Dua Alasan Kenapa Rakyat Pekerja Harus Membangun Partainya Sendiri

Mohamad Zaki Hussein
Staf Departemen Propaganda Biro Politik PRP

Belakangan ini, seruan “buruh harus membangun partainya sendiri” semakin terlihat marak. Dalam Konferensi Gerakan Rakyat Indonesia (KGRI) yang diselenggarakan bulan April lalu, misalnya, hampir semua kelompok berbicara tentang pentingnya kekuatan politik alternatif.

Pertanyaannya, kenapa rakyat pekerja harus membangun partainya sendiri? Ada setidaknya dua alasan pokok kenapa rakyat pekerja harus membangun partainya sendiri. Alasan pertama adalah karena rakyat pekerja harus merebut kekuasaan Negara, dan dalam politik modern, alat untuk merebut kekuasaan Negara adalah partai politik.

Tetapi, kenapa rakyat pekerja harus merebut Negara? Jawabannya sederhana, karena nyaris seluruh persoalan rakyat pekerja berujung pada Negara. Persoalan-persoalan seperti penggusuran, upah murah, perampasan lahan, dlsb., berujung pada model pembangunan yang diterapkan oleh Negara.

Model pembangunan yang diterapkan Negara cenderung merugikan rakyat, tapi menguntungkan pemodal. Upah murah, misalnya, merugikan buruh tapi menguntungkan pengusaha. Perampasan lahan merugikan petani, tetapi menguntungkan pengusaha perkebunan. Penggusuran merugikan rakyat miskin, tapi menguntungkan investor infrastruktur.

Kenapa Negara menerapkan model pembangunan seperti itu? Karena Negaranya dikuasai oleh kelas pemodal. Selama ini, gerakan rakyat banyak melakukan advokasi untuk mengatasi hal di atas. Namun, advokasi hanya bisa mempertahankan atau memperoleh capaian-capaian parsial tertentu, tetapi tidak menyentuh akar masalahnya, yaitu kekuasaan kelas pemodal.

Jika rakyat pekerja ingin mengubah nasibnya secara lebih signifikan, maka rakyat pekerja perlu merebut Negara dari tangan kaum pemodal. Dengan menguasai Negara, rakyat pekerja bisa mengubah watak Negara dari pro-pemodal menjadi pro-rakyat pekerja. Adapun untuk bisa merebut kekuasaan Negara, rakyat pekerja perlu membangun alatnya, yakni partai politik.

Tetapi, kenapa kita tidak berkuasa lewat partai-partai yang sudah ada saja? Kenapa harus membangun partai sendiri? Kita masuk ke alasan kedua kenapa rakyat pekerja harus membangun partai sendiri. Jawaban dari pertanyaan itu sederhana, karena partai-partai yang ada sekarang ini semuanya adalah partai-partai kaum pemodal.

Yang dimaksud dengan “partai kaum pemodal” atau “partai borjuis” adalah bahwa partai-partai tersebut dikuasai atau didominasi oleh kelas pemodal. Kalaupun partai-partai tersebut memiliki basis di masyarakat, basis-basis tersebut hanya dimanfaatkan untuk perolehan suara, tanpa diperjuangkan aspirasi dan kepentingannya. Adapun kepemimpinannya tetap didominasi oleh kelas pemodal.

Mari kita lihat Gerindra, yang salah satu tokohnya, Prabowo, mencalonkan diri jadi presiden. Salah satu perusahaan miliknya, yakni PT Kertas Nusantara di Kalimantan Timur, pernah mengalami kasus perburuhan. Selama November 2013 sampai Maret 2014, pembayaran gaji mereka belum diselesaikan.

Lalu, sejak Desember 2012, pembayaran iuran Jamsostek belum dilakukan oleh PT Kertas Nusantara. Padahal pemotongan iuran Jamsostek terus dilakukan sesuai dengan slip gaji pekerja. Bagaimana mungkin memperjuangkan kepentingan kita melalui partai yang salah satu tokoh utamanya menindas rakyat pekerja?

Hal serupa juga terjadi di PDIP yang suka dengan keliru dianggap partainya wong cilik. Undang-Undang No. 13 tahun 2003 mengenai Ketenagakerjaan yang membenarkan sistem kerja kontrak dan outsourcing di Indonesia, disahkan pada saat Megawati menjadi Presiden RI dan PDIP menjadi partai yang berkuasa. Bagaimana mungkin memperjuangkan kepentingan kita melalui partai yang pernah mengesahkan UUK yang melegalkan sistem kerja kontrak dan outsourcing?

Sudah hampir pasti, akan sulit bagi kita memajukan kepentingan kita melalui partai-partai yang sudah dikuasai kaum pemodal. Kita perlu partai yang bersih dari kepentingan pemodal dan benar-benar membawa kepentingan kita. Partai yang bukan hanya kepemimpinannya berasal dari rakyat pekerja, tetapi juga berada di bawah kontrol demokratik dari rakyat pekerja. Partai yang seperti itu saat ini belum ada. Karenanya, kita harus membangun sendiri partai yang seperti itu!

LEAVE A REPLY