Mesin Pertumbuhan dan Rusaknya Pembangunan Kota

pembangunan dan pertumbuhan
@aips

Dicky Dwi Ananta
PRP Komite Kota Depok

Pembangunan kota-kota besar di Indonesia, seperti di Jakarta, selalu dicirikan dengan tumbuhnya bangunan-bangunan fisik (gedung, perumahan, fasilitas umum, hiburan) secara cepat. Pembangunan itu tidak semuanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi sebagian besar didorong oleh pelaku bisnis yang ada di kota tersebut. Tujuan utama dari pembangunan itu ialah untuk mencari keuntungan. Karena membangun kota itu terlihat sangat menguntungkan bagi mereka, maka semakin banyak pelaku bisnis yang terlibat dalam proses pembangunan kota. Sehingga, pertumbuhan kota banyak digerakan oleh mesin-mesin pertumbuhan yang terbentuk dari aliansi kekuatan bisnis tersebut. Aktivitas bisnis itu yang menjadi kekuatan pendorong dari terbentuknya kota Jakarta seperti sekarang ini.

Karena tujuan utamanya mencari keuntungan, maka pembangunan kota itu tidak pernah selesai. Selalu didorong terus menerus untuk mendapatkan untung lebih banyak. Logika yang berkembang adalah logika dagang. Akibatnya banyak pembangunan yang dipaksakan, maksudnya ialah pembangunan kota yang tidak sesuai dengan perencanaannya. Pembangunan itu banyak menabrak batasan ruang yang disediakan untuk bisnis. Kadang pelanggaran itu justru merugikan masyarakat banyak. Misalnya, karena daerah resapan airnya digunakan untuk mall dan perumahan mewah yang tidak sesuai dengan rencananya, maka akhirnya pembangunan itu justru membuat banjir di Jakarta semakin parah. Untuk melihat pembangunan yang tidak sesuai dengan perencanaana dapat dilihat di kota Jakarta itu sendiri.

Akhir-akhir ini, kota Jakarta menunjukan pembangunan yang kadang tidak sesuai dengan rencana yang sudah ada. Wilayah untuk tangkapan air dan hutan kota yang kemudian diubah peruntukannya karena dimiliki oleh orang-orang kaya dan perusahaan, justru dibiarkan begitu saja oleh Pemerintah Provinsi Jakarta. Sebagai contoh daerah resapan air Kelapa Gading yang diubah menjadi Mall Kelapa Gading dan Kelapa Gading Square; Pantai Indah Kapuk yang sebelumnya merupakan kawasan hutan lindung menjadi pemukiman elit Pantai Indah Kapuk, Mutiara Indah, dan Damai Indah Padang Golf; kawasan Sunter yang merupakan area resapan air menjadi pemukiman elit Sunter Agung, PT Astra Komponen, Astra Daihatsu, PT Denso Indonesia, dan PT Dunia Express Trasindo; Hutan Kota Senayan menjadi Hotel Mulia, Sultan Hotel, SPBU Semanggi, Senayan Residence Apartment, Hotel Century Atlet, Simprug Golf, dan Plaza Senayan; serta Hutan Kota Tomang menjadi Mall Taman Anggrek dan Mediteranian Garden Residence I dan II.

Akhirnya ruang perkotaan semakin terbatas, sedangkan kebutuhan untuk akumulasi modal dari mesin pertumbuhan ini terus bergulir, maka pertarungan untuk memperoleh lahan guna menopang pertumbuhan properti dan pembangunan fisik menjadi tak terelakan. Oleh karena itu, pertumbuhan tidak selalu baik untuk semua warga. Kelompok miskin atau bisnis kecil dalam perkotaan biasanya menjadi korban penggusuran dalam penataan ulang kota dalam kerangka mesin pertumbuhan ini, yang tujuan utamanya untuk meningkatkan profit “mesin pertumbuhan” melalui pembangunan properti dan infrastruktur.

Untuk itu, bila warga kota menginginkan pembangunan kota yang lebih partisipatif dan manusiawi, maka tak ada jalan lain, selain dengan mulai menghimpun diri secara aktif untuk terlibat dalam perumusan politik kota, salah satunya dengan membangun kekuatan politik alternatif guna merebut kepemimpinan politik dalam teritori kota itu sendiri. Dengan begitu, Insya Allah, warga miskin perkotaan dapat memiliki marwah sebagai warga negara sebagaimana mestinya.

LEAVE A REPLY