Lawan Penyembahan Buku

buku dan mao
@aips

Mao Tse-tung
Mei 1930

I. TANPA PENYELIDIKAN, TAK ADA HAK BICARA

Kecuali kamu telah menyelidiki suatu persoalan, hak kamu untuk berbicara mengenai persoalan tersebut akan dicabut. Apakah itu terlalu keras? Sama sekali tidak. Ketika kamu belum menggali ke dalam suatu persoalan, ke dalam fakta-fakta terkini serta sejarahnya yang lampau, dan tak mengetahui apa-apa tentang pokok-pokoknya, apapun yang kamu bicarakan mengenainya sudah pasti omong-kosong. Seperti semua orang ketahui, bicara omong-kosong takkan menyelesaikan persoalan apapun, maka mengapa harus tak adil jika mencabut hakmu untuk bicara? Tak sedikit kamerad yang selalu menutup mata dan berbicara omong-kosong, dan untuk seorang komunis itu memalukan. Bagaimana mungkin seorang komunis menutup matanya dan berbicara omong-kosong?

Ini tak dapat dibiarkan!
Ini tak dapat dibiarkan!
Kamu harus menyelidik!
Kamu tak boleh berbicara omong-kosong!

II. MENYELIDIKI SUATU PERSOALAN BERARTI MEMECAHKANNYA

Kamu tak dapat memecahkan persoalan? Ya sudah, lekas selidiki, baik situasi terkini maupun sejarahnya! Ketika kamu sudah menyelidiki suatu persoalan dengan seksama, kamu akan tahu bagaimana cara memecahkannya. Kesimpulan selalu datang setelah penyelidikan, dan tidak pernah sebelumnya. Hanya orang tolol yang memutar otaknya, baik sendirian maupun dalam kelompok, untuk ‘mencari solusi’ atau ‘mengembangkan ide’ tanpa sebelumnya melakukan sejenis penyelidikan. Perlu ditekankan bahwa ini takkan pernah mungkin berujung pada solusi yang efektif atau ide yang baik. Dengan kata lain, orang yang melakukan hal tersebut niscaya akan sampai pada solusi dan ide yang salah.

Tak sedikit kamerad yang melakukan kerja inspeksi, serta pemimpin gerilya dan kader yang baru dilantik, yang gemar mengeluarkan pengumuman politik begitu mereka sampai pada suatu tempat; mondar-mandir petantang-petenteng, mengkritisi ini dan mengutuk itu, padahal mereka sekadar melihat permukaan dari persoalan ataupun detail-detail kecil. Omong-kosong yang murni subjektif tersebut jelas-jelas menjijikkan. Orang-orang ini pasti akan mengacaukan semuanya, kehilangan kepercayaan massa dan terbukti tak mampu menyelesaikan persoalan apapun.

Saat mereka temukan persoalan-persoalan sulit, banyak pemimpin yang pergi begitu saja tanpa mampu memecahkannya. Mereka kehilangan kesabaran dan meminta untuk dimutasi, dengan dalil ‘tidak memiliki kemampuan dan tidak mampu bekerja’. Ini adalah kata-katanya para pengecut. Kamu tinggal bergerak dengan kedua kakimu, memeriksa setiap bagian pekerjaan yang diamanahkan padamu, dan ‘selidiki semuanya’,[1] seperti yang dilakukan Kong Hu Cu. Dengan demikian, kamu akan mampu memecahkan persoalan-persoalan, bagaimanapun terbatasnya kemampuanmu. Karena walaupun kepalamu kosong sebelum kamu beranjak ke luar, ia takkan kosong saat kamu kembali, melainkan berisi segala bahan yang dibutuhkan untuk memecahkan persoalan. Dan itulah bagaimana soal-soal dipecahkan. Apakah kamu harus beranjak ke luar? Belum tentu. Kamu bisa bentuk pertemuan pencarian-fakta yang terdiri dari orang-orang yang akrab dengan situasi, agar dapat mencapai sumber dari apa yang kamu sebut sebagai persoalan sulit, dan mengetahui bagaimana duduk-perkaranya sekarang, sehingga mudah untuk memecahkan persoalan sulitmu itu.

Penyelidikan dapat disamakan dengan bulan-bulan panjang dari masa hamil, dan pemecahannya dapat disamakan dengan hari persalinan. Memang, menyelidiki suatu persoalan berarti memecahkannya.

