Terorisme & Imperialisme

imperialisme
@aips_ Maritime Museum R'dam

Novaldi Azwardi
Kader Partai Rakyat Pekerja (PRP)

Setiap kita mendengar kata ISIS (Islamic State of Iraq & Syria), kita teringat dengan Al-Qaeda. Pasalnya, kedua kelompok ini selain dicap oleh Amerika sebagai teroris, mereka juga sering melakukan tindakan kekerasan terhadap warga sipil yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa soal politik luar negeri. Apalagi ISIS terkenal brutal dengan tindakan kejinya membunuh sandera, menghancurkan bangunan dan cagar budaya, serta melakukan tindakan kekerasan bersenjata di Eropa Barat. Namun tahukah Anda bahwa kelompok-kelompok teroris ini pada awalnya diunakan oleh Amerika untuk menggoyang rezim maupun kelompok adidaya lain seperti Uni Soviet yang kini menjadi Rusia, di Afghanistan pada tahun 1980-an?

Osama bin Laden adalah anak didik CIA yang kemudian menjadi bumerang bagi Amerika sendiri. Dalam melegitimasi bantuannya kepada bin Laden, Amerika selalu menggunakan kata-kata “bantuan demi sebuah demokrasi.” Tentu saja bantuan itu tidak gratis, karena ada kepentingan Amerika yang ingin mendominasi secara geografis dan ekonomi. Dominasi tersebut dikenal sebagai imperialisme yang sebenarnya sudah lama dianalisa oleh banyak pemikir progresif seperti Lenin. Lalu seperti apa karakter imperialisme dan bagaimana imperialisme menciptakan cikal bakal kelompok-kelompok teroristik tersebut?

Imperialisme pada prinsipnya adalah sebuah proyek politik dari para kapitalis-monopolis, yang menggunakan Negara untuk saling bersaing di antara mereka demi penguasaan teritori dunia beserta sumber daya alam dan manusia yang ada di dalamnya. Penguasaan sumber daya tersebut dilakukan agar mereka bisa meningkatkan laba dari akumulasi kapitalnya. Para pemilik kapital mendorong adanya pembukaan atau penguasaan teritori baru untuk mendapatkan bahan baku murah, tenaga-kerja murah dan tentu saja pasar untuk menyerap barang-barang yang mereka produksi.

Namun, dalam pembukaan teritori baru tersebut, mereka mendapatkan hambatan dari masyarakat setempat, entah itu dalam bentuk perlawanan buruh terhadap upah murah atau resistensi komunitas-komunitas agraris yang sudah menjalani cara produksi tertentu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Demi memperlancar pembukaan teritori tersebut, para pemilik kapital cenderung menggunakan negara setempat yang dibiayai kemampuan militernya untuk melindungi pembukaan teritori kapital tersebut. Seperti halnya di negara-negara benua Afrika yang militernya dipersenjatai oleh alat-alat tempur dari Tiongkok guna melindungi para pemilik kapital dari Tiongkok. Dalam kasus Negaranya tidak pro dengan kepentingan kapital, seperti rezim Najibullah di Afghanistan yang pro-Soviet, Amerika membiayai bahkan melatih kelompok-kelompok bersenjata seperti Osama bin Laden guna mengusir Uni Soviet dari Afghanistan.

Inilah panggung sandiwara perang negara-negara imperialis. Semuanya cenderung meminimalisir partisipasi rakyat pekerja dalam pengelolaan ekonomi, karena semua itu diperuntukkan bagi sang tuan pemilik kapital. Namun, akhirnya, kelompok-kelompok bersenjata tersebut, terutama yang dibiayai Amerika dan sekutunya, malah menjadi bumerang bagi Amerika sendiri. Amerika dan sekutu Eropanya kini mendapatkan ancaman teror yang malah menimbulkan reaksi anti-demokrasi berupa islamophobia, terutama yang dilakukan oleh kelompok-kelompok konservatif dan fasis di Negara mereka. Itulah hasil imperialisme, kekerasan yang berbalas dengan kekerasan.

LEAVE A REPLY