Teori Menentukan Nilai dan Harga Website

Novri Oov Auliansyah
Anggota PRP Komite Kota Tangerang

Saat ini, Internet merupakan teknologi yang berkembang pesat di Indonesia dan di berbagai negara lainnya. Orang-orang dari berbagai kota, baik besar maupun kecil, sekarang mudah sekali mengakses internet, entah itu melalui komputer, tablet maupun ponsel pintar. Imbas dari perkembangan Internet yang paling terlihat jelas adalah semua organisasi, baik komersil maupun tidak komersil, terdorong untuk memiliki situs web (website).

Ada berbagai macam tujuan mengelola situs web. Ada yang ingin dikenal secara luas, ada yang ingin memudahkan memberikan informasi atau kampanye, dan ada juga yang bertujuan untuk menjaga hubungan dengan pelanggannya.

Perkembangan teknologi dan kebutuhan terhadap situs web ini juga berdampak pada pekerja yang bergelut di bidang itu. Salah satu dampak yang dirasakan adalah bagaimana seorang programmer, baik itu pekerja lepas (freelancer) atau pekerja upahan berbasis proyek, menentukan harga tenaga kerja yang pantas untuk situs yang mereka kerjakan.

Jika kita mencari biaya pembuatan website di mesin pencari, kita akan menemukan berbagai macam penawaran pembuatan website, baik itu pesonal maupun perusahaan, dengan harga yang bervariasi. Mulai dari yang mematok Rp 500 ribu sampai ratusan juta. Ada yang membandrol harga dengan menggunakan paket atau kategori, misalnya paket basic sekian ratus ribu, paket small company sekian juta. Atau ada juga yang menggunakan kategori seperti company profile sekian juta, sekolah sekian juta, e-commerce sekian, dan lain sebagainya. Selain paket dan kategori, ada juga yang berdasarkan jumlah halaman, 4 halaman sekian ratus ribu, 5-10 halaman sekian juta, dan seterusnya.

Lalu apakah cara seperti yang mereka lakukan dalam menentukan harga akan efisien jika kita gunakan? Kalau kita ingin profesional, menjual situs web yang berkualitas dan kepuasan pelanggan adalah sebuah faktor penting, maka dengan cepat saya akan menjawab, cara mereka tidak efektif!

Kita tidak bisa menggunakan harga berdasarkan halaman. Saat ini banyak klien yang hanya menginginkan ‘situs web satu halaman’ (one page website), namun diisi dengan konten yang banyak fitur. Bisa jadi, pengerjaan satu halaman situs web tersebut memakan waktu lebih lama. Dibandingkan membuat situs web dengan menggunakan content management system (CMS) yang berisikan 5-10 halaman, karena kita harus mengetik script Jquery, yang membuat jari-jari pegal.

Bagaimana dengan tawaran paket atau kategori? Menurut saya itu juga tidak efektif, karena setiap klien walaupun berada di bidang bisnis yang sama, belum tentu menginginkan situs web dengan tampilan dan fitur yang sama.

Uniknya, beberapa kali saya berbincang-bincang dengan kawan-kawan saya tentang menentukan harga, ternyata sampai saat ini belum ada faktor-faktor yang jadi patokan selain biaya produksi, seperti hosting dan domain.

Lewat tulisan ini saya akan mencoba menulis bagaimana menentukan harga yang adil untuk sebuah situs web dengan mendasarkan diri pada teori ekonomi, mulai dari produksi sampai selesai pengerjaan.

Bagaimana menentukan nilai sebuah website?

Untuk mendiskusikan pertanyaan di atas, sebaiknya kita periksa dahulu apa saja komponen yang menentukan harga suatu pengerjaan situs web. Menurut pengamatan pendek saya, ada 3 komponen yang menentukan harga website yang kita bangun, yaitu:

1. Ongkos produksi, yaitu menghitung biaya alat-alat produksi dalam pembuatan sebuah situs website, seperti domain, hosting, listrik, Internet, dan lainnya. Alat-alat produksi yang kita sebutkan ini, nantinya akan mewujudkan nilai lebih[1] bagi klien ketika telah menjadi situs web yang beroperasi. Dengan demikian, bisa dikatakan, seorang programmer telah mewujudkan nilai menjadi lebih baik dan lebih berguna pada komoditi seperti domain, hosting dan lain-lain ketika telah menjadi situs website.

2. Biaya reproduksi, Yaitu berapa banyak biaya untuk mengembalikan stamina sampai proyek selesai.[2]

3. Harga ‘balas-jasa’ (meminjam istilah Martin Suryajaya) yaitu remunerasi atas kerja[3], atau bahasa gampangnya biaya mempertahankan martabat sosial dan harga diri si programmer tersebut.[4]

Jadi, nilai komoditi situs web yang dihasilkan oleh seorang programmer, selain memuat biaya reproduksi tenaga kerja dan biaya alat produksi, juga harus memasukan biaya untuk mempertahankan martabat sosial si programmer tersebut.

Dari ketiga hal yang disebutkan di atas, ketika sudah kita perhitungkan, semuanya akan menjadi harga alamiah (natural price), yaitu harga dasar dari tenaga kerja yang tercurah dari proses produksi suatu situs web.

Persoalan berapa harga aktual atau harga jual di pasar nantinya itu tergantung dari kecakapan negosiasi dan melihat situasi pasar, atau dalam kata lain tergantung dari hukum penawaran dan permintaan.[5] Tapi yang pasti, kita seharusnya bisa usahakan harga aktualnya berada di atas biaya dasar yang sudah kita dapat di atas, agar mendapatkan laba dari hasil kerjanya.[6]

Catatan:

[1] Mewujudkan nilai lebih bagi klien disini adalah karena domain dan hosting tersebut telah berubah fungsi ketika menjadi situs web yaitu, misalnya sebagai sarana pemasaran/penjualan/iklan suatu produk/jasa

[2] “Untuk memelihara dan me-reproduksi diri, untuk melangsungkan kehidupan jasmaniahnya, pekerja harus menerima bahan² kebutuhan yang diperlukan untuk hidup [ Karl Marx (1898): Value, Price and Profit]

[3] Suryajaya, Martin; Asal-Usul Kekayaan: Sejarah Teori Nilai dalam Ilmu Ekonomi dari Aristoteles sampai Amartya Sen (2016), hal 45.

[4] Meski dari sudut pandang teori Aquinas ini bisa saja disebut “biaya mempertahankan martabat social,’ tapi dari sudut pandang Marxis, ini adalah nilai surplus, yakni nilai baru yang tercipta dari kerja pengerjaan website. Kerja pengerjaan website menghasilkan nilai yang melebihi nilai yang diperlukan si pekerja untuk mereproduksi tenaganya (biaya reproduksi). Jadi, ada nilai baru yang tercipta, inilah yang disebut nilai surplus.

[5] Hukum penawaran-permintaan memiliki kekuatan yang besar untuk memaksa si programmer menetapkan harga sesuai dengan hukum tersebut. Jadi, biasanya harga aktual akan ditentukan dinamika permintaan-penawaran, bukan ditentukan semaunya oleh si individu programmer.

[6] Kenaikan harga akan sah jika terjadi perubahan nilai menjadi lebih baik St. Thomas Aquinas; dalam The Summa Theologica : SECOND PART OF THE SECOND PART : L.76, C.5 menulis “…dia (penjual) dapat melakukan hal ini (menaikan harga) dengan sah, entah karena dia telah memperbaiki masalahnya, atau karena nilainya telah berubah.

LEAVE A REPLY