Komunisme, Ateisme dan Pancasila

Pejuang muslim dari Tatarstan bergabung dengan Tentara Merah Bolshevik pada 1918. Sumber: Dawn.

Novri Oov Auliansyah
Anggota PRP Kota Tangerang

Dalam Manifesto Partai Komunis yang terbit pada tahun 1848, Karl Marx mengawali tulisannya dengan kalimat “Ada hantu berkeliaran di Eropa—hantu Komunisme.”[1] Ketika itu, sekitar dua abad yang lalu, para penguasa dan pemimpin-pemimpin agama di Eropa ketakutan oleh munculnya hantu tersebut. Mereka bersatu untuk mengusir hantu tersebut, sampai pada akhirnya hantu tersebut lenyap dari Eropa pada tahun 1991 bersamaan dengan bubarnya negara Uni Soviet.

Lucunya, walaupun hantu komunisme sempat lama menghantui negara-negara di Eropa, tapi tidak ada satupun negara di sana yang memiliki ketakutan sedahsyat sebuah negara di benua Asia yang bernama Indonesia. Bayangkan saja, belum lama ini seorang warga negara Prancis—negara yang namanya disebut oleh Marx dalam Manifesto Partai Komunis sebagai negara yang kaum radikalnya ingin mengusir hantu komunisme—memakai kaos lambang palu arit yang dibelinya sebagai oleh-oleh dari Vietnam. Ketika tiba di Indonesia, ia dipaksa untuk melepas kaos tersebut.[2] Sampai kepada kaos pun, mereka memiliki ketakutan yang sangat dahsyat.

Padahal dulu di negara ini, para penduduknya setiap tahun dipaksa untuk menonton film horor fiksi—kebenarannya sampai hari ini belum bisa terbuktikan—tentang bagaimana bengisnya Partai Komunis Indonesia (PKI) membunuh para Jendral pada tahun 1965. Di jalan-jalan besar dipajang spanduk-spanduk yang berisi pesan untuk waspada terhadap bangkitnya komunisme. Tapi anehnya, semua itu masih belum cukup mengusir rasa ketakutan terhadap komunisme.

Tahun lalu, seorang Mantan Panglima Kostrad Mayjen (Purn) Kivlan Zein membuat pernyataan, PKI—partai yang sudah lama dibubarkan Orde Baru, ratusan anggota dan simpatisannya telah habis dibunuh—akan bangkit dan sudah memiliki kantor di tengah perkotaan. Tapi ketika ditelusuri, yang ditemukan justru bukan gedung perkantoran, namun ada beberapa deretan warung, toko obat kuat, warung makan, dan bengkel sepeda motor.[3] Ditambah lagi oleh cocoklogi seseorang yang disebut-sebut Imam Besar, bahwa ada lambang palu arit dalam pecahan uang Rupiah baru.[4] Padahal dalam uang tersebut terdapat unsur pengaman yang disebut sebagai rectoverso atau gambar saling isi, dan yang ada di sana adalah lambang Bank Indonesia (BI), bukan palu arit.

Tentang Ateisme dan Komunisme

Dengan terbatasnya akses informasi dan ketatnya kontrol militer di Indonesia pada masa Orde Baru, pemerintah saat itu dapat dengan mudah melakukan indoktrinasi kepada rakyat bahwa komunisme merupakan paham berbahaya bagi kelangsungan berbangsa dan bernegara. Doktrin itu mereka sebarkan melalui cerita-cerita menakutkan. Ditambah lagi oleh media-media yang dikuasai militer, memberitakan kebohongan itu secara terus-menerus, siang dan malam.[5] Para penguasa menanamkan ke benak rakyat bahwa komunisme itu kejam, paham yang anti-agama, anti-Tuhan. Sehingga sampai saat ini, walaupun teknologi sudah maju, masih banyak yang percaya dan menganggap Komunisme dan ateisme adalah hal yang sama dan kejam.

Jika saja rakyat di Indonesia saat ini kritis dan mau mencari informasi tentang ateisme dan komunisme, maka mereka akan dengan sangat mudah sekali mengerti bahwa kedua hal tersebut adalah berbeda. Sekarang orang Indonesia bisa dengan mudah mendapatkan surat Che Guevara kepada rakyat Kuba. Dan seharusnya bagi yang pernah membaca surat tersebut, sudah bisa menarik kesimpulan bahwa Che adalah orang yang beragama dan komunisme bukan paham anti-agama dan anti-Tuhan yang kejam seperti yang digembar-gemborkan pemerintah Orde Baru. Bagaimana mungkin seorang penganut komunisme yang anti-agama ketika mengucap perpisahan menutup dengan salam yang menyebut nama Bunda Maria.

