Mengenang Kawan Bina Wuryanto: Kader Pelopor-Penggerak-Perubahan

Anwar “Sastro” Ma’ruf
Ketua Nasional Partai Rakyat Pekerja (PRP)

PakBinaAlmarhumSemangat juang yang tulus ikhlas tak pernah padam.

Siapakah Kawan Bina? Kawan almarhum Wuryanto atau yang akrab kita panggil Pak Bina atau Kawan Bina, adalah sosok aktivis buruh yang sederhana, tangguh, konsisten, disiplin, pekerja keras, rela berkorban baik tenaga, pikiran, harta-benda, hingga jiwanya.

Wuryanto, lahir 2 Agustus 1972 di desa Jagulan-Kalang Pedan, Klaten, Jawa Tengah. Anak ketiga dari lima bersaudara. Dia adalah anak laki-laki satu-satunya dari pasangan Bapak Harjo Sumarto dan Ibu Tuminah. Dua kakak Kawan Bina bernama Warsini dan Sri Harsini, sementara dua adiknya adalah Sri Wartini dan Sri Suyamtini.

Kawan Bina adalah lulusan SMA Negeri Karangdowo, Klaten. Setelah lulus SMA, Kawan Bina kursus komputer untuk program 1 tahun. Setelah itu, Kawan Bina ikut kakaknya merantau ke Tangerang dan bekerja di PT KMK. Beberapa tahun ngontrak bersama kakaknya. Lalu adiknya, Sri Wartini, datang menyusul ke Tangerang. Akhirnya Wuryanto ngontrak dengan temannya. Setelah kakaknya menikah dan pulang kampung, Wuryanto ngontrak bersama adiknya (Sri Wartini) di Nagrag. Sampai kemudian bisa membeli rumah dengan kredit program dari Jamsostek dan pindah menempati rumahnya di Perumahan Daun, masih berdua bersama adiknya hingga adiknya menikah dan tinggal bersama suaminya. Awal mula niat almarhum datang ke Tangerang adalah untuk mendaftar sekolah di Pendidikan Pelatihan Penerbangan (PLP) di Curug.

Pada tanggal 23 Januari 2006 Kawan Bina menikah dengan Mbak Susi. Mbak Susi bekerja sebagai perawat di Puskesmas Karangdowo, Klaten. Mereka pun tinggal terpisah, Pak Bina di Tangerang dan Mbak Susi di Klaten. Pasangan ini dikaruniai 2 orang anak laki-laki yang diberi nama Imam Nur Wicaksoso, lahir 11 Januari 2007, dan seorang anak perempuan bernama Zaimah Mayla Nuralam, lahir pada 24 Mei 2011. Sebuah keluarga yang luar biasa dan membanggakan. Meskipun mereka jarang bertemu, namun sangat harmonis dan bahagia.

Mbak Susi juga seorang istri dan ibu yang tangguh, mau mendukung dan merelakan suaminya untuk terus berjuang dalam menggapai cita-cita mulia mewujudkan dunia baru yang tanpa penindasan dan penghisapan, melalui organisasi FSBKU dimana almarhum ikut aktif merintis, membangun dan membesarkan.

Kawan Bina almarhum tak bisa lepas dari sejarah berdiri dan berkembangnya FSBKU. Dia menyandang nama Bina dimulai dari saat dia ditugaskan sebagai Koordinator Diklat PKU (Paguyuban Buruh Karya Utama). Sebelumnya, Kawan Bina adalah salah satu buruh yang aktif di Pokja Kota Bumi. Pokja ini adalah salah satu basis pengorganisiran komunitas dari PKU, selain Pokja Cikupa, Jatake atau Gajah Tunggal, Cikoneng, Pasar Kemis, Pondok Makmur, Karawaci, Batu Ceper, Kapuk dan lain-lain. Pada saat itu, Pokja Kota Bumi berkembang cukup pesat dengan terus terbentuknya kelompok-kelompok diskusi buruh dari berbagai perusahaan antara lain PT KMK, PT IMK, PT Album, PT Osaga Mas Utama, PT Rukun Tri Pilar, dan lain-lain.

