|
•
Pertemuan Nasional Unifikasi (Solo)
Ide tentang perlunya persatuan kiri ini telah muncul beberapa waktu sebelumnya.
Beberapa kelompok yang waktu itu sepakat untuk mengadakan peleburan kemudian
memutuskan untuk mengambil inisiatif memulai proses peleburan secara resmi. Selain
keuntungan adanya komitmen terrtulis, kami juga bisa membuat sebuah struktur
yang akan memungkinkan adanya kesatuan tindakan dan keserasian gerak dalam mewujudkan
persatuan ini.
Oleh karena itulah kami kemudian mengadakan sebuah Pertemuan Nasional Unifikasi
pada tanggal 13 - 15 Mei 2004 di Surakarta.
Pertemuan ini didahului oleh pembentukan Kolektif di berbagai kota. Ada
sepuluh (10) kota dimana proses ini telah mulai
berjalan yakni Medan, Padang,
Jabotabek, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Palu, Banjar, Makassar.
Melalui kolektif inilah Pertemuan Nasional Unifikasi diadakan, dan persis pada
pukul 22.45 WIB, tanggal 13 Mei 2004, seluruh peserta Pertemuan Nasional
Unifikasi menyepakati secara aklamasi terbentuknya sebuah Komite Persiapan
Unifikasi yang bekerja secara nasional. Komite Persiapan ini diberi nama Komite
Persiapan Perhimpunan Rakyat Pekerja (KP-PRP)
Pertemuan ini menyepakati satu isu mendasar, yakni keprihatinan bahwa di tengah
semakin menguatnya politik kelas yang dilancarkan oleh penguasa modal, rakyat
pekerja malah semakin kehilangan identitasnya dan tidak mampu mengenali
kepentingannya sendiri ketika berhadapan dengan keputusan-keputusan politik
pemerintah yang berpihak pada pemilik modal. Dengan kata lain, Pertemuan
Nasional Solo menyimpulkan bahwa pembangunan kembali politik kelas bagi rakyat
pekerja adalah satu tugas mendesak yang harus diemban oleh organisasi yang
dihasilkan oleh Pertemuan Nasional tersebut.
Dalam perjalanannya, KP-PRP mengalami pasang-surut seperti halnya semua
organisasi lainnya. Terlebih lagi, “persatuan” nampaknya merupakan satu
fatamorgana, yang dicanangkan oleh hampir semua kelompok di sayap kiri, namun
selalu lenyap tak berbekas ketika didekati. Tekanan kelas borjuis yang
memunculkan watak-watak sektarian, oportunis maupun apatis di kalangan
kelompok-kelompok kiri nampaknya masih terlalu berat untuk diatasi.
• Pertemuan Nasional Parung (Bogor)
Pertemuan Nasional Parung, yang diadakan tahun 2005, mengoreksi haluan yang
ditetapkan oleh Pertemuan Nasional Solo. Disadari bahwa untuk bersatu, kita
membutuhkan satu pusat (sentral) yang dapat berfungsi sebagai magnet, di mana
semua kelompok lain dapat bergerak mendekat sebelum proses peleburan yang
dialektis dapat dilancarkan.
Pertemuan Nasional Parung menegaskan kembali asas dan prinsip perjuangan kelas.
Dan bersandarkan pada kedua hal ini, Pertemuan Nasional Parung menyimpulkan
bahwa hanya sebuah organisasi kelas yang akan dapat menjadi sentral untuk
membangun unifikasi ini. Oleh karenanya, Pertemuan Nasional Parung kemudian
mengamanatkan penguatan organisasi sebagai titik tekan kerja PRP berikutnya.
Namun, tekanan dari luar terhadap organisasi maupun individu-individu di
dalamnya ternyata tidak dapat dipandang remeh. Cara pandang borjuis dalam
memahami dunia dan pergerakan di dalamnya merembes bahkan ke dalam organisasi
kelas pekerja, terlebih lagi PRP yang masih sangat rapuh karena baru saja
dibangun. Disiplin ideologis, politik dan organisasi mengalami keruntuhan.
Beberapa cabang yang telah terbangun mengalami kemerosotan tajam dalam jumlah
anggota dan aktivitasnya.
Namun, untunglah PRP telah berhasil mengikat banyak kader kelas pekerja di
dalamnya, sehingga – pelan tapi pasti – badai pengaruh luar ini akhirnya
berhasil diatasi. Kritik-otokritik yang jujur dan objektif, evaluasi menyeluruh
yang dilakukan dari atas sampai ke bawah, upaya-upaya tidak kenal menyerah
untuk membangun kembali struktur yang compang-camping, dan dorongan tidak kenal
surut untuk semakin melibatkan kelas pekerja dalam pengambilan keputusan di
segala tingkatan organisasi telah berhasil memulihkan kembali kepercayaan diri
seluruh jajaran organisasi.
• Pertemuan Nasional I PRP (Jakarta)
Untuk menyempurnakan proses pemulihan kembali ini, PRP kemudian
menyelenggarakan kongres pada tanggal 1-4 September 2006 di Jakarta. Kongres
ini didahului oleh “kongres-kongres mini” (yang disebut Konferensi Kota
Pra-Kongres) di seluruh cabang PRP, di mana setiap anggota digairahkan untuk
memperdebatkan semua pokok bahasan yang akan dibicarakan dalam kongres. Dalam
konferensi pra-kongres ini, para anggota didorong berinisiatif menyusun materi,
laporan, kesimpulan dan usulannya sendiri – tanpa adanya “draft” yang biasanya
membatasi munculnya inisiatif ini. Dengan berbekal keputusan konferensi kotanya
masing-masing para utusan yang hadir dalam Kongres berdebat dengan hasil
keputusan kota
lain.
Di antara sekian banyak keputusan penting yang diambil dalam Kongres I PRP ini,
salah satu yang terpenting adalah keputusan untuk memajukan haluan organisasi
dan mempertegas PRP akan membangun sebuah partai kelas pekerja. Strategi
pembangunan partai ini akan dikembangkan lebih lanjut dalam pertemuan-pertemuan
nasional PRP berikutnya.
Kongres I PRP telah memperbaharui komitmen organisasi untuk mewujudkan sebuah
politik kelas pekerja di Indonesia.
Pengalaman selama dua tahun telah menunjukkan berbagai aral yang merupakan
hambatan serius dalam perjuangan ini. Namun, keberhasilan organisasi untuk
kembali bangkit setelah mengalami berbagai kesulitan merupakan satu modal yang
sangat berharga dalam perjalanan panjang ke masa depan, di mana hambatan dan
rintangan yang lebih besar dan keras sudah pasti menghadang upaya rakyat pekerja
untuk mendapatkan kesejahteraan bagi diri mereka sendiri.
|