Wabah Virus Corona: Bencana Buatan Kapitalisme

Ilustrasi Covid-19, sumber gambar: pixabay.com

Ben Hillier

Apa yang harus dilakukan jika dihadapkan pada sebuah virus yang sangat menular, yang dinyatakan oleh para ahli sebagai sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya dan tidak mereka pahami, dan yang menyebar dengan cepat serta membunuh ratusan orang? a) Mengambil langkah preventif untuk menghentikan penyebaran virus dan mempersiapkan sistem kesehatan yang ada untuk kejutan potensial? Atau b) Mengabaikannya, dan dengan riang menyatakan—tanpa bukti—bahwa virus itu tidak jauh berbeda dari flu umum, menuduh lawan politik yang menganggapnya lebih serius sebagai menebar keresahan untuk keuntungan politik, dan kemudian, ketika pandemi sudah dekat dan para dokter masih belum bisa mengatakan seberapa buruk virus ini, menyatakan kepada semua orang bahwa semuanya berada di bawah kendali meskipun tidak ada atau hanya sedikit yang dilakukan dalam rangka mempersiapkan diri untuk sebuah wabah lokal?

Jika anda adalah presiden AS, pilihannya adalah “b”. Selain melarang masuk sementara warga negara asing yang berkunjung ke Cina sebelum kedatangan mereka, pembicaraan apapun mengenai AS yang menghadapi masalah, dalam pikiran Donald Trump, adalah konspirasi Partai Demokrat dan berita palsu media untuk mengganggu kepresidenannya dan membuat jatuh pasar saham. Ia tentu saja didukung media sayap kanan yang perhatian utamanya adalah melebih-lebihkan ancaman imigrasi serta ancaman perang terhadap presiden, dan bukan ancaman terhadap kesehatan nasional. Untuk suatu periode, posisi Trump juga digaungkan oleh para penulis di media-media yang biasanya kritis terhadap Gedung Putih. Sebuah berita utama di Washington Post pada awal Februari menyatakan: “Jangan panik, Amerika. Untuk saat ini, flu merupakan ancaman yang jauh lebih besar dari virus corona.” “Jangan Khawatir Dengan Virus Corona. Khawatirlah dengan Flu,” ungkap BuzzFeed beberapa hari lebih awal.

Sejak awal, sudah jelas bahwa para ahli medis tidak mengetahui seberapa buruk atau sebaliknya virus ini, tetapi sepertinya banyak orang yang bukan ahli beropini. “Kenapa begitu banyak jurnalis harus bertindak seperti propagandis dan bukannya seperti pemikir independen adalah pertanyaan untuk lain waktu,” tulis kontributor Vanity Fair T.A. Frank dengan tepat dalam tanggapannya pada pertengahan Februari, sebelum mencatat bahwa tingkat kematian virus corona diduga 20 kali lebih tinggi dari flu―relatif sama dengan flu Spanyol, yang membunuh puluhan juta orang pada 1918-20. Dan, seperti yang juga dicatat Frank, tidak seperti flu, tingkat kasus kritisnya cukup tinggi untuk membanjiri unit-unit gawat darurat.

Ketika tekanan untuk mengambil tindakan menjadi sangat tinggi, Trump menunjuk wakil presiden Mike Pence untuk mengawasi tanggapan warga AS, yang banyak memberitahukan kita tentang tingkat keseriusan mereka dalam menangani wabah ini. Pence dikenal sebagai penganut “anti-kewaspadaanisme” dalam urusan krisis kesehatan publik. Ketika mencalonkan diri untuk Kongres pada tahun 2000, ia menulis kalimat yang kredibel seperti ini: “Terlepas dari histeria lapisan politik dan media, merokok tidak membunuh” dan “Pemanasan global adalah mitos…CO2 adalah sebuah fenomena yang terjadi secara alamiah di alam.” Sebagai gubernur Indiana dari 2013 sampai 2017, ia berurusan dengan epidemi HIV yang terkait dengan kebiasaan berbagi jarum suntik di kalangan pecandu narkoba, memotong anggaran untuk alat tes HIV terakhir di daerah itu ketika epidemi meledak, dan menolak program pemberian jarum suntik dengan harga murah atau gratis ke pecandu untuk mengurangi risiko HIV (needle exchange). “Sayangnya, wabah ini tidak dapat dicegah, meski kita tahu banyak tentang HIV dan kaitannya dengan kecanduan narkoba, karena tidak tersedianya sumberdaya perawatan yang memadai dan perlindungan kesehatan publik,” tulis Institut Nasional Penyalahgunaan Narkoba di saat itu.

