Kelas

kelas
@aips

Tom Bottomore

Konsep kelas sangat penting dalam teori Marxis, meskipun Marx dan Engels tidak pernah menguraikannya dalam bentuk yang sistematis. Dalam arti tertentu, kelas adalah titik berangkat dari keseluruhan teori Marx; karena penemuannya tentang proletariat sebagai ‘yang ideal dalam yang riil itu sendiri’ (surat kepada ayahnya, 10 November 1837), sebuah kekuatan politik baru yang terlibat dalam perjuangan untuk emansipasi, mengarahkan dia secara langsung pada analisis atas struktur ekonomi masyarakat modern dan proses perkembangannya. Selama periode ini (1843-44), Engels, dari perspektif ekonomi politik, mencapai temuan serupa yang ia uraikan dalam esainya di Deutsch-Französische Jahrbücher (1844) dan dikembangkan di Kondisi Kelas Pekerja (1845). Jadi, adalah struktur kelas kapitalisme awal, dan perjuangan kelas dalam bentuk masyarakat ini, yang menjadi titik rujukan utama teori Marxis tentang sejarah. Kemudian, gagasan konflik kelas sebagai kekuatan penggerak sejarah diperluas, dan Manifesto Komunis menyatakan, dalam sebuah ungkapan yang terkenal, bahwa ‘sejarah semua masyarakat yang ada sampai sekarang adalah sejarah perjuangan kelas’; tetapi pada saat yang sama, Marx dan Engels mengakui bahwa kelas hanya merupakan fitur yang menonjol dalam masyarakat kapitalis—bahkan menyatakan di Ideologi Jerman (jilid I, bagian I C) bahwa ‘kelas itu sendiri adalah produk borjuis’—dan mereka tidak melakukan analisis yang solid terhadap kelas-kelas utama dan relasi kelas dalam bentuk masyarakat lainnya. Kautsky, dalam pembahasannya tentang kelas, pekerjaan dan status (1927), menyatakan bahwa banyak konflik kelas yang disebut dalam Manifesto Komunis sebenarnya adalah konflik antara kelompok status, dan bahwa Marx serta Engels cukup menyadari kenyataan ini karena dalam teks yang sama, mereka mengamati bahwa ‘dalam masa sejarah yang sebelumnya, kita menemukan hampir di mana-mana susunan rumit masyarakat yang terbagi ke dalam berbagai lapisan, ke dalam banyak tingkatan kedudukan sosial,’ dan mengontraskan situasi ini dengan ‘fitur khas’ zaman borjuis, ketika ‘masyarakat secara keseluruhan semakin terbelah ke dalam dua kubu besar yang bermusuhan, ke dalam dua kelas besar yang saling berhadapan secara langsung—borjuis dan proletariat’. Namun, jelas terlihat bahwa Marx ingin mengungkap keberadaan pembagian kelas yang utama dalam semua bentuk masyarakat setelah masyarakat kesukuan awal, seperti ketika ia menyatakan dalam arti umum bahwa ‘adalah hubungan langsung antara pemilik syarat-syarat produksi dan produsen langsung yang selalu mengungkap rahasia terdalam, fondasi rahasia dari seluruh bangunan sosial’ (Kapital III, bab 47).

Sebagian besar kalangan Marxis yang kemudian, mengikuti Marx dan Engels dalam memusatkan perhatian mereka terhadap struktur kelas masyarakat kapitalis, dan mereka harus mengatasi dua persoalan utama. Yang pertama persisnya terkait dengan ‘kerumitan’ kedudukan sosial atau stratifikasi dalam hubungannya dengan kelas-kelas yang mendasar. Dalam fragmen tentang ‘tiga kelas besar masyarakat modern’ yang diterbitkan Engels sebagai bab terakhir Kapital III, Marx mengamati bahwa bahkan di Inggris, dimana struktur ekonominya ‘paling tinggi dan berkembang sangat baik…strata menengah dan transisional mengaburkan batas-batas kelas’; dan ketika membahas krisis ekonomi dalam Teori Nilai Surplus (bab 17, bagian 6), ia menyatakan bahwa untuk tujuan analisis pendahuluannya, ia mengabaikan, diantara hal lainnya, ‘susunan riil masyarakat, yang tidak hanya terdiri dari kelas pekerja dan kelas kapitalis industrial’. Di bagian lain dalam Teori Nilai Surplus, ia merujuk secara eksplisit pada pertumbuhan kelas menengah sebagai fenomena perkembangan kapitalisme: ‘Apa yang lupa ditekankan [Ricardo] adalah peningkatan terus-menerus jumlah kelas menengah…yang terletak di tengah antara pekerja di satu sisi dengan kapitalis dan tuan tanah di sisi lain…[yang] bersandar dengan semua beban mereka pada basis pekerja dan pada saat yang sama meningkatkan keamanan sosial serta kekuatan lapisan atas (upper ten thousand)’ (bab 18, bagian B 1 d). Selanjutnya, ia menyatakan lagi, dalam kaitannya dengan Malthus, ‘harapan terbesarnya…adalah bahwa kelas menengah akan meningkat dan proletariat akan menjadi proporsi yang terus menurun dari total penduduk (bahkan jika mereka bertambah dalam jumlah absolut). Hal itu sebenarnya adalah kecenderungan masyarakat borjuis’ (bab 19, bagian 14). Pengamatan ini tidak begitu sesuai dengan gagasan tentang polarisasi yang meningkat antara ‘dua kelas besar’ dalam masyarakat borjuis; dan karena kelas menengah terus tumbuh, ilmuwan sosial Marxis, dari Bernstein sampai Poulantzas, terpaksa terus mengamati signifikansi politik dari fenomena ini, terutama dalam hubungannya dengan gerakan sosialis.

