Negara Fokuskan Perhatian pada Rakyat Melawan Pandemi Global

Pekerja rumah sakit menggunakan masker di RSPI Sulianti Saroso, Jakarta, img source: https://sumbar.antaranews.com/

Pernyataan sikap ini diinisiasi oleh Dewan Internasional Rakyat dan Tricontinental: Institute for Social Research, institusi penelitian sosial bagian dari gerakan sosialis internasional Pernyataan sikap di bawah ini ikut ditandatangani oleh kelompok-kelompok sosialis di dunia, termasuk Partai Sosialis Malaysia. Teks asal bisa ditemukan di sini.

Partai Rakyat Pekerja, dalam hal ini, ikut mendukung pernyataan sikap tersebut dan bersepakat dengan gagasan serta tuntutan yang diajukan. Salam solidaritas internasional rakyat pekerja!

***

SARS-Cov2 atau Covid-19 telah dinyatakan sebagai pandemi global oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Virus ini telah mulai mendatangkan malapetaka di sebagian besar dunia, dengan di bagian dunia lain sedang menunggu dalam antisipasi. Kita berada dalam perjuangan nyata, yang membutuhkan mobilisasi total; sebuah perjuangan yang harus mengutamakan kehidupan dibalik keuntungan semata (akumulasi).

Kita hanya akan memenangkan perjuangan ini—seperti yang telah dilakukan China—jika rakyat kita bersatu dan disiplin, jika pemerintah mendapatkan rasa hormat dari kita dengan tindakan (upaya) mereka (yang tepat dan efektif), dan jika kita membangun solidaritas internasional.

Utang global mencapai 250 triliun USD, dengan utang perusahaan sudah sangat besar. Di sisi lain, ada triliunan dolar berputar di pasar saham dan dibebaskan dari  pajak. Pada saat perputaran uang mandeg, perusahaan-perusahan mengantri mendapatkan dana talangan dari negara. Hal ini, tentu, bukan cara terbaik memanfaatkan sumber daya yang berharga saat ini.

Ditengah-tengah situasi tersebut, tetap berjalannya pasar keuangan adalah suatu kegagalan imajinasi.  Penurunan nilai saham—dari pasar Hang Seng ke Wall Street—hanyalah cara untuk memperparah kecemasan sosial di dunia. Kesehatan pasar saham harusnya tidak dilihat sebagai indikator kesehatan ekonomi secara umum.

Karantina dan penutupan wilayah jangka panjang telah terjadi di sebagian besar dunia, tentu saja di Eropa dan Amerika Utara. Tetapi, karantina dan penutupan wilayah juga semakin meningkat di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Aktivitas ekonomi berhenti karena ketakutan. Perkiraan kerugian bersih tidak mungkin dibuat, dan bahkan lembaga internasional besar pun menyesuaikan angka kerugian setiap hari.

Sebuah studi UNCTAD pada 4 Maret, misalnya, mengatakan bahwa pelambatan manufaktur di China dengan sendirinya akan mengganggu rantai pasokan global dan menurunkan ekspor hingga $ 50 miliar—ini hanya satu bagian dari kerugian. Total kerugian sampai saat ini  sungguh di luar perhitungan. IMF telah berjanji  menggunakan $ 1 triliun membantu negara-negara untuk mencegah bencana ekonomi.

Sudah sekitar dua puluh negara datang ke IMF untuk meminta bantuan; Iran, yang telah menjauh dari IMF selama tiga dekade terakhir, kini telah meminta bantuan IMF. Ini akan menjadi perubahan yang menguntungkan bagi IMF.

Hal ini juga belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah—jika bukan karena penolakan memalukan untuk membantu rakyat Venezuela dengan dalih tidak mengakui pemerintah Venezuela. IMF tidak boleh memaksakan persyaratan dalam menawarkan pinjaman ini. Penolakan pinjaman ke Venezuela adalah tanda kegagalan politik dunia oleh IMF.

Solidaritas internasional dari China dan Kuba patut di contoh. Para dokter China dan Kuba telah berada di Iran, Italia, dan Venezuela. Mereka telah menawarkan bantuan dan keahlian di seluruh dunia. Mereka telah mengembangkan obat penawar dan perawatan medis untuk mencegah tingkat kematian penderita Covid-19. Mereka ingin mendistribusikan ini—tanpa hak paten atau keuntungan apa pun—kepada orang-orang di dunia.

Contoh China dan Kuba dalam situasi krisis ini harus ditanggapi dengan serius. Berkat contoh ini, lebih mudah membayangkan sosialisme di tengah-tengah pandemi Covid-19, daripada hidup di bawah rezim kapitalisme yang kejam.

Negara-negara Eropa yang sekarang menjadi fokus pandemi, melihat sistem kesehatan mereka yang melemah runtuh setelah puluhan tahun kekurangan dana dan kebijakan neoliberal. Pemerintah Eropa, serta Bank Sentral Eropa dan Uni Eropa, mengalokasikan sebagian besar sumber daya mereka untuk mencoba melindungi sektor keuangan dan bisnis dari bencana ekonomi.

