Membangun Senjata Kaum Buruh

Richard Fernandez
Anggota PRP Komite Kota Palu

Selamat hari buruh sedunia. Bersatu lah kaum buruh rebut alat produksi dan bangun kekuatan politik di tangan kalian!

Kembali kita memperingati hari penting bagi seluruh rakyat pekerja, sebuah hari bersejarah dan memiliki spirit dalam menggalang kekuatan untuk merubah sistem yang kapitalis menuju sistem yang lebih baik, sosialisme! Namun, dari tahun ke tahun hari buruh hanya sekedar sebagai ajang turun aksi semata. Tidak pernah ada satu loncatan yang jauh untuk benar-benar mempersiapkan masa depan yang lebih baik.

Kondisi kelas pekerja sangat kompleks, mulai dari persoalan individu-rumah tangga hingga persoalan hubungan kerja dalam sistem kapitalisme. Dalam persoalan domestik, kaum buruh menghadapi kesulitan hidup sehari-hari yang menantang mereka untuk terus keluar dari krisis, mulai dari persoalan kesehatan, pendidikan anak, biaya listrik. Solusinya adalah mereka harus mencari tambahan untuk bertahan hidup.

Di dalam hubungan produksi, mereka menghadapi realitas eksploitasi di tempat kerja yang semakin ganas dimana kapitalisme yang condong memajukan tenaga kerja-mesin produksi menyebabkan para pekerja berupaya bertahan dengan mencoba mengimbangi kekuatan alat produksi dengan memanfaatkan teknologi yang maju. Belum lagi kecelakaan kerja yang mereka hadapi setiap hari. Ini menandakan apa yang disebut Marx dalam eksploitasi kerja yang meningkat.[1] Sehingga kecenderungan kapitalisme akan konstan kapital membuat variabel kapital menjadi semakin kecil dan semakin kecil.

Gambaran di atas merangsang kita untuk membuat suatu perkumpulan atau organisasi yang bertujuan mengubah keadaan menjadi lebih baik. Kondisi ini secara materil membawa kita semua untuk melancarkan senjata-senjata kita pada jantung pertahanan kapitalisme. Ketika sistem ini mulai berkembang secara temporal dari bagian barat Indonesia hingga ke timur, maka untuk mengubah keadaan kita membangun sebuah serikat pekerja dengan perjuangan yang tidak hanya ekonomis melainkan politis.[2]

Kemajuan teknologi yang mulai diperkenalkan di kota yang maju kapitalismenya menyebabkan terjadinya perampasan hak-hak kelas pekerja yang melemparkan mereka ke dalam kondisi yang memprihatinkan. Perampasan tanah yang dilakukan kapitalisme ekstraktif dan perkebunan skala besar hingga kebijakan ekofasis menggiring mereka ke dalam akumulasi perampasan yang tiada henti yang menjadikan mereka tenaga kerja cadangan[3] yang siap dieksploitasi. Di satu sisi, dalam hubungan produksi yang anarki kelas pekerja mengawasi mesin dengan waktu kerja yang ditambah demi menghasilkan nilai lebih bagi kapitalis untuk didistribusikan ke dalam kapitalisme lainya.

Untuk membangun sebuah organisasi yang bernuansa politis dari kelas pekerja diperlukan persatuan antar sesama yang bersandar pada kesulitan-kesulitan yang sama karena semua ini adalah eksploitasi dari kapitalisme yang harus dihentikan. Maka, yang perlu dilakukan ialah persatuan berazaskan kondisi yang sama, membangun senjata yang kuat, dan merebut kekuasaan politik untuk menciptakan kondisi yang baik.