Persoalan kedua terkait dengan situasi dan perkembangan dua kelas utama dalam masyarakat kapitalis, borjuis dan proletariat. Dalam Brumaire ke-18 (bagian VII), Marx memberikan definisi negatif dari sebuah kelas yang sudah berkembang penuh: ‘Sejauh jutaan keluarga hidup di bawah kondisi kehidupan ekonomi yang memisahkan cara hidup mereka, kepentingan mereka, dan budaya mereka dari kelas-kelas lain, serta menempatkan mereka dalam pertentangan yang bermusuhan dengan yang terakhir, mereka menjadi sebuah kelas. Sejauh hanya terdapat interkoneksi lokal di antara para petani pemilik tanah kecil ini, dan kesamaan kepentingan mereka tidak melahirkan komunitas, ikatan nasional, organisasi politik di antara mereka, mereka tidak menjadi sebuah kelas.’ Dalam Kemiskinan Filsafat (bab 2, bagian 5), ketika menggambarkan kemunculan kelas pekerja, Marx mengungkap gagasan yang sama secara positif: ‘Kondisi ekonomi pertama-tama telah mengubah massa manusia menjadi pekerja. Dominasi kapital menciptakan situasi yang sama dan kepentingan yang sama dari kelas ini. Jadi, massa ini sudah menjadi kelas dalam relasinya dengan kapital, tetapi belum menjadi kelas untuk dirinya. Dalam perjuangan, dimana kita baru menunjukkan beberapa fasenya, massa ini bersatu dan menjadikan dirinya sebagai sebuah kelas untuk dirinya. Kepentingan yang dibelanya menjadi kepentingan kelas.’ Di antara Marxis yang kemudian, Poulantzas (1975) menolak (sebagai sebuah peninggalan Hegelian) pembedaan antara ‘kelas-dalam-dirinya’ dengan ‘kelas-untuk-dirinya’, menyatakan seolah-olah kelas muncul dilengkapi penuh dengan kesadaran kelas dan organisasi politik, yang secara khusus bertentangan dengan pandangan yang diuraikan Lukács (1923) yang menganggap perkembangan kesadaran kelas sangat penting, dipahami sebagai dibawa ke proletariat dari luar oleh partai revolusioner. Kebanyakan Marxis sebenarnya sudah mengakui (semakin banyak dalam tiga dekade terakhir) bahwa dalam kasus kelas pekerja, perkembangan kesadaran ‘sosialis’ atau ‘revolusioner’ memiliki masalah yang memerlukan kajian lebih cermat dan saksama. ‘Kepentingan kelas’ itu sendiri tidak lagi dipahami (seperti pada umumnya oleh Marx) sebagai ‘fakta sosial’ yang obyektif dan tidak ambigu, tetapi lebih seperti dikonstruksi oleh interaksi dan diskusi yang muncul dari pengalaman kehidupan sehari-hari serta penafsiran pengalaman itu dalam ajaran-ajaran politik, karenanya merupakan sesuatu yang bisa mengambil bentuk yang beragam, seperti yang ditunjukkan dengan satu cara oleh pembelahan gerakan kelas pekerja dalam sejarah. Di satu titik ekstrem, beberapa Marxis (misalnya Marcuse 1964) menyatakan bahwa kepentingan kelas dan kesadaran kelas yang khas dari kelas pekerja nyaris punah sebagai akibat dari asimilasi mereka yang kurang lebihnya lengkap dengan masyarakat industri maju; sementara yang lain mempertanyakan secara mendasar pandangan bahwa tindakan politik ditentukan terutama oleh relasi kelas (Wellmer 1971) atau menolak konsepsi kepentingan kelas yang berkuasa di era regulasi negara yang komprehensif atas kehidupan sosial (Offe 1972). Secara tidak begitu ekstrem, gerakan sosialis dalam masyarakat kapitalis maju dilihat hanya bergantung sebagian pada kelas pekerja, dan semakin bergantung pada aliansi beragam kelompok; sebuah posisi yang tampak masuk akal dilihat dari menonjolnya gerakan politik radikal yang tidak berbasis-kelas pada tahun-tahun belakangan ini, diantaranya adalah gerakan perempuan, gerakan lingkungan hidup dan gerakan nasional serta etnis yang beragam.

Persoalan-persoalan seperti itu bahkan lebih terhubung dengan kajian struktur kelas dalam masyarakat non-kapitalis. Dalam masyarakat Asiatik, seperti yang dijelaskan oleh Marx, perkembangan kelas-kelas sebagai agen utama perubahan sosial tampak tidak ada karena ketiadaan kepemilikan pribadi, dan bisa dilihat kelompok dominan dalam jenis masyarakat ini terdiri bukan dari pemilik alat-alat produksi, tetapi pengendali aparatus negara. Dalam masyarakat kuno (perbudakan), garis konflik sosial yang aktual tidak jelas—meskipun perbedaan antara tuan dan budak tentu jelas—dan Marx sendiri terkadang merujuk pada perjuangan kelas antara orang merdeka dan budak, terkadang pada perjuangan kelas antara kreditor dan debitur. Ada juga kesulitan mengidentifikasi konflik sosial yang mengarah pada kemerosotan feodalisme, dan di kalangan Marxis terdapat perselisihan tajam tentang peran yang dimainkan oleh perjuangan kelas antara bangsawan dan hamba, serta di sisi lain, signifikansi kemunculan kelas baru—kaum burgess perkotaan—dan seperti yang ditekankan oleh Marx, konflik antara kota dengan desa. Isu lain yang lebih umum adalah mengenai posisi petani dalam struktur kelas dan peran politiknya dalam jenis masyarakat yang berbeda. Marx, seperti yang telah disebutkan, tidak menganggap petani Perancis pada abad kesembilan belas sebagai sebuah kelas dalam arti penuhnya, apalagi sebagai sebuah kelas yang revolusioner; tetapi revolusi sosialis pada abad kedua puluh terjadi terutama di masyarakat petani, dan sebagian petani memainkan peran penting dalam gerakan revolusioner, seperti yang masih mereka mainkan di banyak negara Dunia Ketiga, meskipun mereka mungkin sering dipimpin oleh partai-partai berbasis perkotaan atau intelektual perkotaan.

Jenis isu yang berbeda, yang dihadapi oleh generasi Marxis saat ini adalah tentang kemunculan struktur kelas baru dalam masyarakat sosialisme negara. Secara umum, ada dua pendekatan yang dapat dibedakan. Yang pertama menyatakan bahwa sebuah elit, lapisan atau kelas dominan baru telah memancangkan dirinya dalam kekuasaan. Jadi Trotsky, meskipun menolak bahwa sebuah kelas baru telah muncul di USSR, menganggap birokrasi sebagai kelompok yang berkuasa dalam ‘negara pekerja yang merosot.’ Kajian terkini yang paling saksama adalah yang dilakukan oleh Konrád dan Szelényi (1979 hlm. 145) yang menyatakan bahwa ‘struktur sosial dari sosialisme awal’ adalah struktur kelas, ‘dan sungguh merupakan struktur yang dikotomis…. Di satu kutub adalah kelas intelektual yang berkembang dan menempati posisi redistributor, di kutub lain, kelas pekerja yang memproduksi surplus sosial tetapi tidak memiliki hak untuk mengaturnya’. Namun, mereka melanjutkan: ‘Model struktur kelas yang dikotomis ini tidak memadai untuk tujuan mengklasifikasi setiap orang dalam masyarakat (sama seperti hanya dikotomi kapitalis dan proletariat tidak memadai untuk tujuan memberikan status kepada setiap orang dalam masyarakat kapitalis); bagian yang semakin besar dari penduduk harus ditempatkan dalam strata menengah’. Contoh paling baik dari pendekatan kedua adalah analisis Weselowski (1979) tentang transformasi struktur kelas di Polandia dimana ia menyatakan bahwa perbedaan kelas melenyap secara bertahap sebagai hasil dari menurunnya signifikansi hubungan individu dengan alat produksi, dan hal ini disertai oleh berkurangnya perbedaan sekunder terkait watak kerja dan atribut posisi sosial seperti pendapatan, pendidikan dan akses atas barang-barang kebudayaan. Karenanya, Weselowski menolak gagasan tentang kelas dominan baru dan sangat menekankan luluhnya dominasi kelas, tetapi pada saat yang sama ia mengakui bahwa perbedaan status masih ada, sama seperti masih adanya konflik kepentingan antara strata dan kelompok sosial yang berbeda. Dalam menilai pilihan konseptualisasi terhadap struktur sosial masyarakat sosialis ini, ada dua isu yang sangat penting. Yang pertama adalah apakah sudah terdapat perubahan nyata dalam relasi individu dengan alat-alat produksi, dalam arti kontrol publik, kolektif, yang sejati, dan bukan sekadar bentuk baru ‘kepunyaan’ dan ‘kepemilikan ekonomi’ (yakni kontrol efektif, bukan kepemilikan secara hukum) oleh kelompok sosial tertentu yang mempraktikkan kekuasaan melalui partai dan aparatus negara. Yang kedua adalah apakah konflik-konflik dalam masyarakat sosialis hanya antara kelompok status atau memiliki karakter kelas yang luas, seperti yang ditunjukkan oleh berbagai pergolakan sosial di negara-negara ini pada 1950an dan 1960an.

