Nilai dan Prinsip-Prinsip Berserikat

mayday2014
@aips

Nuzulun Ni’mah
Bendahara Nasional Partai Rakyat Pekerja (PRP)

Mengenal sebuah organisasi atau serikat bagi orang awam mungkin akan berkata: Ah, apaan sich itu, kumpul-kumpul, terus kayak orang penting saja. Sebentar-sebentar aksi bikin macet jalan, toh tidak bisa merubah keadaan juga. Bagi sebagian yang sudah kenal organisasi, tapi belum mendalam dan belum punya ideologi gerakan, mungkin akan berkata: organisasi, paling-paling cuma untuk jual program, mencari uang, anggotanya ya begitu-begitu saja, tidak ada perubahan dari dulu sampai sekarang.

Mendirikan sebuah serikat lebih mudah dari pada mempertahankannya. Dan mempertahankan serikat di tingkat pabrik jauh lebih sulit dibandingkan di tingkatan federasi atau konfederasi. Peperangan seorang buruh yang sesungguhnya ada di dalam pabrik. Mereka berhadap-hadapan langsung dengan keangkuhan struktur organisasinya pengusaha. Itu sebabnya contoh di Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU)-KSN, seringkali sebuah serikat sudah berdiri, tapi pemberitahuan ke pihak perusahaan masih ditunda sebagai strategi. Agar pengurusnya satu pemahaman dalam menghadapi kondisi di dalam pabrik. Mungkin juga karena order yang lagi sepi, agar serikat tidak langsung disikat dengan alasan efisiensi, pengurusnya biar ikut pendidikan bersama dulu agar lebih kuat, solid dan lain-lain sesuai kondisi masing-masing.

Tapi ada juga yang dengan target seminggu, harus terbentuk serikat dan harus segera memberitahukan ke pihak perusahaan karena sedang gawat darurat. Misalnya tiba-tiba perusahaan mem-PHK massal buruh kontrak 500 orang yang sebenarnya masa kerjanya sudah tujuh tahun ke atas. Jenis pekerjaannya pun pekerjaan pokok, tidak berubah-ubah. Sementara belum pernah ada serikatnya. Untuk berhadapan dengan manajemen tidak berani, tidak tahu harus ngomong apa dan lain-lain. Berarti perlu segera didampingi. Dan supaya pendamping bisa ikut masuk ke dalam pabrik, harus ada alat sebagai pengikat.

Serikat Kuning dan Serikat Progresif

Istilah serikat kuning dan serikat progresif atau merah begitu kuat di era setelah reformasi. Setelah adanya kebebasan berserikat, begitu banyak serikat bermunculan di mana-mana. Serikat tertentu di tingkat pabrik yang kepengurusannya vakum, diam saja, tidak pernah membela hak-hak anggotanya, dikudeta oleh anggotanya. Akhirnya berpindah ke serikat yang lain, atau serikatnya tetap, tapi dengan kepengurusan baru yang lebih progersif, yang selalu membela hak-hak anggotanya. Anggotanya diberi pendidikan-pendidikan khusus, juga keterampilan-keterampilan lainya yang berhubungan dengan kerja-kerja serikat. Agar yang memahami tentang serikat tidak hanya pengurusnya saja. Karena ketika hanya pengurusnya saja yang paham, dan anggotanya tidak pernah diberi pendidikan, akhirnya anggota tidak bisa kritis, tidak berani menyampaikan pendapatnya di depan pengurus. Yang lebih fatalnya si pengurus karena merasa lebih tahu, sudah sering malang-melintang mengikuti berbagai pendidikan, malah berpropaganda layaknya pakar hukum, atau anggota DPR yang mewakili rakyatnya, guna membodohi anggotanya. Inilah tanda-tandanya pengurus yang minta dilayani anggota, bukan melayani anggota. Pengurus yang mengambilalih kasus anggotanya, bukan sebagai pendamping anggota.

Peran Federasi atau Konfederasi

Dalam perjalanannya, sebuah federasi atau konfederasi haruslah dipimpin oleh orang-orang yang mau terbuka, demokratis, memberikan peluang sebanyak-banyaknya kepada semua anggota untuk belajar atau mengikuti pendidikan-pendidikan, atau menyelenggarakan pendidikan-pendidikan sesuai kebutuhan anggota, sehingga bisa menambah wawasan dan keterampilan sang buruh. Menyadari fungsi dan keberadaanya, organisasi harus menciptakan anggota yang kritis, supaya bisa mengontrol kepemimpinan kita.

Kita tidak boleh lelah menyadarkan pengurus tingkat basis, bahwa kekuatan di internal tempat kerja atau pabrik sangatlah penting, karena akan sangat memengaruhi perubahan di dalam pabrik itu sendiri. Bila pengurus federasinya yang terlihat kuat di mata pengusaha, sementara pengurus tersebut tidak mungkin berada di pabrik secara terus menerus, karena memang bukan bagian dari buruh pabrik tersebuat, maka pengusaha akan memandang sebelah mata kepada serikat kita, yang pada akhirnya bisa merugikan kita. Kekritisan, keberanian dan kemajuan anggota janganlah dianggap sebagai penghalang atau sebagai saingan. Karena sebuah organisasi itu milik anggota, bukan milik segelintir pengurusnya. Tongkat kepemimpinan harus terus berjalan, biar tidak menyumbat laju kepemimpinan.

