Pemindahan Ibu Kota Israel ke Yerusalem: Upaya Untuk Melegalkan Penindasan Baru

Oov Auliansyah
PRP Komkot Tangerang

Dalam pidatonya di Gedung Putih, Rabu (06/12), Donald Trump, Presiden Amerika Serikat (AS) yang serampangan dan gila mengungkapkan bahwa sudah saatnya untuk mengakui secara resmi Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan meminta Departemen Luar Negeri AS untuk memulai persiapan pemindahan kedutaan besar (kedubes) AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.[1]

Pidatonya sontak membuat gaduh politik dunia. Pemimpin negara-negara mengecam pidato Trump, termasuk negara-negara kapitalis besar dan kacungnya, ikut ambil bagian ‘bersandiwara’ mengecam. Kecaman pemimpin-pemimpin tersebut disusul dengan berbagai aksi unjuk rasa rakyat di negara mereka masing-masing yang pro-Palestina dan tidak ketinggalan aksi-aksi reaksioner kelompok fasis yang meneror ancaman bagi keselamatan warga AS yang berada di negara mereka masing-masing.

Jika kita memeriksa kalimat-kalimat yang diucapkan oleh Trump pada pidatonya, kita akan menemukan penyataan-pernyataan jujur tentang politik dalam negeri Amerika Serikat yang melindungi Israel, yang tidak banyak kita ketahui. Seperti pada awal pidato, Trump mengatakan “Pada tahun 1995, Kongres mengelurkan keputusan yang mendesak pemerintah federal untuk memindahkan Kedutaan Besar Amerika ke Yerusalem, dan yang terpenting, untuk mengakui bahwa kota tersebut adalah ibu kota Israel… Saya telah menetapkan bahwa sekarang saatnya untuk secara resmi mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Sementara presiden-presiden sebelumnya telah membuat janji kampanye besar ini, mereka gagal menyampaikannya. hari ini, saya sedang menyampaikannya”.

Apa yang Trump ucapkan di awal pidato tersebut adalah sebuah pengungkapan kebenaran yang ada, agar kita tahu, bahwa sesungguhnya Amerika Serikat beserta negara-negara kapitalis besar dan kacung-kacungnya tidak pernah bersungguh-sungguh mengupayakan kemerdekaan Palestina, tetapi sebaliknya mereka secara kenyataannya – walau sembunyi-sembunyi – aktif mendukung agresi imperialis Israel terhadap Palestina.

Menurut angka resmi, sejak Perjanjian Oslo 1993, lebih dari 110 ribu rakyat Palestina telah ditahan dan lebih dari 270 ribu pemukim Palestina telah pindah ke Tepi Barat. Kapitalisme Israel tidak akan pernah menerima Palestina yang kuat dan hidup, dan kapitalisme Israel juga tidak akan bisa berhenti meluaskan ekspansinya, yang sudah tersirat dalam DNAnya.[2]

Apapun yang dilakukan Israel, pada kenyataannya AS akan selalu mendukung – walaupun kadang dibumbui retorika AS mengecam tindakan Israel – karena sejak tahun 1960-an, ketika AS sudah tidak mampu memproduksi minyak bumi sendiri untuk memenuhi konsumsi dalam negerinya, mereka ingin selalu terlibat dalam konflik di Timur Tengah[3] untuk menguasai minyak bumi. Sejak saat itu, Israel adalah sekutu terdekat AS di Timur Tengah, selain Arab Saudi dan Iran (pada masa Shah, sebelum Revolusi Iran), sehingga tidak mengherankan jika sampai saat ini AS dan Arab Saudi akan selalu mendukung kepentingan-kepentingan Israel. Kita bisa lihat sekarang rezim Saudi, yang merupakan mata rantai terlemah kapitalis di Timur Tengah, terjebak dalam kekusutan kontradiksi yang tak terpecahkan.

Walaupun paska pidato Trump yang menginginkan pemindahan Ibu kota Israel dari Tel Alviv ke Yerusalem, kita tahu pemimpin negara dan berbagai kelompok menyatakan penolakan dan mengecam rencana tersebut. Tetapi, kita sekarang juga telah tahu bahwa dasar penolakan mereka berbeda-beda. Negara-negara kapitalis besar dan kacung hanya bersandiwara menolak dan mengecam, Sedangkan mayoritas dan kelompok-kelompok lainnya menolak karena faktor identitas. Inilah perbedaan antara kita, kaum sosialis dengan mereka yang disebut di depan. Kita sebagai sosialis, menentang dan mengecam pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem juga mendukung kemerdekaan Palestina bukan karena berpura-pura atau karena memiliki kesamaan identitas dengan rakyat Palestina. Kita mendukung kemerdekaan Palestina, karena selama ini ada penindasan yang parah oleh militer Israel terhadap warga Palestina, dan penindasan ini akan lebih parah lagi ketika pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem terealisasikan, karena kita tahu sistem kapitalisme tidak akan pernah ragu-ragu menggunakan kekerasan militer untuk menghadapi perlawanan, atau ketika ada yang dianggap bahaya, mengancam keinginan mereka.

Pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem juga adalah salah satu cara dari sistem kapitalisme, untuk melegalkan ekspansi Israel ke wilayah jalur Gaza, agar bisa mendapatkan alat produksi baru seperti sumber daya alam dan tanah, yang nantinya akan menjadi milik pemodal-pemodal Israel. Dengan tergusurnya rakyat Palestina dari tanah dan usahanya sendiri, rakyat Palestina tidak lagi memiliki alat kerja atau tidak mampu lagi berwiraswasta. Inilah keuntungan lain yang akan didapat kapitalis oleh Israel, yaitu semakin banyak pengangguran dari Palestina yang bisa dibayar murah oleh kapital Israel.

Pendek kata, kita kaum sosialis menolak pemindahan ibu kota Israel ke Yerusalem, karena ini adalah upaya untuk melegalkan penindasan suatu bangsa terhadap bangsa lain dan penidasan kapital Israel terhadap bangsa Palestina.

Catatan:

[1] Full Video and Transcript: Trump’s Speech Recognizing Jerusalem as the Capital of Israel, https://www.nytimes.com/2017/12/06/world/middleeast/trump-israel-speech-transcript.html.

[2] Pengakuan Trump atas Yerusalem, wajah sesungguhnya kapitalisme, https://www.militanindonesia.org/internasional/timur-tengah/palestina-israel/8679-pengakuan-trump-atas-yerusalem-wajah-sesungguhnya-kapitalisme.html.

[3] Harvey, David. The New Imperialism. Oxford: Oxford University Press, 2003.

LEAVE A REPLY