Oportunisme dan seni tentang yang mungkin

Rosa Luxemburg

Catatan Penerjemah: Agak sulit mencari konteks persis dari artikel ini. Tapi dari buku Stanley Pierson, Marxist Intellectuals and the Working-Class Mentality in Germany, 1887-1912, kita bisa mengetahui adanya aktivis Partai Sosial-Demokrasi Jerman (SPD) yang bernama Wolfgang Heine yang pada kampanye elektoralnya di musim semi 1898, mengejutkan sejumlah aktivis Sosial-Demokrat lain, karena mengusulkan dukungan partai terhadap anggaran militer pemerintah sebagai balasan untuk konsesi-konsesi di ranah hak-hak sipil. Kita bisa lihat, tema ini diangkat oleh Rosa dalam tulisan di bawah ini.

Heine, dalam penggambaran Stanley, memang seperti aktivis yang pragmatis. Dalam kontroversi revisionisme Bernstein, misalnya, ia menyatakan, perselisihan teoritik tidak memiliki banyak signifikansi praktis. Karakter politik praktis yang khas, menurutnya, tidak banyak hubungannya dengan teori. Ia menuduh mereka yang mendesak agar keanggotaan partai mensyaratkan penerimaan ajaran tertentu, sebagai dogmatik dan memiliki arogansi akademik. Bisa dibilang Heine adalah tipe aktivis yang sangat praktis dan tidak begitu peduli dengan ideologi dan teori.

Sebaliknya, Rosa justru menekankan sangat pentingnya kesesuaian aktivitas praktis dengan prinsip atau tujuan akhir sosialisme. “Pertanyaan mendasar dari gerakan sosialis selalu bagaimana membuat aktivitas praktisnya yang segera, sesuai dengan tujuan akhirnya…. Dan Sosial-Demokrasi adalah partai sosialis pertama yang telah memahami bagaimana menyelaraskan tujuan akhirnya yang revolusioner dengan aktivitas hariannya yang praktis, dan dengan cara ini ia telah mampu menarik massa luas ke dalam perjuangan,” tandasnya dalam tulisan di bawah ini.

Terjemahan ini dibuat dengan melihat bahwa problem yang sama dengan yang dihadapi Rosa, sepertinya juga ada, bahkan mungkin marak, di gerakan progresif Indonesia. Kita bisa lihat dari cukup maraknya retorika bahwa suatu tindakan adalah taktik, tapi tidak jelas apa kontribusi tindakan tersebut pada tujuan jangka panjang atau strategisnya. Taktik tanpa strategi tampaknya merupakan perwujudan dari oportunisme yang memisahkan tindakan praktis dari tujuan akhir atau prinsip. Harapan saya, terjemahan ini bisa menjadi salah satu referensi untuk memahami penyakit oportunisme, sehingga kita bisa mengatasinya. Semoga bermanfaat!

Kawan Heine, seperti yang sudah banyak diketahui, telah menulis sebuah pamflet untuk konferensi partai yang berjudul Memilih atau Tidak Memilih? Di dalamnya, ia lebih menyukai agar kita berpartisipasi dalam pemilihan Landtag Prussia. Bukan topik utama dari pamfletnya yang mendorong kami membuat sedikit catatan penting, tetapi dua istilah yang disebut dia dalam argumennya, yang kepada mana kami bereaksi dengan sensitivitas tertentu sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa yang sudah banyak diketahui dan baru-baru ini terjadi dalam partai. Istilah itu adalah: seni tentang yang mungkin dan oportunisme. Heine meyakini bahwa permusuhan partai terhadap kecenderungan ini didasarkan sepenuhnya pada ketidakpahaman akan makna linguistik sejati dari istilah asing ini. Ah! Kawan Heine, sama seperti Faust, telah mempelajari ilmu hukum dengan sangat bersemangat, tetapi sialnya, tidak seperti Faust, tidak banyak lagi selain itu. Dan dengan semangat sejati pemikiran hukum, ia mengatakan kepada dirinya sendiri, Pada awalnya adalah kata. Jika kita ingin mengetahui apakah seni tentang yang mungkin dan oportunisme itu berbahaya atau berguna bagi Sosial-Demokrasi, kita hanya perlu memeriksa kamus istilah asing dan pertanyaan itu akan terjawab dalam lima menit. Karena kamus istilah asing memberitahu kita bahwa seni tentang yang mungkin adalah ‘sebuah kebijakan yang berupaya mencapai apa yang mungkin di tengah situasi yang ada.’ Heine kemudian menyatakan, ‘Bahwasanya, saya tanya ke semua manusia rasional, apakah sebuah kebijakan harus berupaya mencapai apa yang mustahil di tengah situasi yang ada?’ Ya, kita sebagai manusia rasional menjawab, jika persoalan politik dan taktik dapat diselesaikan dengan begitu gampang, maka ahli perkamusan (lexicographers) akan menjadi negarawan yang paling bijak, dan alih-alih menyampaikan pidato-pidato Sosial-Demokrasi, kita harus mulai menyelenggarakan kuliah-kuliah populer tentang linguistik.

