Untuk Pahlawanku “Marsinah”

Marsinah

Nuzulun Ni’mah
Bendahara Nasional PRP

Mengenal Marsinah

Menjelang detik-detik datangnya tanggal 8 Mei, selalu terbayang di benak saya, betapa sengsaranya, menderitanya, pedihnya, sakitnya hati, jiwa dan raga seorang Marsinah, buruh pabrik arloji yang 25 tahun lalu disiksa oleh sejumlah aparat terkutuk atas nama kepentingan Modal.

Seperti peribahasa, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali, peribahasa ini lebih pas buat saya untuk mengenali pahlawanku, kawanku, sabahatku, saudaraku Marsinah. Marsinah buruh perempuan dari Jawa Timur itu yang menjadi inspirasi bagi seluruh Buruh di Indonesia dalam memperjuangkankan hak–hak para buruh. Tidak terkecuali diriku sendiri. Perjuangan yang tidak pernah mengenal lelah, sampai ajal menjemputnya dengan paksa, atas kebiadaban rezim yang berkuasa.

Saya adalah buruh yang terlambat untuk mengenal sosok Marsinah. Karena saya mendengar tentang Marsinah setelah ada berita di TV (lupa tahunnya) yang memberitakan akan ada pembuatan patung Marsinah di desa tempat tinggalnya, Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk. Saya pada saat itu baru mulai masuk ke dunia serikat buruh karena sedang berkasus melawan PHK sepihak karena menuntut UMK tahun 2002—kasus saya sampai detik ini seakan menguap begitu saja. Tapi aku sungguh-sungguh lebih mendalami informasi mengenai kasus Marsinah ini sejak mengikuti kegiatan tahunan PRP memperingati Tragedi Marsinah sejak tahun 2009. Puncaknya, aku sempat memerankan tokoh Marsinah dalam pementasan drama singkat pada peringatan tahun 2011.

Sejak memahami kasus Marsinah aku menjadi yakin bahwa hati siapapun yang merasa dirinya sebagai buruh, hati siapapun yang merasa dirinya sebagai sesama perempuan, hati siapapun yang merasa dirinya sebagai sesama warga negara Indonesia, pasti akan ikut terluka, marah, sakit. Bahkan adalah wajar menurutku bila kita bersumpah serapah sebagai bentuk kekecewaan dan protes atas kejadian yang sangat-sangat dholim, biadab, yang dialami oleh anak bangsa Marsinah. Seorang buruh pabrik yang mencari rezeki di tanah kelahiran tumpah darahnya sendiri, tapi diperlakukan layaknya binatang buruan. Sebagai sesama buruh perempuan, saya merasa sangat berkewajiban menyebar luaskan nilai-nilai perjuangan Marsinah dan kawan-kawannya yang begitu luhur, konsisten, dan penuh tanggung jawab.

Karena sistem jam kerja yang sangat panjang, kesibukan kerja ganda (di pabrik dan di rumah) bagi mayoritas buruh perempuan di Indonesia, kemungkinan besar masih sangat sedikit buruh perempuan yang mengenal sepak terjang perjuangan Marsinah dan kawan-kawannya. Karena sangat minimnya waktu untuk bersantai, membaca, dan beristiharat. Di luar masalah itu semua, buruh perempuan juga masih sangat minim yang bisa aktif di tingkatan kepengurusan serikat baik di tingkat pabrik, maupun tingkat federasi. Begitupun, banyak serikat yang tidak menyampaikan sejarah Marsinah itu sendiri. Padahal sejarah Marsinah ini mengandung pelajaran yang sungguh sangat luar biasa. Seorang anak desa buruh biasa, tapi mempunyai keberanian yang sangat luar biasa. Keberaniannya inilah yang patut diketahui oleh para buruh perempuan di Indonesia. Tanpa ingatan dan pengetahuan tentang kasus Marsinah, maka resiko menjadi korban kekerasan terus mengancam kaum buruh, sekalipun era pemerintahan otoriter telah berakhir di tahun 1998.

