Kisah Sedih di Pagi Hari

Kemiskinan

Syamsul Bahri Panigoro

“Sejauh lirikan mata hanyalah kemiskinan
dan ketidaktahuan akan hak
menjadi Warga Negara yang ada”

Senin, 23/01/2017
Pukul 07:30 Wita

Pagi itu sungguh tidak biasa, tiba-tiba saja gerombolan Ibu-Ibu ribut disertai riang gembira setelah mendengar suara Toa yang bersumber dari Masjid terdekat menyampaikan pengumuman. Terlihat jelas kebahagian di wajah setiap perempuan paru baya itu seakan baru saja tertimpah tumpukan rizki yang bisa mengeluarkan mereka dari melaratnya hidup di dunia ini.

Satu per satu mereka melangkah mencari tumpangan ojek pergi ke rumah Pak RT, tak lupa pula dengan anak-anak mereka yang wajahnya belum sama sekali tersentuh tetesan air dan pastinya belum sikat gigi. Sembari menunggu giliran tumpangan karena ojek yang siap siaga terbatas, bisik membisik pun mereka lakukan.

Saya, yang saat itu sedang duduk di warung berukuran kecil dengan sepiring Nasi berwarna kuning campur telur Ayam rebus pun secara samar-samar ikut mendengarkan topik yang sedang mereka diskusikan dengan metode bisik membisik. Dalam benak, saya berkesimpulan bahwa “metode ini sengaja mereka lakukan karena takut ketahuan orang-orang sekitar”.

Seiring waktu berjalan, dan kuping yang makin terasa memanjang, akhirnya saya mengerti apa yang sedang perempuan-perempuan ini bicarakan,

“Paitua so tahu kalau kita ada ba pinjam uang di Koperasi, so itu dia ba peto-peto terus tadi malam”

Sepintas kalimat yang keluar dari bibir salah satu perempuan paru baya tadi.

Oh itu…!!!

Di tengah-tengah perbincangan mereka tiba-tiba sang ojek pun datang menjemput mereka untuk pergi ke rumah Pak RT, jumlah kumpulan perempuan paru baya itu lama-kelamaan mengurang satu per-satu, sang ojek pun ikut lega.

Karena tidak ingin ketinggalan informasi, saya yang saat itu telah siap siaga meninggalkan tempat demi menjalankan mandat rakyat pun bertanya kepada salah satu perempuan itu.

Tante, apakah gerangan yang membuat anda-anda ini semua beramai-ramai mendatangi rumah Pak RT? Dengan nada serak-serak basah yang diselimuti rasa ketidaksabaran, dia, sang perempuan paru baya yang saya tanyai pun menjawab.

“Pigi ba jemput beras murah. Ngana pe Mama sudah pigi atau belum?”

Wajah dan seluruh tubuh saya gemetar setelah mendengar jawaban serta tanya yang lugas itu. Tak henti-hentinya saya menyebut nama Tuhan, berharap ketegangan ini cepat berakhir. Namun, walaupun rasa ketidakberaturan masih menyelimuti dada dan kepala saya, keterpaksaan pun membuat saya menjawab dengan sok-sok santai seakan tidak terjadi apa-apa.

“Mama saya belum tahu, tolong Tante informasikan ke Mama saya. Agar Mama saya dapat jatah juga.”

Saya langsung menarik gas sepeda motor meninggalkan kaum kusam itu.

Pada dasarnya, fenomena ketimpangan sosial dan ekonomi yang barusan saya ceritakan di atas terlihat dengan mata telanjang sehari-hari. Namun fenomena itu sering terabaikan bahkan tidak dianggap sebagai ketimpangan dalam kehidupan bernegara. Cerita di atas telah memperlihatkan secara gamlang bahwa Negara benar-benar tidak hadir untuk warganya. Padahal sepintas kita bisa saksikan sendiri ketegasan Negara yang secara jelas terurai dalam Undang-Undang Dasar 1945, bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak mendapatkan penghidupan yang layak, bahkan Negara juga menyatakan bahwa setiap fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara.

Pernyataan Negara yang terurai dalam Undang-Undang Dasar 1945 itu jelas terang benderang bahwa Negara menjamin kehidupan tanpa kemalaratan, tanpa kebodohan, tanpa utang piutang, tanpa beras dan cabe yang mahal, tanpa kesengsaraan kepada setiap warganya. Negara juga telah menjamin bahwa tidak ada lagi warga miskin dan anak-anak yang terlunta-lunta di pinggir jalan, tidak ada lagi anak-anak yang susah mendapatkan sepatu baru, tidak ada lagi sepasang suami-istri bercerai karena dapur tidak berasap lagi, tidak ada lagi pemuda-pemudi yang kawin lari karena takut mahalnya biaya pernikahan, tidak ada lagi Ibu-Ibu muda yang gantung diri karena kekerasan dalam rumah tangga, tidak ada lagi bayi mungil yang dibuang orang tuanya, tidak ada lagi demonstran yang bersusah payah membentang spanduk perlawanan.

Sungguh kehidupan bernegara itu adalah surgawi di dunia. Demikian makna pernyataan Negara dalam Undang-Undang dasar 1945.

Tetapi faktanya terbalik 180 derajat. Kehidupan yang surgawi itu sama sekali tidak ada di Negara ini. Kehidupan seperti itu hanyalah ada bagi orang-orang yang beriman kelak di akhirat nanti.

Cerita kehidupan kaum kusam di atas hanyalah bagian terkecil dari banyaknya cerita kemiskinan di Negara Indonesia yang super kaya raya ini. Tak sedikit pula para Negarawan menjadikan cerita kehidupan serba susah dan mengerikan kaum kusam itu menjadi alat untuk meningkatkan popularitas saat momen Pemilu ataupun Pilkada.

Semoga kita bukan bagian dari para Negarawan itu. Jangan pernah lelah dan tetaplah Istiqomah dalam perjuangan untuk Rakyat  jelata.

…Salam…

LEAVE A REPLY