Tentu saja kebijakan kita harus dan hanya bisa berupaya mencapai apa yang mungkin di tengah situasi yang ada. Tetapi hal ini tidak mengatakan bagaimana, dengan cara apa, kita harus berupaya mencapai apa yang mungkin. Walaupun begitu, inilah poin sangat pentingnya.

Pertanyaan mendasar dari gerakan sosialis selalu bagaimana membuat aktivitas praktisnya yang segera, sesuai dengan tujuan akhirnya. Berbagai ‘mazhab’ dan kecenderungan sosialisme berbeda karena beragam solusi mereka atas persoalan ini. Dan Sosial-Demokrasi adalah partai sosialis pertama yang telah memahami bagaimana menyelaraskan tujuan akhirnya yang revolusioner dengan aktivitas hariannya yang praktis, dan dengan cara ini ia telah mampu menarik massa luas ke dalam perjuangan. Tetapi kenapa solusi ini terutama selaras? Kalau dinyatakan secara singkat dan umum, karena perjuangan praktisnya telah dibentuk sesuai dengan prinsip-prinsip umum program partai. Ini kita semua tahu di luar kepala. Jika ada yang mempertanyakan kita, jawaban kita akan pintar sebagaimana biasanya. Sekarang kami meyakini bahwa, terlepas dari keumumannya, ajaran ini merupakan sebuah panduan yang jelas bagi aktivitas kita. Mari kita ilustrasikan sebentar dengan dua pertanyaan yang baru-baru ini menghangat dalam kehidupan partai – dengan militerisme dan kebijakan bea cukai.

Secara prinsip – sebagaimana setiap orang yang akrab dengan program kita mengetahuinya – kita menentang segala bentuk militerisme dan tarif protektif. Apakah dengan demikian perwakilan kita di Reichstag harus menentang segala perdebatan tentang rancangan undang-undang mengenai persoalan ini dengan kata tidak yang kasar dan tumpul? Sama sekali tidak, karena ini adalah sikap yang lebih cocok untuk sebuah sekte kecil dan bukan sebuah partai massa yang besar. Perwakilan kita mesti menginvestigasi setiap rancangan undang-undang; mereka mesti mempertimbangkan argumen-argumen yang ada dan mereka harus menilai dan berdebat atas dasar hubungan kongkrit yang ada, atas dasar situasi ekonomi dan politik yang ada, dan bukan atas dasar prinsip yang abstrak dan tak bernyawa. Meskipun demikian, hasilnya harus dan akan berupa – jika kita telah menilai dengan benar kepentingan rakyat dan hubungan yang ada − kata tidak. Solusi kita adalah: sama sekali tidak untuk sistem ini! Tetapi, mengingat sistem sosial yang berlaku, tidak akan ada sistem yang bukan sistem ini. Setiap kali tarif dinaikkan, kita akan mengatakan bahwa kita tidak melihat alasan untuk bersetuju dengan tarif tersebut dalam situasi saat ini, tetapi bagi kita, tidak akan ada situasi dimana kita bica mencapai posisi yang berbeda. Hanya dengan cara ini, perjuangan praktis kita bisa menjadi apa yang seharusnya: perwujudan prinsip-prinsip dasar kita dalam proses kehidupan sosial dan perwujudan prinsip-prinsip umum kita dalam tindakan praktis sehari-hari.