III. LAWAN PENYEMBAHAN BUKU

Apapun yang tertulis dalam sebuah buku sudah pasti benar—masih seperti itulah mentalitas petani-petani Tiongkok yang tertinggal secara budaya. Anehnya, dalam Partai Komunis juga terdapat mereka yang dalam diskusi selalu mengatakan, ‘Tunjukkan padaku letak penulisannya dalam buku’. Saat kita katakan bahwa suatu perintah dari organ kepemimpinan yang lebih tinggi itu benar, itu tak hanya karena perintah tersebut berasal dari ‘organ kepemimpinan yang lebih tinggi’, melainkan karena isi dari perintah itu sesuai dengan keadaan objektif dan subjektif perjuangan, dan sesuai dengan kebutuhannya. Adalah suatu kesalahan jika kita ambil sikap yang formalistis dan mengerjakan perintah secara buta tanpa mendiskusikan dan memeriksanya di hadapan kondisi-kondisi nyata, hanya karena perintah itu datang dari organ yang lebih tinggi. Makar yang dihasilkan oleh formalisme tersebut menjelaskan mengapa garis dan taktik Partai tak mampu mengakar lebih dalam di tengah-tengah massa. Menjalankan perintah dari organ lebih tinggi secara buta, dan tanpa perselisihan pendapat yang tampak, tak berarti benar-benar menjalankannya, melainkan merupakan cara paling menyeni untuk melawan atau mensabotasekannya.

Mempelajari ilmu-ilmu sosial hanya dari buku juga merupakan metode yang sangat berbahaya, dan dapat mengantarkan seseorang pada jalan kontra-revolusi. Bukti nyatanya, fakta menunjukkan bahwa kumpulan-kumpulan komunis Tiongkok yang mengekang diri mereka pada buku dalam rangka mempelajari ilmu-ilmu sosial telah berubah menjadi kontra-revolusioner. Saat kita katakan bahwa Marxisme itu benar, jelas bukan karena Marx adalah seorang ‘nabi’ melainkan karena teorinya telah terbukti benar dalam praktik dan perjuangan kita. Kita butuhkan Marxisme dalam perjuangan kita. Dalam menerima teorinya, tak terbesit dalam pikiran kita untuk adakan formalisasi terkait istilah-istilah mistis seperti ‘wahyu’. Banyak orang yang telah membaca buku-buku Marxis kini menjadi pembelot dari revolusi, sementara pekerja buta huruf sering kali memahami Marxisme dengan sangat baik. Tentunya kita harus membaca buku-buku Marxis, tetapi pembelajaran ini perlu diintegrasikan dengan kondisi aktual negara kita. Kita perlu buku, tetapi kita harus menanggulangi penyembahan buku, yang tercerai dari situasi nyata.

Bagaimana caranya menanggulangi penyembahan buku? Satu-satunya cara adalah dengan menyelidiki situasi nyata.

IV. TANPA MENYELIDIKI SITUASI NYATA, NISCAYA AKAN ADA PENILAIAN IDEALIS TERHADAP KEKUATAN-KEKUATAN KELAS DAN ARAHAN IDEALIS DALAM KERJA, YANG BERUJUNG PADA OPORTUNISME ATAU KUDETA-ISME

Apakah kamu meragukan kesimpulan ini? Fakta-fakta akan memaksamu untuk menerimanya. Coba saja menilai situasi politik atau mengarahkan perjuangan tanpa melakukan penyelidikan apapun, dan kamu akan lihat apakah penilaian atau arahan tersebut bersifat tak berdasar dan idealis, dan apakah ia akan berujung pada kesalahan-kesalahan yang oportunis atau kudeta-is. Tentunya akan demikian. Bukan karena kegagalan untuk membuat rencana-rencana matang sebelum bertindak, tetapi karena kegagalan untuk mempelajari situasi sosial yang spesifik secara seksama sebelum membuat rencana-rencana tersebut, seperti yang sering kali terjadi di unit-unit gerilya Tentara Merah kita. Perwira-perwira tipe Li Kuei[2] tidak pilih kasih ketika harus menghukum prajurit karena kesalahan. Akibatnya, para pelanggar aturan merasa telah diperlakukan secara tidak adil, terjadi banyak perselisihan, dan para pemimpin kehilangan segala kewibawaan. Bukankah hal tersebut sering terjadi dalam Tentara Merah?

