Memahami Materialisme Historis Melalui Perkembangan Teknologi Informasi

Novri Oov Auliansyah
Anggota PRP Komite Kota Tangerang

Dalam sejarah filsafat, sejak jaman Yunani sampai hari ini, kita menemukan ada pergulatan antara dua aliran pemikiran yang persis berseberangan, yaitu idealisme dan materialisme. Namun sayangnya, pada hari ini, pengunaan dua kata tersebut telah mengalami perubahan makna yang sangat keliru di dunia sehari-hari. Berbeda dengan pengertian kata materialisme dan idealisme dalam dunia filsafat.

Penggunaan kata idealisme dan materalisme, yang biasa terjadi sehari-hari saat ini adalah, “Ketika kita merujuk seseorang sebagai ‘idealis’”, tulis Alan Wood dan Ted Grant,[1] “kita biasanya berpikir tentang seseorang yang memiliki ideal-ideal yang tinggi dan moralitas yang tak bercacat.” Sebaliknya, ketika kita merujuk pada seseorang yang dianggap materialis, kita akan memandangnya sebagai seorang yang tidak punya prinsip, seorang pengeruk uang, seorang individualis yang hanya memikirkan diri sendiri, dengan nafsu serakah untuk makanan dan benda-benda duniawi lain. Pendeknya, seorang yang sama sekali tidak menyenangkan.

Idealisme vs Materialisme

Sedangkan dalam dunia filsafat, orang dengan paham idealisme—yang di dalamnya terdapat filsuf awal Yunani, Plato, dan filusuf terkenal Jerman, Hegel—adalah orang yang memandang bahwa dunia ini hanyalah cerminan dari ide (pikiran) atau roh. Atau lebih tepatnya, menurut filsuf idealisme, ide hadir lebih dahulu sebelum segala yang ada di dunia ini hadir. Benda-benda material kasar yang kita kenal melalui indera kita, menurut aliran ini, hanyalah salinan yang kurang sempurna dari Ide yang sempurna itu.[2]

Sedangkan materialisme tepat kebalikan dari idealisme. Paham materialisme memandang bahwa benda-benda yang benar-benar ada (materi) adalah dasar dari segalanya. Ide atau pikiran lahir dari materi yang ada di dunia nyata.

Contoh yang paling mudah untuk membuktikan materialisme dalam kehidupan kita sehari-hari adalah, dengan melihat sistem penghitungan kita yang dimulai dari satu sampai sepuluh. Ini dikarenakan, kita manusia memiliki sepuluh jari sehingga kita pun menghitung sampai sepuluh.[3]

Begitupun dalam dunia Teknologi Informasi (TI) saat ini, ide untuk membuat website perdagangan eletronik (e-commerce) atau menciptakan aplikasi transportasi online bukan sesuatu yang tiba-tiba turun dari langit. Selain karena adanya inisiatif dan kemampuan manusia untuk membuat aplikasi tersebut, ide ini lahir karena kondisi materialnya sudah memadai.

Materialisme Historis

“Manusia membuat sejarahnya sendiri,” tulis Marx,[4] “tetapi mereka tidak membuatnya tepat seperti yang mereka sukai; mereka tidak membuatnya dalam situasi-situasi yang dipilih oleh mereka sendiri, melainkan dalam situasi-situasi yang langsung dihadapi, ditentukan dan ditransmisikan dari masa-lalu.”

Kita tentu sepakat mengatakan bahwa seorang Nadien Makarim telah membuat sejarah baru karena telah mendirikan perusahaan aplikasi Gojek. Lewat kejeniusannya, dia telah membantu mempermudah orang-orang di Indonesia untuk berpergian, terutama bagi mereka yang berada di daerah yang tidak dilewati angkutan umum. Jika tidak ada Nadien—dan para pendiri aplikasi tranportasi yang lain—belum tentu ada aplikasi transportasi berbasis online yang memudahkan manusia beraktivitas secara dinamis.

Tapi kehebatan seorang Nadien yang bisa membuat sejarah tersebut juga dikarenakan adanya peran dari kondisi-kondisi material yang sudah tersedia saat ini. Nadien bisa membangun aplikasi transportasi online karena saat ini telah tersedia Internet dan smartphone.

Ide untuk membangun aplikasi Gojek tidak akan ada di kepala Nadien jika dia hidup pada masa penjajahan kolonial belanda, atau jika manusia sampai saat ini tidak mengenal Internet, dan masih menggunakan telepon kabel sebagai sarana komunikasi. Aplikasi Gojek juga bisa ada karena kondisi masyarakat Indonesia yang sudah biasa menggunakan jasa ojek sebagai sarana tranportasi. Gojek tidak akan ada, jika orang Indonesia tidak mengenal transportasi ojek seperti di negara-negara Eropa yang penduduknya biasa menggunakan alat transportasi seperti bis, kereta atau taksi.

Jadi, semua yang ada saat ini—termasuk aplikasi tranportasi online—saling berkaitan dengan sejarah yang terjadi di masa lalu dan kondisi masyarakatnya. Aplikasi transportasi berbasis online bisa ada karena sebelumnya telah ditemukan Internet dan smartphone. Begitu juga Internet, bisa hadir ke dunia karena sebelumnya telah ada komputer yang memiliki perjalanan panjang karena berkembangnya ilmu matematika.[5] Dan Gojek bisa ada karena sebelumnya sudah ada ojek pangkalan, juga karena adanya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk mencari uang tambahan di luar kerja formal mereka dan tentu saja karena ada pengangguran.

Aplikasi Gojek juga bisa ada seperti sekarang ini bukan hanya karena ada seorang Nadien saja, tapi juga karena ada orang-orang yang berperan dibelakangnya. Tidak akan bisa beroperasi Gojek jika tidak ada orang yang mau menjadi drivernya, dan aplikasi gojek juga tidak akan pernah bisa kita install jika tidak ada programmer yang membuat aplikasi tersebut.

Jadi disini kita bisa melihat, aplikasi Gojek tercipta karena ada banyak faktor bukan hanya karena ada seorang nadien saja, selain karena kondisi-kondisi material yang sudah tersedia juga karena ada para programmer dan para driver, dua kelompok masa yang disebut di belakang tersebutlah yang menjadi pelaksana dan realisator dari ide ojek online.

Catatan:

[1] Alan Woods dan Ted Grant; Reason in Revolt: Marxism and Modern Science (1995)

[2] Ibid.

[3] Roeslan; Mengenal Dasar-Dasar Filsafat Marxisme;

[4] Karl Marx; Brumaire XVIII Louis Bonaparte (1852);

[5] Istilah Komputer berasal dari bahasa latin yaitu “computare“, yang berarti alat hitung, karena awalnya komputer digunakan sebagai perangkat bantu dalam hal penghitungan angka-angka sebelum akhirnya menjadi perangkat multifungsi seperti saat ini.

LEAVE A REPLY