Isu-Isu Politik dalam Mayday 2018

Novri Oov Auliansyah
Staf Departemen Pengembangan Organisasi Biro Politik PRP

Ada beberapa hal yang mencolok pada peringatan May Day tahun 2018. Pertama, jauh hari sebelum tanggal 1 Mei 2018, pemerintah Indonesia ikut sibuk melakukan kampanye May Day. Pemerintah berupaya mengaburkan sejarah May Day dengan mengadakan acara hura-hura yang diberi judul ” May Day is Fun Day.” Walhasil, beberapa serikat yang gagap sejarah dan linglung arah berjuangnya ikut berpartisipasi di acara yang isinya perlombaan “ga penting” dan goyang dangdut—beberapa diantaranya menenggak minuman keras sebelum goyang-goyang.

Hal mencolok kedua di May Day 2018 adalah peringatan tahun ini menjelang pemilu yang akan dilaksanakan tahun depan. Ada perpecahan di massa buruh yang melakukan aksi unjuk rasa dan aromanya tercium sangat tajam. May Day kali ini diwarnai dengan adanya konfederasi-konfederasi yang memanfaatkan May Day untuk mendeklarasi dukungan terhadap salah satu calon presiden.

Massa buruh pertama yang pertama mendeklarasikan dukungan terhadadap calon presiden dari partai politik borjuis adalah Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia (KRPI). Melalui ketua umumnya, Rieke Diah Pitaloka, di atas mobil komando, menyatakan dukungan kepada Joko Widodo untuk kembali menjadi presiden RI. Dan tentu saja selain menyatakan dukungan terhadap calon presiden, dia tidak lupa untuk orasi omong kosong retoris, memberi mandat untuk mensejahterakan buruh kepada Joko Widodo yang jelas-jelas telah menyengsarakan buruh lewat PP 78.

Selain KRPI yang mendeklarasikan dukungan terhadap salah satu calon presiden, tidak ketinggalan juga, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melakukan hal yang sama. Seperti tahun 2014 yang lalu, KSPI kembali mendeklarasikan dukungan terhadap calon presiden yang sama, yaitu antek Orde Baru yang memiliki sejarah masa lalu yang kelam terkait pelanggaran-pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), Prabowo Subianto.

Jika massa dari dua konfederasi yang sudah diberitakan di atas memanfaatkan May day 2018 untuk berkumpul mendeklarasikan dukungan, berbeda lagi dengan puluhan ribu massa aksi dari konfederasi-konfederasi buruh yang tergabung dalam Aliansi Gerakan Buruh untuk Rakyat (Gebrak). Massa dari aliansi yang terdiri dari KPBI, SMI, SPBP, LMND, SP Jhonson, GPMJ, KPR, SGBN, PRP, KSN, SPMN, SP Danamon, FMK, Perempuan Mahardhika, Politik Rakyat, KPO-PRP, LBH Jakarta, Arus Pelangi, KPA, SGBM, PPAS dan FKI ini menyerukan pembangunan politik alternatif pada aksi May Day 2018.

Seruan ini sekaligus menjadi jawaban untuk masyarakat luas yang selama ini menilai seruan buruh ketika aksi hanya berputar-putar pada isu yang terkait persoalan perburuhan, seperti upah layak atau outsourcing. Pembangunan politik alternatif adalah bukti meningkatnya kesadaran buruh untuk tidak lagi pasrah kemudian menyerahkan nasib kepada kelas borjuis dengan memberi dukungan dan kontrak-kontrak politik.

Kaum buruh yang tergabung dalam GEBRAK sadar, selama ini undang-undang atau regulasi dirumuskan oleh para wakil partai politik yang duduk di parlemen,. Mereka semua yang saat ini duduk di parlemen bukanlah representasi dari kaum buruh, sehingga mereka tidak akan menyuarakan aspirasi kaum buruh. Semua pimpinan baik di legislatif maupun eksekutif bukan perwakilan buruh, mereka didominasi oleh kekuatan modal, sehingga penting bagi buruh untuk terus meningkatkan kesadaran politik dan membangun kekuatan politik tersendiri.

Aksi unjuk rasa yang dimulai pada pukul 9:00 pagi di titik kumpul gedung KPU dan berakhir di depan Istana Jakarta berjalan dengan damai., Hanya ada sedikit insiden ketika massa aksi dilarang long march menuju Bundaran Hotel Indonesia. Setelah melewati proses negosiasi dengan aparat keamanan, massa aksi akhirnya berputar ke ILO dan melanjutkan ke Istana Jakarta.

Ketika tiba di Istana Jakarta, semua perwakilan yang tergabung di GEBRAK satu per satu bergantian menyampaikan orasi politik. Menjelang sore hari, ada hiburan musik untuk massa aksi. Jon Tobing, pengarang lagu Darah Juang, naik ke atas mobil komando menyanyikan lagu Darah Juang bersama Massa Aksi. Seusai menyanyikan lagu Darah Juang dan dilanjutkan dengan orasi-orasi politik, sesuai dengan surat pemberitahuan kepada aparat. Pukul 17:00 WIB aksi ditutup dengan menyanyikan lagu Internasionale.

LEAVE A REPLY