HOMEHAM Impian anak-anak korban pelanggaran HAM...
Impian anak-anak korban pelanggaran HAM...
Ditulis Oleh Elsa Rizky*
Monday, 24 March 2008
Indonesia
telah berganti pemimpin sebanyak 7 kali. Tapi masih saja ada
kemiskinan dimana-mana, masih banyak
anak-anak penerus bangsa yang putus sekolah dan menjadi pemulung. Demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari,
anak-anak tersebut bekerja dari pagi hingga malam hari. Kehidupan anak pemulung tersebut sangat keras, mereka tidak takut, hujan, angin,
dan tidur
mereka dimana-mana. Bahkan terkadang mereka
terpisah dari orang tuanya sehingga tidak
mendapatkan kasih
sayang orang tua seperti anak-anak yang lainnya. Di pikiran
mereka tidak ada gambaran
untuk masa depan
yang cerah, yang ada di benak pikiran mereka adalah uang
untuk membeli sesuap nasi yang harus dicari saat ini.
Seharusnya
pemerintah lebih memperhatikan, dan bertanggung jawab untuk kehidupan masa depan mereka. Karena dengan perhatian dari
pemerintah akan hal ini, maka anak-anak yang menjadi pemulung dapat dikurangi.
Sehingga mereka nantinya dapat hidup dengan layak seperti anak-anak yang
lainnya. Kalau kita bicara tentang HAM, mereka juga mempunyai hak untuk sekolah, hak untuk hidup, dan
hak untuk meraih masa depan. Hak yang sama dengan anak-anak yang lainnya.
Kondisi di atas, sedikit mempengaruhi masa depan
mereka. Dengan semakin terbatasnya akses anak-anak tersebut ke dunia
pendidikan, maka akan mempengaruhi kehidupan mereka di kemudian hari. Otomatis
pengangguran akan semakin membengkak dengan tidak adanya keseriusan dari
pemerintah di bidang pendidikan ini. Untuk memperoleh pekerjaan akan semakin
sulit, karena yang dibutuhkan adalah keahlian yang didapat dari sekolah formal.
Selain itu, karena minimnya jenjang pendidikan yang mereka terima, akan
mempengaruhi honor yang akan diterima jika mereka bekerja.
Sekarang
banyak warga Indonesia yang bekerja di luar negeri sebagai TKI karena kekurangan lapangan kerja di Indonesia. Begitu
juga buruh-buruh yang ada di Indonesia, upah mereka sangat minim hingga mereka harus bekerja
suami istri untuk memenuhi kehutuhan hidupnya. Salah satu pengaruh dari
banyaknya orang yang bekerja di luar negeri dan upah yang minim, dikarenakan
faktor pendidikan. Hal ini disebabkan karena masalah kemiskinan sehingga mereka
tidak memiliki biaya untuk sekolah. Oleh karena itu pemerintah harus bertanggung
jawab atas kemiskinan yang ada di Indonesia
ini. Dan pemerintah harus memperbanyak lapangan kerja, upah yang layak, dan
tidak ada lagi warga bangsa Indonesia yang bekerja di
luar negeri.
Karena masalah upah yang minim, buruh selalu memperjuangkan hak untuk mendapat upah
yang layak. Hal
ini dilakukan untuk mencapai kesejahteraan bagi buruh karena dengan upah yang
minim, tidak mungkin tercapai pemenuhan kebutuhan hidupnya. Banyak anak-anak yang orang tuanya bekerja
sebagai buruh. Namun untuk membiayai anaknya sekolahpun, mereka sudah sangat kesulitan.
Bahkan banyak juga yang orang tuanya tidak mempunyai pekerjaan sehingga menyebabkan mereka menjadi putus sekolah. utus sekolah karena tidak mempunyai biaya untuk sekolah, bahkan biaya untuk sehari-hari pun tidak ada.
Jika hal ini terus dibiarkan oleh pemerintah, maka
bukan tidak mungkin generasi yang akan datang akan banyak sekali anak-anak yang
putus sekolah. Karena angka kemiskinan di Indonesia, hampir setiap tahun
bertambah.
Sekarang
saya akan menceritakan tentang anak korban dari
kasus pelanggarn HAM Sipol.
Kasus
pelanggaran HAM SIPOL adalah kasus yang pelakunya berhubungan
dengan negara. Kehidupan korban pelanggaran HAM pun
sangat memprihatinkan.
Mereka pun rata-rata bekerja sebagai buruh. Karena ada yang bekerja di pabrik, di perusahaan, di
pasar, dan lain-lain. Artinya persoalan korban pelanggaran HAM dan persoalan
buruh dalam menjalani kehidupannya memiliki permasalahan yang sama.
Masalah upah yang selama ini dikeluhkan oleh para
buruh, tentunya juga dirasakan oleh para korban pelanggaran HAM. Masalah
kenaikan harga sembako, biaya pendidikan yang tinggi juga dirasakan oleh korban
pelanggaran HAM. Para korban bukan hanya harus menuntut keadilan mengenai
kasusnya, namun juga akan berhadapan dengan masalah-masalah yang dihadapi oleh
sektor masyarakat lainnya.
Saat ini masih banyak juga anak-anak korban yang
akhirnya harus putus sekolah karena tidak ada biaya. Hal ini tentunya
disebabkan karena penghasilan orangtuanya sebagai buruh tidak mencukupi untuk
biaya sekolah anaknya. Belum lagi ketika orang tua mereka harus berjuang
menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM yang menimpa diri mereka. Maka tentu
saja, pendapatan atau penghasilan orang tua akan semakin berkurang, karena
mereka tidak bekerja saat itu.
Selama ini anak-anak keluarga korban telah
kehilangan orang yang mereka cintai. Keadilan yang mereka harapkan selama ini karena kehilangan orang yang
mereka cintai belum juga muncul. Mereka
pun harus berjuang untuk membiayai kehidupannya agar bisa sekolah yang tinggi. Pendidikan yang tinggi
menjadi penting agar bisa
menggapai cita-citanya, contohnya: menjadi anggota
DPR, anggota
MPR, dan
bahkan menjadi Presiden. Anak korban juga harus diperlakukan sama dengan
anak-anak lainnya, dan mendapatkan haknya yang sama dengan anak yang lainya. Apapun keadaannya kami adalah anak penerus
bangsa yang akan memimpin bangsa ini
Maka dari itu, hak-hak anak bangsa Indonesia
seharusnya dapat dipenuhi oleh pemerintah. Pemerintah harus melihat
kondisi anak-anak bangsa Indonesia, masih banyak impian yang tidak di miliki oleh mereka. Pemerintah harus bertanggung
jawab, seperti:
·
bebas
biaya sekolah
bagi anak-anak
·
memberikan
kesehatan gratis.
·
memberi
lahan bagi kaum miskin kota yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap agar mereka bebas dari penggusuran
·
berikan
lapangan kerja bagi kaum miskin kota
Seandainya itu kenyataan, pasti
anak bangsa Indonesia
akan maju atau bangkit. Dan di Indonesia tidak akan ada lagi kerusuhan, penculikan, dan
rakyat pun tidak merasa tertindas lagi. Bahkan Indonesia ini pun akan menjadi tentram dan damai.
*Penulis adalah cucu korban dari peristiwa Tanjung Priok 1984 dan siswa kelas VI SD Views: 1119
Komentar (2)
Beri Komentar
Silakan untuk mengisi komentar yang tidak keluar dari topik artikel.
Semua komentar yang tidak berhubungan akan segera dihapus.
Termasuk semua link yang digunakan untuk kepentingan spam marketing dsb.