Perlunya Berkolektif untuk Membentengi Organisasi

Kepengurusan yang kuat adalah pengurus yang selalu terbuka, sering berkomunikasi, memperhatikan kondisi sesama pengurus, dan mencari jalan keluar bersama di saat ada permasalahan. Orgaisasi masa yang telah memilih jalannya untuk mengontrol pemerintah dalam menjalankan roda kehidupan sebuah Negara, sangatlah rawan oleh penyusup yang ingin menggoyahkan iman perjuangan. Bahkan menggoyangkan iman individu-individu pemimpinnya. Penyusup bisa datang dari luar, juga sangat bisa dari dalam.

Untuk menjaganya tetap utuh dan kuat, diperlukan kolektif yang kuat pula. Tapi pada dasarnya, harus dilandasi dengan keikhlasan untuk menerima amanah dan takut berbuat salah, seperti menyalahgunakan wewenang untuk keperluan pribadi tanpa adanya diskusi di tingkatan kolektif itu sendiri. Mengetahui permasalahan anggota kolektif sangat diperlukan, supaya kinerja organisasi tidak ujuk-ujuk ditinggalkan tanpa pesan.

Memperlakukan anggota kolektif layaknya anggota keluarga sendiri akan mempersulit masuknya penyusup yang berniat mengacaukan gerak organisasi. Sekalipun penyusup itu datangnya dari dalam lingkungan sendiri. Bila kita telah mengimani perjuangan dengan keikhlasan, kita tidak akan menyakiti atau mengkhianati sesama kolektif.

Tapi, bila sampai ada pengurus yang tidak mau dikontrol oleh kolektif, biasanya seleksi alam akan berjalan dengan sendirinya. Karena tidak semua masalah bisa dipecahkan secara hitung-hitungan dan analisa manusia.

Pemahaman Berkolektif dan Tingkatan-Tingkatannya

Pengalaman pribadi saya, pada awalnya kita dibuat tidak sadar apa itu kolektif. Bahkan sudah sering diajak kumpul, sering berdiskusi, membicarakan hal-hal tekhnis yang terkait dengan organisasi dengan sangat mendalam, terasa pembicaraannya dari hati ke hati, tapi masih belum merasa sadar juga tentang apa itu kolektif. Yang aku rasakan pada awalnya adalah: Lho, kok tiba-tiba aku sering diundang pengurus, diikutsertakan dalam rapat-rapat, kalau ada undangan pendidikan kemanapun, kok sering ditawarkan ke kita, lho kok habis rapat, masih ngobrol lama banget, membuat kita terlena, dan terasa obrolannya itu sangat penting tentang keberlanjutan organisasilah, tentang menjaga kekompakanlah, bagaimana memberdayakan anggota yang sedang aktif dan terlihat mau banget belajar, dan lain-lain.

Setelah ada perasaan dan timbul pemikiran bahwa kita dibutuhkan oleh forum atau kelompok, selalu diajak berdiskusi ketika organisasi harus memutuskan sesuatu, pendapat kita dihargai dengan cara tidak meremehkan walaupun pendapat kita belum tepat, bahkan ketika pendapat kita berseberangan sekalipun, di saat itulah aku baru merasa “Oh, ternyata aku dianggap anggota kolektif ini.”

Tingkatan dan jumlah kolektifpun bisa berbeda beda. Tergantung kondisi organisasi dan kebiasaan berkumpul, kebiasaan berkomunikasi, kebiasaan mengambil keputusan, dan lain-lain. Kolektif secara spesifik tidak diatur di AD/ART. Kelompok dan anggotanyapun bisa berubah-ubah.

Di tingkatan federasi, misalnya, ada kolektif inti yang merumuskan hal-hal terkait jalannya organisasi. Biasanya kolektif ini terdiri dari pengurus yang terpilih di saat kongres maupun PLT-nya saat yang utama berhalangan. Ada kolektif lapis dua. Keanggotaannya semakin banyak. Biasanya seluruh pengurus pusat, pengurus wilayah, dan ketua-ketua Serikat Buruh Anggota (SBA). Bisa jadi di kepengurusan wilayah, juga ada kolektifnya walaupun tidak disadari. Dan ada kolektif di tingkat Pabrik. Bagaimana menyatukan pengurus, menjaga komunikasi, menyaring isu-isu dari perusahaan supaya tidak bias dan di makan mentah-mentah sehingga menjadi gejolak yang tidak berkesudahan, terlebih lagi ketika ada serikat tandingan bentukan pengusaha yang anggotanya adalah para manajemen.

Kekompakan di kolektif dalam hal: saling membutuhkan, saling menghargai, saling terbuka ketika ada masalah baik yang berkaitan dengan organisasi maupun masalah pribadi yang kadarnya ditentukan sendiri oleh yang bersangkutan, saling percaya dan penuh tanggung jawab, ikhlas menerima amanah, Insya Allah akan menjadikan organisasi kita besar, kuat, berkelanjutan, dan benar- benar menjadi sekolah politiknya kaum buruh.

Demikianlah sedikit tulisan tentang nilai dan prinsip-prinsip berserikat yang saya buat. Tulisan ini pastinya bisa terus berkembang sesuai kondisi yang terjadi di serikat kita masing-masing. Semoga bermanfaat untuk menjaga, membesarkan, menguatkan serikat kita supaya bisa menjadi percontohan yang bisa terlihat langsung oleh masyarakat sekitar, dan tentunya berkelanjutan terus sebagai alat perjuangan para buruh sekaligus sebagai sekolah politiknya kaum buruh Indonesia.

LEAVE A REPLY