Fasisme

Nazi Fascism

Tom Bottomore

Kebangkitan gerakan fasis, dan pendirian rezim fasis di beberapa negara Eropa selama tahun 1920an dan 1930an menghadapkan para pemikir Marxis dengan sebuah masalah baru dan mendesak untuk dianalisis. Ada dua isu utama: (i) kondisi ekonomi dan sosial apa yang memunculkan fasisme, dan (ii) apa yang memungkinkan kemenangan fasisme dan kehancuran gerakan kelas-pekerja di beberapa negara? Dalam serangkaian pamflet dan artikel yang ditulis antara tahun 1930 dan 1933, Trotsky mengurai secara ringkas ciri-ciri utama fasisme, meskipun perhatian utamanya adalah untuk merumuskan strategi politik yang efektif, yang akan memungkinkan gerakan kelas-pekerja membendung gerak maju fasisme di Jerman. Fasisme, menurutnya, adalah ekspresi dari krisis struktural yang mendalam dari kapitalisme lanjut, dan muncul dari kecenderungan kapitalisme monopoli (seperti yang dibahas oleh Hilferding) untuk ‘mengorganisir’ seluruh kehidupan sosial dengan cara yang totalitarian, sementara basis sosial dari gerakan massa fasis adalah borjuis kecil atau kelas menengah. Sebuah analisis umum yang lebih sistematis terhadap fasisme dilakukan oleh Bauer (1936), yang menganggap fasisme sebagai ‘produk dari tiga proses yang saling terkait erat.’ Pertama, perang dunia pertama menyingkirkan sejumlah besar orang dari kehidupan borjuis, mengubah mereka menjadi orang-orang yang mengalami kejatuhan kelas (déclassés), yang setelah perang menjadi lapisan pembentuk ‘liga pembela’ atau ‘milisi’ fasis dengan ideologi mereka yang nasionalis, anti-demokrasi dan militeristik. Kedua, krisis ekonomi pasca-perang memelaratkan sebagian besar kelas menengah bawah dan petani, yang kemudian meninggalkan partai-partai borjuis-demokratis dan bergabung dengan milisi. Ketiga, krisis ekonomi mengurangi laba kelas kapitalis, dan untuk memulihkannya dengan menaikkan tingkat eksploitasi, mereka harus mematahkan perlawanan kelas pekerja, yang tampaknya sulit atau mustahil dicapai di bawah rezim yang demokratis.

Beberapa anggota Mazhab Frankfurt juga membuat kajian yang rinci terhadap kebangkitan fasisme. Neumann, dalam sebuah studi klasik terhadap gerakan Nasional-Sosialis Jerman (1942), menyatakan bahwa ‘dalam sebuah sistem yang monopolistik, laba tidak dapat dihasilkan dan dipertahankan tanpa kekuatan politik yang totalitarian…itulah ciri khas Nasional-Sosialisme’ (hlm. 354), dan ia kemudian menggambarkan rezim itu sebagai ‘ekonomi komando,’ atau secara lebih luas sebagai ‘kapitalisme monopoli yang totalitarian.’ Di Jerman, menurut Neumann, proses sentralisasi dan konsentrasi kapital yang mengarah pada monopoli, telah berjalan lebih jauh dari di tempat-tempat lain dan hal ini, bersama-sama dengan tingkat keparahan yang luar biasa dari krisis ekonomi di Jerman, memberikan kekuatan pada fasisme. Analisis yang agak berbeda dibuat oleh Pollock dalam esai-esai yang ditulis antara tahun 1932 dan 1941; meski menyetujui pentingnya kapitalisme monopoli, Pollock lebih menekankan peran negara intervensionis dan menggambarkan sistem itu sebagai ‘kapitalisme negara’ (sebuah istilah yang dianggap Neumann sebagai kontradiksi dalam argumen [contradiction in adjecto] yang ‘tidak mampu memanggul analisis dari sudut pandang ekonomi’). Terakhir, sejak 1945 dan seterusnya, Adorno dan Horkheimer bekerjasama dengan beberapa ilmuwan sosial Amerika melakukan serangkaian kajian terhadap prasangka—secara khusus membahas ‘kepribadian otoritarian’ dan anti-Semitisme—dengan tujuan menyelidiki basis psikologis dari gerakan fasis (lihat terutama Adorno et al. 1950).

