Perang Dunia I dan Gerakan Revolusioner Eropa

Novaldi Azwardi
Anggota PRP Komite Kota Jakarta Pusat

Sebuah revolusi, dimana pun dan kapan pun, tidak terjadi secara spontan begitu saja. Pasti ada urutan-urutan penyebabnya yang dimana merupakan akar permasalahan dari sebuah kekuasaan politik. Dan tentu saja dalam pandangan ekonomi politik, pasti ada akar politik kelas yang dimana merebutkan sumber daya ekonomi atau memperebutkan wilayah kekuasaan politik.

Demikian pula hal yang terjadi di Rusia, dengan revolusi Oktober, yang oleh banyak sejarawan barat dituduh akibat ulah sang “penghasut” Vladimir Illyich Lenin. Padahal kalau sejarawan-sejarawan tersebut mau jujur dan bukan berdasarkan pesanan kepentingan, teori mereka pasti terbantahkan oleh data tentang dilanjutkannya perang oleh Alexander Kerensky. Perang yang sebenarnya ditentang banyak rakyat Rusia, bahkan oleh prajurit rendahan.

Yah, Revolusi Rusia terjadi karena Perang Dunia I yang banyak memakan korban jiwa, sementara para elit kekaisaran Rusia yang hidup nyaman dari ancaman konflik perang dunia, tetap mendorong perang berlanjut. Sebenarnya banyak hal yang menarik dari Perang Dunia I yang diakui oleh para sejarawan barat bisa menimbulkan Revolusi tak hanya di Rusia, tapi Juga di seluruh Eropa, bahkan termasuk Inggris sekalipun.

Dan yang menariknya, membaca penyebab terjadinya Revolusi Rusia dan bibit Revolusi Eropa berawal dari sejarah kekuasaan politik Monarki Eropa yang anehnya setiap kelompok-kelompok yang saling bertentangan ternyata masih punya hubungan kekerabatan, seperti keluarga kerajaan Inggris ternyata berasal dari keluarga Sachsen-Coburg-Gotha yang merupakan bagian dari kekaisaran Jerman. Dan Nicholas II, juga kerabat dari keluarga kerajaan Inggris. Namun apa penyebab konflik diantara ketiga orang tersebut yang sebenarnya masih berkerabat?

Eropa di Persimpangan Jalan Sejarah

Perlu diketahui bahwa bulan Agustus 2014 lalu adalah tepat 100 tahun meletusnya Perang Dunia Pertama. Penyebabnya sebenarnya harus dilihat kembali pada abad ke-19 (tahun 1800-an), dimana setelah perang melawan Napoleon, negara-negara besar di Eropa berusaha mempertahankan keseimbangan kekuatannya sehingga melahirkan jaringan aliansi politik dan militer. Misalkan Aliansi Suci (Grand Alliance) yang terdiri dari Prusia, Austria dan Rusia.

Lahirnya aliansi ini guna menahan Republikanisme dan sekulerisme pasca kekalahan Napoleon Bonaparte. Pada prakteknya aliansi ini sengaja memperlihatkan kekuatan Prusia dan Austro-Hongaria di Eropa. Aliansi ini seringkali menindas setiap negara yang ingin menentukan dirinya sendiri karena memang merupakan bagian dari identitas imperialistik ala Monarki Eropa.

Aliansi ini bubar ketika terjadi perang Krimea, dimana Rusia merasa dikhianati oleh Austria, bahkan wilayahnya diambilalih oleh Austria yang dekat dengan Prusia. Padahal Rusia adalah salah satu negara yang pernah menyelamatkan Eropa dari okupasi Napoleon Bonaparte dan menjadi polisi Eropa. Prusia yang akhirnya berubah menjadi kekaisaran Jerman, juga berkonflik dengan Perancis, terkait dengan wilayah kekuasaan Alsace-Lorainne, membuat Rusia yang sebelumnya berkonflik dengan Perancis, akhirnya beraliansi guna melawan hegemoni aliansi Jerman-Austro Hongaria.

Aliansi tersebut diperluas dengan Inggris/Britania Raya dan Aliansi Anglo-Rusia pada tahun 1907. Hal itu makin diperuncing terkait masalah balkan, yang memang punya kemiripan kultural dengan Rusia, dimana Austro Hongaria mencaplok wilayah Bosnia-Herzegovina, bekas koloni Kekaisaran Turki Ottoman. Ya, saling berebut wilayah koloni tersebut akhirnya memicu sebuah perang di Balkan yang akhirnya menjadi Tong Mesiu Eropa yang siap meledakan Eropa ke dalam Perang yang paling mengerikan pada awal peradaban manusia, Perang Dunia I.

Perang Parit dan Revolusi Eropa

Awal Perang Dunia I dimulai ketika terjadi krisis diplomatik antar kedua aliansi tersebut, akibat dipicu pembunuhan Pangeran Archduke Franz Ferdinand, bangsawan Austro-Hongaria yang akan dijadikan pewaris tahta kekaisaran Austro-Hongaria. Pembunuhan tersebut dilakukan di Kota Sarajevo oleh seorang nasionalis Serbia, salah satu kerajaan yang dilindungi Rusia.

Hal ini membuat terjadinya kerusuhan rasialis di Austria Hongaria yang membantai orang-orang Serbia dan muslim Balkan, sehingga membuat Rusia melakukan mobilisasi militer di Odesssa guna melindungi Serbia. Perancis dan Inggris ikut terseret yang akhirnya membuat Jerman menyatakan perang pada bulan Agustus 1914, sekitar 100 tahun yang lalu. Perang ini juga menyeret Italia, Jepang, Australia, Selandia Baru dan Kanada ke pihak Sekutu (Inggris-Perancis-Rusia). Sementara, Kekaisaran Turki Ottoman di pihak blok Sentral (Jerman–Austro-Hongaria).

Perang di Eropa sendiri terbagi dalam tiga wilayah, yakni wilayah selatan, Front Timur dan Front Barat. Perang yang paling kejam terdapat di front barat, dimana pertempuran mengunakan parit sebagai pertahanan. Pertempuran bahkan sempat stagnan selama beberapa tahun, sempat menggunakan senjata kimia, dan menciptakan pengunaan helm baja akibat peluru artileri yang dapat merusak wajah dan pecahan peluru yang dapat membuat cacat permanen di wajah.

Namun, di Front Timur, dimana Jerman berhadapan melawan Rusia, Jerman memang lebih unggul dalam hal persenjataan, sehingga menyebabkan kematian jutaan tentara Rusia. Hal ini menyebabkan para prajurit marah, apalagi para Pperwira tinggi yang terdiri dari bangsawan-bangsawan kekaisaran Rusia tetap saja memerintahkan pertempuran, walau sebenarnya sudah tidak mungkin lagi.

Selain itu, perang menyebabkan krisis ekonomi berkelanjutan, sehingga menjadi bahan bakar untuk Revolusi Februari 1917, yang menjatuhkan kekaisan Nicholas II. Berita revolusi tersebut tersebar ke prajurit-prajurit Front Barat yang lelah dengan perang. Mereka bahkan sempat bercengkrama dengan musuh-musuh mereka, sebelum akhirnya ditertibkan kembali oleh komandan-komandan bangsawan dan elit-elit militer. Hal ini menimbulkan banyaknya pemberontakan oleh prajurit-prajurit Front Barat yang lelah akan pertempuran, yang akhirnya dieksekusi mati dengan tuduhan desersi.

Ketakutan akan meletusnya revolusi pun menghantui para penguasa monarki Eropa. Bahkan karena ketakutan itu, para monarki sempat menawarkan proposal perdamaian, namun akhirnya batal karena ketidakkesepakatan dalam soal konsesi wilayah. Walaupun mereka menginginkan perdamaian, tetap saja mereka masih ingin mempertahankan watak imperialistiknya.

Dan sebenarnya revolusi bisa saja meletus di Eropa Barat, andai kata Jerman tidak mentorpedo kapal barang Amerika Serikat (AS). Memang selama Perang Dunia I, AS menjadi negara netral, dikarenakan banyaknya warga keturunan Jerman di AS, yang juga merupakan konstituen presiden Woodrow Wilson. Namun bukan saja karena dipengaruhi oleh tenggelamnya tujuh kapal perang AS atau Telegram Zimmerman yang mengajak Meksiko untuk beraliansi dengan Jerman melawan AS, tetapi ternyata AS punya piutang terhadap Inggris dan Perancis yang bilamana Inggris dan Perancis kalah perang, maka piutang itu tak akan dibayar.

Sebenarnya secara militer, AS tak punya pengalaman perang ataupun teknologi dibandingkan dengan Jerman atau Perancis. Namun, karena AS sendiri secara geografis jauh dari ancaman perang mana pun selain perang saudara, maka AS sangat kuat posisi tawarnya bahkan terhadap blok sekutu sekalipun. Bahkan, jika posisi militer AS di Eropa tak diserang oleh Jerman, mungkin AS baru akan memulai perang pada tahun 1919.

Selain itu, pelatihan militer AS bahkan dianggap tak memadai oleh perwira-perwira militer Eropa. Belum lagi teknologi perang AS yang dengan teknologi perang negara-negara Eropa masih tertinggal. Semua itu membutuhkan biaya besar dan akhirnya diatasi dengan penjualan obligasi/surat hutang Negara kepada masyarakat AS guna membiayai kebutuhan perang tersebut yang kebanyakan dibeli dari Perancis, Inggris serta negara-negara Eropa lainnya. Dan ketika AS memasuki gelanggang Perang Dunia I, makin menghegemoni kesadaran orang-orang yang tadinya menginginkan revolusi, akhirnya malah menggantungkan harapannya ke AS dengan pasukannya.

Gerakan revolusioner ternyata hanya terjadi di Jerman dimana sistem pemerintahan Monarki Kaisar Wihelm II ambruk, digantikan oleh pemerintahan sementara, setelah kegagalan Jenderal Lundendorf dalam serangan divisi terakhirnya. Namun, gerakan revolusioner melenyap karena kemiskinan yang amat sangat dirasakan oleh warga Jerman, yang akhirnya melahirkan fasisme, yang kemudian melanjutkan kembali ke Perang Dunia yang lebih mengerikan bahkan membunuh jutaan orang yang bukan pelaku perang sekalipun, akibat kebijakan genosida ras ala fasisme Nazi.

Memahami Revolusi Lewat Sejarah

Revolusi bukan hal yang terjadi dalam satu malam seperti kisah-kisah dongeng. Dia terjadi ketika kondisi dan situasi sudah memaksa. Bahkan sebuah organisasi semacam Bolshevik sempat ragu akan Revolusi Oktober 1917, karena memang harus menghitung syarat-syarat materialnya terlebih dahulu. Dan kembali sebuah revolusi menjadi pertaruhan ketika Soviet membuat kebijakan kontroversi seperti New Economy Policy (NEP) dan perjanjian damai Brest-Litovsk. Itu semua akibat kondisi material yang lagi-lagi memaksa. Maka itulah pentingnya sejarah untuk memahami revolusi, karena sejarah umat manusia adalah sejarah revolusi.

LEAVE A REPLY