk melatih kelas pekerja dan rakyat pekerja lainnya agar mampu
merebut dan mengendalikan kekuasaan (jika sudah tergenggam). Kelas pekerja dan
rakyat pekerja pada umumnya harus menguasai ilmu pengetahuan modern, mampu
menggunakan analisa dan teknik modern untuk memecahkan masalah serta
meninggalkan tradisi lama yang menghambat kemajuan-kesetaraan-keadilan. Dengan
demikian, kelas pekerja tidak akan lagi menjadi warganegara kelas dua, yang
hanya memiliki otot tapi tidak punya otak – seperti anggapan para penguasa dan
(sayangnya) sebagian besar kelas pekerja itu sendiri.
Namun, bagi PRP, sosialisme bukan sekedar panggilan moral melainkan sebuah
seruan agar rakyat pekerja memegang sendiri kekuasaan secara ekonomi dan
politik. Sosialisme yang diinginkan PRP adalah sistem masyarakat di mana rakyat
pekerja, mereka yang tidak memiliki modal dan harus menjual tenaganya agar
dapat hidup, memegang kendali atas hidup mereka sendiri. Secara praktek, hal ini
dapat diwujudkan jika rakyat pekerja memegang kekuasaan atas negara, dengan
demikian, segala alat dan sumberdaya yang ada pada negara akan dapat digunakan
sebaik-baiknya demi kepentingan meningkatkan kesejahteraan rakyat pekerja.
Hanya jika demikianlah semua UU dan peraturan negara, pembagian anggaran dan
dana publik, birokrasi dan kependudukan, serta tata-pembangunan secara umum
akan berpihak pada rakyat pekerja