Pertemuan
Nasional Solo (2004) memutuskan rumusan tentang Empat Musuh Rakyat Pekerja,
empat kekuatan yang akan menghalangi rakyat pekerja mencapai kekuasaan dan
(melalui kekuasaan itu) mencapai kesejahteraan. Rumusan ini tidak mengalami
perubahan pada Pertemuan Nasional Parung (2005) maupun Kongres I PRP (2006).
Keempat Musuh Rakyat Pekerja itu adalah:
1. Militerisme
2. Imperialisme
3. Borjuasi yang sedang berkuasa
4. Ilusi Fundamentalisme
Militerisme adalah musuh terbesar rakyat pekerja. Rakyat pekerja hanya akan
dapat meraih dan menjalankan kekuasaannya dengan baik di bawah sebuah demokrasi
sepenuhnya. Demokrasi sejati menjamin semua orang mampu dan berkesempatan untuk
mengungkap pendapatnya demi kemaslahatan publik. Pembungkaman atas suara
kritis, penganiayaan dan pembunuhan atas para pemimpin rakyat pekerja,
pembubaran kegiatan dan penangkapan-penangkapan berdasarkan interpretasi hukum
seenak sendiri akan merupakan rintangan hebat yang harus diatasi oleh
perjuangan rakyat pekerja. Rakyat pekerja tidak akan punya kesempatan jika
argumen yang diajukannya berdasarkan pengalaman nyata dihadapi dengan kekerasan
senjata. Kami tidak mengidealisasi demokrasi, melainkan sadar bahwa untuk
mematahkan kekuatan kekerasan ini kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar
lagi. Untuk itulah rakyat pekerja harus berorganisasi, melatih diri
bersama-sama agar dapat menghadang kekuatan kekerasan terorganisir yang
ditujukan untuk menghalangi perjuangan rakyat pekerja ini.
Imperialisme adalah musuh rakyat pekerja sedunia. Sistem dunia ini mencengkeram
dengan hebat perekonomian dan perpolitik di negeri berkembang, menjadikannya
sapi perah untuk keuntungan para direktur, CEO dan manajer
perusahaan-perusahaan multinasional. Dengan kekuatan uangnya, mereka melimpahi
para intelektual, pemimpin negara dan pemimpin militer dengan kemewahan duniawi
– dan mendapatkan berbagai kemudahan dan perlindungan (baik teori, peraturan
perundangan maupun “keamanan”) ketika menjalankan penghisapan di negeri perahan
mereka. Perlawanan terhadap jaring-jaring kekuasaan perusahaan-perusahaan
multinasional inilah yang membuat internasionalisme perlawanan rakyat pekerja
menjadi sebuah keharusan.
Faksi borjuasi yang sedang berkuasa tentunya merebut kekuasaan dengan
pengorbanan besar (tentunya dalam bentuk dana kampanye) dan mereka berharap
“investasi” mereka itu dapat membuahkan keuntungan berlipat ganda bagi faksi
mereka ketika proyek-proyek pemerintah berikutnya akan diserahkan pada mereka.
Dengan demikian, mereka akan menjadi salah satu pihak yang paling tidak rela
bila kekuatan rakyat pekerja berkembang dan tumbuh menjadi salah satu pesaing
(sekalipun dalam pemilu). Mereka akan bekerja sekeras mungkin agar kekuatan
rakyat pekerja ini dapat dipasung, agar tidak ke mana-mana. Berbagai peraturan
pemerintah akan dikeluarkan untuk mempersulit kehidupan organisasi-organisasi
rakyat pekerja. Perlawanan terhadap politik faksi borjuasi yang sedang berkuasa
juga merupakan latihan bagi rakyat pekerja itu sendiri agar mampu mengkritisi
politik pemerintah, memaksanya menempa diri agar dapat menyusun politik dan
peraturannya sendiri, dan membangkitkan semangatnya untuk menyusun bentuk
kekuasaannya sendiri.
Ilusi fundamentalisme dicantumkan sebagai musuh rakyat pekerja, karena
sepanjang sejarah umat manusia agama selalu disalahgunakan oleh mereka yang
memegang kekuasaan sebagai alat untuk memaksa orang tunduk. Padahal,
agama-agama (terutama agama-agama wahyu) muncul sebagai alternatif pemikiran
yang memperkenalkan kesetaraan, keadilan dan kedamaian bagi semua orang.
Melalui caranya masing-masing, tiap agama merupakan panggilan moral agar
kesejahteraan diberlakukan bagi semua orang, agar penindasan dihapuskan dan
agar tidak ada orang yang dipaksa tunduk menghamba pada orang lain. Ilusi
fundamentalisme menyulitkan rakyat pekerja memahami bahwa perjuangan
menyejahterakan diri sendiri dan seluruh masyarakat adalah perjuangan paling
hakiki dan asasi bagi tiap manusia. Oleh karena itu, bersama semua pemimpin
agama yang beritikad baik dan bertulus hati berjuang bagi kesejahteraan semua
orang tanpa memandang latar belakangnya, ilusi fundamentalisme haruslah
dilawan. Agama dan panggilan nuraninya haruslah diluruskan ke jalan pembebasan
umat manusia dari keterbelakangan, kemiskinan, penderitaan dan ketidakberdayaan