Tahun lalu, media Tirto juga menceritakan Kisah heroik partai-partai komunis Palestina melawan Israel.[6]

Menganggap kaum komunis pasti ateis adalah hal yang salah, karena saat ini tokoh ateis yang paling tersohor, seperti Richard Dawkins, Sam Harris, Christopher Hitchens bukan berasal dari negara-negara komunis, tapi dari negara kapitalis-liberal seperti Inggris dan Amerika. Dari 10 negara dengan penduduk ateis terbanyak di dunia, 8 diantaranya adalah negara-negara Kapitalis Liberal.[7]

Dari data di atas, kita bisa pastikan bahwa ateisme bukan disebabkan oleh ideologi suatu negara. Orang-orang ateis ada di berbagai negara, baik itu berhaluan komunis/sosialis maupun kapitalis. Karena negara-negara di dunia kebanyakan adalah negara dengan paham sekuler, memisahkan hubungan agama dengan negara. Negara-negara komunis/sosialis tidak mengurusi agama penduduknya dan menyatakan bahwa agama adalah urusan pribadi masing-masing warga negara. Seperti yang ditulis Lenin, “Agama harus dinyatakan sebagai urusan pribadi. Dalam kata-kata inilah kaum sosialis biasa menyatakan sikapnya terhadap agama…. Kita minta agar agama dipahami sebagai sebuah persoalan pribadi, sepanjang seperti yang diperhatikan oleh negara.”[8]

Begitu juga di tubuh di PKI, agama dinyatakan sebagai urusan pribadi. Anggotanya boleh memeluk dan percaya pada suatu agama dan boleh juga untuk tidak mempercayai agama apapun. Dalam wawancaranya dengan Solichin Salam, DN Aidit pernah berkata: “Saya dapat pastikan, di dalam PKI terdapat lebih banyak orang yang menganut agama Islam daripada di dalam suatu partai Islam yang kecil.”[9] PKI juga menyatakan selalu mendukung Pancasila sebagai dasar negara, menerima semua sila sebagai satu-kesatuan. “PKI menerima Pancasila sebagai keseluruhan. Hanya dengan menerima Pancasila sebagai keseluruhan, Pancasila dapat berfungsi sebagai alat pemersatu. PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila. Bagi PKI, semua sila sama pentingnya. Kami menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rangka Pancasila sebagai satu-kesatuan,” lanjut Aidit.

Ateisme dan Pancasila

Lengsernya Sukarno digantikan oleh rezim Suharto dan Orbanya. Perubahan sistem pemerintahan diikuti oleh berubahnya tafsir dan pemahaman tentang Pancasila, sesuai dengan keinginan pemerintah yang berkuasa. Lewat program Pedoman Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4), Pancasila berubah menjadi pemaksa. Setiap manusia Indonesia wajib dipaksa percaya dan takwa kepada Tuhan. Sampai sekarang, setelah hampir 20 tahun Orba lengser, aturan ini masih berlaku. Siapa pun warga negara Indonesia yang menyatakan dirinya seorang ateis maka dia otomatis menjadi musuh negara, dan secara otomatis pula dianggap telah melakukan tindakan kriminal, menistakan agama, dan wajib dihukum.

Propaganda anti-komunisme—yang menjurus kepada anti-ateisme—telah ditanamkan dalam-dalam kepada rakyat Indonesia oleh indoktrinasi Suharto dan Orbanya. Sehingga komunis pada masa Orde Baru disamakan dengan iblis yang siap menyerang siapa saja. Mereka yang tak beragama dan tak ber-Tuhan adalah mahluk yang siap menerkam. Bahkan mereka seringkali tidak lagi dipandang sebagai manusia.[10]

