Tentang Festival Sastra Banggai

Fesitval Sastra Banggai

Budi Siluet

“Rayakan kata bumikan ilmu”, itulah tema besar yang diusung festival sastra banggai. Sebagai acara kreatif mendidik yang pertama kali di daerah Kabupaten Banggai, sudah sepatutnya kita mengapresiasi acara ini. Berbicara sastra sebagai sebuah ilmu, maka kita akan menemui sastra yang memiliki banyak bagian, mulai dari menulis karya sastra, esai sastra sampai dengan kritik sastra. Dan saya kira ini masih sangat jauh di daerah kita dimana¬† tradisi literasi yang sangat kurang, dimana budaya membaca apalagi menulis begitu miskin di daerah ini.

Namun apresiasi tidaklah cukup hanya dengan puja puji dan sanjung menyanjung. Mengapresiasi sejatinya adalah terlibat dalam kegiatan langsung maupun tidak langsung. Meskipun tujuan acara ini sejujurnya baik, tetapi buat kami acara ini masih terkesan elitis dan eksklusif. Betapa tidak, dengan tema yang begitu besar namun keterlibatan masyarakat begitu minim, entahlah apakah karena kegiatan ini disponsori oleh JOB Pertamina Medco sebagai konsorsium penguasa hulu migas di daerah ini atau karena hal lain, sehingga terasa ada jarak yang membentang antara kami penikmat sastra pinggiran dengan “mereka” sebagai¬† pelaku sastra yang pertama d idaerah ini. Dan mereka mungkin saja layak disebut sebagai Gensis dalam sejarah sastra Banggai.

Merayakan kata untuk tujuan membumikan ilmu seharusnya dimulai dari kritik, karena tidak ada ilmu pengetahuan yang tidak dimulai dari kritik. Kritik adalah awal dari proses emansipasi dimana kita bisa keluar dari keadaan ketidaktahuan kita akan sesuatu. Oleh karenanya, sebagai ilmu sastra mesti dijangkarkan atau meminjam istilah kegiatan ini “dibumikan” pada yang real, sastra harus menjadi epik alih-alih romantik. Karena sejatinya sastra adalah perkara keberpihakan kepada yang kalah, kepada yang tersingkir dan disingkirkan, keberpihakan kepada yang musthadafin. Tanpa keperpihakan pada yang lemah, maka sastra layaknya menjadi makanan siap saji yang jauh dari standar kesehatan, sastra menjadi garing, basi dan tanpa emosi serta pesan kritis yang membangkitkan.

Maka dalam acara ini, jangan berharap ada bedah novel Tetralogi Buruh karya Pramoedya Ananta Toer. Jangan berharap ada sesi khusus pembacaan puisi “orang orang miskin di jalan” karya W.S. Rendra, pembacaan puisi-puisi Wiji Thukul yang hilang oleh rezim Orde Baru, apalagi menghadirkan Saut Situmorang sebagai pembicara. Kemungkinan yang terjadi adalah merayakan kata yang sublim, subtil, merayakan kata yang menguap di langit -langit kamar dan menghilang di cakrawala, kemudian terharu dalam ketidaktahuan.

Namun begitu acara ini tetap patut didukung. Paling tidak memberi rangsangan buat kaum muda untuk mulai mencintai buku, membaca buku dan menulis tetang banyak hal, dan semoga saja acara seperti ini terus berlanjut dan menjadi lebih membumi dalam ilmu di setiap perayaan kata-kata.

LEAVE A REPLY