Beberapa kajian lebih baru tentang fasisme, meski sebagian besar menerima elemen-elemen utama dari analisis sebelumnya yang mengkaitkan fasisme dengan kapitalisme monopoli, krisis ekonomi yang akut, dan posisi terancam dari sejumlah besar kelas menengah, mereka juga memunculkan pokok-pokok pikiran tambahan. Poulantzas (1974), dalam sebuah kajian yang terutama ditujukan untuk memeriksa secara kritis ajaran dan kebijakan Internasional Ketiga serta partai komunis Italia dan Jerman dalam konfrontasi mereka dengan fasisme (serta khususnya pencirian mereka terhadap Sosial Demokrasi sebagai ‘fasisme sosial’), kendati demikian juga membahas beberapa pertanyaan yang lebih umum, khususnya watak spesifik fasisme dalam hubungannya dengan bentuk-bentuk lain ‘negara kapitalis yang tidak biasa,’ yang mencakup Bonapartisme dan berbagai jenis kediktatoran militer. Mason, dalam sebuah esai pendek (1981) tentang persoalan-persoalan yang belum selesai dalam analisis Marxis terhadap fasisme, secara khusus merujuk pada signifikansi Hitler sebagai seorang pemimpin dan anti-Semitisme; dan ia menyatakan bahwa Reich Ketiga mungkin merupakan sebuah ‘rezim yang unik,’ sehingga menarik perhatian ke isu umum yang penting—bahwa meskipun kondisi untuk kebangkitan fasisme bisa muncul di semua masyarakat kapitalis yang maju, kemenangannya mungkin tergantung pada tradisi sejarah dan situasi nasional yang spesifik. Terakhir, tampaknya penting untuk lebih mempertimbangkan fenomena seperti pengangguran yang telah ditekankan oleh penulis-penulis non-Marxis (meskipun juga oleh beberapa penulis Marxis, diantaranya Adler dan Bauer); jadi Carsten (1967) mencatat bahwa ‘secara khusus adalah dari lapisan penganggur, S.A. [pasukan badai (storm troops) gerakan Nasional Sosialis] selama tahun-tahun ini [1930-32] merekrut pasukan swasta sebanyak 300.000 orang.’ Dari kajian Marxis maupun kajian-kajian lain, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebuah krisis ekonomi yang akut dapat mendorong bukan hanya radikalisme kelas-pekerja yang lebih besar, tetapi juga pertumbuhan pesat gerakan politik sayap-kanan.

Bacaan

Adorno, Theodor W. et al. 1950: The Authoritarian Personality.

Bauer, Otto 1936 (1978): ‘Fasisme.’ Dalam Bottomore dan Goode, ed. Austro-Marxism.

Beetham, David ed. 1984: Marxists in the face of Fascism.

Carsten, F. L. 1967: The Rise of Fascism.

Mason, Tim 1981: ‘Open Questions on Nazism.’ Dalam R. Samuel ed. People’s History and Socialist Theory.

Neumann, Franz 1942 (1944): Behemoth: The Structure and Practice of National Socialism.

Pollock, Friedrich 1975: Stadien des Kapitalismus.

Poulantzas, Nicos 1974: Fascism and Dictatorship.

Trotsky, Leon 1930-33 (1971): The Struggle Against Fascism in Germany.

Tulisan ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari Tom Bottomore, “Fascism,” dalam A Dictionary of Marxist Thought, edisi kedua, Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 1991. Semua rujukan ke tulisan lain dalam buku yang sama dihilangkan agar tidak membingungkan pembaca.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY