Harsutejo: Pers Partisan itu profesional yang mengabdi ke partai

Rizal Assalam

Artikel ini merupakan rangkaian dari serial Pers Partisan pada seri sebelumnya yang telah membahas tuturan Putu Oka Sukanta. Jika sebelumnya Sukanta merupakan pegiat langsung di Harian Rakjat, artikel kali ini menghadirkan seorang yang bersimpati dengan PKI. Harsutejo merupakan seorang sejarawan kritis yang banyak menulis dan menerjemahkan berbagai buku tentang kejahatan-kejahatan Orde Baru, di antaranya seperti Kamus Kejahatan Orde Baru dan G30S, sejarah yang digelapkan serta menerjemahkan Penghancuran Gerakan Perempuan karya Saskia E. Wieringa.

Harsutejo tumbuh besar dalam keluarga yang ideologis. Ayahnya merupakan seorang pengurus Sarekat Rakjat (SR) di masa penjajahan Belanda, kemudian berkembang menjadi PKI di daerah Jawa Timur. Dari latar belakang keluarga itu, Harsutejo mengenal surat kabar-surat kabar yang memiliki tendensi Kiri, termasuk Harian Rakjat. Namun, Harsutejo bukanlah penulis Harian Rakjat, Ia lebih banyak menulis untuk Trompet Masjarakat. Surat kabar itu berdiri independen, dalam arti tidak berafiliasi dengan partai. Meski independen, latar ideologi dan tingginya kesadaran politik di akar rumput tetap memberikan warna ‘jurnalisme politis’ pada Trompet Masjarakat. Ketika itu, ‘jurnalisme politik’ disebut sebagai pers progresif pendukung Bung Karno.

Bagaimana pengalaman bung menulis di masa Pers Partisan?

Saya tidak pernah jadi wartawan, hanya kadang-kadang menulis. Tapi saya banyak bergaul dengan kawan-kawan wartawan. Sampai sekarang masih seperti itu. Saya menulis banyak hal, terutama human interest, kadang cerpen, juga surat pembaca. Apa saja.

Bung pernah menulis untuk Harian Rakjat?

Tidak. Dulu saya di Trompet Masjarakat. Kan’ ketika itu saya tinggal di Malang. Hanya pada permulaan 1950-an ketika duduk di SMP saya menulis di rubrik anak-anak, kalau tak salah namanya HR (*Harian Rakjat) Muda asuhan Ibu Satu Djuni, bahkan saya pernah memenangkan lomba cerpen.

Kemana Trompet Masjarakat berafiliasi?

Itu adalah surat kabar nasionalis. Itu mengambil posisi nasionalis kerakyatan, namun tidak berafiliasi ke partai. Nasionalis ‘kan ada banyak, ada Partindo salah satunya. Nah, Trompet Masjarakat ini lebih nasionalis dan kerakyatan. Menurut saya surat kabar itu termasuk independen, meskipun dituduh PKI ketika itu. Meski demikian, Trompet Masjarakat ini memang orientasinya berpihak kepada rakyat, sesuai dengan ideologinya yang bersandar pada ajaran Bung Karno. Begitu kira-kira.

Pemimpin Redaksinya dan juga pemiliknya itu adalah Goei Poo An (GPA), lalu dilanjutkan oleh salah satu anaknya, Goei Hok Gie (GHG). Sebelumnya saya sudah kenal pemilik koran ini (GPA). Dia pernah satu blok di penjara Lowokwaru, Malang pada 1965, kemudian hilang, ya dibunuh.

Apakah Trompet Masjarakat termasuk surat kabar nasional?

Tidak, itu koran lokal, bukan nasional. Tapi memang Trompet Masjarakat itu dikenal luas. Memang peredarannya secara luas di Jawa Timur, namun juga banyak dikenal di luar, hampir secara nasional. Trompet Masjarakat merupakan salah satu surat kabar yang menonjol ketika itu.

Beberapa literatur menggambarkan posisi seorang jurnalis yang ideologis, dan memang partisan. Bagaimana bung melihatnya?

Oh iya, ideologi itu menjadi pertimbangan utama. Itu benar, karena kesadaran politik saat itu sangat kuat, kesadaran politik yang mengacu pada suatu ideologi tertentu.

Oleh karena itu, apakah berarti jurnalis tidak bisa berpindah ke surat kabar lain yang bertendensi ideologi berbeda?

Tidak, tidak begitu. Tapi tidak berarti semua jurnalis itu anggota partai. Antara partai dengan ideologi tidak selalu mesti satu. Orang yang berideologi Marxis misalnya, belum tentu anggota PKI. Dia bisa di luar (partai). Partai-partai pun membiarkan orang itu. Dia barangkali dimasukkan jadi simpatisan. Jadi berideologi tidak sama dengan berpartai. Contohnya itu banyak orang PSI, itu kan lawannya PKI, tapi banyak juga yang dekat dengan orang PKI. Jadi agak aneh juga itu, sedangkan PSI itu lawan yang disebut sebagai ‘Sosialis Kanan’

Apakah surat kabar Pedoman juga seperti itu? Berafiliasi dengan partai (PSI) namun ada di antara jurnalisnya yang bukan anggota partai?

Ya, seperti Rosihan Anwar. Rosihan adalah seorang simpatisan PSI.[1] Sama seperti Mochtar Lubis. Seperti Pramoedya itu orientasinya Kiri. Pram sering menulis di Warta Bhakti, yang di belakangnya ada partai kecil, Partindo. Tapi pada saat itu Warta Bhakti cukup kuat, punya segmen yang besar.

Seperti apa rupa surat kabar partai? Apakah semata organ partai atau juga mencari keuntungan dari penjualan dan iklan?