Hal serupa juga bisa ditulis untuk virus corona, yang sudah mencapai ukuran pandemi. Sumberdaya perawatan yang memadai dan perlindungan kesehatan publik merupakan isu di Wuhan, dimana wabah dimulai, dan juga akan menjadi isu di banyak tempat ketika virus menyebar. Menurut penuturan beberapa saksi, dan evaluasi para pengamat medis, respons awal dari mereka yang berkuasa di Cina adalah penyangkalan (denial), yang mengarah pada kegagalan mempersiapkan respons sistem kesehatan yang memadai. Otoritas di Wuhan terlalu menaruh perhatian pada perayaan dan konferensi politik mendatang sehingga mereka tidak ingin peringatan para dokter merusak pesta tersebut (terlihat menakutkan seperti Trump). Setelah beberapa minggu, ketika epidemi menjadi terlalu besar untuk diabaikan, penyangkalan diganti dengan panik. Eksperimen karantina terbesar dalam sejarah manusia kemudian menyusul, tetapi sistem kesehatan yang ada tidak siap dan benar-benar kebanjiran. Siapa yang tahu seberapa besar perjalanan wabah akan berbeda jika di minggu-minggu pertama yang genting saat virus ditemukan, otoritas Wuhan bertindak tegas membendung wabah dan menyiapkan sistem medis?

Partai Komunis yang berkuasa menerapkan lockdown masif terhadap ratusan juta orang untuk menghentikan wabah. Mereka yang ada di Hubei sangat menderita karena respons otoritas yang buruk. Bruce Aylward dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang memimpin misi internasional ke Cina, menyatakan kepada majalah Science bahwa upaya membendung yang agresif memberikan waktu bagi provinsi-provinsi lain untuk bersiap-siap dan mencegah “kemungkinan ratusan ribu” kasus di seluruh negeri. Namun, alih-alih melakukan semua yang bisa dilakukan untuk tidak mengulang apa yang terjadi di Wuhan dengan menggunakan waktu yang ada untuk mempersiapkan sistem kesehatan AS, Gedung Putih malah memikirkan peluang ekonomi yang diberikan oleh krisis di Cina. Sekretaris perdagangan Wilbur Ross menyatakan, wabah “akan membantu mempercepat kembalinya pekerjaan ke Amerika Utara,” sementara penasihat dagang presiden Peter Navarro menyatakan bahwa tidak akan ada keringanan tarif bahkan jika ekonomi Cina mulai menurun karena epidemi. Menurut laporan yang ada, para pejabat bersandar pada perusahaan-perusahaan AS yang beroperasi di Cina untuk memulangkan mereka ke AS sebagai bagian dari proyek nasionalis “America First”-nya Trump.

Pada akhir Februari, virus corona telah menerobos semua garis pembendungan internal Cina, dan AS serta sebagian besar dunia tampak tidak siap. AS membuka tempat karantina di Pangkalan Angkatan Udara Travis dan Pangkalan Cadangan Udara March di California untuk warga negara AS yang kembali dari Cina. Tetapi seorang pelapor mengajukan komplain yang menyatakan bahwa protokolnya longgar dan staf yang ada menjadi beresiko. “Saya segera menerima panggilan panik dari tim kepemimpinan saya dan mengerahkan anggota staf yang mengungkapkan keprihatinan dengan kurangnya…komunikasi dan koordinasi, staf dikirim ke daerah karantina tanpa alat pelindung diri, latihan atau pengalaman dalam mengelola darurat kesehatan publik, protokol keselamatan dan bahaya potensial baik bagi diri mereka sendiri maupun anggota masyarakat dengan mana mereka berkontak,” tulis si pelapor. Tidak lama setelah itu, New York Times melaporkan kasus pertama AS dalam seorang pasien “tanpa kontak yang diketahui dengan zona-zona panas atau pasien virus corona lainnya” muncul di dekat Pangkalan Angkatan Udara Travis.

Jason Schwartz, asisten profesor di Yale School of Public Health, baru-baru ini mengatakan kepada James Hamblin dari Atlantic bahwa otoritas yang ada seharusnya sudah siap sejak wabah SARS pada 2003. “Seandainya kita tidak mengesampingkan program riset-vaksin-SARS, kita akan punya lebih banyak hasil riset yang mendasar, yang bisa kita terapkan pada virus baru yang sangat terkait ini,” ungkapnya. Sebuah vaksin baru bisa dibuat setidaknya 12 bulan lagi, menggarisbawahi poin yang dibuat oleh Hamblin, juga seorang dosen di Yale School of Public Health: “Investasi jangka panjang pemerintah penting karena membuat vaksin, obat anti-virus, dan alat-alat vital lainnya memerlukan investasi yang serius selama beberapa dekade, bahkan ketika permintaan sedang rendah. Ekonomi berbasis-pasar seringkali sulit mengembangkan sebuah produk yang tidak mempunyai permintaan yang segera dan mendistribusikan produk ke tempat-tempat dimana produk itu dibutuhkan.”