Padahal, sebelum berkuasanya Orba, mengacu pada ucapan Sukarno saat pidato di muka sidang umum PBB, “Bangsa saya meliputi orang-orang yang menganut berbagai macam agama. Ada yang Islam, ada yang Kristen ada yang Budha dan ada yang tidak menganut sesuatu agama.“ Berarti di masa-masa sebelum Orba berkuasa, eksistensi orang-orang tidak beragama diakui oleh negara sebagai warga negara yang sah, bukan sebagai musuh negara. Tapi, walaupun tidak beragama, mereka harus tetap mengakui karakter bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragama. “Meskipun demikian untuk delapan puluh lima persen dari sembilan puluh dua juta rakyat kami, bangsa Indonesia terdiri dari para pengikut Islam…kami menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai yang paling utama dalam filsafah hidup kami…mereka yang tidak percaya kepada Tuhan pun, karena toleransinya yang menjadi pembawaan, mengakui…sehingga mereka menerima Sila pertama ini,” ungkap Soekarno.[11]

Kesimpulan

Walaupun Orba telah runtuh, namun dampak dari kebodohan cara berpikir yang ditanamkan ke dalam kesadaran rakyat Indonesia oleh rezim Orba masih sangat terasa sampai hari ini. Terbatasnya ruang berbicara dan mengeluarkan pendapat pada masa Orba menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang hanya manggut-manggut, pemalas, tidak kritis dan tidak skeptis ketika menerima suatu informasi.

Sampai saat ini, ketika perkembangan teknologi dan informasi sangat pesat, rakyat Indonesia masih percaya dengan doktrin Orba tentang komunisme, ateisme yang tidak bermoral. Akibatnya, diskriminasi yang berujung pada kekerasan dan hukuman penjara masih terjadi sampai hari ini ketika seseorang dianggap menyebarkan atau mengeluarkan pendapat tentang ateisme dan komunisme.

Ini merupakan tugas kita untuk mengedukasi rakyat indonesia, mengoreksi cara berpikir kaum muda dari bahaya dokrin Orba yang anti kritik, tidak berdasarkan data dan ahistoris.

Catatan:

[1] Karl Marx & Friedrich Engels, Manifesto Partai Komunis, 1848.

[2] “Pakai Baju ‘PKI’ di Candi Borobudur, Bule Ini Sempat Ditangkap,” http://www.suara.com/news/2017/07/25/154637/pakai-baju-pki-di-candi-borobudur-bule-ini-sempat-diamankan, Suara.com, Juli 2017.

[3] “Inikah Markas PKI di Kramat Raya Menurut Kivlan Zen?” http://news.liputan6.com/read/2522715/inikah-markas-pki-di-kramat-raya-menurut-kivlan-zen, Liputan 6, Juni 2016.

[4] “Ucapan Lengkap Habib Rizieq Soal Palu Arit di Uang Baru,” https://kumparan.com/nur-khafifah/habib-rizieq-ada-palu-arit-di-uang-baru, Kumparan, Januari 2017.

[5] Michael Siahaan, “Komunisme Dan Penstrukturan Kebodohan,” https://indoprogress.com/2016/05/komunisme-dan-penstrukturan-kebodohan/, Indoprogress, May 2016.

[6] “Kisah Partai-Partai Komunis Palestina Melawan Israel,” https://tirto.id/kisah-partai-partai-komunis-palestina-melawan-israel-b5Ax, Tirto.id, November 2016.

[7] “10 Negara Dengan Atheis Terbanyak,” https://www.merdeka.com/ireporters/gaya/10-negara-dengan-atheis-terbanyak.html, Merdeka.com, Juli 2014.

[8] V. I. Lenin, “Sosialisme dan Agama,” https://www.marxists.org/indonesia/archive/lenin/1905/SosialismeDanAgama.htm. 1905.

[9] “Wawancara DN Aidit: “PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila,” http://historia.id/modern/wawancara-dn-aidit-pki-menentang-pemretelan-terhadap-pancasila, Historia, April 2016.

[10] Soe Tjen Marching, “Bahaya Laten Komunisme,” https://indoprogress.com/2009/06/bahaya-laten-komunisme/, Indoprogress, Juni 2009.

[11] “Pidato Bung Karno Di Muka Sidang Umum PBB: To Build The World A New (Bag. Keenam),” https://sites.google.com/site/perdponorogo/all-article/pidato-bung-karno-di-muka-sidang-umum-pbb-to-build-the-world-a-new-bag-keenam.

1 COMMENT

Leave a Reply to f Cancel reply