Berjuang dengan Pers

Artikel yang ditulis Njoto ini terbit di Harian Rakjat – 25 Febuari 1954, hlm. iii. Untuk memudahkan pembaca, artikel ini sudah disempurnakan menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD).

Dalam masyarakat modern sekarang ini, fungsi pers kian hari kian bertambah penting. Demikianlah untuk kaum reaksi, demikian pulalah untuk Rakjat.

Sejak di Indonesia sini ada dan hidup surat kabar-surat kabar yang berpihak kepada perjuangan rakyat, pengalaman selama itu hanya memberikan satu kesimpulan kepada kita: sonder pers, pejuangan rakyat tidak mungkin mencapai kemenangan. Sonder pers, aksi massa sehari-hari tidak mungkin, atau sangat sukar sekali mencapai kemenangan, apalagi perjuangan besar yang dilakukan oleh massa untuk mencapai pembebasan dirinya.

Akhir-akhir ini saja tidak sedikit pengalaman yang kita dapat, yaitu: bahwa sesuatu aksi massa, baik demonstrasi, atau pemogokan, atau kongres, atau lain-lainnya, berlangsung dengan efektif dan mencapai sukses, jika ia dibantu oleh kampanye yang baik didalam pers. Sebaiknya, aksi-aksi massa yang dilakukan tidak dengan bantuan kampanye didalam pers, mengalami kegagalan, atau tidak mencapai tujuannya dengan sepenuhnya.

Harian Rakjat adalah suatu harian yang tidak mempunyai tujuan lain kecuali mengabdi kepada Rakjat dan perjuangannya. Sedang pers kaum reaksi, dari hari ke hari semakin banyak melakukan pemalsuan-pemalsuan, pemutarbalikan-pemutarbalikan, dan kebohongan-kebohongan, pers Rakjat bertambah setia melakukan tugasnya: memberikan informasi yang benar, menelanjangi kepalsuan musuh-musuh Rakjat, membela segala sesuatu yang benar dan adil, memberi didikan politik kepada massa, dan memobilisasi massa agar massa lebih teguh membela hak-hak dan kepentingan-kepentingannya.

Dalam tiga bulan terakhir ini terbuktilah, bahwa organisasi-oraganisasi Rayjat semakin pandai menggunakan Harian Rakjat untuk memperjuangkan tuntutan-tuntutannya, mengkonsolidasi kemenangan-kemenangannya, dan mencapai sukses-suksesnya yang baru, sedangkan dipihak lain, redaksi Harian Rakjat tidak menyimpan tenaga dan [–]annya, untuk terus-menerus memperbaiki isi dan mutu Harian Rakjat, sehingga setiap mereka yang jujur, baik ia buruh maupun profesor, petani maupun pengusaha, akan meyakini: “Memang, Harian Rakjat adalah harianku”.

Tetapi, ini baru mengenai isi Harian Rakjat. Perjuangan dilapangan pers masih mempunyai segi yang lain, yaitu: bagaimana menyebarkan Harian Rakjat seluas-seluasnyaa. Sebab, sesuatu harian perjuangan yang isi dan mutunya saja baik, belumlah cukup. Ia menuntut syarat lain agar ia benar-benar berguna didalam perjuangan: ia harus dibaca oleh se-banyak-banyaknya orang, ia harus tersebar se-luas-luasnya.

Harian Rakjat sekarang mempunyai oplah 15.000 eksemplar tiap harinya. Jumlah ini memang jarang-jarang bandingannya di-dalam kehidupan pers di Indonesia sekarang. Harian Rakjat oleh kalangan Kementerian Penerangan sendiri diakui sebagai salah satu harian terbesar di Indonesia. Dan jangan dilupakan: Harian Rakjat adalah harian yang tentang meratanya penjebarannya, tidak ada yang menyamai. Laginya: Harian Rakjat, tiap-tiap eksemplarnya, paling kurang dibaca oleh 5 a 7 orang. Jadi, tiap harinya kurang lebih 100 ribu orang membaca Harian Rakjat.

Tetapi bolehkah kita puas dengan hasil ini? Hanya pemabok-pemabok sajalah yang gampang puas! Kita bukan pemabok, kita adalah pejuang, dan maka itu kita sekarang tidak puas, dan dihari-hari datangpun, juga sesudah dicapai kemajuan-kamajuan baru, kita tidak akan puas-puas.

15000 memang angka yang boleh dibilang besar. Tetapi, dibandingkan dengan mana! Dibandingkan dengan harian-harian lain, ya. Tetapi jika dibandingkan dengan jumlah Rakyat yang terorganisasi, belum apa-apa! Ambil sajalah Sobsi. Anggotanya lebih dari 2.500.000. Jika tiap tiap lima puluh anggota Sobsi berlangganan 1 lembar saja Harian Rakjat, Harian Rakjat ini sudah harus beroplah 50.000! Kapan angka ini akan kita capai? Toh kita harus mencapainya! Belum lagi terhitung anggota-anggota BTi, anggota-anggota Pemuda Rakjat, anggota-anggota organisasi-organisasi demokratis lainnya, dan belum dihitung sama sekali orang-orang yang tidak terorganisasi.

Ini tentang langganan. Ada lagi cara lain untuk mendapat pembaca, yaitu: penjualan eceran. Jakarta misalnya, tempat Harian Rakjat diterbitkan, adalah contoh yang baik sekali bagi organisasi-organisasi massa di seluruh Indonesia. Dua bulan yang lalu, penjualan eceran Harian Rakjat di Jakarta hanya 40 eksemplar tiap harinya. Sekarang, jumlah ini sudah meningkat menjadi 1100! Jadi, lebih dari 25 kali meningkatnya di dalam waktu 2 bulan! Dan angka ini masih terus meningkat.

Bagaimana kemajuan yang begini cepat bisa dicapai? Pertama-tama, karena Harian Rakjat sampai-sampai soal penyebaran dan penjualannnya, tidak tinggal sebagai soal bagian administrasi Harian Rakjat saja, tetapi menjadi soal organisasi-organisasi massa, soal massa sendiri!

Di Italia misalnya, harian progresif ‘I’Unita” adalah harian Italia yang terbesar. Demikian juga “I’Humanite” di Prancis. Mengapa kita di Indonesia takkan dapat mencapai keadaan demikian? Jadikanlah soal Harian Rakjat soal organisasi-organisasi massa, soal massa sendiri!

Jadikanlah Harian Rakjat harian yang terbesar di Indonesia!

*Artikel ini disalin dari buku yang berjudul Njoto: Biografi Pemikiran 1951-1965 karya Fadrik Azis Firdausi.

LEAVE A REPLY