Persepsi Buruh: Pengantar Marxisme (Bagian I)

Andi Alan Nuari
Dewan Pimpinan Pusat Federasi Perjuangan Buruh Nasional

Pengantar bagi kita semua yang menaruh kasih dan mendedikasihkan waktu, tenaga, dan pikirannya kepada Perjuangan Buruh. Buruh pada dasarnya menjalankan prinsip dasar hidup, yakni: “Life to Work”. Hidup untuk bekerja merupakan dasar pemikiran yang dikenal sebagai nalar pemangsa dalam bertahan hidup. Tidak heran jika Ernest Mandel menyebutkan manusia adalah binatang yang unik dengan kemampuannya yang mampu memproduksi. Selain itu perbedaan antara manusia dengan binatang lainnya adalah ciri khas dan karakteristiknya yang mampu dibedakan secara nilai.

Buruh secara logika formal menyadari kedudukannya sebagai makhluk yang tertindas dan terhisap. Tetapi Buruh tidak menyadari kedudukannya sebagai sokoguru revolusi. Karl Marx dalam pengertiannya menerjemahkan Buruh dari interaksi mesin menjadi interaksi kolektif. Dalam perkembangannya Buruh cenderung berpikir relatif dan terjebak dalam pandangan hidup yang pada dasarnya spekulatif. Inilah yang kemudian menjadi alasan Buruh sampai saat ini dalam keadaan miskin (mendicancy).

Buruh dalam hubungan kerja menyepakati bahwasanya kaum pemilik modal adalah majikan. Buruh pun menempatkan dirinya dalam kedudukan strata sosial terendah yang tidak lain Buruh mengklaim dirinya sendiri sebagai budak kaum pemilik modal. Begitupun Buruh dalam status kerja cenderung menaati dan mematuhi segala bentuk peraturan yang merupakan siasat kaum pemilik modal untuk meraip keuntungan. Buruh seumur hidupnya terjebak dalam keterkungkungan demi memenuhi kebutuhan hidupnya yang sampai kapanpun tidak dapat terpenuhi.

Buruh sampai sekarang ini sangat jauh dari Ideologi, kesadaran kelas, dan perjuangan kelas. Persepsi Buruh sangat jauh dari kata terdidik dan terwakili. Sehingga inilah yang menjadi persepsi Buruh yang memilih untuk pasif dan tidak aktif. Persepsi Buruh haruslah dirubah sesegera mungkin agar mampu disiplin Ilmu yang tinggi dan tanpa ragu-ragu menentukan nasib atas kehendaknya sendiri. Inilah kritik terhadap Buruh yang memilih bungkam dan tidak melawan.

Sistem Kapitalisme telah berhasil menempatkan kedudukan Buruh Perempuan dalam status dan beban ganda. Buruh Perempuan diharuskan bekerja demi memenuhi kebutuhan rumah tangga akibat dari upah murah dan harga pasar (nilai komoditi) yang semakin hari semakin tinggi. Inilah yang menjadi pilihan bagi Buruh Perempuan mengabaikan urusan rumah tangga dan memilih menjadi alat (mesin) dibawah telapak kaki Kapitalisme. Persepsi Buruh Perempuan akan hal tersebut harus dihilangkan dengan cara membangun kekuatan ekonominya sendiri yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Selama ini Buruh pada umunnya mengakui tidak adanya kemampuan untuk melawan. Sekalipun Buruh mengetahui akan besar keinginannya untuk melawan. Kerja-kerja nyata dalam memperjuangkan hak-hak Buruh harus dirubah dengan cara merubah persepsi Buruh yang selama ini cenderung relatif dan tidak berkembang, dengan cara:
a) Buruh harus membangun kekuatan ekonomi yang berdiri diatas kakinya sendiri;
b) Buruh harus terwakili melalui partai politiknya sendiri;
c) Buruh harus menolak kedudukan hukum normatif yang selama ini menindasnya secara terselubung.

LEAVE A REPLY