Bisa dikatakan, surat kabar di era Demokrasi Terpimpin itu sepenuhnya organ partai, tidak ada pertimbangan keuntungan finansial. Setahu saya, seperti Harian Rakjat, Suluh Indonesia, lalu Duta Masjarakat, dan Pedoman itu tidak ada yang hidupnya mencari keuntungan. Memang betul-betul organ partai dan menurut mereka itu profesional—profesional yang mengabdi ke partai.

Bagaimana dengan Trompet Masjarakat yang independen?

Juga tidak mencari keuntungan. Tidak. Hanya sebatas survive saja. Dia tidak terikat partai. Tentu karena dia memihak rakyat, ada partai yang mendukung, kira-kira diberi kesempatan supaya dibaca. Tentu kaum nasionalis, terutama yang Kiri, berkepentingan untuk merangkul koran-koran seperti Trompet Masyarakat.

Eksistensinya hampir seperti Indonesia Raja. Bedanya, meski independen tapi Indonesia Raja ideologinya cenderung ke Kanan, kalau Trompet Masyarakat cenderung ke Kiri.

Apakah para penulis ketika itu mendapatkan honorarium?

Jarang, kadang-kadang saja. Saya menulis saja. Jaman itu kan idealisme orang sangat tinggi. Saya rasa sangat berbeda dengan semangat jaman sekarang.

Artinya seseorang yang mengirim tulisan itu bukan untuk mencari honor?

Sama sekali tidak berpikir ke sana. Tapi misalnya saya kirim cerpen biasanya mendapatkan honor meskipun kecil saja.

Ada juga simpul-simpul kontributor ketika itu. Mereka mengirimkan tulisan hasil reportase lapangan. Mirip seperti sekarang. Tapi dulu sepenuhnya didasarkan oleh idealisme. Karena memang sesuai semangat jamannya, semangat nasionalisme, berdikari. Itu sangat kuat pengaruhnya.

Bagaimana dengan pembagian kerja dalam surat kabar ketika itu?

Pada dasarnya sama, tapi kalau sekarang jauh lebih rumit. Dulu itu sederhana. Kadang-kadang reporter itu bisa kerja rangkap, bahkan untuk tipografi. Situasinya berbeda, ketika itu orang yang bergiat di jurnalisme masih sedikit. Perbedaan lainnya, dulu belum ada telepon. Sehingga untuk mengirimkan naskah masih manual, dibawa kurir, atau lewat kantor pos.

Iklan juga sudah ada ketika itu. Iklan telah menjadi bagian dari kehidupan pers.

Bagaimana dengan hasil penerimaan iklan? Apakah sepenuhnya untuk perkembangan surat kabar atau ada sebagian porsi untuk pendanaan partai?

Urusan dana setahu saya tidak ada kaitannya dengan partai. Malah surat kabar diberikan subsidi oleh partai. Bukan pers yang memberi uang kepada partai, tapi sebaliknya.

Apakah surat kabar ketika itu memiliki penerbitannya sendiri? Jika ya, apakah penerbitan itu dikelola partai?

Pada umumnya sudah punya percetakan sendiri. Atau paling tidak, partai membangun afiliasi dengan pengusaha-pengusaha tertentu yang menjadi simpatisan untuk mendukung kerja-kerja penerbitan surat kabar. Kecuali Suluh Indonesia, surat kabar itu mempunyai penerbitannya sendiri.

Bagaimana dengan cara kerja jurnalis? Apakah didasarkan atas instruksi partai?

Perintah itu ada. Kalau koran partai, petinggi partai itu yang pegang perintah. Memang kalau ada waktu senggang bisa meliput bebas. Namun, kebebasan meliput itu biasanya selalu dilihat apa nilai yang berguna untuk kemajuan partai.

Kecuali surat kabar independen seperti Trompet Masyarakat. Itu saya rasa mereka punya kebijakannya sendiri.

Idealisme ketika itu sangat tinggi, sehingga tidak ada perbedaan antara pekerja dengan pemilik karena hubungan yang mendasarinya adalah ideologi politik. Relasi di antara pegiat surat kabar adalah layaknya kolega.

Saya sempat membaca cerpen yang ditulis Sukanta tentang loper koran. Dikisahkan loper koran sekalipun mengabdikan kerjanya untuk partai. Bagaimana dengan yang bung alami?

Saya pernah menjadi loper koran ketika semasa sekolah dulu. Saya mendapatkan uang untuk keperluan sekolah tingkat menengah pertama dari pekerjaan loper. Kebetulan ayah saya adalah pengurus partai dan juga agen koran. Jadi anak-anaknya jadi loper. Waktu itu ada dua koran yang diedarkan: Harian Rakjat dan Trompet Masyarakat. Kira-kira jumlah yang diedarkan sama.

Bahkan surat kabar yang diedarkan itu terkait dengan kepentingan partai?

Ya, itu contoh yang sangat mencolok pada ayah saya. Padahal di Jawa Timur itu peminat terbesar adalah majalah Jawa Panjebar Semangat yang lebih banyak berisi hiburan. Ada juga artikel berita, terutama menyangkut human interest, juga artikel untuk anak-anak dan perempuan atau informasi umum dalam bahasa Jawa. Pangsa pasarnya besar. Tapi ayah saya tidak mau mengedarkan itu, meskipun menguntungkan, baginya itu prinsip dan bukan urusan dagang.

Catatan:

[1] Lihat tuturan Rosihan Anwar mengenai harian Pedoman dalam obituari yang ditulis Budi Setiyono, “Jatuh Bangun Koran Kiblik”, Historia.id 15 April 2011, <http://historia.id/obituari/jatuhbangun-koran-kiblik>.

LEAVE A REPLY