Anomali Istilah Kelas Menengah dalam Marxisme Indonesia

kelas menengah
@aips

Kadi Katu

Beberapa kalangan Marxis Indonesia akhir-akhir ini suka sekali menggunakan istilah kelas menengah dalam mendefinisikan kelompok masyarakat tertentu. Salah satu ukurannya, karena ada fakta-fakta empirik dimana sebagian masyarakat itu mapan secara ekonomi. Sebagaimana kelompok masyarakat seperti ini banyak ditemukan di perkotaan, misalnya mereka yang memiliki gaji tinggi sebagai buruh di perusahaan, pejabat Negara dan pemilik usaha kecil seperi kafe. Ukuran lainnya dari gaya hidup seseorang, kekayaan, kendaraan dan barang-barang elektronik miliknya yang serba mahal. Kendati kelompok masyarakat seperti ini juga sewaktu-waktu terancam kehilangan pekerjaan dan/atau bangkrut usahanya karena kalah bersaing dengan kapital besar.

Selain itu, pendekatan ini juga menganggap gaya hidup konsumtif sebagai salah satu indikator untuk melihat kecenderungan kelas menengah. Misalnya, mereka yang suka membelanjakan uangnya di mall-mall besar, nongkrong di kafe-kafe, karaokean dan terutama ketika mereka tidak memiliki persoalan dengan kehidupan sehari-hari.

Sementara, kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan ekonomi rendah atau tidak pasti dikategorikan sebagai kelas pekerja rendahan atau miskin. Misalnya, para lumpen yang sibuk mencari nafkah di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota yang carut-marut. Secara empirik masyarakat yang dikategorikan sebagai kelas rendahan ini adalah penjual sate di pinggir jalan, penjual balon keliling, tukang becak, pengemis, pencopet, preman, pengamen, pemulung dan rakyat pekerja miskin lainnya. Kurang lebihnya mereka adalah orang-orang yang hidupnya sulit dalam mencari makan sehari-hari dan sibuk mencari pekerjaan, entah halal atau tidak pekerjaan itu. Dalam posisi politik, mereka dianggap memiliki kesamaan dengan kelas pekerja paling hina.

Bagi saya, sadar atau tidak, pendekatan ini merupakan frame yang umum digunakan oleh kelompok sosiolog liberal, seperti Weber. Menurut pandangan ini, selalu terjadi perbedaan stratifikasi dalam setiap kelompok masyarakat berdasarkan zamannya.

Secara umum Weber melihat adanya perbedaan strata dalam masyarakat karena posisi ekonomi dan kedudukannya. Misalnya, jika kekayaan seseorang semakin tinggi, maka semakin tinggi pula kedudukan kelasnya. Sebaliknya, jika seseorang memiliki pendapatan paling rendah, maka dia akan menempati posisi kelas paling bawah. Selain kedudukan ekonomi, perbedaan kelas juga dapat dilihat dari perbedaan kedudukan dalam pekerjaan, politik dan pendidikan. Adapun Weber membedakan kelas menjadi tiga kelas yakni: kelas tinggi (high class), kelas ekonomi berkecukupan atau kelas menengah (middle class) dan kelas bawah (lower class).

Kelas Menurut Marxisme

Kelas menurut Marx tidaklah demikian. Kelas baginya adalah pertentangan dalam hubungan-hubungan produksi, dimana ada kelas yang memiliki/mengendalikan alat-alat produksi (means of production), proses produksi, hasil produksi,termasuk tenaga kerja (labour power), dan ada kelas yang tidak memiliki alat-alat produksi, dimana hidupnya hanya ditentukan oleh hasil penjualan tenaga kerjannya kepada kelas yang mengendalikan produksi.

Dewasa ini pertentangan kelas terjadi dalam masyarakat kapitalisme, yakni antara kelas kapitalis (borjuis) dan kelas pekerja (proletar). Kelas kapitalis adalah pemilik dan pengontrol alat-alat produksi (means of production), tenaga kerja (labour power) dan komoditi yang dihasilkan. Sementara kelas pekerja adalah mereka yang menjual tenaga kerjanya kepada kelas kapitalis untuk menjadi operator dalam proses produksi komoditi.