Dan hanya di bawah kondisi ini, kita bertarung dengan satu-satunya cara yang diperbolehkan untuk apa yang ‘mungkin’ di setiap waktu. Sekarang, jika seseorang mengatakan bahwa kita harus menawarkan pertukaran – persetujuan kita atas undang-undang tarif dan militeristik sebagai balasan atas konsesi politik atau reformasi sosial – maka seseorang sedang mengorbankan prinsip-prinsip dasar perjuangan kelas untuk keuntungan sementara, dan tindakan orang itu didasarkan pada oportunisme. Oportunisme, secara kebetulan, adalah sebuah permainan politik yang bisa menghasilkan kekalahan dalam dua hal: bukan hanya dalam prinsip-prinsip dasar, tetapi keberhasilan praktis juga bisa terkorbankan. Asumsi bahwa seseorang bisa mencapai sejumlah besar keberhasilan dengan membuat konsesi-konsesi, bersandar pada kesalahan yang paripurna. Di sini, sama seperti dalam semua urusan besar lainnya, orang yang paling lihai bukanlah yang paling cerdas. Bismarck pernah berkata pada sebuah partai oposisi borjuis: ‘Kamu akan membuat diri kamu kehilangan pengaruh praktis jika kamu selalu dan seperti biasa, mengatakan tidak.’ Orang tua itu, saat itu, sebagaimana biasanya, lebih pintar daripada Pappenheimer.[1] Tentu, sebuah partai borjuis, yaitu sebuah partai yang mengatakan ya kepada keseluruhan tatanan yang ada, tetapi yang akan mengatakan tidak kepada akibat sehari-hari dari tatanan ini, adalah sebuah campuran, sebuah ciptaan artifisial, yang bukan ikan, bukan kilat, dan bukan pula unggas. Kita yang menentang keseluruhan tatanan yang ada, melihat hal ihwal dengan cukup berbeda. Dalam kata tidak kita, dalam sikap kita yang keras, terletak seluruh kekuatan kita. Adalah sikap ini yang membuat kita ditakuti dan dihormati oleh musuh serta dipercaya dan didukung oleh rakyat.

Persis karena kita tidak bergeser satu inci pun dari posisi kita, kita memaksa pemerintah dan partai-partai borjuis untuk menyerahkan kepada kita beberapa keberhasilan langsung yang bisa dicapai. Tetapi jika kita mulai mengejar apa yang ‘mungkin’ menurut prinsip-prinsip oportunisme, tidak peduli dengan prinsip-prinsip kita sendiri, dan dengan cara pertukaran ala politisi, maka kita akan segera menemukan diri kita dalam situasi serupa dengan seorang pemburu yang bukan hanya gagal menghentikan rusa, tetapi juga telah kehilangan senjatanya dalam proses tersebut.

Kami tidak membenci istilah asing, oportunisme dan seni tentang yang mungkin, seperti yang dipercaya oleh Heine; kami hanya membencinya jika istilah-istilah itu ‘di-Jerman-kan’ ke dalam praktek partai kita. Biarkanlah mereka menjadi kata-kata asing bagi kita. Dan, jika saatnya tiba, biarkanlah kawan-kawan kita menjauhkan diri dari peran penerjemah.

Catatan:

[1] Sebuah rujukan ke pasukan Jenderal Pappenheim di Perang Tiga Puluh Tahun.

Diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari Rosa Luxemburg [1898], “Opportunism and the art of the possible,” <https://www.marxists.org/archive/luxemburg/1898/09/30.htm>, diakses Agustus 2017.

LEAVE A REPLY