Loper

Putu Oka Sukanta

Hari inipun dia bangun lebih dahulu dari matahari. Juga kadang-kadang lebih dahulu dari burung- burung yang meninggalkan sarangnya mencari mangsa. Dengan sepedanya yang selalu bernyanyi karena pelumasnya kering, dia mulai mengendarainya ke kota bagian selatan. Angin pagi memberikan kesegaran, dan beberapa kali udara bersih dihirupnya dalam-dalam, sampai terasa kesegaran menghilangkan segala keseganannya untuk memulai tugas itu.

Kericut-kericut sepeda tua itu, seperti menyampaikan keluhannya, karena tidak pernah istirahat, dan tidak mendapat pemeliharaan yang baik. Tapi masih sanggup pula setiap waktu untuk diajak menyelesaikan tugas rumahnya.

Rumah yang terdekat sudah sampai, dan perlahan sepeda disandarkan di tembok, serta memasukkannya selembar koran dari bawah pintu. Tak seorang yang menyahut, diapun meneruskan mengurut rumah-rumah yang setiap harinya didatangi.

Melintas dalam pikirannya, ketika dia sampai di rumah yang ketiga. Keraguan datang, untuk tidak menyampaikan koran..

“Kawan ini sukar memenuhi tagihan.” Dalam pikirannya tetap berkecamuk antara memberi dan tidak. Kemudian sekali dia teringat dengan pekerjaan kawannya itu.” Dia seorang pesuruh, mungkin gajinya untuk dimakan saja tak cukup. Tapi dia membutuhkan bacaan ini. Harian Rakjat.” Dan akhirnya tangannya memasukkan juga lembaran koran melalui lubang pintunya.

Ketika sampai pada rumah yang kesepuluh, matahari baru saja memerahi ujung-ujung atap rumah.

“Hei, pagi-pagi benar sudah datang. Tidak mengajar?” tanya seorang kawannya yang mendiami rumah kedua belas.

“Kebetulan kakak sedang dapat tugas lain. Semalam menghadiri peresmian dan sampai hari ini belum pulang.” Dia menyerahkan koran itu kepada kawannya. Setelah diteliti tanggalnya, kawannya itupun berkata lagi: “Tanggal yang sebelumnya mana?”

“Belum datang, hanya inilah yang saya jumpai di kantor pos kemarin sore.” Kawannya itu bisa mengerti dan diapun meneruskan pekerjaannya untuk singgah pada rumah beberapa kawannya yang lain sebelum jam menunjukkan pukul tujuh. Ketika sampai di simpang empat lonceng sudah pukul tujuh kurang sepuluh menit. Ditengoknya bundelan koran yang masih terikat di boncengannya. Dengan matanya yang mengharukan dia memperkirakan jumlah koran yang belum dibagikan. Tapi jam itu sudah memaksa ia untuk meninggalkan tugasnya dan menjalankan tugas baru lagi.

Sepeda tua yang berkericut-kericut itu juga membawanya ke sekolah tempatnya mengajar.

“Ha, masih juga menjalankan Koran?” tanya temannya, juga seorang guru.

“Ya beginilah, kakak sedang repot.” Sahutnya dengan tidak banyak ambil pusing.

“Tidak malu, sudah jadi guru, juga jadi loper. Carilah pekerjaan yang lebih baik.” Kelakar temannya. Tapi kelakar yang demikian tidak hanya sekali ini saja didengarnya, tapi sudah berulang kali dan juga.dari teman-temannya yang lain “Berapasih gajinya jadi loper?” tanya temannya itu. Dia sudah menahan perasaan untuk tidak menyahuti bicara temannya. Tapi orang itu pun terus bercakap. “Hebat, keadaan begini memaksa guru untuk menjadi loper. Mau juga sarannya, apalagi menjadi loper Harian Rakjat.”

Mendengar bicara yang berisi ejekan demikian tak dapat lagi dia menahan persaannya. “Kau jangan mengira, kalau aku menjadi loper ini cuma karena mau uang.”

“Lalu kalau tidak karena uang, kenapa mau jadi loper, walau kadang-kadang terpaksa terlambat datang mengajar.”

