Pers dan Pemilihan Umum

Artikel yang ditulis Njoto ini terbit di Harian Rakjat – 12 September 1955, hlm. 1. Untuk memudahkan pembaca, artikel ini sudah disempurnakan menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Praktek kampanye pemilihan umum selama ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya peranan serta arti pers didalam perjuangan. Soalnya ialah: apakah kita cukup menyadari hal ini, dan apakah kita sudah bertindak sesuai dengan kesadaran ini.

Dari surat-surat yang diterima redaksi terbukti, bahwa pekerjaan isi Harian Rakjat, terutama dengan jawaban-jawaban terhadap pemalsuan-pemalsuan, pemutarbalikan-pemutabalikan dan fitnah-fitnah yang dilakukan oleh kaum dan pers reaksi., “ptret minggu ini”, percakapan redaksi dengan rakyat biasa, diperbanyaknya surat-surat dari pembaca, diperbanyaknya ilustrasi dan karikatur-karikatur, akhirnya cerita bergambar tentang cara memilih serta perkenalan dengan calon-calon revolusioner untuk pemilihan umum nanti, banyak membantu kampanye pemilihan umum di daerah-daerah. Sebaliknya, kritik-kritik dari para pembacanya yang ditujukan kepada kekurangan-kekurangan redaksi, sangat membantu redaksi untuk memperbaiki pekerjaannya, suatu hal yang tidak boleh tidak untuk memenangkan blok demokratis didalam pemilihan umum.

Tinggal 17 hari lagi pemungutan suara. Makin dekat hari pemungutan suara, harus dipergiat segala pekerjaan untuk memenangkan blok demokratis. Terutama sekali pekerjaan agitasi. Lebih khusus lagi ialah: bagaimana pers harus digunakan didalam pekerjaan ini.

Pertama-tama harus diingat, bahwa pekerjaan agitasi dengan menggunakan pers tidak akan mencapai hasil yang baik, selama soal ini hanya menjadi soal agen-agen harian Rakjat, soal komite-komite partai, dan soal kader-kader tertentu dari gerakan revolusioner. Pekerjaan ini hanya bisa berhasil baik, jika bukan hanya agen-agen dan komite-komite dan sipolan dan si anu, tetapi semua anggota gerakan progresif ikut serta.

Sekarang bukan lagi masanya berteori, bukan lagi masanya membikin atau memperdebatkan soal. Sekarang ini masanya bekerja, bekerja praktis.

Di pabrik-pabrik, bengkel-bengkel, pelabuhan-pelabuhan, perkebunan-perkebunan, gudang-gudang, toko-toko, semua fungsionaris serikat buruh harus giat menggunakan tiap-tiap saat yang ada — sebelum mulai bekerja, diwaktu mengasoh, sesudah habis waktu bekerja, dsb. — untuk menerangkan kepada anggota-anggotanya, ya, mengagitasi seluruh kaum buruh di tempat kerjanya, bahwa mereka wajib turut memilih, lalu bagaimana caranya memilih, dan partai mana yang akan dipilih, dengan jalan membacakan berita-berita dan artikel-artikel Harian Rakjat.

Sepulangnya dari tempat kerjanya, kaum buruh yang sudah mendapat ketegangan-ketegangan dari pemimpin-pemimpinnya itu, wajib melakukan pekerjaan yang sama dikampungnya masing-masing, di rukun tetangganya masing-masing, ya, di rumah tangganya sendiri.

Begitu juga fungsionaris-fungsionaris dan anggota-anggota organisasi tani, jangan ada yang ketinggalan melakukan pekerjaan yang sama. Jadikan sawah-sawah, gubuk-gubuk, halaman-halaman rumah, ya, dijadikan semua tempat untuk kegiatan politik, melalui pembacaan Harian Rakjat bersama-sama, mempersiapkan perjuangan yang menentukan, yaitu dengan mencoblos Palu Arit mengalahkan partai-partai kaum tuan tanah.

Ibu-ibu di kampung-kampung dan desa-desa, mereka bisa dan seharusnya menggunakan Harian Rakjat untuk beranjangsana, menerangkan kepada setiap wanita apa arti cerita bergambar yang dimuat berturut-turut di dalam Harian Rakjat, bagaimana caranya memilih, dsb. Juga agitasi teknis bisa menjadi agitasi politis.

Para pemuda seharusnya bisa dan memainkan peranan yang penting sekali dalam semua kegiatan ini. sebagai golongan yang vital, militant dan cekatan, mereka bisa berjasa besar dalam memenangkan blok demokratis dalam pemilihan umum kali ini.

Semua pekerjaan ini harus dilakukan sampai pada hari yang terakhir, artinya, sampai datang saat pemungutan suara. Sekurang-kurangnya masih ada waktu dua minggu. Kalau tiap-tiap hari dua setengah juta anggota SOBSI berhasil mencapai seorang tetangga atau seorang kenalan atau seorang keluarga, maka dalam dua minggu berjuta-juta bisa dicapai, apalagi bersama-sama dengan anggota-anggota organisasi-organisasi massa lainnya.

Tetapi untuk mencapai ini, tidak ada lagi waktu merenung atau menimbang-nimbang. Catut tali wondo!

Disamping itu, pers harus digunakan secara lebih efektif untuk membongkar kepalsuan-kepalsuan, kongkalikong, suap-suapan, dsb, yang dilakukan oleh partai-partai reaksioner. Didalam keadaan terdesak seperti sekarang ini, mereka tidak mungkin mencapai kemenangan sonder memakai jalan-jalan illegal. Waktu tinggal singkat saja, tetapi laporkanlah pengalaman-pengalamanmu kepada redaksi harianmu. Kebohongan-kebohongan apa yang diomongkosongkan oleh pemimpin-pemimpin Masjumi-PSI didalam pidato mereka, kecurangan-kecurangan apa yang terjadi, suap-suapan yang bagaimana yang dilakukan, semua ini harus dilaporkan secara kongkrit. Jangan ada satu pun pengalaman yang disimpan buat diri sendiri. Hal ini berlaku sampai hari-hari sesudah pemungutan suara, yaitu disaat-saat penghitungan suara. Untuk ini semua alat pengiriman mesti digunakan: kawat pers, telepon interlokal, kurir, surat express, dsb.

Gunakanlah Harian Rakjat se-maksimalnya didalam semua pekerjaan: untuk rapat-rapat, ceramah-ceramah, untuk anjangsana, untuk latihan-latihan mencoblos Palu-Arit, untuk percakapan-percakapan, pendeknya untuk memenangkan demokrasi dalam pemilihan umum.

Pekerjaan ini bisa dan pasti membawa hasil yang besar. Tergantung dari kita sekalian.

*Artikel ini disalin dari buku yang berjudul Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965 karya Fadrik Azis Firdausi

LEAVE A REPLY