Sepakbola, Politik, dan Kelas Pekerja

sepakbola kelas pekerja

sepakbola
keterangan foto: “Sepakbola Olah Raga Kelas Pekerja, Harga Kelas Pengusaha”
Novri Oov Auliansyah
Anggota PRP Komite Kota Tangerang

Sepakbola dan politik—walaupun FIFA bersikeras memisahkannya—sampai hari ini masih menjadi dua hal yang selalu berjalan beriringan, keduanya masih menimbulkan sebab dan akibat. Tahun lalu, seorang pemain Barcelona, Gerard Pique disoraki oleh pendukungnya sendiri saat latihan bersama timnas Spanyol, lantaran pemain yang disebut di depan mendukung referendum Catalunya. Di Liga Champion tahun 2016, klub sepakbola asal Irlandia, Glasgow Celtic terkena hukuman denda, karena ratusan pendukungnya mengibarkan bendera Palestina dan meneriakkan kemerdekaan Palestina ketika tim mereka melawan tim asal Israel, Hapoel Be’er Sheva.

Tidak hanya di Eropa, di Indonesia pun sama, politik selalu ikut menumpang pada sepakbola, hanya saja kasusnya berbeda dengan yang terjadi di Eropa. Politik dalam sepakbola Indonesia bukan karena ekspresi pemain atau pendukung, tapi tokoh-tokoh di luar sepakbola masuk untuk mengambil keuntungan dari sepakbola. Politisi borjuis berbondong-bondong masuk ke dunia sepakbola Indonesia untuk kepentingan Pemilu dan Pilkada, sehingga liga menjadi kacau. Titik paling kacau liga Indonesia terjadi pada tahun 2011, ada 2 liga yang bergulir di Indonesia, Liga Super Indonesia (LSI)—Liga versi pemenang ketua PSSI—dan Liga Primer Indonesia (LPI)—Liga Arifin Panigoro cs. Arifin Panigoro adalah seorang kapitalis pemilik Medco Group dan politikus partai borjuis PDI Perjuangan yang kemudian pindah ke Partai Demokrasi Pembaruan.

Tahun 2003-2011, PSSI pernah dipimpin oleh Nurdin Halid, politikus korup dari GOLKAR yang menjalankan organisasi ini dari dalam penjara. Pada Agustus 2005, Nurdin divonis penjara 2 tahun 6 bulan oleh Pengadilan Negeri Jakarta Utara karena kasus pelanggaran kepabeanan impor beras dari Vietnam.[1]Kemudian pada 2007, Nurdin kembali divonis dua tahun penjara akibat tindak pidana korupsi dalam pengadaan minyak goreng.

Jejak korup Ketua PSSI Nurdin kemudian dilanjutkan kembali oleh ketua PSSI baru, La Nyalla. Kapitalis mantan ketua umum Kamar Dagang dan Industri Jawa Timur ini menjadi tersangka korupsi dana hibah Kadin, walaupun akhirnya dianggap tidak terbukti bersalah di pengadilan dan menimbulkan kontroversi.

Baru-baru ini di Indonesia bukan hanya politisi borjuis dan polisi—lewat tim Bayangkara FC—saja yang masuk ke dalam dunia sepakbola, tapi militer juga ikut masuk. Dengan terpilihnya seorang tentara aktif, Edy Rahmayadi sebagai ketua umum PSSI dan keikutsertaan PS-TNI dalam liga 1 Indonesia—tanpa harus merangkak dari liga 3—adalah indikasi bagaimana saat ini militer juga telah masuk lebih jauh dalam sepakbola. Kehadiran TNI ke dalam dunia sepakbola bukan tanpa alasan, karena beberapa kemudian, nama ketua umum PSSI yang kita sebut di depan ikut mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumatera Utara, dia sedang melakukan kebiasaan seperti yang dilakukan para kapitalis partai borjuis.