Negara mengambil langkah setengah hati yang seolah-olah menunjukan upaya memperkuat kapasitas Negara dalam menghadapi krisis. Langkah setengah hati ini seperti re-nasionalisasi terbatas aset-aset dan kontrol publik temporer terhadap penyedia layanan kesehatan. Negara juga berupaya memberikan sejumlah keringanan-keringan—seperti penundaan bayaran sewa perumahan.

Namun, langkah tersebut tidak betul-betul-betul menunjukkan komitmen serius dalam memberikan jaminan dasar dan kesehatan bagi rakyat pekerja yang paling terkena dampak pandemi: pekerja kesehatan, perempuan pengasuh, buruh industri makanan dan perusahaan layanan dasar, dan lainnya.

Langkah-langkah setengah hati tersebut hanyalah penolakan setengah-setengah dari kebijakan neoliberal yang telah mendominasi dunia selama lima puluh tahun terakhir. IMF harus mengetahui hal ini, karena IMF telah berperan dalam menjarah sumber daya di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, dan penciptaan ‘gurun institusional’ di negara demi negara. Memperkuat negara dan mendistribusikan kembali kekayaan demi rakyat pekerja harus menjadi orientasi global.

Para ilmuwan memberi tahu kami bahwa perjuangan melawan virus ini dapat berlangsung selama tiga puluh atau empat puluh hari ke depan. Itulah mengapa sangat penting bahwa setiap negara dan setiap pemerintah mengambil langkah-langkah tepat untuk mencegah kematian ribuan orang.

Kelompok gerakan sosial, serikat pekerja, dan kelompok lain yang membentuk Dewan Rakyat Internasional mengusulkan agar program perubahan struktural dirumuskan dan dilaksanakan untuk memungkinkan kita memenangkan perjuangan ini dan membentuk kembali dunia. Program ini harus mencakup:

  1. Menghentikan semua aktivitas produksi, kecuali tenaga medis dan logistik yang penting dan yang diperlukan untuk memproduksi dan mendistribusikan makanan dan kebutuhan, tanpa kehilangan upah. Negara harus menanggung biaya upah untuk periode karantina.
  2. Kesehatan, persediaan makanan, dan keselamatan publik harus dijaga secara teratur. Stok gandum dan beras darurat harus segera dibagikan bagi orang miskin dan rentan
  3. Semua sekolah harus diliburkan/ditangguhkan
  4. Memastikan rumah sakit dan pusat kesehatan swasta agar tidak mempersoalkan keuntungan saat krisis terjadi. Pusat medis ini harus berada di bawah kendali pemerintah.
  5. Segera nasionalisasi perusahaan farmasi, dan bentuk kerjasama internasional untuk menemukan vaksin dan alat pengujian yang lebih mudah. Hapuskan hak cipta di bidang medis.
  6. Lakukan tes massal terhadap semua orang. Mobilisasi segera tes dan dukungan untuk tenaga medis yang berada di garis depan pandemi ini.
  7. Mempercepat produksi untuk bahan-bahan yang diperlukan untuk menghadapi krisis (alat uji, masker, respirator).
  8. Penutupan segera pasar keuangan global.
  9. Pengumpulan keuangan segera untuk mencegah kebangkrutan pemerintah.
  10. Pembatalan segera semua hutang non-perusahaan.
  11. Segera akhiri dan hapuskan semua pembayaran sewa dan kredit, serta akhiri penggusuran; ini termasuk penyediaan segera perumahan yang layak sebagai hak asasi manusia. Perumahan yang layak harus menjadi hak bagi semua warga negara yang dijamin oleh negara.
  12. Negara menanggung segala biaya utilitas—air, listrik, dan internet—sebagai bagian dari hak asasi manusia; Pada kondisi di mana kebutuhan tersebut belum terjangkau di daerah tertentu, kami meminta agar kebutuhan tersebut segera diadakan
  13. Segera mengakhiri tindakan sepihak, sanksi pidana dan blokade ekonomi yang berdampak pada negara-negara seperti Kuba, Iran, dan Venezuela yang menghambat negara tersebut mengimpor pasokan medis yang diperlukan.
  14. Dukungan mendesak bagi petani untuk meningkatkan produksi makanan sehat dan memasoknya ke pemerintah untuk distribusi langsung.
  15. Penangguhan dolar sebagai mata uang internasional dan meminta agar PBB segera menyerukan konferensi internasional baru untuk mengusulkan mata uang internasional bersama.
  16. Sediakan Pendapatan Dasar Universal (Universal Basic Income) di setiap negara. Negara menjamin penghidupan jutaan keluarga rakyat pekerja yang kehilangan pekerjaan, bekerja dalam kondisi yang sangat berbahaya atau bekerja sendiri. Sistem kapitalis saat ini menciptakan jutaan pekerja informal. Negara harus menyediakan lapangan kerja dan kehidupan yang bermartabat bagi penduduk. Sumber anggaran untuk membiaya Penghasilan Dasar Universal dapat mengambil pos anggaran pertahanan, khususnya biaya alutsista

 

21 Maret 2020

Dewan Internasional Rakyat dan Tricontinental.

Lihat pernyataan sikap di atas dalam bahasa lainnya:

LEAVE A REPLY