Anak Muda Dalam Pusaran Hoax

Rozi Hariansyah
Anggota PRP Komite Kota Jakarta

Semua ini bermula dari kepalsuan.

Apa kabar nih anak-anak muda? Apa masih sibuk bermain internet? Sudah memeriksa akun media sosial dari gadget kesayangan hari ini? Apa saja informasi yang sudah di-like dan di-share? Ada komentar menarik apa dari mereka? Benarkah informasi yang kamu terima dan kamu sebarkan bersifat nyata?

Begitulah kira-kira kegaduhan yang terjadi akhir-akhir ini. Setiap orang tanpa sadar menerima akses informasi yang bersifat hoax. Di sisi lain, gaduh yang dibuat seolah-olah diciptakan hanya untuk alasan konyol. Misalnya: ayo dukung si ini atau si anu. Akibatnya kita saling menghujat tanpa batas. Kreativitas membabi buta menjadi candu yang terlanjur ingin dinikmati bersama. Belum lagi debat sana-sini. Kalau belum memberi komentar yang nyinyir rasanya belum puas. Jangan lupa ditambah data yang meyakinkan meski tak jelas sumbernya. Jadilah kita gerombolan penyebar kebencian yang kurang piknik.

Menurut Karlina Supelli dalam pidato budaya nya yang digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM) pada tahun 2013 lalu, “Sebagian masyarakat sudah merasa hebat dengan berkomentar pendek melalui media sosial. Ada problem yang sangat serius.” Karlina menambahkan bahwa masyarakat terlalu mudah terpengaruh budaya komentar di media sosial. “Padahal, ada kenyataan lain yang lebih penting, tetapi kita tenggelam dalam hiruk-pikuk budaya komentar seperti itu,” ujar Karlina yang menjabat sebagai pengajar tetap di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.[1]

Sementara itu, budaya “cerewet“ sudah terlanjur menggema dalam hiruk-pikuk media sosial sekarang. Parahnya hal ini tidak diimbangi dengan pemahaman secara serius dari sesuatu yang sudah dibaca. Menurut data World’s Most Literate Nations yang diteliti oleh Central Connecticut State University tahun 2016, peringkat minat baca masyarakat Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara. Di sisi lain, pada 2012, UNESCO, organisasi di bawah PBB yang bergerak di bidang pendidikan, keilmuan, dan kebudayaan, melansir indeks tingkat membaca orang Indonesia yang tidak lebih dari angka 0,001. Ini artinya hanya 1 dari 1000 orang Indonesia yang mau membaca buku secara serius.[2]

Data statistik ini saya dapat dari jejaring informasi yang bersifat mengingatkan bahaya hoax yang berserakan sampai sekarang. Artinya, dari data tersebut kita bisa tahu bahwa banyak orang-orang yang berselancar di dunia maya, ketahuan sudah cerewet, malas baca, ditambah lagi suka menyebar hoax.

Sama halnya dengan generasi anak muda sekarang. Siapa generasi anak muda yang dulu pernah merasakan susah-payahnya memilah bacaan sembari mencari buku sampai ke pasar loak? Atau hanya mengandalkan media cetak yang isinya huruf semua untuk dibaca. Semua itu dilakukan hanya untuk mengakses informasi. Tentu, generasi muda sekarang tak perlu lagi capek-capek melakukan hal tersebut. Tinggal klik, copypaste, dan enter untuk menemukan literatur dan tulisan di dunia maya. Perubahan dan kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat perilaku manusia tidak mengalami kemunduran, atau bahkan semakin membodohi orang lain di saat kesadarannya masih terbelakang.

Sebenarnya teknologi yang sedemikian canggih dan modern ini membuat orang semakin mudah untuk mendapat akses informasi. Tetapi kenyataannya hal tersebut tidak disertai dengan penyadaran bahaya hoax, contohnya karakter intoleran. Lihat saja berita-berita yang sampai hari ini isinya sengaja dipotong dan dipelintir. Belum lagi komodifikasi isu kebencian etnis tertentu untuk kepentingan politik-elit yang sedang bertarung dalam pesta demokrasi lima tahun sekali. Lalu bagaimana peran anak muda yang sekarang berada di garda terdepan memegang akses informasi tersebut?

