Permadi Arya, jika hanya bersikap rasis di Twitter tidak perlu membawa Pancasila

kapitalisme itu rasis

Novri Oov Auliansyah

————————-

Catatan redaksi:

Beberapa hari sebelum meninggal pada 9 Jaunari 2021, Kawan Oov mengirimkan tulisan ini ke beberapa kawan untuk mendapat masukan. Tulisan ini diterbitkan secara anumerta, karena kematiannya yang tiba-tiba membuat tulisan ini baru bisa diterbitkan setelah ia meninggal.

Tulisan ini sendiri merupakan opini Kawan Oov tentang pernyataan rasial yang diungkapkan oleh Permadi Arya terhadap Natalius Pigai, aktivis keturunan Papua. Opini ini mencerminkan posisi Oov yang anti terhadap rasisme—cerminan dari keyakinannya terhadap ideologi sosialisme.

Kawan Oov adalah salah satu kader muda PRP yang tumbuh di masa-masa sulit gerakan rakyat. Ia muncul bukan untuk mengafirmasi kenyataan yang suram, melainkan untuk menjadi negasi atasnya. Di tengah kondisi gerakan yang penuh dengan kelesuan, demoralisasi, dan oportunisme, ia muncul dengan militansi, keteguhan dan integritas.

Kawan Oov mulai aktif di PRP sekitar tahun 2017. Saat masih menjadi Calon Anggota (CA) PRP, ia sudah menunjukkan semangat belajar yang tinggi. Ia rajin mengikuti berbagai kegiatan belajar serta diskusi, baik yang dilakukan oleh PRP maupun organisasi lain.

Pada Mei 2017, Kawan Oov resmi diangkat menjadi anggota penuh Komite Kota Tangerang PRP. Ia pun terlibat semakin dalam dengan berbagai kegiatan organisasi. Ia resmi bergabung dengan tim kerja unifikasi kiri PRP dan tim media PRP.

Ia juga aktif di serikat buruh dengan menjadi pengurus di Konfederasi Serikat Nasional dan Federasi Serikat Buruh Karya Utama. Di serikat buruh, Kawan Oov merupakan sosok yang aktif mengurus media kampanye dan juga memfasilitasi pendidikan untuk anggota-anggota serikat. Ia juga aktif mengikuti pertemuan-pertemuan aliansi dan merajut perkawanan dengan banyak serikat.

Sifatnya yang rendah hati, suka menolong dan menyenangkan membuatnya mudah bekerjasama dengan orang lain―ia memiliki kapasitas team work yang baik. Ia disukai tidak hanya oleh kawan-kawan seorganisasinya, tapi juga oleh kawan-kawan dari organisasi lain.

Kualitas dan kinerjanya yang baik membuat ia kemudian diangkat menjadi staf Departemen Pengembangan Organisasi (DPO) Biro Politik PRP. Sebagai staf DPO Biro Politik PRP, ia menanggungjawabi program unifikasi kiri yang rintangannya cukup tinggi.

Di samping terus belajar dan melakukan berbagai kegiatan organisasi, Kawan Oov juga rajin dan produktif dalam menulis. Ia mengelola sebuah blog pribadi yang berisikan banyak tulisannya, termasuk yang ditulisnya sebelum ia aktif di gerakan. Selain itu, ia juga menulis untuk situs PRP, KSN, Indoprogress dan Mojok.

Di Kongres IV PRP pada Maret 2019, Kawan Oov terpilih sebagai Ketua Nasional PRP. Bersama dengan dua kawan muda lainnya―Rizal Assalam sebagai Sekjen dan Dodi Moidady sebagai Bendahara Nasional―ia mengambil tanggung jawab memimpin PRP. Saat itu, PRP sedang didera banyak masalah. Mandatnya pun cukup berat, yakni melanjutkan unifikasi kiri dan pembangunan partai massa untuk Pemilu 2024.

Selama menjabat sebagai Ketua Nasional PRP, Kawan Oov banyak mengambil peran merawat jaringan-jaringan sekawan. Sosoknya dikenal baik mulai dari pimpinan organisasi tingkat nasional hingga kelompok-kelompok anak muda.

Sebagai seorang Ketua, Kawan Oov hampir tidak pernah absen menghadirkan organisasinya di banyak aksi-aksi. Meski sosoknya yang masih muda, namun ia berani mengambil panggung orasi dan menyampaikan pesan-pesan solidaritas dan perlawanan, termasuk mengikuti aksi-aksi penolakan Omnibus Law di tengah masa sulit Covid-19.

Pada 9 Januari 2021, sekitar pukul 10.30 WIB, Kawan Oov menghembuskan nafasnya yang terakhir di usia 34 tahun. Kawan Oov tidak hanya mewariskan berbagai nilai-pakai yang terkandung dalam hasil-hasil kerjanya―seperti tulisan-tulisannya―tapi juga mewariskan keteladanan kepada kita semua. Beristirahatlah dalam damai, Kawan. Kami akan lanjutkan perjuanganmu untuk membebaskan rakyat pekerja yang tertindas!