Dalam proses transisi kapitalisme di Indonesia, kita masih menemukan beberapa kelas sosial dalam masyarakat yang belum secara total dan langsung terintegrasi ke dalam hubungan-hubungan produksi kapitalis. Tetapi, bukan berarti di dalam masyarakat tersebut tidak terdapat perbedaan kelas. Misalnya, masyarakat di pedesaan yang menyandarkan produksi pada pertanian atau perkebunan kecil dan masyarakat di kota yang mengusahakan warung-warung kecil, pedagang tradisional, dan usaha-usaha informal lainnya.

Di pedesaan, kita menemukan ada petani kaya yang menguasai tanah luas, ada petani yang tidak memiliki tanah dan ada buruh tani yang hidupnya hanya dengan menjual tenaga kerjanya kepada petani kaya. Bahkan, mereka juga sudah saling menghisap dalam tingkat tertentu seperti upah rendah, kerja gratisan dan penentuan harga yang rendah. Singkatnya, penetrasi kapital memaksa kaum tani saling menghisap dan berkompetisi satu sama lainnya. Artinya, di antara mereka juga terdapat dinamika kelas yang kompleks.

Kaum tani juga sewaktu-waktu dapat didorong ke dalam hubungan-hubungan produksi kapitalistik baik sebagai akibat proses akumulasi primitif atau akibat dari perkembangan kontradiksi internal mereka sendiri karena dorongan sistem yang eksploitatif. Dalam kapitalisme, kaum tani tidak dapat dipisahkan dari proses penghisapan kelas pekerja. Hampir seluruh kegiatan produksi mereka datang dari hubungan-hubungan produksi kapitalis. Misalnya, alat-alat pertanian yang mereka gunakan dan kebutuhan rumah tangga mereka merupakan hasil penghisapan kelas kapitalis.

Namun, secara konseptual kelas menurut Marx mempunyai makna bahwa ada kelas yang menghisap dan ada kelas yang dihisap dalam kegiatan produksi. Selain hal tersebut, perbedaan-perbedaan lainnya seperti kekayaan, posisi kerja, dan kemajuan tenaga produktif hanyalah manifestasi dari sistem kapitalisme.

Stratifikasi Kelas Dalam Kapitalisme

Secara empirik kita menemukan adanya stratifikasi kelas pekerja. Misalnya, ada komisaris, supervisor, dan pembagian kerja di bawahnya. Mereka juga memiliki upah yang cenderung berbeda-beda, mereka yang menempati posisi kerja paling bawah memperoleh upah yang paling rendah. Perbedaan ini umum terjadi dalam perusahaan kapitalis dan juga organisasi liberal, seperti NGO. Meskipun, pekerjaan berat terletak pada kelas pekerja paling bawah.

Tetapi, bukan berarti kelas pekerja yang menempati posisi paling tinggi aman dari eksploitasi dan ketetapan pekerjaannya. Keduannya dipekerjakan sesuai dengan kontrak kerja, dan sewaktu-waktu keduanya juga dapat dikeluarkan dari pekerjaannya jika tidak lagi menguntungkan kelas kapitalis. Artinya, tidak ada satupun kelas pekerja yang aman dalam pekerjaannya, bergantung pada seberapa menguntungkan tenaga kerjanya untuk tuan kapitalis.

Secara empirik stratifikasi juga terdapat dalam kelas kapitalis. Misalnya, adanya kelas kapitalis besar, kapitalis menengah dan kapitalis kecil. Namun, bukan berarti kelas kapitalis memiliki perbedaan-perbedaan khusus di antara mereka. Secara umum, kelas kapitalis seperti dikatakan Marx, memiliki karakter dan sifat yang sama, yaitu terus mengeksploitasi kelas pekerja dan mengeruk profit dari kegiatan produksi. Yang membedakan mereka adalah tingkat perkembangannya, misalnya dalam penggunaan teknologi dan teknik produksi.

Dalam Capital I, Marx menguraikan dua konsep kunci untuk memahami tingkat perkembangan kapitalisme. Pertama, dia menyebut formal subsumption of labour atau apropriasi nilai lebih absolut. Dalam model ini, kelas kapitalis merampas nilai lebih yang dihasilkan kelas pekerja dengan bersandar pada penggunaan teknik produksi yang sederhana. Kedua, Marx menyebut real subsumption of labour, yakni eksploitasi yang bersandar pada apropriasi nilai lebih relatif, dimana perampasan hasil kerja buruh dilakukan dengan penggunaan teknologi modern dan pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dalam proses produksi. Hasilnya, tingkat produktivitas menjadi tinggi, namun di waktu yang sama penggunaan tenaga kerja menjadi sedikit.

