Selamat Ulang Tahun ke-200, Mbah Jenggot

Tanggal 5 Mei tahun ini adalah hari yang tepat untuk merayakan 200 tahun berselang lahirnya seorang cendekiawan dan pejuang kelas pekerja paling terkenal di dunia, Karl Marx. Lahir di kota Trier – dulu bagian dari kekuasan Prussia kini masuk wilayah Jerman – tokoh kita ini tak pelak adalah anak kandung dari era gejolak dan perubahan sosial di Eropa. Lingkungan sejarah yang tampaknya mempengaruhi keterlibatan aktif Marx dalam berbagai perjuangan dan perumusan teori perubahan (revolusi) sosial. Marx aktif sebagai seorang pejuang dan intelektual revolusioner hingga wafat pada usia 65 tahun.

Marxisme, begitu secara sederhana istilah yang kita pakai untuk menyebut teori-teori tentang perubahan sosial yang terinspirasi dan bertitik tolak dari landasan teori yang disusun oleh Marx selama hidupnya. Sesunguhnya Marxisme, bukan lah ajaran tentang pemikiran pribadi Marx. Marxisme adalah bentangan luas berbagai pemikir yang sebetulnya bisa saling berbeda posisi. Tetapi ada satu kesamaan yang mengikat mereka semua di bawah label Marxisme yaitu kesamaan visi dan misi mengkritik kapitalisme dan mengupayakan perubahan dari sistem sosial tersebut menuju sistem yang lebih sosial dan akhirnya tanpa pertentangan kelas-kelas sosial di masyarakat.

Sejarah selamanya adalah sejarah pertentangan kelas begitu ditegaskan oleh Marx dan karib abadinya Engels dalam pernyataan sikap (manifesto) organisasi rakyat pekerja di Eropa (Liga Komunis) dimana mereka berdua turut bergabung. Karenanya sebagaimana semangat jaman yang dijalaninya Marx meyakini perubahan sosial yang sejati hanya mungkin terwujud dengan perjuangan kelas. Adalah kelas pekerja secara logika dan juga secara material paling berkepentingan terhadap penghapusan kapitalisme – sistem kehidupan yang dibentuk oleh hubungan sosial produksi yang dikuasai oleh kelas pemilik modal. Dalam kapitalisme kelas pemodal harus mempertahankan kekuasaan melalui penumpukan (akumulasi) modal dan penundukan (dominasi dan eksploitasi) terhadap kelas pekerja.

Tuntutan yang semakin menggelora akan adanya perubahan sosial telah mengancam kelas yang berkuasa di eropa saat itu. Para pejuang perubahan sosial dicap dengan berbagai fitnah dan tuduhan. Karenanya Marx di bagian pembukaan Manifesto menggambarkan gelora perjuangan tersebut sebagai “hantu-hantu yang bergentanyangan di Eropa”.

Kini 170 tahun berselang kita di Indonesia terus menjadikan Marx sebagai hantu yang terus dipelihara (seolah-olah) bergentayangan. Karena di Indonesia Marx dan Marxisme dianggap sebagai hantu dan ajaran sesat maka kita tidak berkesempatan untuk mempelajarinya secara sistematis dan kritis. Sementara itu di negeri-negeri pusat kapitalisme sejak guncangan krisis finansial global tahun 2008 – yang belum juga sepenuhnya pulih – minat mempelajari analisa dan kritik Marx tentang kapitalisme justru kini sangat menguat. Karya Marx seperti Das Kapital menjadi best seller di berbagai megara. UNESCO, Badan PBB untuk urusan pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan sejak 2013 menetapkan Manifesto Komunis sebagai “Memory of the World” (ingatan dunia) – satu posisi menuju status resmi sebagai warisan dunia (world heritage) versi dunia. Tapi di Republik Indonesia yang juga kapitalis dan bangga akan status warisan dunia Unesco (untuk situs-situs seperti Candi Borobudur, Taman Nasional Komodo, dll) karya-karya Marx tetap lah hantu dan ajaran terlarang.