Generasi muda kita sekarang mendadak menjadi ahli dari segala bidang dalam setiap komentar di kolom media sosial. Misalnya, menghujat orang yang sebenarnya jauh lebih kompeten dari dirinya sendiri hanya untuk memuaskan nafsu argumentasi semata. Anak muda sekarang mendadak paham menyoal situasi sosial-politik hari ini. Siapa calon yang akan dipilih dan apakah dia memiliki keunikan dari kepribadian hidupnya? Pemahaman politik hari ini dipersempit menjadi subjektif-personal alih-alih kebutuhan orang banyak.

Saya memiliki pengalaman tentang betapa kejamnya situasi dunia maya sekarang ketika berupaya menyebar sebuah berita yang berjudul “Petani Panen Kelapa di Tanah Sendiri, Petani Bohotokong Malah Masuk Bui.” Berita ini isinya mengenai kasus petani di daerah Banggai, Sulawesi Selatan pada bulan desember tahun 2016 lalu. Tak lama kemudian akun media sosial Facebook saya langsung dihadiahi pertanyaan dari seorang teman lama yang sangat menggelitik. “Itu berita pengalihan isu, sebenar nya kamu dukung FPI atau Ahok”? Masa dibilang pengalihan isu? Apa hubungannya? Alih-alih menghindar dari jebakan kegaduhan yang berkembang sekarang, saya pun beringsut menuju kubangan perdebatan yang tak jelas ujungnya.[3]

Persoalan hari ini bukan hanya tentang dukung-mendukung. Tentu saja politik hari ini ada dampak psikologis buat anak muda sekarang. Bukannya menciptakan kesadaran yang lebih maju untuk orang banyak, malah membuat kesadaran orang lain jadi mundur ke belakang. Akhirnya, anak muda dan mungkin masyarakat umum menjadi bosan membaca realitas sosial-politik hari ini. Jangan salahkan mereka jika beralih mendukung figur alternatif seperti Young Lex atau Awkarin.

Dan yang paling penting, kita bukan anak muda yang sudah jomblo sejak dalam pikiran. Misalnya, jangan sembarangan copypaste berita dari grup Whatsapp sebelah. Ada kegiatan lebih produktif yang bisa kita lakukan dibanding sekadar menjadi tim hore internet, seperti menjabarkan fakta sebenarnya yang bisa ditulis. Itu pun kita masih harus memeras keringat melawan para penyebar hoax yang sebenarnya tidak bodoh-bodoh juga. Bisa jadi si penyebar hoax memang memiliki manajemen informasi yang canggih dan dibantu segerombolan kliktifis yang tangguh. Tugas kita yang masih berpikiran waras bertarung kebenaran dengan mereka.

Kita harus mengakui bahwa kita (anak muda) pun sebenarnya bisa menjadi pelaku yang dimaksud tadi. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 lalu, jumlah pengguna internet Indonesia mencapai 132,7 juta orang. Diantara sekian jumlah tersebut, pengguna internet didominasi oleh anak muda berusia 18-24 tahun.[4]

Data tersebut memang akan terus berubah seiring semakin mudahnya orang lain mengakses informasi dari internet. Sementara itu anak muda pun sebenarnya galau di hadapan situasi sulit seperti ini. Belum lagi dari kita yang masih berharap terhadap slogan lama, anak muda adalah “agent of change”. Perubahan yang mana? Meski anak muda sering menamai dirinya sendiri sebagai agen yang paling kreatif, tetapi masih banyak dari kita yang belum mengidentifikasi diri untuk menciptakan kesadaran sosial dan kemajuan masyarakat tempat kita tinggal, malah membenarkan kepalsuan yang semakin menyebar.

Catatan:

[1] Data ini saya kutip dari berita yang berjudul “Karlina menawarkan perubahan keseharian.” Dapat diakses melalui sumber http://www.bbc.com/indonesia/laporan_khusus/2013/12/131228_tokoh_november_karlina_supelli.

[2] Data ini saya kutip dari berita yang berjudul “Parah! Minat Baca Indonesia Rendah Banget.” Dapat diakses melalui sumber http://m.jpnn.com/news/parah-minat-baca-indonesia-rendah-banget.

[3] Komentar ini dapat dilihat di akun media sosial Facebook https://www.facebook.com/rozy.hariansyah pada tanggal 6 Desember 2016.

[4] Data ini berasal dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) dan dikutip melalui sumber berita http://www.detiknas.go.id/2016/10/28/tahukah-kamu-perilaku-pengguna-internet-indonesia/.

LEAVE A REPLY