Persatuan Berazaskan Kondisi Yang Sama

Sekarang ini di Indonesia slogan untuk merayakan hari buruh sedunia bertujuan untuk mengubah slogan buruh ke arah persatuan gerakan yang kuat. Alasanya, beberapa waktu yang lalu kondisi hubungan produksi tidak lagi menghasilkan kesadaran yang nyata dari kerja yang mengeksploitasi mereka tetapi saat ini gerakan pekerja mulai di bawa ke arah yang tidak rasional. Isu rasisme mulai dilancarkan ke arah perjuangan buruh yang saat ini sudah membangun sebuah organisasi, mereka meyakini bahwa negara yang menjadi bagian dari ikatan kapitalisme telah berbuat tidak adil kepada mereka. Diterimanya tenaga kerja asing di dalam negeri dengan langsung dipekerjakan sementara luapan tenaga kerja cadangan (yang mereka sebut pribumi) masih terkatung-katung tidak jelas atau masih stagnan. Kondisi ini diserap oleh para pemimpin kelas buruh yang tidak benar dan menciptakan sebuah pemikiran yang salah. Tidak sedikit, kedatangan kelas pekerja dari negara lain dipandang sebagai pesaing bagi tenaga kerja dalam negeri. Padahal soal kompetisi sudah dijelaskan oleh Engels dalam bukunya yang tersohor itu.[4] Hal ini merupakan cara bagi kapitalisme  untuk terus menerus menundukkan perjuangan kelas pekerja dengan mengalihkan perhatian mereka ke isu rasial dan membuat gerakan buruh menjadi tidak produktif.

Setiap buruh dihisap kerjanya, diperhadapkan dengan kondisi yang tidak baik seperti kecelakaan kerja, kekerasan dan pelecehan, pemutusan hari kerja secara sepihak dan tidak jarang buruh dilempar begitu saja seperti barang yang tidak terpakai. Baik tenaga kerja asing maupun tidak, maka wajib bagi kelas pekerja untuk membangun sebuah senjata buruh yaitu serikat pekerja. Maka, untuk memperjuangan emansipasi hak buruh mereka harus bersatu tanpa melihat perbedaan suku dan agama yang membuat gerakan buruh menjadi lemah[5] dalam membangun sebuah kekuatan untuk menyelesaikan sistem kapitalisme sekarang juga.

Senjata Kaum Buruh

Ketika Semaoen mejelaskan kemunculan teknologi transportasi Sepur dan Trem yang sebelumnya tidak ada di Indonesia dan menjadi ada akibat ekspansi kapitalisme, maka dia menganjurkan sebuah persatuan buruh yang rukun (menghilangkan pemikiran rasis bagi setiap buruh) sebagai kekuatan dan kekuasaan bagi pekerja untuk merombak sistem ini ke keadaan yang diharapkan demi kesejahteraan sosial.

Maka selanjutnya mempersiapkan organisasi/serikat menjadi lebih kuat dengan dipandu oleh pelopor-pelopor yang siap secara teoritik untuk mendistribusikan pengetahuan itu kepada kelas pekerja. Sebab, pengetahuan adalah cara untuk menyadarkan buruh yang selama ini menghadapi sistem kapitalisme yang eksploitatif. Pengetahuan merupakan dasar bagi membangun serikat buruh (Vakbond) untuk berpikiran modern, tidak terbawa arus atau kondisi yang diciptakan sistem kapitalisme yang membuat buruh menjadi saling mencaci antar sesamanya karena perbedaan ras dan agama.

Lantas, pengetahuan apa yang perlu diberikan kepada kelas buruh sementara mereka terus mengalami eksploitasi dan kurang waktu untuk membaca sebab mereka selalu mereproduksi kembali tenaga mereka yang habis terkuras. Seperti pandangan kaum borjuis, kelas pekerja hanya memiliki tenaga mereka yang telah diberikan kepada pemilik modal ketika semua hak milik telah dirampas dan tidak memiliki pengetahuan apapun untuk dipakai dalam merobohkan tirani yang membelenggu mereka. Alasan ini justru menjadi senjata makan tuan bagi kelas borjuis, mereka tidak sadar bahwa kondisi material yang diciptakan untuk menguras kelas buruh telah mematangkan pikiran mereka bahwa eksploitasi harus segera diakhiri ditambah lagi kesadaran menciptakan kekuatan politik bagi kaum buruh yang diperoleh lewat perjuangan mereka (mogok kerja, menuntut kenaikan upah, dll.) setiap waktu. Namun, bagi saya hal ini tidak mengubah kondisi apapun apabila perjuangan buruh hanya berputar pada situasi yang sama. Maka, mereka harus merebut kekuasaan politik sebagai jalan keluar satu-satunya.

