Aksi Hari Tani Aliansi Rakyat Bersatu di Palu

Palu – Puluhan massa aksi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu, berunjuk rasa untuk memperingati Hari Tani yang ke-58 di tiga sasaran aksi, pada hari Senin, 24 September 2018. Aksi ini berjumlah sekitar 60-an orang massa aksi.

Aksi ini dimulai dari Taman Makam Pahlawan sebagai titik kumpul, menuju kantor Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Sulawesi Tengah, dilanjutkan ke kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah, yang kemudian menuju kantor DPRD Sulawesi Tengah sebagai sasaran aksi akhir. Dalam aksinya para peserta aksi melakukan orasi bergantian. Mereka mengabarkan bahwa reforma agraria di bawah pemerintahan Jokowi-JK hanya sebatas bagi-bagi sertifikat tanah.

Salah satu orasi disampaikan oleh koordinator lapangan—sekaligus perwakilan petani dari desa Katu—mengatakan, bahwa “para petani tak dapat mengelola tanahnya dengan baik karena keterbatasan pengetahuan dan sulitnya memperoleh input pertanian yang maju. Selain itu negara juga tak mampu menjamin akses pasar bagi petani miskin—sehingga mereka pada akhirnya bergantung terus-menerus kepada pemilik modal dan para tengkulak di kampung”, kata Adriansyah Manu di depan kantor DPRD Sulawesi Tengah.

Try, sebagai perwakilan petani dari desa Balumpewa, juga menyampaikan bahwa “semua perampasan dan pengklaiman lahan oleh pemerintah—tak pernah satu kali pun—melibatkan masyarakat, khususnya petani.”

Selain orasi-orasi politik, aksi ini juga diwarnai dengan yel-yel, nyanyian lagu Darah Juang dan puisi perjuangan untuk menyemangati massa aksi, serta pernyataan sikap dukungan solidaritas dari 28 organisasi yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bersatu.

Aksi peringatan Hari Tani Nasional yang ke-58 ini lantas ditutup dengan pembacaan statemen bersama yang menuntut:

  1. Hentikan perampasan tanah terhadap petani;
  2. Majukan pengetahuan dan teknologi kaum tani;
  3. Jamin akses pasar terhadap petani miskin; dan
  4. Buka ruang demokrasi seluas-luasnya

LEAVE A REPLY