|
Ditulis Oleh Fredy Wansyah*
|
|
Sunday, 06 July 2008 |
Kenaikan
harga BBM tidak mengenal kompromi bagi masyarakat miskin untuk menambah
kemiskinan. Kanaikan tersebut yang jatuh pada akhir Mei lalu diikuti oleh
naiknya harga-harga kebutuhan bahan pokok lainnya. Mengapa harga-harga bahan
pokok harus mengikuti alur harga BBM? Mobilitas suatu barang di dalamnya yang
berperan penting adalah bahan bakar minyak. Kendaraan sebagai materi yang tidak
bernyawa tidak akan berpindah tanpa adanya bahan bakar. Paska klimaks Revolusi
Inggris segala kendaraan (angkutan) diintensifkan sebagai alat mobilitas suatu
barang.
Be first to comment this article | Views: 60 |
|
|
Ditulis Oleh Ken Budha Kusumandaru*
|
|
Saturday, 28 June 2008 |
Perusahaan manajemen investasi terbesar di
dunia, Merrill Lynch, bersama perusahaan teknologi penelitian, Capgemini,
secara tahunan mengeluarkan sebuah laporan yang diberi tajuk World Wealth
Report (Laporan Kekayaan Dunia). Laporan ini memuat perkembangan dari apa
yang mereka sebut sebagai HNWIs (High Net Worth Individuals--Individu
dengan Nilai Kekayaan Bersih Tinggi). Untuk ada di daftar HNWIs, anda harus
memiliki kekayaan sedikitnya USD 1 Milyar.
Be first to comment this article | Views: 210 |
|
|
Ditulis Oleh Ken Budha Kusumandaru*
|
|
Saturday, 28 June 2008 |
Pemerintah
Indonesia terus-menerus berusaha meyakinkan rakyat bahwa subsidi BBM, yang
selama ini dikeluarkan pemerintah, sebagian besar dinikmati oleh orang kaya.
Dengan demikian, pemerintah merasa bahwa subsidi semacam itu tidak pada
tempatnya dan harus digantikan dengan Bantuan Langsung Tunai yang ditargetkan
pada orang-orang yang berada di bawah garis kemiskinan.
Komentar (1) | Views: 189 |
|
|
Ditulis Oleh Achmad Rusyaidi H*
|
|
Friday, 27 June 2008 |
Kita
pastinya masih teringat dengan gelora-gelora kampanye SBY-JK pada tahun 2004
kemarin, dimana jutaan Rakyat Indonesia menggantungkan harapannya pada sosok
SBY-JK untuk membawa Indonesia ke arah perubahan yang lebih baik. Empat tahun
sudah SBY-JK memimpin negeri ini. Sudah ratusan bahkan ribuan kebijakan yang
diambilnya. Sudah banyak pula pro-kontra yang mengikuti kebijakannya, entah
apakah penilaiannya objektif atau tidak.
Be first to comment this article | Views: 56 |
|
|
Ditulis Oleh Engkos*
|
|
Friday, 27 June 2008 |
Dua
minggu sudah kenaikan harga BBM berlaku, kenaikan harga-harga melambung dengan
serentak antara 20-50%. Inipun diiringi dengan kelangkaan di beberapa jenis
barang konsumsi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Selain kenaikan harga
dan kelangkaan, kenaikan harga BBM juga telah memicu konflik horizontal antar
masyarakat sendiri, baik yang sengaja dibuat oleh rezim maupun imbas kenaikan
harga. Konflik horizontal yang muncul terlihat sangat jelas pada:
Be first to comment this article | Views: 70 |
|
|
Ditulis Oleh Herdiansyah "Castro" Hamzah**
|
|
Wednesday, 25 June 2008 |
(Upaya untuk membongkar kebohongan publik)
Pengantar
Judul diatas tentu membuat makna tersirat akan arti penting suatu komoditas
energi dasar yang kita sebut Bahan Bakar Minyak (BBM). Indonesia
sendiri merupakan salah satu Negara pengekspor minyak dunia, yang tergabung
dalam OPEC. Pada era tahun 80-an, bahkan Indonesia mendapatkan berkah yang
sangat melimpah ketika tingkat harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan .
Namun sekarang, siapa yang menyangka bahwa justru Negara kita termasuk salah
satu dari sekian banyak Negara yang paling panik dan gelisah dengan kenaikan
harga minyak mentah dunia. Hingga hingga detik ini, kisaran harga minyak mentah
dunia telah mencapai angka US $ 120/barel atau sekitar Rp. 1.116.000,-/barel
atau Rp. 7018,-/liter . Logika-nya, sebagai Negara penghasil dan pengekspor
minyak, seharusnya Negara kita mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda
dengan kenaikan harga minyak mentah dunia ini. Namun yang terjadi justru
sebaliknya, Negara kita justru defisit. Jadi sekalipun Bangsa Indonesia
memiliki sedikitnya 329 Blok/Sumber Migas dengan lahan seluas 95 juta hektar
(separuh luas daratan Indonesia) dengan cadangan minyak yang diperkirakan
mencapai 250 sampai dengan 300 miliar barel (hampir setara dengan Arab Saudi
sebagai produsen minyak terbesar di dunia saat ini) dengan total produksi
minyak mentah hari ini mencapai 1 juta barel per hari atau 159 juta liter per
hari, tetap tidak bermanfaat bagi kehidupan Rakyat Indonesia, jika masyarakat dipaksa
untuk membeli mahal asset alam kita sendiri.
Komentar (1) | Views: 154 |
|
|
|
<< Awal < Sebelumnya 1 2 3 4 5 Berikutnya > Akhir >>
|
| Hasil 1 - 10 dari 47 |