Ia tak segera menjawab, ingin sekali ia mengatakan betapa tololnya orang ini. Tapi tak sampai hati ia mengeluarkan jawabannya. “Ah,” pikirnya dengan sabar ia belum tahu apa-apa, akan lebih berarti bila diberi pengertian. Dengan tenang dijelaskannya apa arti koran itu baginya dan bagi revolusi. Tapi sebelum guru itu sempat memahaminya, lonceng telah berbunyi. “Lain kali kita bicara lagi tentang soal yang lebih besar seperti bagaimana menjadi seorang revolusioner yang baik.” katanya dan temannya itu terdiam.

Terik matahari yang sudah mulai menyisih ke barat mengigit kulitnya. Tapi masih juga dia belum menuju pulang. Satu persatu rumah-rumah langganannya dikunjungi. Siang itu pukul tiga dia baru mengacuh sepedanya menuju rumah. Koran yang dibawanya sejak pagi baru habis, dan mulai tumbuh rencana di dalam kepalanya untuk mengurusi koran yang mungkin baru saja datang.

Sore itu dia datang ke kantor pos, tapi tak sebundelpun yang datang. Pada hari-hari berikutnya, tak juga datang, dan kakaknya yang menjadi loper sesungguhnya juga setiap hari mendapat tugas dari partai. Baginya tugas itu sama saja. Sama untuk menyelesaikan pekerjaan partai. Tidak pernah dia memikirkan mana yang lebih ringan dan mana yang lebih berat. Tapi kadang-kadang dia terlalu banyak memikirkan adiknya yang disamping mengajar juga sering menggantikan tugasnya untuk mengantar koran-koran yang datang,.

“Bagaimana kalau tugas menjadi loper ini kita serahkan saja kepada orang lain?” tanyanya kepada adiknya.

“Mengapa demikian?”

“Ya kau alami sendiri, bahwa aku sering mendapat tugas yang lain, dan juga kau tahu bahwa kalau dari uang itu saja keluargaku tidak bisa untuk bertahan. Aku bermaksud untuk mencari pekerjaan lain, walaupun tugas-tugas yang lainnya masih tetap kukerjakan.”

“Tapi dengan kerja lainpun kita masih dapat merangkap jadi loper. Soalnya bukan soal uang saja, tapi yang lebih dari itu, bagaimana kita bisa mengabdi kepada partai, dengan membagi-bagikan koran yang sangat diperlukan.”

“Tapi kau sendiri sudah tahu, bahwa kau juga sering menggantikan tugasku waluapun kau harus mengajar. Kupikir hal itu terlalu berat bagimu”.”Kalau hanya mengenai persoalan itu saja, tidaklah sangat berat. Tapi ingat juga asal bisa mencari tambahan dari kerja lainnya. Memang untuk hidup berkeluarga dari penghasilan sebagai loper ini saja tidak bisa kita bertahan. Kalau misalnya soal tugas-tugas yang lainnya, kalau bisa, saya tidak sampai hati membiarkan koran tidak terbagi, itu saya yang akan mengerjakan.”

Akhirnya keduanya mengambil kesimpulan untuk tetap membantu partai untuk menjadi loper. Peranan yang menentukan dari Harian Rakjat makin disadarinya dan akibat kecintaanya kepada partai, hasrat untuk menghentikan kerjanya jadi terurung.

Beberapa hari sudah, selalu kedatangannya ke kantor pos kosong. Sore-sore dia datang ke comite, untuk membicarakan dimana kemacetan pengiriman koran itu. “Baiklah kalau demikian, besok saya akan datang ke lapangan udara untuk menanyakan langsung ke sana. Ada baiknya juga bung ikut ke sana, untuk memberi pertanggung jawaban kepada langganan yang selalu menagih.” Kata salah seorang pertugas Harian Rakjat di comite.

Besok paginya dengan surat mandat dari agen kedua orang itu datang ke lapangan udara. Surat-surat ditunjukkan kepada petugas gudang, dan masih juga berbelit-belit.

“Saya tidak berani memberikan barang-barang itu kepada saudara.

Harus mendapat izin dulu dari bapak kepala. Tapi sekarang beliau sedang cuti. Ada di rumahnya.” “Tapi saya terang berhak atas barang itu, saya mau mengambilnya dan tak usah lewat kantor pos.”

“Saya tidak berani memberikannya.”

“Sudah sejak kapan koran itu datang?”

“Kalau tidak salah kira-kira sudah seminggu.”

