Mengapa Politik SARA Sangat Populer Sekarang ini? Dan Bagaimana Mengatasinya?

Demo FPI

Muhammad Ridha

Dalam pengalaman rakyat pekerja sekarang ini, isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) menjadi sangat mengemuka. Betapa tidak, semua masalah sosial yang kita hadapi akan selalu dihubungkan dengan SARA. Sebagai contoh, masalah ketimpangan ekonomi? Itu terjadi karena adanya kuasa si A yang beretniskan suku tertentu; Masalah maraknya korupsi? Tentu hal ini disebabkan oleh pengaruh si B yang sangat relijius mempercayai agama tertentu; Masalah sulitnya mendapatkan pekerjaan? Kita bisa menimpakan problem ini karena maraknya migrasi warga negara C ke Indonesia. Dan sebagainya, dan sebagainya.

Resep cara pandang politik SARA begitu sederhana: timpakan semua masalahmu ke suatu hal, ke seseorang yang dianggp memiliki identitas yang berbeda dengan dirimu. Jika ditarik dalam bentuknya yang paling ekstrim: politik SARA menjadikan setiap identitas seseorang yang berbeda sebagai penyebab utama dari semua kesalahan yang ada. Dengan kata lain, politik SARA membuat yang lain adalah jahat.

Perlu diketahui bahwasanya kondisi seperti ini bukan sesuatu yang sudah terjadi sedari dulu di Indonesia. Sempat dalam pengalaman kebangsaan kita, kita menyasar masalah yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat pada apa yang disebut sebagai kolonialisme. Perlawanan terhadap kolonialisme berangkat dari suatu gagasan mengenai adanya praktek penjajahan suatu bangsa terhadap bangsa yang lain. Pada masa perlawanan terhadap kolonialisme, semua orang di Indonesia, terlepas dari suku, agama atau ras yang dimiliki, mampu bersatu untuk menggalang kekuatan.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sekarang ini cara pandang politik SARA begitu populer?

Sebelumya, untuk memahami ini, kita perlu mengetahui akar sosial dari semakin mudahnya orang terpancing isu SARA. Kemudahan ini berangkat dari kondisi sosial masyarakat kita yang semakin sulit dan semakin tidak sejahtera. Harga barang-barang semakin mahal, tidak adanya kepastian kerja yang layak, sampai dengan jaminan kesehatan sulit diakses atau tidak memadai, menciptakan banyak beban bagi kehidupan sehari-hari rakyat pekerja Indonesia. Kita tentu mengetahui bahwa kondisi-kondisi sulit ini adalah hasil dari kebijakan elit politik borjuasi yang berkuasa. Namun kesulitan ini justru tidak menciptakan kemarahan terhadap elit borjuasi yang tengah berkuasa.

Apa sebab? Organisasi di sini menjadi kunci. Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, di masa-masa perjuangan kemerdekaan, kondisi sulit rakyat pekerja Indonesia justru menghasilkan politik anti penjajahan, bukannya politik SARA. Dalam masa perlawanan terhadap penjajahan, rakyat pekerja Indonesia banyak yang tergabung dalam serikat-serikat atau organisasi-organisasi kerakyatan (dalam arti organisasi yang dimiliki secara demokratis oleh rakyat itu sendiri) yang memperjuangkan kepentingan mereka melawan penjajahan. Sementara dalam era dimana politik SARA ada di mana-mana seperti sekarang ini, organisasi yang menyalurkan kemarahan ini adalah organisasi-organisasi yang memiliki hubungan kuat dengan elit politik yang ada.

Mudahnya, organisasi-organisasi yang mempengaruhi rakyat adalah buah dari keberhasilan elit borjuasi menguasai negara. Walau organisasi-organisasi tersebut dibentuk oleh kelompok elit borjuasi untuk melindungi kepentingan mereka yang anti rakyat, namun mereka dapat beraktivitas secara bebas dalam kehidupan keseharian rakyat pekerja. Penggunaan identitas SARA juga memiliki alasan karena dengan penggunaan identitas tersebut, organisasi dapat memiliki hubungan dengan rakyat pekerja. Implikasinya, karena ia bentukan elit, tentu tidak ada mekanisme demokratis yang menentukan arah perjuangan organisasi tersebut. Kondisi yang tentu sangat memprihatinkan, mengingat organisasi-organisasi SARA bentukan elit inilah yang menjadi instrumen kemarahan rakyat pekerja sekarang ini.

Pertanyaanya kemudian, mengapa organisasi itu menggunakan identitas SARA? Yang harus dipahami di sini adalah penggunaan identitas SARA mempermudah upaya elit untuk memecah-belah kesadaran rakyat pekerja. Jika kesadaran rakyat pekerja mampu dipecah-belah, maka mereka tidak akan dapat mengidentifikasi siapa musuh mereka yang sebenarnya telah membuat kesulitan bagi hidup mereka, yakni kalangan elit borjuasi. Karena kesadaran mereka akan selalu dibalut oleh cara pandang SARA yang sektarian, maka perhatian mereka akan selalu terfokuskan pada cara pandang SARA yang terbatas dan sempit.

Hal lain mengapa identitas SARA mudah untuk digunakan, karena bentuk politk ini adalah cara yang paling mudah bagi elit borjuasi untuk mendapatkan dukungan ketika tengah berkonflik dengan elit lain. Karena elit borjuasi akan menggunakan kartu identitas mereka yang serupa dengan identitas rakyat pekerja yang marah dalam rangka melawan posisi politik elit lain. Elit yang menjadi lawan, akan diidentifikasi dengan identitas SARA tertentu, untuk kemudian menciptakan kesadaran bahwa ada elit borjuasi yang menjadi kawan dan ada yang menjadi lawan.

Lalu bagaimana mengatasinya?

Untuk mengatasinya, tentu kita harus menyadari bahwa kemarahan sosial yang potensial tertanam dalam pengalaman rakyat pekerja Indonesian harus disalurkan dengan instrumen yang benar. Instrumen ini tentu adalah organisasi yang benar-benar memperjuangkan kepentingan mereka. Organisasi milik rakyat pekerja yang sebenarnya akan secara jujur mengarahkan telunjuknya ke elit borjuasi sebagai musuh utama rakyat pekerja. Organisasi milik rakyat perkerja ini juga akan selalu menyingkirkan cara pandang SARA karena pola pikir ini hanya akan menciptakan perpecahan rakyat pekerja yang dengannya akan memperlemah kekuatan rakyat pekerja itu sendiri.

Akhirul kalam, organisasi rakyat pekerja sejati haruslah dibangun secara serius. Organisasi ini haruslah bersifat politik karena elit politik borjuasi sudah berhasil menguasai negara Indonesia sekarang ini. Tentu jika kita hendak melawannya, organisasi rakyat pekerja sejati ini haruslah berani untuk merebut kekuasaan negara dan mengubah negara menjadi negara yang mendukung kepentingan rakyat pekerja Indonesia untuk sejahtera. Dengan kata lain, organisasi yang mampu mengorganisir kemarahan rakyat pekerja untuk menguasai negara. Hanya dengan ini kita bisa keluar dari kondisi politik yang sektarian dan memecah belah seperti sekarang ini. Dan hanya dengan ini politik Indonesia memiliki harapan di masa depan.

LEAVE A REPLY