Solidaritas Untuk Petani Rembang Dari Kota Palu

Puluhan aktivis yang tergabung dalam Gelora Demokrasi melakukan aksi solidaritas kepada petani Kendeng di depan Gedung DPRD Provinsi Sulawesi Tengah pada Rabu, 22 maret 2017. Beberapa diantara mereka telah melakukan aksi semen kaki sejak pukul 10.00-14.12 Wita.

“Aksi ini merupakan solidaritas kepada petani Kendeng agar mereka senantiasa kuat dalam perjuangannya merebut kembali tanah yang dirampas oleh PT Semen Indonesia,” kata Ricard Labiro, dalam orasi politiknya.

Para aktivis menuntut presiden mencabut izin pabrik semen milik PT Semen Indonesia di pegunungan Kendeng, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebab, terdapat 203.217 jiwa penduduk tinggal dalam tiga kecamatan di Pati Selatan yang menggantungkan hidupnya pada pegunungan Kendeng.

“Jika pabrik semen itu beroperasi maka akan merusak 112 mata air yang menjadi sumber kehidupan ribuan keluarga dan ribuan hektar sawah petani,” tutur Ricard.

Ricard dalam orasi politiknya juga menyampaikan bahwa persoalan agraria di Indonesia terjadi di seluruh daerah. Dia berpendapat bahwa perampasan tanah dan ketimpangan kepemilikan tanah merupakan akibat dari penghambaan terhadap kapitalisme. Ia lantas menyebut paradigma pembangunan ekonomi di Indonesia sejak Orde Baru adalah gambaran penghambaan terhadap akumulasi kapital.

“Di mana-mana kita mendengar tangisan anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak yang digusur secara kekerasan atas nama pembangunan. Hampir seluruh pembangunan kita tidak melalui partisipasi petani, buruh dan kaum miskin kota. Kita dibuat tidak berdaya dan hampir tak bisa melawan karena selalu diadu dengan moncong senjata milik polisi dan tentara,” tegas Ricard.

Dia menambahkan bahwa musuh kita adalah kapitalisme dan karenanya kita harus melawan demi anak cucu kita dan keberlangsungan bumi.

Solidaritas Untuk Petani Rembang Dari Kota Palu

Abdy Lasita selaku koordinator aksi juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, kapitalisme adalah akar dari masalah ketidakadilan, pelanggaran kemanusiaan, kemiskinan, kerusakan ekologi dan kematian dini.

“Persoalan agraria tidak bersifat alamiah, tetapi ia lahir dari relasi masyarakat berkelas. Apa yang terjadi di pegunungan Kendeng merupakan gambaran nyata bahwa kapitalisme tidak memiliki rasa kemanusiaan,” kata Abdy.

Selain bersolidaritas terhadap petani Kendeng, aksi tersebut sekaligus memperingati Hari Hutan Sedunia dan Hari Air Sedunia.

Dalam orasi-orasi politik, massa aksi juga menuntut agar pemerintah Indonesia menghentikan produksi yang sarat beban lingkungan seperti penggunaan energi fosil dalam jumlah masif. Sebab, menurut mereka, saat ini efek pemanasan global telah menimbulkan sejumlah bencana alam.

Abdy menyebutkan bahwa media Tempo dan BBC.com pernah memberitakan kejadian bencana alam pada tahun 2016 yang mencapai 2.342 kejadian di Indonesia. Dia mengatakan berdasarkan laporan Tempo, bencana alam tersebut naik 35% jika dibandingkan tahun 2015. Akibat bencana itu, 157 orang meninggal dunia dan kurang lebih 1,7 juta jiwa mengalami keterpurukan.

Untuk itu, menurut Abdy, segenap rakyat tertindas harus bersatu dan bersama-sama berjuang menghentikan produksi kapitalisme. Jika tidak, maka korban akan terus berjatuhan di mana-mana. Terlebih, pembangunan berbasis kapitalisme ini berdampak buruk bagi keberlangsungan bumi. (Kadi)

LEAVE A REPLY