Berada
di “garis massa” berarti selalu berada di tengah
massa, menyerap
aspirasinya, mendorong partisipasinya, melatih tiap individu di dalamnya untuk
dapat memimpin kelasnya sendiri. Garis massa
mengakui bahwa massa
rakyat pekerja berada di bawah tekanan ideologi borjuis – bahkan mereka yang
telah maju kesadarannya pun tidak dapat sepunuhnya luput dari tekanan ideologi
borjuis ini. Inilah akibat dari apa yang disebut hegemoni kapitalisme. Untuk
dapat memperoleh secercah kemandirian dari hegemoni kapitalisme ini, massa rakyat pekerja
membutuhkan “suntikan kesadaran” dari para aktivis. Namun sebaliknya, hanya
dalam gerak yang dinamis bersama massa
para aktivis akan dapat mempertahankan kesadaran maju yang telah diperolehnya.
Oleh karena itu, Garis Massa melarang dengan keras sektarianisme, di mana para
segelintir aktivis menganggap dirinya lebih pandai dari massa,
dan membuat massa
sebagai kerbau dicocok hidung. Di sisi lain, Garis Massa juga menolak
voluntarisme, di mana massa dianggap sebagai
penentu kebenaran sejati dan para aktivis menolak untuk mendahului atau
memimpin kehendak massa.
Garis Massa mengamanatkan kesalingterhubungan yang timbal-balik antara para
kader organisasi, di mana kedua pihak saling membelajari, saling mendorong dan
mendukung, saling mengritik dan memperbaharui diri. Kader-kader organisasi
harus mendorong dan melatih agar massa
melahirkan kader-kader baru, sebaliknya massa
memberikan kekuatan dan menjaga komitmen para kader.
|