Kita perlu memberantas idealisme dan berjaga menghadapi segala kesalahan oportunis dan kudeta-is sebelum kita dapat berhasil memenangkan hati massa dan mengalahkan musuh. Satu-satunya cara untuk memberantas idealisme adalah dengan berusaha sungguh-sungguh dan menyelidiki situasi nyata.

V. TUJUAN DARI PENYELIDIKAN SOSIAL DAN EKONOMI ADALAH AGAR TIBA PADA PENILAIAN YANG TEPAT TERHADAP KEKUATAN-KEKUATAN KELAS, DAN KEMUDIAN MENYUSUN TAKTIK-TAKTIK YANG TEPAT UNTUK PERJUANGAN

Inilah jawaban kita pada pertanyaan: Mengapa kita harus menyelidiki kondisi-kondisi sosial dan ekonomi? Dengan demikian, objek dari penyelidikan kita adalah semua kelas sosial alih-alih fenomena sosial yang terfragmentasi. Akhir-akhir ini, para kamerad di pasukan Angkatan Darat Keempat dari Tentara Merah secara umum telah memperhatikan kerja-kerja penyelidikan,[3] tetapi metode yang diterapkan oleh banyak dari mereka salah. Hasil-hasil penyelidikan mereka lantas seremeh-temeh catatan belanjaan, atau mirip dengan cerita-cerita aneh yang terdengar oleh orang kampung saat dia pergi ke kota, atau seperti pemandangan sebuah kota yang dilihat jauh dari puncak gunung. Penyelidikan macam ini tidak terlalu berguna dan tak mampu mencapai tujuan utama kita. Tujuan utama kita adalah belajar mengenai situasi politik dan ekonomi dari berbagai kelas sosial. Contohnya, saat kita selidiki komposisi kelas petani, kita tak cukup ketahui jumlah petani-pemilik, petani-semi-pemilik, dan petani-penyewa, yang terbedakan berdasarkan hubungan-hubungan kepemilikan- dan keberpegangan-tanah, tetapi secara lebih khusus kita butuh tahu jumlah petani kaya, petani menengah dan petani miskin, yang terbedakan berdasarkan kelas atau stratum. Saat kita selidiki para pedagang, kita tak cukup ketahui jumlah pedagang dalam masing-masing jenis niaga, seperti gandum, pakaian, tanaman obat, dan lain-lain, tetapi secara lebih khusus kita butuh tahu jumlah pedagang kecil, pedagang menengah dan pedagang besar. Kita sebaiknya tak hanya selidiki kondisi masing-masing jenis niaga, tetapi lebih khususnya relasi-relasi kelas di dalamnya. Kita sebaiknya tak hanya selidiki hubungan-hubungan antara jenis-jenis niaga, tetapi lebih khususnya antara kelas-kelas yang berbeda. Metode utama penyelidikan kita haruslah dengan pembedahan kelas-kelas sosial yang berbeda, yang mana tujuan akhirnya adalah mampu memahami kesalingterkaitan di antara mereka, untuk sampai pada penilaian yang tepat terhadap kekuatan-kekuatan kelas dan kemudian menyusun taktik-taktik yang tepat untuk perjuangan, mendefinisikan kelas mana saja yang membentuk kekuatan utama dalam perjuangan revolusioner, kelas mana saja yang harus ditarik menjadi sekutu dan kelas mana saja yang harus dijatuhkan. Inilah tujuan kita satu-satunya.

Kelas sosial mana saja yang memerlukan penyelidikan?

Mereka adalah:

proletariat perindustrian;
pekerja pengrajin tangan;
pekerja sawah;
petani miskin;
miskin kota;
lumpenproletariat;
tuan pengrajin tangan;
pedagang kecil;
petani menengah;
petani kaya;
tuan tanah;
borjuasi komersial;
borjuasi perindustrian.

Dalam penyelidikan kita, kita sebaiknya memerhatikan kondisi dari semua kelas atau strata tersebut. Hanya proletariat perindustrian dan borjuasi perindustrian yang luput dari wilayah-wilayah yang sedang kita kerjakan sekarang, dan kita terus-menerus bertemu dengan sisanya. Taktik-taktik perjuangan kita adalah taktik-taktik yang berhubungan dengan semua kelas dan strata tersebut.

Ada kekurangan serius satu lagi dari penyelidikan yang sudah-sudah, yakni penekanan yang berlebihan pada wilayah pedesaan sehingga mengabaikan kota, sehingga banyak kamerad yang sedari dulu bersikap gamam perihal taktik-taktik kita terhadap kaum miskin kota dan borjuasi komersial. Berkembangnya perjuangan telah memungkin kita untuk meninggalkan pegunungan demi dataran.[4] Secara fisik kita telah turun dari gunung, namun secara mental kita masih berada di ketinggiannya. Kita harus memahami kota dan juga pedesaan, atau kita takkan mampu memenuhi kebutuhan perjuangan revolusioner.

VI. KEMENANGAN PERJUANGAN REVOLUSIONER TIONGKOK AKAN BERGANTUNG PADA PEMAHAMAN KAMERAD-KAMERAD TIONGKOK TERHADAP KONDISI-KONDISI TIONGKOK

Tujuan perjuangan kita adalah mencapai sosialisme melalui tahapan demokrasi. Dalam tugas ini, tahap pertama adalah menuntaskan revolusi demokratis dengan memenangkan mayoritas kelas pekerja dan menggugah massa petani dan kaum miskin kota untuk menjatuhkan kelas tuan tanah, imperialisme, dan rezim Kuomintang. Tahap berikutnya adalah menjalankan revolusi sosialis, yang akan melanjutkan perkembangan perjuangan ini. Mencapai tugas revolusioner besar ini bukanlah pekerjaan yang sederhana atau mudah, dan bergantung sepenuhnya pada taktik-taktik yang benar dan tegas dari partai proletariat. Jika taktik-taktik perjuangannya salah, atau tak tegas dan ragu-ragu, niscaya revolusi akan mengalami kekalahan sementara. Perlu diingat bahwa partai-partai borjuasi juga senantiasa membahas taktik-taktik perjuangan mereka. Mereka sedang mempertimbangkan bagaimana caranya menyebarkan pengaruh-pengaruh reformis di antara kelas pekerja, sehingga menyesatkannya dan membelokkannya dari kepemimpinan Partai Komunis; bagaimana caranya agar petani-petani kaya menghancurkan pemberontakan petani-petani miskin; dan bagaimana caranya mengorganisasikan preman-preman agar menekan perjuangan-perjuangan revolusioner. Dalam situasi di mana perjuangan kelas semakin bertumbuh genting dan dilancarkan dalam pertarungan-pertarungan langsung dan jarak dekat, proletariat perlu menggantungkan kemenangannya semata-mata pada taktik-taktik perjuangan yang tepat dan tegas dari partainya sendiri, Partai Komunis. Taktik-taktik perjuangan Partai Komunis yang tepat dan teguh-pendirian tak boleh, dalam kondisi apapun, dihasilkan oleh beberapa orang yang duduk-duduk di kantor; taktik-taktik tersebut lahir dalam kelangsungan perjuangan massa, yakni melalui pengalaman langsung. Dengan demikian, kita harus selalu mempelajari kondisi-kondisi sosial dan melaksanakan penyelidikan-penyelidikan yang praktis. Kamerad-kamerad yang tidak fleksibel, konservatif, formalistis dan optimis-buta berpikir bahwa taktik-taktik perjuangan terkini adalah sempurna, bahwa ‘buku dokumen’-nya[5] Kongres Nasional Keenamnya Partai menjamin kemenangan abadi, dan bahwa seseorang bisa selalu menang hanya dengan mengikuti metode-metode yang sudah mapan. Ide-ide tersebut sama sekali salah dan tak ada persamaannya dengan ide bahwa komunis harus menciptakan situasi-situasi baru yang mendukung melalui perjuangan; orang-orang ini mewakili garis yang konservatif-murni. Jika tidak diberantas seutuh-utuhnya, garis ini akan membawa kerugian besar bagi revolusi dan membahayakan kamerad-kamerad itu sendiri. Jelas-jelas masih ada kamerad dalam Tentara Merah kita yang puas untuk membiarkan segala hal apa adanya, yang tidak berupaya memahami apapun secara mendalam dan yang optimis namun tak berlandasan, dan yang menyebarkan kepalsuan bahwa ‘ini lah proletar’. Mereka makan dengan kenyang dan duduk sambil tertidur sepanjang hari di kantor-kantor mereka tanpa pernah bergerak selangkah pun dan keluar ke massa untuk menyelidik. Setiap kali mereka membuka mulut, kata-kata moralistis mereka yang basi membuat orang mual. Untuk membangunkan kamerad-kamerad ini kita perlu meninggikan suara dan teriakkan pada mereka:

Lekas ubah ide-ide konservatifmu!
Gantikan ide-ide tersebut dengan ide-ide komunis yang progresif dan militan!
Terjun ke dalam perjuangan!
Berjelajahlah di antara massa dan selidiki fakta-fakta!