“Tapi mengapa tidak diserahkan kepada pos?”

“Itu bukan urusan saya.Saya cuma tukang kunci”.

Akhirnya kedua petugas itu berurusan sampai hampir tutup kantor. Hampir sepuluh bundelan memenuhi boncengan sepedanya.

Di tengah jalan tak habis-habisnya mereka menggerutu.

“Orang-orang reaksioner memang berusaha menyabot segala pekerjaan kita. Coba kau baca di stampalt, Koran-koran Jakarta lainnya bisa cuma terlambat dua atau tiga hari. Tapi kalau Harian Rakjat bisa sampai sepuluh hari bahkan sama sekali tidak datang, mereka cuma menunggu masanya saja untuk dikubur.” Terik yang menyengat-nyengat mematikan segala gerutunya.

Dengan sepedanya yang tua dan rongsokan itu juga dia pada sore harinya membagikan koran. Kakaknya membagikan kepada langganan di selatan, dan dia di bagian utara. Lima lembar sekaligus.

“Kenapa?” tanyanya.

“Habis, kadang-kadang tidak datang sama sekali. Tapi kalau datang beginilah, sekaligus lima lembar. Bagaimana caranya membaca. Mengapa terus-terusan begini, padahal koran-koran Jakarta yang lainnya selalu lancar”.

Seperti tidak sanggup dia memberikan jawaban dari keluhan itu, tapi akhirnya dia menceritakan juga persoalannya. Pada langganan di rumah yang lainpun ada persoalan juga “koran datang tidak tetap, tapi kwitansi selalu tepat. Baiklah uang langganan bulan ini kubayar bulan depan saja.”

Dengan menahan segala perasaannya dia beralih kepada rumah langganannya yang lain.

Ketika seorang langganannya menyampaikan perasaannya, sesudah dia menceritakan pengalaman-pengalaman keterlambatan itu, dia pun merasakan semangatnya kian menyala.

“Sehari saja tidak mengikuti H.R. terasa menjadi buta. Saya sungguh-sungguh pecandu H.R. Kadang-kadang bisa tidak percaya koran yang lainnya. Tapi mengapa ya berita dari daerah kita kurang sekali dimuat? Apa di sini tak ada wartawannya.”

“Wartawannya ada, tapi juga kadang-kadang terlibat dengan tugas lain yang lebih berat. Saya pikir ada baiknya juga kalau setiap kawan kita mau membantunya untuk mengirim berita-berita daerah ke Jakarta. Saya kira dengan demikian akan lebih sering kejadian-kejadian penting di daerah kita termuat.”

“Baiklah kalau begitu akan saya usahakan agar tidak ada keterlambatan ini. Bagaimana ya caranya supaya bisa lebih lancar dan cepat. Kemarin saya di Banyuwangi sudah membaca koran tiga hari yang lalu. Padahal yang sampai di sini baru Koran yang sepuluh hari lalu.”

“Saya pun kurang tahu jalan apa yang harus ditempuh untuk mengatasi kelambatan- kelambatan ini.”

Dengan pembaca dan langganan yang demikian dia selalu menaruh perhatian dan dapat menyalakan semangatnya. Andaikata semua langganan bisa mengerti seperti itu, terasalah tidak seberapa berat mengedari kota ini untuk selalu membawakan koran dengan cepat.

Sepeda tua yang bernyani itu pelan-pelan membawanya pulang kembali setelah habis tumpukan koran di boncengkannya. Tapi seperti tidak pernah dikirakan, kira-kira tiga kilo meter lagi dari rumahnya, ban sepedanya yang sudah bunting-bunting di sana-sini, melahirkan dan meletus mengejutkannya. Seperti tidak percaya dengan letusan itu, tangannya meraba ban dan tak seberkas anginpun yang tinggal.

Tangannya kosong merogoh-rogoh saku, dengan pelahan selangkah demi selangkah dia pun akhirnya mendekat juga dengan rumahnya.

Bali, 1964.

Dimuat di Harian Rakyat, 8 Maret 1964. Diterbitkan kembali dalam Putu Oka Sukanta, Lies, Loss and Longing (Vern Cork, Leslie Dwyer, Keith Foulcher, John H. McGlynn, and Mary Zurbuchen, Penerjemah), Jakarta: Lontar, 2013.

LEAVE A REPLY