Sistem kesehatan AS adalah perwujudan dari logika kapitalis berbasis-pasar: untuk-laba, pengguna-membayar, dan didominasi oleh industri farmasi dan asuransi swasta. AS adalah satu-satunya negara maju yang utama tanpa jaminan cuti sakit dan perlindungan kesehatan universal. Hal itu mungkin membuatnya menjadi yang paling tidak siap diantara negara-negara maju untuk berhadapan dengan wabah. Bagaimana mungkin orang-orang yang terinfeksi bisa mengisolasi-diri selama 14 hari jika mereka hidup dari gaji ke gaji tanpa hak cuti? Bagaimana mereka bisa didiagnosa jika mereka harus membayar lebih dari $3.000 untuk dites―inilah yang terjadi pada seorang Florida yang kembali dari Cina pada Februari, menurut Miami Herald. Bagaimana epidemi akan dibendung jika setengah dari orang yang terinfeksi tidak mampu membayar obat dan perawatan rumah sakit?

Itulah persoalan yang dihadapi AS. Ketika pemerintahan negara-negara barat memotong anggaran sistem kesehatan publik, memberikan subsidi kepada sektor kesehatan privat untuk beralih ke sistem pengguna- dan penjamin-membayar, dan menyerang hak-hak pekerja serta kondisi kerja, itu semakin menjadi pertanyaan bahkan bagi negara-negara dengan catatan kesehatan publik yang baik, yang relatif tidak akan terpukul oleh virus corona. Tidak terbayangkan bagaimana kematian massal yang bisa terjadi di negara-negara dengan sistem kesehatan yang lebih buruk dari Cina jika mereka juga dihadapkan pada epidemi. Dengan lebih dari 3.000 orang meninggal, banyak negara mengambil atau memperluas langkah-langkah pembendungan.

“Pada titik tertentu, ekspektasi bahwa akan ada daerah yang terhindar dari efek COVID-19 mesti disingkirkan,” Hamblin menyimpulkan. “Penyakit ini mesti dilihat sebagai masalah semua orang.” Tetapi, masuk akal untuk beranggapan bahwa mereka yang memiliki sumberdaya ekonomi―multi-jutawan, para eksekutif di perusahaan-perusahaan farmasi dan asuransi, politisi―tidak akan melihatnya seperti itu jika pandemi ini terutama ganas. Besar kemungkinan, orang-orang miskin dan kelas pekerja yang akan didorong masuk ke tempat-tempat karantina massal yang dibangun dengan tergesa-gesa dan tidak memadai, jauh dari perawatan klinik privat yang lebih baik, yang merawat orang-orang kaya.

Dan kelas pekerja akan berhadapan dengan pilihan nyata yang tidak dihadapi oleh orang-orang berduit: pilihan antara kemiskinan dan mengambil resiko terinfeksi. Kerja lepas dan kontrak jangka pendek―kerentanan―adalah fitur dari sebagian besar tenaga kerja di setiap negara. Orang-orang itu sudah pergi bekerja dengan flu dan penyakit lain setiap tahun karena mereka tidak bisa tidak melakukannya. Seringkali, mereka tinggal di blok apartemen atau akomodasi bersama. Mereka tidak punya uang untuk membayar anggota keluarganya untuk pergi ke hotel satu atau dua minggu jika salah satu dari mereka jatuh sakit. Sebaliknya, mereka yang mempunyai sumberdaya memiliki fleksibilitas lebih besar untuk mengambil cuti kerja. Mereka memiliki perlengkapan untuk memelihara diri mereka dalam isolasi dan mempekerjakan orang untuk melakukan pekerjaan mereka. Mereka tinggal di rumah-rumah besar dan bukan apartemen sempit, sehingga secara alamiah lebih terkarantina dari kontak manusia ketika hal itu diperlukan.

Seperti setiap krisis kesehatan lainnya baru-baru ini, pandemi virus corona tampaknya tidak akan mengubah pikiran pemerintah dan pengusaha tentang kebutuhan pekerja dan orang miskin untuk hak-hak dan sumberdaya yang lebih banyak―perlindungan kesehatan yang gratis dan universal, satu bulan cuti sakit digaji di setiap tahun, dan seterusnya―apalagi tentang dunia yang dijalankan untuk memenuhi kebutuhan manusia dan bukan untuk memperluas ego para pemimpin politik atau rekening bank dari para eksekutif industri kesehatan.

Tulisan ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari Ben Hillier, “Coronavirus: a disaster of capitalism’s making”, Red Flag, 2 Maret 2020, https://redflag.org.au/node/7047.

LEAVE A REPLY