Namun demikian, penggulingan kediktatoran komunis di Eropa Timur pada 1989 dilakukan oleh gerakan rakyat yang luas, bukan oleh sebuah kelas tertentu, dan peristiwa ini menunjukkan bahwa pembagian utama dalam masyarakat sosialisme negara adalah antara jenis elit berkuasa yang khas dengan massa penduduk yang disubordinasikan di bawahnya. Dengan demikian, ini adalah jenis stratifikasi sui generis, tidak bisa diperbandingkan sepenuhnya dengan bentuk lain stratifikasi dan struktur kelas, meskipun memiliki beberapa fitur yang sama dengannya. Hasil akhir revolusi ini belum jelas, tetapi sejauh ekonomi kapitalis diperkenalkan kembali, sistem kelas yang sama dengan Eropa Barat juga akan muncul kembali, dan dalam beberapa kasus, sudah muncul bersama dengan pengiring politiknya.

Kajian Marxis sejak akhir abad kesembilan belas sudah menunjukkan dengan sangat jelas bahwa struktur kelas merupakan fenomena yang jauh lebih kompleks dan ambigu daripada yang terlihat dalam kebanyakan tulisan Marx dan Engels, yang pandangannya sangat terpengaruh oleh hubungan kelas yang tak diragukan lagi menonjol pada awal kapitalisme, dan di atas segalanya, oleh masuknya gerakan kelas-pekerja ke dalam kehidupan politik. Serangkaian masalah yang disebutkan secara singkat di sini—diantaranya transformasi struktur kelas dalam masyarakat kapitalis dan sosialis serta implikasi politiknya, pembentukan dan peran kelas-kelas di Dunia Ketiga, hubungan kelas dan perjuangan kelas dengan kelompok sosial lain, termasuk bangsa, serta dengan bentuk konflik sosial yang lain—masih merupakan tantangan bagi investigasi yang lebih mendalam dan solid. Dengan menggunakan kata-kata Marx sendiri, hal itu tidak bisa diatasi dengan ‘kunci utama (passe-partout) dari teori filsafat-sejarah’ (draf surat kepada Mikhailovsky 1877), tetapi dengan analisis terhadap ‘keadaan yang terberi secara empiris’ di tiap kasus yang berbeda.

Bacaan

Bottomore, Tom 1991: Classes in Modern Society, edisi kedua.

Carchedi, Guglielmo 1977: On the Economic Identification of Social Classes.

Giddens, Anthony 1973: The Class Structure of the Advanced Societies.

Konrád, George dan Szelényi, Ivan 1979: The Intellectuals on the Road to Class Power.

Nicolaus, Martin 1967: ‘Proletariat and Middle Class in Marx’.

Ossowski, Stanislaw 1957 (1963): Class Structure in the Social Consciousness.

Poulantzas, Nicos 1975: Classes in Contemporary Capitalism.

Weselowski, W. 1979: Classes, Strata and Power.

Wright, Erik Olin 1978: Class, Crisis and the State.

Tulisan ini diterjemahkan oleh Mohamad Zaki Hussein dari Tom Bottomore, “Class,” dalam A Dictionary of Marxist Thought, edisi kedua, Oxford: Blackwell Publishers Ltd, 1991. Semua rujukan ke tulisan lain dalam buku yang sama dihilangkan agar tidak membingungkan pembaca.

LEAVE A REPLY