VII. TEKNIK-TEKNIK PENYELIDIKAN

1. SELENGGARAKAN PERTEMUAN-PERTEMUAN PENCARIAN-FAKTA DAN JALANKAN PENYELIDIKAN MELALUI DISKUSI-DISKUSI

Inilah satu-satunya cara agar mendekati kebenaran, satu-satunya cara untuk mencapai kesimpulan. Mudah untuk berbuat kesalahan jika kamu tidak selenggarakan pertemuan-pertemuan pencarian-fakta melalui diskusi dalam rangka penyelidikan, melainkan sekadar bergantung pada satu individu yang menuturkan pengalaman pribadinya. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut, kamu tak mungkin mencapai kesimpulan yang kurang lebih tepat jika kamu ajukan pertanyaan-pertanyaan secara sambil lalu, ketimbang mengajukan pertanyaan-pertanyaan kunci untuk didiskusikan.

2. SIAPA SAJA YANG PERLU MENGHADIRI PERTEMUAN-PERTEMUAN PENCARIAN-FAKTA?

Mereka haruslah orang-orang yang memahami betul kondisi-kondisi sosial dan ekonomi. Bicara umur, orang-orang yang lebih tua adalah yang terbaik, karena mereka kaya pengalaman dan tak hanya tahu apa yang sedang terjadi melainkan memahami sebab-sebab dan akibat-akibat. Anak-anak muda dengan pengalaman berjuang juga perlu dilibatkan, karena mereka memiliki ide-ide progresif dan mata-mata tajam. Bicara pekerjaan, perlu ada pekerja, petani, pedagang, intelektual dan sekali-sekali tentara—kadang bahkan gelandangan. Tentu saja, mereka yang tak berkepentingan tak perlu hadir. Contohnya, pekerja, petani dan pelajar tidak perlu hadir ketika yang menjadi subjek penyelidikan adalah perdagangan.

3. MANA YANG LEBIH BAIK, PERTEMUAN PENCARIAN-FAKTA YANG BESAR ATAU YANG KECIL?

Hal ini tergantung pada kemampuan penyelidik untuk menyelenggarakan pertemuan. Jika dia mahir, pertemuan yang dihadiri oleh selusin atau bahkan dua-puluh orang atau lebih dapat diselenggarakan. Pertemuan yang besar memiliki keuntungan-keuntungannya: jawaban para partisipan atas pertanyaan-pertanyaanmu dapat memberimu statistik-statistik yang cukup akurat (seperti persentase petani miskin dalam total populasi petani) dan memungkinkanmu untuk sampai pada kesimpulan-kesimpulan yang cukup tepat (seperti apakah lebih baik redistribusi tanah yang setara atau yang dibedakan). Tentu, pertemuan yang besar memiliki kerugiannya juga: jika kamu tidak mahir dalam menyelenggarakan pertemuan, kamu akan kesulitan menjaga ketertiban. Jadi, jumlah orang yang menghadiri pertemuan tergantung pada kemahiran sang penyelidik. Namun, jumlah minimumnya adalah tiga orang; jika tidak, informasi yang diperoleh terlalu terbatas untuk dapat sesuai dengan situasi nyata.

4. SIAPKAN SKEMA ALUR YANG RINCI UNTUK KEPERLUAN PENYELIDIKAN

Skema alur yang rinci perlu disiapkan terlebih dahulu. Penyelidik sebaiknya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan skema alur tersebut, dan mereka yang menghadiri pertemuan kemudian memberikan jawaban-jawaban. Poin-poin yang tidak jelas atau meragukan sebaiknya diajukan untuk didiskusikan. Skema alur yang rinci sebaiknya mengandung subjek-subjek utama dan subbagian-subbagian serta butir-butir yang rinci. Misalnya, jika subjek utamanya adalah perdagangan, subjudul-subjudulnya dapat berupa kain, gandum, kebutuhan hidup lainnya dan tanaman-tanaman obat; lagi-lagi, di bawahnya kain, bisa juga terdapat butir-butir yang lebih rinci seperti belacu, kain tenunan sendiri, sutra, dan satin.