Dalam penjelasan lain, Marx mengemukakan bahwa perkembangan kapitalisme modern selalu punya implikasi terhadap perkembangan kapital individual, dimana setiap kelas kapitalis selalu punya keinginan untuk melakukan reinvestasi profit. Di sini, ada dua kemungkinan yang terjadi dalam kaitannya dengan kapital individual. Pertama, kapital tertentu cenderung menjadi besar dari waktu ke waktu. Kedua, merosotnya tingkat keuntungan yang diakibatkan gencarnya perlawanan kelas pekerja dan/atau akibat persaingan di antara sesama kelas kapitalis.

Setiap kelas kapitalis yang sukses melakukan reinvestasi profit, terdapat kecenderungan untuk menghancurkan kapital-kapital yang lebih kecil, tidak terkecuali usaha-usaha mikro yang belum mempraktekkan hubungan produksi kapitalis. Hal tersebut misalnya, terjadi dalam kasus-kasus kebangkrutan, marger dan akuisi. Marx menyebut proses ini sebagai sentralisasi kapital, dimana hanya ada sebagian kecil kelas kapitalis yang mendominasi penguasaan dan penentuan harga komoditi di pasar.

Tenaga Kerja Cadangan

Selain kompetisi dalam tubuh kapitalisme, perkembangan lainnya juga memiliki dampak penting terhadap kelas pekerja. Marx menyatakan bahwa pertumbuhan kapital dan tenaga kerja dalam hubungannya dengan akumulasi kapital akan diikuti dengan pertumbuhan tenaga kerja cadangan yang melimpah ruah. Perubahan teknologi yang cepat secara terus-menerus menggusur para pekerja yang sedang bekerja menjadi pengangguran secara temporer, yakni tenaga kerja cadangan yang mengambang (floating reserve army of labor). Artinya, banyak orang terserap ke dalam hubungan produksi kapitalis, tetapi tidak memiliki kepastian kerja untuk terus bekerja kepada kepital tertentu, karena hubungan kerja yang semakin fleksibel.

Dalam kapitalisme, seperti dikatakan oleh Marx, tidak semua pencari kerja dapat terserap menjadi tenaga kerja pada perusahan-perusahaan kapitalis. Sebagaimana kemajuan kapitalisme selalu memiliki kecenderungan untuk terus memperkenalkan mesin-mesin modern dan perbaikan teknik produksi. Hal ini tentu menciptakan masalah baru, yakni banyak orang yang butuh pekerjaan tetapi tidak menemukan pekerjaan. Akibatnya, tidak sedikit kelas pekerja terpaksa memilih mencari posisi aman untuk tidak terlibat jauh dalam perjuangan buruh di pabrik-pabrik. Kendati mereka merasakan eksploitasi yang berlebihan terhadap dirinya setiap mereka bekerja.

Tidak heran jika dalam perjuangan buruh menuntut upah dan kesejahteraan lainnya selalu saja terjadi benturan antara sesama kelas pekerja, baik karena sebagian mereka mencari posisi aman maupun karena kelompok lumpenproleratariat sewaan kelas kapitalis. Mereka bahkan tidak segan-segan melakukan kekerasan kepada kelas pekerja yang sedang aktif berjuang. Seperti yang terjadi pada 2012 lalu, saat buruh terus-menerus melakukan pemogokan di Bekasi, Jawa Barat. Sejumlah orang yang diduga sewaan perusahaan tiba-tiba menyerang posko buruh.[1]

Demikian halnya pada 31 Oktober 2013, ketika buruh menyelenggarakan aksi mogok nasional di kawasan East Jakarta Industrial Park (EJIP), Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Sekelompok orang tak dikenal melakukan aksi kekerasan terhadap sejumlah buruh yang sedang mogok kerja. Dalam aksi itu, belasan buruh mengalami luka ringan akibat penyerangan tersebut.[2] Aksi kekerasan lainnya juga terjadi dalam mogok nasional pada 2015 lalu. Sejumlah orang yang diduga sewaan perusaan melakukan pembacokan kepada sejumlah buruh yang sedang konvoi di pabrik-pabrik.[3]

Kelompok-kelompok reaktif-empirisis seringkali menuduh mereka sebagai kelompok yang tidak tahu diri, tidak terorganisir dan tidak paham akan posisi kelasnya. Sehingga hujatan pun diarahkan untuk menyerang kelompok pekerja yang tidak tahu diri itu. Mereka lupa dengan persolan pokoknya, yakni eksploitasi kelas kapitalis. Akibatnya serikat-serikat kelas pekerja semakin terisolasi satu sama lainnya, sementara kelas kapitalis semakin kuat dan besar. Mereka bahkan membentuk asosiasi persatuan untuk menghajar perlawanan kelas pekerja agar terhindar dari krisis berkepanjangan.