SEPAKBOLA DAN KELAS PEKERJA

Jika kita melihat sejarah klub-klub sepakbola di dunia, olahraga ini biasanya lahir di kota-kota industri karena digemari oleh warga disana. Beberapa klub Inggris bahkan dibentuk oleh para pekerja industri itu sendiri, misalnya West Ham United yang didirikan oleh pekerja di Thames Ironworks dan Arsenal yang dibentuk oleh para pegawai Royal Arsenal.[2] Di Inggris, sepakbola awalnya merupakan olahraganya kelas pekerja, sejumlah kesebelasan hadir seiring dengan industri yang berdiri di kotanya. Everton dan Liverpool FC dari kota Liverpool sebagai kota pelabuhan, Manchester United dari kota Manchester sebagai kota industri, dan Middlesbrough dari kota Middlesbrough yang punya pabrik besi dan baja terbaik di seantero Inggris.[3] Tidak hanya di Inggris, Jerman pun demikian, Schalke dan Dortmund adalah representasi romantika klub kelas pekerja[4] Sama-sama Lahir dari, oleh dan untuk kaum pekerja.

Di Glenbuck, Skotlandia, kota yang dihuni sekitar 1500 orang dan sebagian besar adalah buruh tambang batu bara, sepakbola dianggap sebagai katarsis, pemulihan emosi orang-orang Glenbuck yang hidupnya berat bagi orang-orang Glenbuck. Para pekerja di sana mempertaruhkan nyawa ketika bekerja, karena sewaktu-waktu bisa tertimbun dalam lorong bawah tanah. Sepakbola bagi mereka bukan sekadar kegembiraan di waktu senggang atau pelarian dari kesuraman hidup kaum pekerja, tapi juga identitas dan bagian dari apa yang didefinisikan sebagai kesejahteraan emosional.[5]

Budaya menonton pertandingan di stadion tumbuh berkat perasaan senasib, masyarakat kelas pekerja yang sebagian besar adalah kaum urban mencari satu hal yang bisa menjadi dasar ikatan sosial di antara mereka. Sepak bola yang populer, terpilih sebagai pemersatu. Mereka menjadikannya sebagai pengikat dalam hubungan sosial karena dirasa mampu memberikan hal yang mereka butuhkan. Sepakbola pun melekat sebagai olahraganya working class, karena sepakbola sangat lumrah dijadikan sebagai alat rekreasi atau wahana hiburan oleh kelas pekerja.[6] Pertandingan sepakbola sering dimainkan pada akhir pekan, tak lain adalah untuk menarik antusiasme kelas pekerja yang umumnya mendapat waktu libur pada akhir pekan.

Bagi William Muir—pesepakbola Glenbuck yang pernah bermain untuk Everton dan timnas Skotlandia—sepakbola dan kondisi kaum pekerja di kota Glenbuck adalah inspirasi yang sempurna untuk merumuskan ideologi sosialismenya sendiri. Dia meyakini sepak bola sebagai manifestasi sosialisme. Pada sepakbola, orang-orang menemukan kesamaan antara apa yang mereka alami di pusat tambang dengan di atas lapangan hijau: kolektivisme.

Kapitalisme dan Politik Borjuis di Sepakbola

Pandangan tentang sepakbola tidak melulu bersih tanpa kritik. Sebagian kaum Marxis memandang sepakbola saat ini adalah salah satu “candu masyarakat”, yang dipakai untuk mengalihkan perhatian kelas pekerja dari hal-hal yang harusnya mereka perjuangkan.

Sepakbola membuat kelas pekerja jadi lebih sibuk memikirkan pertandingan sepakbola daripada perjuangan nasibnya sendiri. “Pria dan wanita yang pekerjaannya tidak menuntut intelektualitas,” tulis Terry Eagleton di kolom opini The Guardian pada tahun 2010, “dapat menampilkan pengetahuan yang menakjubkan ketika mengingat sejarah permainan sepakbola atau membedah keterampilan individu (pemain sepakbola).” Bagi Eagleton, sepakbola hari ini sama halnya dengan iman keagamaan bigot garis keras, permainan ini menentukan pakaian apa yang kita kenakan, dengan siapa kita bergaul, lagu apa yang kita nyanyikan dan siapa yang kita puja-puja.

Hari ini, sepakbola di seluruh dunia, termasuk di Indonesia,[7] adalah ladang mencari keuntungan besar bagi kapitalis dan ladang suara bagi politisi borjuis yang memiliki tujuan untuk merampok kekayaan. Harga tiket yang mahal dan jadwal yang berubah-ubah demi mengakomodir keinginan pihak televisi (di Indonesia)adalah bukti nyata kapitalisme masuk membajak sepakbola.