5. PARTISIPASI PRIBADI

Semua orang yang bertanggungjawab dalam memberikan kepemimpinan—mulai dari kepala pemerintah kota hingga kepala pemerintah pusat, mulai dari pimpinan cabang hingga komandan-tertinggi, mulai dari sekretaris cabang Partai hingga sekretaris umum—perlu selidiki secara langsung kondisi-kondisi sosial dan ekonomi yang spesifik, dan tak hanya bergantung pada membaca laporan-laporan. Karena penyelidikan dan membaca laporan adalah dua hal yang sama sekali berbeda.

6. GALI PERSOALAN SECARA DALAM

Siapa saja yang tergolong baru dalam kerja-kerja penyelidikan sebaiknya jalankan satu atau dua penyelidikan mendalam agar dapat mendapatkan pengetahuan yang lengkap tentang suatu tempat (misalnya, sebuah kampung atau kota) atau suatu persoalan (misalnya, persoalan gandum atau mata uang). Menggali suatu persoalan atau tempat dengan dalam akan memudahkan penyelidikan pada persoalan atau tempat yang lain.

7. BUATLAH CATATANMU SENDIRI

Penyelidik sebaiknya tak hanya hadir dalam pertemuan-pertemuan pencarian-fakta dan memberikan arahan yang tepat bagi mereka yang hadir, melainkan membuat catatan dan merekam hasil-hasilnya sendiri. Membiarkan orang lain melakukan hal-hal tersebut tidak baik.***

Catatan:

[1] Lihat Confucian Analects, buku III, ‘Pa Yi’: ‘Saat Kong Hu Cu memasuki Klenteng Tua dia menyelidiki segalanya’.

[2] Li Kuei adalah pahlawan dalam novel Tiongkok yang terkenal, Shui Hu Chuan (Pahlawan Rawa), yang menggambarkan perang petani yang terjadi di akhir dinasti Sung Utara (960–1127). Dia adalah orang yang sederhana, terus-terang dan sangat setia pada perjuangan revolusioner para petani, namun kejam dan tidak peka.

[3] Kamerad Mao Tse-tung selalu berikan penekanan yang besar pada penyelidikan, perihal penyelidikan sosial sebagai tugas terpenting dan basis bagi merumuskan kebijakan dalam kerja-kerja kepemimpinan. Kerja-kerja penyelidikan secara perlahan dibangun dalam Angkatan Darat Keempatnya Tentara Merah atas inisiatif Kamerad Mao Tse-tung. Dia menuntut agar penyelidikan sosial menjadi bagian biasa dari kerja, dan agar Departemen Politiknya Tentara Merah menyiapkan dokumen-dokumen rinci yang mencakup butir-butir seperti kondisi perjuangan massa, kondisi para reaksioner, kehidupan ekonomi rakyat, dan jumlah tanah yang dimiliki oleh setiap kelas di wilayah-wilayah pedesaan. Ke mana pun Tentara Merah pergi, ia pertama-tama mengakrabkan diri dengan situasi kelas dalam suatu lokalitas, kemudian menyusun slogan-slogan yang disesuaikan dengan kebutuhan massa.

[4] ‘Pegunungan’ di sini mengacu pada wilayah pegunungan Chingkang di perbatasan provinsi Kiangsi dan Hunan; ‘dataran’ di sini mengacu pada wilayah Kiangsi selatan dan Fukien barat. Pada Januari 1929, Kamerad Mao Tse-tung memimpin pasukan utama Angkatan Darat Keempatnya Tentara Merah turun dari Pegunungan Chingkang ke Kiangsi selatan dan Fukien barat agar menyiapkan dua wilayah basis revolusioner yang besar.

[5] ‘Buku dokumen’ terdiri dari resolusi-resolusi yang diadopsi dalam Kongres Nasional Keenamnya Partai Komunis Tiongkok pada Juli 1928, termasuk resolusi politik dan resolusi-resolusi terkait persoalan tani, persoalan tanah, pengorganisasian kekuatan politik, dan lain-lain. Pada awal 1929, Komite Frontnya Angkatan Darat Keempatnya Tentara Merah mempublikasikan resolusi-resolusi tersebut dalam bentuk buku agar didistribusikan kepada organisasi-organisasi Partai dalam Tentara Merah dan kepada organisasi-organisasi Partai lokal.

Diterjemahkan oleh Kitkut dari Mao Tse-tung, “Oppose Book Worship” dalam Mao Tse-tung, On Practice and Contradiction (London: Verso, 2007), h. 43–51.

LEAVE A REPLY