Penutup

Di tengah kuatnya dominasi ilmu pengetahuan borjuis, rakyat pekerja juga harus merumuskan metode-metode jitu dalam menangkal propaganda kelompok borjuis. Seperti dikemukakan Marx, organisasi politik mestinya juga memikirkan kuatnya bangunan sistem kapitalisme yang membuat persaingan di antara sesama kelas pekerja. Menurutnya, gerakan politik harus selalu memikirkan cara untuk menghentikan persaingan tersebut dan membangun serikat-serikat persatuan. Dengan adanya sekat-sekat yang cenderung mengisolasi satu sama lain, perjuangan serikat-serikat pekerja seakan-akan berbeda satu sama lainya.

Selain itu, gerakan politik kiri mesti mengarahkan perjuangan buruh menjadi perjuangan politik kelas. Jika tujuan utama perlawanan kelas pekerja sekadar memperjuangan upah dan sibuk membangun kompromi-kompromi kebijakan dengan elit politik borjuasi, maka sudah pasti gerakan kelas pekerja tidak akan menemukan arah perjuangan yang sebenarnya. Sementara, kelas kapitalis justru bersatu dengan tujuan untuk menindas kelas pekerja. Di hadapan modal yang selalu bersatu, pemeliharaan asosiasi menjadi lebih penting bagi mereka daripada kesejahteraan buruh.

Masalah lainnya, pandangan Weberian dalam gerakan kelas pekerja harus segera diakhiri. Menurut saya, pandangan ini hanya akan membahayakan gerakan kelas pekerja. Konsep Weber tersebut berpotensi memicu kebencian antara sesama kelas pekerja. Kita hanya akan sibuk membuat kategorisasi kelas pekerja yang kaya dan miskin, sementara kita melupakan persoalan pokok yang sesungguhnya, yaitu eksploitasi kelas kapitalis terhadap kelas pekerja.

Catatan:

[1] Baca http://permalink.gmane.org/gmane.culture.media.mediacare/88309.

[2] Baca http://jaringnews.com/politik-peristiwa/umum/51011/buruh-dibacok-dan-ditusuk-ormas-pemuda-pancasila-saat-demo-di-cikarang.

[3] Baca http://www.tribunnews.com/regional/2015/11/04/puluhan-preman-serang-konvoi-buruh-di-sumut.

Daftar Pustaka

Anthony Giddens. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Suatu analisis karya tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. UI Press, Jakarta. Diterjemahkan oleh Soeheba Kamadibrata dari Capitalism and Modern sosial theory analysis of wrinting of Marx, durkheim and Max Weber. Cambridge University Press, London.

Berdikari Online. 2012. “PRP Kecam Aksi Premanisme Dan Penyerangan Posko Buruh,” http://www.berdikarionline.com/prp-mengecam-aksi-penyerangan-posko-buruh/, diakses pada 10 April 2016.

Doyle Paul Jhonson. 1986. Teori Sosial Klasik dan Modern. Penerjemah Robert, M.Z. Lawang, PT Gramedia, Jakarta.

KPO Perhimpunan Rakyat Pekerja. 2012. “Catatan dari Pergolakan Buruh Bekasi 27 Januari 2012,” http://partaipekerja.blogspot.co.id/2012/02/catatan-dari-pergolakan-buruh-bekasi-27.html, diakses pada 10 April 2016.

Marx, Karl. 2004. Kemiskinan Filsafat. Hasta Mitra-Seri Buku Ilmiah. Diterjemahkan oleh Ira Iramanto dari Poverty of Philosophy. Foreign Languages Publising House.

Sangaji, Anto. 2013. “Kapitalisme dan Tenaga Kerja Cadangan”. Bacaan Pendidikan Ekonomi Politik Yayasan Tanah Merdeka Kelas VII, 6 April 2013.

___________. 2013. “Teori-teori (Marx)ist tentang Krisis”. Bacaan Pendidikan Ekonomi Politik Yayasan Tanah Merdeka, 28 Mei 2013.

___________. 2013. “Apropriasi Nilai Lebih”. Draf Pendidikan Ekonomi-Politik, Yayasan Tanah Merdeka (YTM), 16 Februari 2013.

LEAVE A REPLY