Visitor hari ini: 291
Visitor kemarin: 463
Visitor total: 108515
Hit hari ini: 528
Hit kemarin: 1337
Hit total: 283622
Data sejak: 2007-07-24
download
HOME
Sejarah Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) Cetak E-mail

• Pertemuan Nasional Unifikasi (Solo)

Ide tentang perlunya persatuan kiri ini telah muncul beberapa waktu sebelumnya. Beberapa kelompok yang waktu itu sepakat untuk mengadakan peleburan kemudian memutuskan untuk mengambil inisiatif memulai proses peleburan secara resmi. Selain keuntungan adanya komitmen terrtulis, kami juga bisa membuat sebuah struktur yang akan memungkinkan adanya kesatuan tindakan dan keserasian gerak dalam mewujudkan persatuan ini.

Oleh karena itulah kami kemudian mengadakan sebuah Pertemuan Nasional Unifikasi pada tanggal 13 - 15 Mei 2004 di Surakarta. Pertemuan ini didahului oleh pembentukan Kolektif di berbagai kota. Ada sepuluh (10) kota dimana proses ini telah mulai berjalan yakni Medan, Padang, Jabotabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Palu, Banjar, Makassar. Melalui kolektif inilah Pertemuan Nasional Unifikasi diadakan, dan persis pada pukul 22.45 WIB, tanggal 13 Mei 2004, seluruh peserta Pertemuan Nasional Unifikasi menyepakati secara aklamasi terbentuknya sebuah Komite Persiapan Unifikasi yang bekerja secara nasional. Komite Persiapan ini diberi nama Komite Persiapan Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP)

Pertemuan ini menyepakati satu isu mendasar, yakni keprihatinan bahwa di tengah semakin menguatnya politik kelas yang dilancarkan oleh penguasa modal, rakyat pekerja malah semakin kehilangan identitasnya dan tidak mampu mengenali kepentingannya sendiri ketika berhadapan dengan keputusan-keputusan politik pemerintah yang berpihak pada pemilik modal. Dengan kata lain, Pertemuan Nasional Solo menyimpulkan bahwa pembangunan kembali politik kelas bagi rakyat pekerja adalah satu tugas mendesak yang harus diemban oleh organisasi yang dihasilkan oleh Pertemuan Nasional tersebut.

Dalam perjalanannya, KP-PRP mengalami pasang-surut seperti halnya semua organisasi lainnya. Terlebih lagi, “persatuan” nampaknya merupakan satu fatamorgana, yang dicanangkan oleh hampir semua kelompok di sayap kiri, namun selalu lenyap tak berbekas ketika didekati. Tekanan kelas borjuis yang memunculkan watak-watak sektarian, oportunis maupun apatis di kalangan kelompok-kelompok kiri nampaknya masih terlalu berat untuk diatasi.


• Pertemuan Nasional Parung (Bogor)

Pertemuan Nasional Parung, yang diadakan tahun 2005, mengoreksi haluan yang ditetapkan oleh Pertemuan Nasional Solo. Disadari bahwa untuk bersatu, kita membutuhkan satu pusat (sentral) yang dapat berfungsi sebagai magnet, di mana semua kelompok lain dapat bergerak mendekat sebelum proses peleburan yang dialektis dapat dilancarkan.

Pertemuan Nasional Parung menegaskan kembali asas dan prinsip perjuangan kelas. Dan bersandarkan pada kedua hal ini, Pertemuan Nasional Parung menyimpulkan bahwa hanya sebuah organisasi kelas yang akan dapat menjadi sentral untuk membangun unifikasi ini. Oleh karenanya, Pertemuan Nasional Parung kemudian mengamanatkan penguatan organisasi sebagai titik tekan kerja PRP berikutnya.

Namun, tekanan dari luar terhadap organisasi maupun individu-individu di dalamnya ternyata tidak dapat dipandang remeh. Cara pandang borjuis dalam memahami dunia dan pergerakan di dalamnya merembes bahkan ke dalam organisasi kelas pekerja, terlebih lagi PRP yang masih sangat rapuh karena baru saja dibangun. Disiplin ideologis, politik dan organisasi mengalami keruntuhan. Beberapa cabang yang telah terbangun mengalami kemerosotan tajam dalam jumlah anggota dan aktivitasnya.

Namun, untunglah PRP telah berhasil mengikat banyak kader kelas pekerja di dalamnya, sehingga – pelan tapi pasti – badai pengaruh luar ini akhirnya berhasil diatasi. Kritik-otokritik yang jujur dan objektif, evaluasi menyeluruh yang dilakukan dari atas sampai ke bawah, upaya-upaya tidak kenal menyerah untuk membangun kembali struktur yang compang-camping, dan dorongan tidak kenal surut untuk semakin melibatkan kelas pekerja dalam pengambilan keputusan di segala tingkatan organisasi telah berhasil memulihkan kembali kepercayaan diri seluruh jajaran organisasi.

 

• Pertemuan Nasional I PRP (Jakarta)

Untuk menyempurnakan proses pemulihan kembali ini, PRP kemudian menyelenggarakan kongres pada tanggal 1-4 September 2006 di Jakarta. Kongres ini didahului oleh “kongres-kongres mini” (yang disebut Konferensi Kota Pra-Kongres) di seluruh cabang PRP, di mana setiap anggota digairahkan untuk memperdebatkan semua pokok bahasan yang akan dibicarakan dalam kongres. Dalam konferensi pra-kongres ini, para anggota didorong berinisiatif menyusun materi, laporan, kesimpulan dan usulannya sendiri – tanpa adanya “draft” yang biasanya membatasi munculnya inisiatif ini. Dengan berbekal keputusan konferensi kotanya masing-masing para utusan yang hadir dalam Kongres berdebat dengan hasil keputusan kota lain.

Di antara sekian banyak keputusan penting yang diambil dalam Kongres I PRP ini, salah satu yang terpenting adalah keputusan untuk memajukan haluan organisasi dan mempertegas PRP akan membangun sebuah partai kelas pekerja. Strategi pembangunan partai ini akan dikembangkan lebih lanjut dalam pertemuan-pertemuan nasional PRP berikutnya.

Kongres I PRP telah memperbaharui komitmen organisasi untuk mewujudkan sebuah politik kelas pekerja di Indonesia. Pengalaman selama dua tahun telah menunjukkan berbagai aral yang merupakan hambatan serius dalam perjuangan ini. Namun, keberhasilan organisasi untuk kembali bangkit setelah mengalami berbagai kesulitan merupakan satu modal yang sangat berharga dalam perjalanan panjang ke masa depan, di mana hambatan dan rintangan yang lebih besar dan keras sudah pasti menghadang upaya rakyat pekerja untuk mendapatkan kesejahteraan bagi diri mereka sendiri.