Kapitalisme membuat kondisi kejiwaan pertandingan di lapangan berubah secara drastis. Para pemodal memandang para supporter bukan lagi sebagai penyemangat atau pemain ke-12 bagi klub. Pemodal menganggap supporter hanya sebagai sebagai “pelanggan/konsumen” klub. Supporter tidak punya hak apa pun untuk bersuara terhadap berbagai permasalahan di klub. Perilaku ini tidak hanya terjadi di Eropa, tapi juga di Indonesia. Sialnya lagi, biasanya utang- modal yang digunakan oleh para pemodal untuk mencari keuntungan akan mereka bebankan kepada supporter dengan cara menaikan harga tiket.

Di Indonesia, alasan mengapa sepakbola selalu menjadi rebutan bagi para kapitalis yang terjun di partai politik borjuis adalah karena hampir seluruh rakyat Indonesia menyukai olahraga ini, walaupun prestasinya jauh di bawah cabang olahraga lain. Politikus borjuis berlomba-lomba untuk bisa menarik suara penggemar demi kepentingan usaha/modal mereka. Dengan menguasai sepakbola yang memiliki massa banyak, mereka beranggapan akan bisa mudah menuju kekuasaan karena ada tambahan dari massa supporter, dan jika telah mencapai kekuasaan mereka akan lebih mudah melakukan kejahatan.

Kita bisa lihat bagaimana tidak tahu malunya Bakrie yang sudah menghancurkan Sidoarjo kemudian masuk ke Arema Malang yang letak geografisnya berada satu provinsi dengan Sidoarjo. Perusahaan Bakrie hadir di Malang dengan menggelontorkan uang yang sangat banyak beberapa tahun menjelang Pemilu 2014. Lalu bagaimana saat deklarasi calon gubernur Sulawesi Tenggara dari Partai Golkar, Nurdin Halid mempolitisi sepakbola dengan mengklaim ‘sukses’ tim nasional Indonesia pada Piala Suzuki AFF 2010 sebagai karya Partai Golkar[8]. Kemudian diikuti oleh La Nyalla yang ingin menyalonkan Gubernur namun gagal karena tidak sanggup membayar ‘mahar’[9].

Upaya Mengembalikan Sepakbola Kepada Kelas Pekerja

Untuk menjawab perilaku serakah pemodal dalam sepakbola, saat ini upaya melawan arogansi pemodal mulai bermunculan. Salah satunya di Inggris, kelompok fans Manchester United membentuk klub “tandingan” yang dijalankan oleh fans secara demokratis, bernama FC United of Manchester (FCUM). Klub ini dibentuk sebagai protes atas melambungnya harga tiket dan komersialisasi sepihak yang dijalankan klub Manchester United di bawah Malcolm Glazer, seorang investor Amerika.[10] Di pengalamana Indonesia, perlawanan terhadap perilaku menyimpang ini sudah mulai bermunculan. Sejarah persepakbolaan Indonesia mencatat, keberhasilan Bonek (Supporter Persebaya) mengusir klub Persebaya kloningan yang dibuat oleh koruptor politikus borjuis Wisnu Wardhana, pada saat PSSI dipimpin Nurdin Halid dari dalam jeruji penjara. Perjuangan panjang Bonek mengembalikan klub asli Surabaya tersebut dan mengusir klub Persebaya siluman buatan polutikus borjuis sejak tahun 2011 akhirnya berhasil.[11]

Kisah kasus di Manchester dan Surabaya bisa menjadi contoh bagaimana melawan rusaknya sepakbola oleh kapitalisme dan mengembalikan sepakbola kepada kelas pekerja, dengan cara kolektif bersama-sama. Seperti yang dikatakan William Muir sepakbola adalah praktek sosialisme tanpa politik. “Berlatihlah dengan cara yang benar, saling membantu,” kata William, pesepakbola timnas Skotlandia, “Ini adalah bentuk sosialisme tanpa politik.”