Kekuasaan politik bisa terwujud jika ada organisasi politik yang kuat yang dibangun dimana landasannya tidak sama seperti partai politik yang kaum borjuis miliki.

Merebut Kekuasaan Politik

Dalam memperingati hari buruh sedunia, birokrasi Pemerintah di berbagai daerah seperti di Kota Palu mengelar acara-acara hiburan atau pun diskusi publik bagi kelas pekerja.[6] Tentu, tujuannya adalah mencapai sebuah konsensus/mufakat menggunakan pendekatan bujukan  dan komunikasi.[7] Diskusi publik masih lebih baik daripada acara hura-hura. Akan tetapi diskusi semata tidak akan mengubah kondisi rakyat pekerja sebab tetap saja kapital itu masih dikuasai oleh segelintir orang dengan tujuan untuk terus menaikkan tingkat labanya.

Yang harus dilakukan oleh rakyat pekerja ialah membangun kekuatan nyata berlandaskan persatuan rakyat pekerja untuk mendorong perubahan. Kekuatan yang hanya mungkin dengan membangun partai kelas pekerja yang dilandasi oleh gagasan dan keterlibatan aktif dari buruh, petani dan rakyat miskin kota lainnya. Dengan mendisiplinkan diri pada manajemen yang terstruktur disertai pengetahuan politik yang matang. Kegunaan partai kelas pekerja adalah membangun komite-komite di setiap daerah yang bertujuan memusatkan upaya perebutan dan kontrol atas alat produksi. Komite-komite ini secara harian  merancang strategi dan taktik menuju kemandirian ekonomi yang bermutu buat rakyat pekerja.

Partai kelas pekerja harus memimpin tugas-tugas perjuangan rakyat pekerja baik di desa mau pun di kota. Di pedesaan tugas petani adalah berserikat seperti kaum buruh. Dengan serikat merebut tanah yang telah dirampas oleh kapital ekstraktif dan pertambangan. Sementara perjuangan serikat buruh harus berorientasi bukan cuma memperjuangkan upah yang lebih baik tapi lebih jauh lagi  mengendalikan alat dan proses produksi secara kolektif.

Hanya dengan kerja sama serikat tani dan buruh kuat dapat melawan kebijakan pemerintah dan penindasan kaum pemodal yang cenderung fasis seperti berlaku selama ini. Hanya dengan persatuan buruh tani yang kuat maka dimungkinkan untuk membangun ekonomi dan meningkatkan kemajuan teknologi pertanian dan industri di bawah kendali rakyat. Persatuan ini lah salah satu fondasi/landasan yang kuat guna menciptakan demokrasi sejati yang seutuhnya.[8] Bukan demokrasi versi kapitalis yang penuh korupsi dan kemunafikan, melainkan demokrasi dalam suatu sistem baru yang disebut sosialisme – demokrasi yang adil dan setara.

Catatan:

[1] Das Kapital Buku 3,  hlm 223-226. pdf

[2] Bab 1 Penyebab Indonesia Ada Perkumpulan, Semaoen “Penuntun Kaum Buruh” https://www.marxists.org/indonesia/indones/1920-SemaoenPenuntun.htm

[3] Tenaga kerja laten, rentan, dan stagnan.

[4] Baca, “Kondisi Kelas Pekerja Di Inggris”. Bagian Kompetisi dan Migrasi Kaum Irlandia. Engels. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1845/condition-working-class/index.htm

[5] Lihat https://www.marxists.org/archive/marx/works/1844/jewish-question/

[6] Sulteng Raya, Warta Palu “Peringatan Mayday Dipusatkan di Anjungan Nomoni. Edisi Jumat, 27 April 2018

[7] Habermas yang menganjurkan perjuangan komunikasi lewat teori diskursusnya. Lihat, Pendahuluan buku Demokrasi Deliberatif Menimbang ‘Negara Hukum’ dan ‘Ruang Publik’ dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. F. Budi Hardiman, 2009-Kanisius.

[8] Pelajari rujukan tentang perjuangan membangun dewan proletar di https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1917/negara/index.htm

LEAVE A REPLY