————————-

Ada dua peristiwa besar yang mengguncang dunia pada tahun 2020. Pertama, pandemi akibat virus Covid-19 yang menyebar dengan cepat ke hampir seluruh negara di dunia. Lalu yang kedua, kematian George Floyd yang memicu unjuk rasa dan perobohan berbagai patung tokoh-tokoh di Amerika dan Eropa, dengan tujuan untuk menghentikan rasisme di negara tersebut. Walaupun rasisme dikutuk habis-habisan di seluruh negara, namun kenyataannya, rasisme masih ada di tengah masyarakat dunia.

Ketika tahun 2020 berakhir dan tahun 2021 datang dengan sambutan hening, tanpa warna warni di langit dan dar der dor suara senapan letupan kembang api, banyak orang di dunia berharap bukan hanya tahunnya yang berakhir, tetapi juga pandemi dan kasus rasial di muka bumi juga berakhir.

Sayangnya belum genap seminggu memasuki tahun 2021 kasus rasial sudah kembali terjadi di Indonesia. Bisa jadi ini merupakan kasus rasial pertama di dunia pada tahun 2021 yang ditulis di media online dan ramai dikutuk netizen di media sosial. Bagaimana netizen tidak marah, maklum saja mereka marah karena pelaku kasus ini adalah Permadi Arya atau biasa dikenal Abu Janda, seorang―yang mengaku―aktivis, Pancasilais, nasionalis, anti-rasis dan is, is lainnya yang berkonotasi positif.

Kasus rasial ini terjadi tanggal dua Januari, tepat satu hari setelah tahun baru 2021 di media sosial Twitter. Permadi Arya saat itu sedang terlibat debat dengan Natalius Pigai yang kebetulan orang Papua. Perdebatan ini dipicu oleh ancaman AM Hendropriyono terhadap organisasi yang melindungi Front Pembela Islam (FPI).

Perdebatan karena beda pendapat memang wajar, tapi menjadi kurang ajar ketika keluar dari topik dan menyerang fisik. Kalimat Permadi yang mempertanyakan Pigai “apakah sudah selesai evolusi” merupakan tulisan yang menjijikan yang seharusnya tidak diketik oleh warga negara yang tinggal di negara yang penduduknya majemuk, apalagi umpatan rasial itu hanya untuk membela pernyataan seorang pejabat. Harusnya Permadi yang merasa nasionalis sadar bahwa dia adalah warga negara Indonesia (WNI), bukan Warga negara Hendropriono (WNH). Di Indonesia, ada berbagai ras, etnis dan warna kulit, bukan hanya satu.

Kasus perkataan rasial terhadap orang Papua seperti yang dilakukan Permadi bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Sebelumnya, tahun 2019, terjadi keributan di Jawa Timur yang dipicu panggilan “monyet” kepada mahasiswa Papua. Lagi-lagi tersangka pelaku kasus rasial ini, Tri Susanti, sama seperti Permadi, mengaku seorang nasionalis dan Pancasilais.

Keributan yang berujung pada hinaan bernada rasial awal tahun ini membuat kita jadi bertanya-tanya sambil mengerutkan dahi, bagaimana mungkin kasus rasisme bisa hilang di Indonesia jika buzzer pembela pemerintah saja bersikap rasis terhadap orang-orang yang mengkritik pemerintah.

Permadi memang pernah membela keturunan Tionghoa dan menyerang orang-orang yang besikap rasis terhadap mereka di media sosial, tapi di sisi lain, setelah itu, dia juga melakukan sindiran terhadap keturunan Arab, ditambah sekarang menghina seorang Papua yang dianggap belum berevolusi menjadi homo sapiens.

Melihat tingkah Permadi saat ini, wajar saja jika orang-orang kemudian menyimpulkan, Permadi mengutuk tindakan rasis terhadap keturunan Tionghoa bukan karena sedang melawan rasisme, tapi karena agenda politis sedang membela Ahok. Toh saat ini, ketika situasinya terbalik, dia tidak segan-segan mengeluarkan kalimat rasis demi membela Hendropriono.

Ada baiknya Permadi jujur saja bahwa mereka sedang menjadi buzzer untuk membela politisi, tidak perlu teriak-teriak menjadi seorang nasionalis, Pancasilais, dan anti-radikal di media sosial. Permadi seharusnya merasa malu, walaupun di media sosial merasa lebih Pancasila dibandingkan pembaca Pancasila di lapangan sekolah setiap upacara Senin pagi, namun dia lupa bahwa di dalam kelima sila tersebut ada kata “kemanusiaan”, “adil”, ”beradab”, “persatuan” dan “keadilan”. Sukarno yang membangun partai Nasionalis dan perumus Pancasila bisa menangis dalam kubur ketika tahu kata Nasionalis dan Pacasila digunakan untuk melakukan tindakan rasis.

Sebagai penutup, saya rasa tidak ada salahnya juga jika kita mencoba berpikiran positif terhadap Permadi Arya. Mungkin dalam lubuk hati yang paling dalam dia juga tidak tega melakukan sikap rasis seperti ini, dia melakukan ini hanya sebagai trik supaya bisa diangkat menjadi salah satu anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Toh artis yang tidak menghina Pancasila dan tidak hafal pancasila diangkat menjadi duta Pancasila, kenapa dia tidak?

LEAVE A REPLY