Keadilan Sejati

Reformasi terkhianati. Berkali-kali ganti pemerintahan, berkali-kali juga janji terucap atas penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak kunjung ada penyelesaian. Negara dan Pemerintah indonesia telah berhutang Nyawa kepada keluarga besar Marsinah, dan kepada seluruh buruh di Indonesia. Hutang itu sampai kapan pun akan tetap menjadi hutang yang harus dipertanggungjawabkan. Masalah pemberian keadilan dan penuntasan kasus Marsinah, juga kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang selama ini terjadi di Indonesia, pemerintah dan pihak-pihak yang berwajib harus bisa menyelesaikan dengan seadil-adilnya agar Indonesia benar-benar menjadi Negara yang mempunyai rasa kemanusiaan, keadilan dan beradab kepada Rakyatnya sendiri.

Kasus Marsinah harus diusut sampai tuntas, agar Indonesia menjadi Negara yang bermartabat. Agar slogan “semua warga Negara Indonesia mempunyai hak yang sama di depan hukum” bukan hanya sekedar menjadi slogan yang sangat mudah diucapkan, tapi tidak mampu dilaksanakan. Perjuangan Marsinah harus selalu kita ingat dan kita teruskan. Jangan sampai sejarah tragedi kebrutalan aparat pemerintah yang dialami Marsinah dengan sengaja ditutup oleh Pemerintah supaya para buruh terbungkam. Marsinah harus kita jadikan teladan, baik sifat, sikap dan amanah dalam kepemimpinanya di tengah-tengah bejatnya rezim yang berkuasa saat itu. Selain sebagai buruh perempuan, dia juga sebagai warga negara Indonesia yang harus dilindungi haknya. Pertanyaan pentingnya dari tragedi Marsinah ini adalah kenapa ketika ada buruh dan rakyat pekerja lainnya yang bersatu dan berjuang dengan penuh semangat dari dalam hati karena kesadaranya atas hak-haknya, Pengusaha dan penguasa di negeri ini sangat tidak senang? Berarti kesadaran serikat buruh sejati yang bersatu dalam perjuangan atas hak-haknya, menjadi sebuah momok yang sangat ditakuti oleh Pengusaha dan penguasa.

Ayo terus kita lanjutkan perjuangan Marsinah di tempat kerja kita masing-masing, di dalam serikat kita masing-masing. Jadikan sejarah Marsinah ini sebagai materi pendidikan di serikat kita. Kumpulkan bacaan-bacaan tentang perjuangan Marsinah ini di sekretariat, agar lebih banyak lagi buruh-buruh yang bisa mengetahui sejarah ini. Untuk bisa belajar sejarah, muaranya kita kaum buruh membutuhkan sekretariat yang menetap sebagai identitas serikat. Ditaruhlah bacaan-bacaan tentang Marsinah di situ. Kasih tempat bermain anak, biar buruh-buruh perempuan bisa nyaman ke sekret sambil membawa anaknya. Sementara, selama ini, serikat kita untuk identitas tempat tinggal masih harus sering pindah-pindah seperti buronan. Soal ini akan aku bahas di tulisan selanjutnya.

Harapanku, jangan sampai kita para buruh Indonesia, para pemerhati perburuhan di Indonesia, dan para pekerja sosial lainnya melupakan sejarah yang sangat melukai hati kita. Seberat apapun perjuangan kita para buruh saat ini, kita harus tetap berjuang, karena hanya dengan perjuangan kaum buruh dan seluruh rakyat pekerja yang tertindas dan termarjinalkan, kita bisa menjadi alat kontrol yang sesungguhnya bagi Pemerintah yang sedang berkuasa.

Selamat memperingati Sang Pahlawan Buruh Indonesia, “Marsinah!”
Selamat dan teruslah berjuang, wahai Marsinah-Marsinah yang masih kerja di pabrik-pabrik!
Selamat untuk kita semua, para Buruh dan seluruh Rakyat Pekerja Indonesia dalam menuju perubahan yang Adil, Setara, Sejahtera.

LEAVE A REPLY