Membangun Gagasan dan Gerakan Progresif Sebagai Langkah Awal Menuju Pembebasan Rakyat Tertindas

pendidikan
@aips

Siaran Pers, Palu, 22 November 2015

Logo SMIPSejak sabtu, 20-22 November 2015, Serikat Mahasiswa Progresif Sulawesi Tengah (SMIP-SULTENG), menyelenggarakan pendidikan politik ke II di Kota Palu. Pendidikan politik tersebut, merupakan satu agenda mewujudkan gerakan pembebasan rakyat yang selama ini mengalami ketidakadilan.

Kami sadar betul bahwa kondisi Indonesia saat ini sedang mengalami keterpurukan. Setiap hari, kita mendengar tangisan anak-anak kecil, ibu-ibu dan penduduk miskin disingkirkan dari sarana produksinya, seperti yang terjadi baru-baru ini di ibu kota Jakarta. Misalnya, Lembaga Bantuan Hukum Jakata menyebutkan sejak januari sampai Agustus 2015, penggusuran paksa di DKI Jakarta mencapai 30 kasus dengan korban, sebanyak 3433 KK dan 433 unit usaha dengan alasan pembangunan dan normalisasi ruang.

Demikian juga halnya petani, sering kali mengalami kriminalisasi perampasan tanah bahkan disertai kematian.

Selain itu, buruknya kondisi buruh di Indonesia, seperti jaminan keselamatan kerja, jaminan sosial dan rendahnya upah buruh masih menjadi masalah krusial. Saat ini, jutaan buruh Indonesia setiap hari melakukan mogok kerja. Walaupun, mereka sering kali mendapat perilaku represif dari aparat negara.

Pada sektor pendidikan, privatisasi dan komersialisasi pendidikan membuat banyak orang tidak dapat mengakses pendidikan hingga perguruan tinggi. Data BPS tahun 2008 hingga 2013 mencatat, angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia baru sebesar 17,92 persen dan angka partisipasi murni perguruan tinggi baru sebesar 11,01 persen. Sementara jumlah mahasiswa di Indonesia pada tahun 2011 baru mencapai 4,8 juta orang, dan bila dihitung populasi penduduk berusia 19-24 tahun. Maka, angka partisipasi kasarnya baru sekitar 18,4 persen. Artinya, masih banyak penduduk Indonesia berusia 19-24 tahun yang tidak mampu mengakses pendidikan tinggi, dan rata-rata disebabkan karena mahalnya biaya sekolah/kuliah, mahalnya jalur masuk ke perguruan tinggi, dan lain sebagainya.

Dari banyaknya masalah di atas, kami melihat bahwa pembangunan di Indonesia sama sekali bukan untuk kebutuhan rakyat secara sosial. Tetapi, pembangunan di Indonesia memberikan ruang bagi investasi yang logikanya adalah untuk keuntungan semata.

Sehingga, penting membangun gerakan mahasiswa yang mayoritas adalah anak-anak kaum miskin kota, buruh dan kaum petani untuk sadar akan posisinya.

Untuk itu, kami dari SMIP SULTENG mengajak kepada kawan-kawan mahasiswa khususnya di Sulawesi Tengah untuk menyatukan diri, bergabung dengan gerakan kami dalam rangka membangun gagasan-gagasan progresif dan mewujudkan gerakan bersama sebagai langka awal menuju pembebasan rakyat miskin.

Kami juga menuntut kepada pemerintah Indonesia agar memberikan pendidikan gratis, demokratis dan berkualitas kepada rakyat yang tidak mampu secara ekonomi.

Palu, 22 November 2015

Salam hormat,
Ryan Permana
Ketua Serikat Mahasiswa Progresif Sulawesi Tengah (085241481876)

LEAVE A REPLY