Merayakan hari lahir Marx, tentu bukan hal yang lazim apalagi marak dilakukan di Indonesia. Salah satu pertimbangannya sebab kegiatan terkait Marx dianggap tidak taktis karena hanya akan memancing serangan dari kelompok-kelompok reaksioner yang terus dibiarkan Negara bahkan hingga di era reformasi. Alasan lainnya adalah kalangan pro demokrasi di Indonesia sejak Orde Baru hingga sekarang terus menerus memelihara kepengecutan dan minim inisiatif serius memasyarakatkan Marxisme.

Mungkin ada baiknya bila kita perbandingkan dengan ketakuan pada Marx dan Marxisme di jaman Orde Baru. di kalangan berbagai kelompok studi ada taktik untuk mengatasi ketakutan di konteks politik yang otoriter waktu itu dengan yang menyamarkan nama Karl Marx menjadi “Mbah Jenggot” agar terhindar dari pantauan intel atau pun jejaring pengawasan rezim otoriter waktu itu. Sementara itu 20 tahun berselang setelah pemerintahan otoriter lengser, dan akses untuk mempelajari karya Marx dan Marxisme lebih banyak tersedia, kecenderungan untuk menyamarkan posisi politik dan analitis tetap dilanjutkan oleh kalangan aktivis di konteks politik paska otoriter. Tentu saja kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa larangan penyebaran Marxisme masih berlaku sebagai halangan, akan tetapi juga penting untuk memeriksa sejauh mana prioritas kepentingan kalangan gerakan sosial untuk menerobos pelarangan tersebut.

Bila kita periksa seksama bagaimana kesadaran aktivis kalangan pro demokrasi hingga saat ini maka umumnya secara ironis kita akan menemukan bahwa teori-teori Marxisme dipahami dalam versi yang ditanamkan oleh Orde Baru — sebagai hantu dan sudah ketinggalan jaman. Dengan kata lain teori-teori Marx dan Marxisme terus dihindari untuk dibahas secara terbuka bersama rakyat untuk mengambil relevansinya menjelaskan kenyataan kapitalisme terkini. Hanya segelintir cendekiawan (terutama saat ini di media online) yang kelihatan asyik menggunakan secuil demi secuil pembahasan teori Marx, tapi tetap terbatas di kalangan mereka.
Karenanya tidak heran kita menyaksikan terus bercokolnya kemalasan dan ketakutan untuk mempelajari dan mengembangkan daya kritis analitis dari khasanah karya-karya Marx dan Marxisme di kalangan gerakan dan masyarakat secara luas. Implikasinya kritik kapitalisme menjadi terus tumpul dan bahkan tetap terasing dari kalangan massa rakyat pekerja yang sesungguhnya merupakan target pembaca utama yang disasar oleh Marx ketika menulis karya-karyanya.

Di ulang tahun Mbah Jenggot yang ke-200, tulisan ini berharap dengan mengajukan kritik terhadap kecenderungan gerakan pro demokrasi hingga saat ini akan mendorong suatu lembaran baru yang lebih maju buat gerakan rakyat pekerja di Indonesia. Terutama dalam kaitannya dengan mengambil relevansi teori Marx dan Marxisme untuk perubahan sosial yang sejati di Indonesia.

***

Tambahan:
Berikut disertakan beberapa link laman video yang menarik disaksikan sembari merayakan hari lahir Marx yang ke 200.
https://indoxxi.tv/movie/the-young-karl-marx-2017-8kno/play Film The Young Karl Marx (Karl Marx Muda) yang telah dilengkapi dengan terjemahan teks bahasa Indonesia.
Lalu https://marx200.org/en/mediathek/k-karl-alienation-episode-1
Salah satu film pendek tentang Marx, gunakan penterjemah ke bahasa Indonesia di tautan youtube di laman tersebut.

LEAVE A REPLY