Sosialisme tanpa politik yang diucapan William bukan omong kosong. Fans Ultras FC St Pauli di Hamburg Jerman telah membuktikan sejak seratus tahun yang lalu. Lewat sepakbola mereka bisa mengkampanyekan sosialisme tanpa politik. Mereka kampanye lewat poster dan yel-yeluntuk menentang homofobia, fasisme, seksisme dan rasisme.[12] Lewat salah satu yel, mereka bernyanyi “Never again fascism! Never again war! Never again the third division!” (Jangan pernah ada lagi fasisme! Jangan pernah ada lagi perang! Jangan lagi divisi tiga!).

stpauli

Dinding stadion Klub St.Pauli Img: http://thecircular.org

Begitu juga fans Glasgow Celtic yang kita sudah singgung di atas. The Green Brigade, kelompok supporter Celtic yang terkenal, memproklamasikan diri mereka sebagai kelompok sosialis kiri,[13] anti-fasis dan anti-imprealisme serta anti-praktek penjajahan negara Inggris. Mereka memiliki sejarah perjuangan yang panjang dan gemilang melawan imperialisme Inggris.

Sepakbola adalah medan perang propaganda. Sayangnya propaganda supporter di Indonesia—walaupun mengaku kelompok working class (kelas pekerja)—masih berpropaganda kebencian kepada klub lawan, bukan melawan politikus borjuis, kapitalisme dan penjajahan modern. Beberapa memang mengibarkan bendera Palestina di stadion, tapi latar belakangnya bukan melawan penjajahan Israel, melainkan kebencian terhadap Israel karena faktor agama. Kita di Indonesia bisa menjadikan para pendukung klub St Pauli dan Glasgow Celtic sebagai contoh bagaimana fans sepakbola memprogandakan sosialisme lewat sepakbola. Propaganda ini sekaligus merupakan perlawanan terhadap pemodal dan politikus borjuis yang sampai saat ini mempolitisi penggemar klub sepakbola untuk kepentingan mereka. Kita bisa mengacu inti propaganda sosialisme untuk sepakbola dengan mengikuti pernyataan pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn saat berpidato di akhir September 2016, “Sosialisme yang saya yakini, adalah semua orang yang bekerja untuk tujuan yang sama dan setiap orang memiliki bagian dalam hadiah. Begitulah cara saya melihat sepakbola, begitulah cara saya melihat kehidupan.”

***

[1]Dulu Nurdin Halid Kini La Nyalla, Ketum PSSI yang Jadi Tersangka https://sport.detik.com/sepakbola/liga-indonesia/3166466/dulu-nurdin-halid-kini-la-nyalla-ketum-pssi-yang-jadi-tersangka.

[2] Alasan Masyarakat Inggris Senang Menonton Sepak bola di Stadion http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/alasan-masyarakat-inggris-senang-menonton-sepak-bola-di-stadion.

[3] Sepakbola, Olahraga Ndeso https://geotimes.co.id/kolom/olahraga/sepakbola-olahraganya-ndeso/.

[4] Saling Benci Dua Klub Buruh di Lembah Ruhr https://sport.detik.com/aboutthegame/pandit/d-2701933/saling-benci-dua-klub-buruh-di-lembah-ruhr.

[5] Sosialisme Sepak Bola dan Orang-Orang Glenbuck http://beritajatim.com/sorotan/327439/sosialisme_sepak_bola_dan_orang-orang_glenbuck.html.

[6] Sepakbola Bukan Lagi Olahraga Buruh/Pekerja? https://myfootballreviews.wordpress.com/2017/05/03/sepakbola-bukan-lagi-olahraga-buruhpekerja/.

[7]Bali United: Irisan Tanuri, Grup Salim, Glenn dan Persib https://tirto.id/bali-united-irisan-tanuri-grup-salim-glenn-dan-persib-cF88.

[8] Nurdin halid Politisasi sepakbola https://bola.kompas.com/read/2011/01/19/16030488/Nurdin.Halid.Politisasi.Sepak.Bola.

[9] La Nyalla: Prabowo Tanya Saya, ‘Sanggup Rp 200 Miliar?’ https://news.detik.com/berita/d-3810653/la-nyalla-prabowo-tanya-saya-sanggup-rp-200-miliar.

[10] Merebut Kontrol: Klub Sepakbola dan Kaum Anarkis http://anarkis.org/merebut-kontrol-klub-sepakbola-dan-kaum-anarkis/

[11] Mengurut Sengkarut Dualisme Persebaya https://tirto.id/mengurut-sengkarut-dualisme-persebaya-ceZ2

[12] St Pauli, in the vanguard of football fans https://www.greenleft.org.au/content/st-pauli-vanguard-football-fans

[13] The Most Left-Wing Football Clubs Of The World http://thecircular.org/the-most-left-wing-football-clubs-of-the-world/

LEAVE A REPLY