Persepsi Buruh : Pengantar Marxisme (Bagian III)

Andi Alan Nuari
DPP FPBN (Dewan Pimpinan Pusat Federasi Perjuangan Buruh Nasional)

Belajar dari pengalaman untuk menggalang kekuatan massa. DPP FPBN (Dewan Pimpinan Pusat Federasi Perjuangan Buruh Nasional) sampai saat ini menunjukkan disiplioner yang tinggi demi meningkatkan kualitas Buruh sebagai tonggak revolusioner. Banyak diantara kita selaku pejuang Buruh tidak memahami makna disiplioner yang merupakan intisari mandat sejarah yang mengamanahkan tugas-tugas sejarah. Tanpa kolektivisme maka disiplin dalam berserikat tidak akan terwujud. Masing-masing diantara kita khususnya Buruh yang berserikat haruslah mampu disiplin zat, waktu, dan tempat.

Pertama disiplin zat. Masing-masing massa (Buruh yang berserikat) harus lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas yang siap mengamban tugas sejarah demi tercapainya revolusi semesta yang dimana Buruh sebagai sokoguru revolusi mampu menghapus penindasan manusia diatas manusia dan mampu menghapus penindasan negara diatas negara (exploitation de l’homme par l’homme and exploitation de l’nation par l’nation).

Kedua disiplin waktu. Yang dimaksud dengan disiplin waktu adalah ketepatan waktu masing-masing individu (Buruh yang berserikat) dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya demi mencapai tujuan dalam berserikat.

Ketiga disiplin tempat. Yang dimaksud dengan disiplin tempat adalah ketepatan tempat terhadap lokus dan fokus perjuangan dalam menilik (menganalisa) terkait persoalan-persoalan dinamika sosial (ketidakadilan dan ketertimpangan sosial).

Buruh sebagai tonggak revolusioner (sokoguru revolusi) yang sudah menjadi ketentuan sejarah. DPP FPBN (Dewan Pimpinan Pusat Federasi Perjuangan Buruh Nasional) belajar dari pengalaman yang kemudian memperhadapkan masing-masing anggota (Buruh yang berserikat) dengan fakta yang tidak sesuai dengan realitas. Membenahi dan membangun kembali (revisi and rebuild) masing-masing dari mereka (Buruh yang berserikat) dengan cara merubah stigma dan berpaling dari ketakutan. Semakin hari Buruh yang berserikat semakin menyadari apa yang telah menjadi haknya. Baik itu secara formal (Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja Bersama) dan juga normatif (Regulasi, Kebijakan, Peraturan, Undang-Undang, dll).

Diakhir tahun menutup buku DPP FPBN (Dewan Pimpinan Pusat Federasi Perjuangan Buruh Nasional) diperhadapkan dengan kasus-kasus ditingkat SBA (Serikat Buruh Anggota) diantaranya, “Kasus SPBN (Serikat Pekerja Buruh Nasional) PT. Kemasan Cipta Nusantara, SPBN (Serikat Pekerja Buruh Nasional) PT. South Suco, dan SPON (Serikat Pekerja Otomotif Nasional) PT. Kharisma Sentosa.” tutupku – pen.

LEAVE A REPLY