Pokja merupakan salah satu strategi PKU dalam pengorganisiran dan penyadaran untuk kaum buruh dan komunitas, dimana anggota Pokja adalah kelompok-kelompok buruh yang bekerja di berbagai pabrik dengan tujuan untuk penyadaran hak-hak sebagai pekerja, bagaimana berjuang menuntut hak serta melakukan pembelaan atau advokasi jika terjadi masalah, sekaligus pemahaman tentang pentingnya persatuan dan solidaritas antar buruh, juga bagaimana mempersiapkan pembentukan serikat buruh yang sejati di tingkat perusahaan. Pada saat itu, masih ada larangan untuk membentuk serikat di luar SPSI, juga mayoritas kaum buruh hanya tahu bahwa serikat buruh yang ada hanyalah SPSI. Meskipun atas desakan internasional, sudah ada Permenaker No. 1/Men/1994 yang memberi celah untuk membentuk serikat buruh di tingkat perusahaan, namun terdapat syarat bahwa setelah 12 bulan serikat pekerja tingkat perusahaan tersebut terbentuk, diwajibkan bergabung dengan SPSI. Selain itu, pengawasan ketat dari militer dan pemerintah melalui Depnaker juga masih sangat kuat untuk melindungi perusahaan.

Pokja, selain berfungsi untuk kaum buruh juga berfungsi sebagai pusat kegiatan komunitas, tempat berkonsultasi berbagai persoalan di komunitas. Hal ini sekaligus memperkenalkan kerja-kerja sosial dan solidaritas pada masyarakat. Membangun budaya diskusi, kerja bakti, tanggap bencana khususnya banjir, uji coba pembangunan koperasi komunitas buruh dan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, yang sifatnya penyadaran dan penguatan terhadap masyarakat.

Pada saat Raker dan Penyegaran Pengurus (penggantian pengurus yang tidak aktif) PKU, Kawan Bina ditugaskan sebagai Koordinator Divisi Pendidikan dan Pelatihan. Selain lebih aktif melakukan pendampingan di hampir semua wilayah, Kawan Bina memiliki gaya yang unik dengan topi kulit dan tas kulit pak Guru Umar Bakri. Dari situ panggilan dia berubah, dari namanya Wuryanto menjadi Pak Bina. Dan memang saat itu, para aktivis PKU memiliki nama panggilan lain, seperti Gogon, Bajul, Timbul, Gobyos, Tomblok, Tepos, Sastro, dan lain-lain.

Kemauan untuk belajar, semangat untuk berbagi dan berjuang dari Kawan Bina (sepertinya ini panggilan hati) membuatnya sangat aktif di berbagai kegiatan organisasi, baik di dalam organisasi FSBKU maupun di jaringan, termasuk mendampingi diskusi atau kegiatan di berbagai Pokja. Karena keyakinannya bahwa untuk mewujudkan cita-cita sejati, yakni perubahan nasib kaum buruh, harus diperjuangkan secara terus menerus dan melalui organisasi politik yang berperspektif kelas pekerja, Kawan Bina juga bergabung dan aktif dalam organisasi politik yakni PRP. Dia tercatat sebagai anggota PRP Komite Kabupaten Tangerang.

Kegemaran Kawan Bina lainnya adalah membaca berbagai buku yang tentunya dilakukan dengan kesadaran untuk menambah pengetahuannya. Selain itu, Kawan Bina juga seorang muslim yang taat beribadah, shalat lima waktu tidak pernah dia tinggalkan, bahkan Kawan Bina juga fasih menjadi penceramah atau ustadz, serta toleran terhadap kawan yang mempunyai keyakinan yang berbeda.

Julukan lainnya buat Kawan Bina adalah “bendahara abadi.” Paska ditugaskan sebagai koordinator diklat, kawan Bina mendapat tugas sebagai bendahara. Hal ini berulang-ulang terjadi. Meskipun secara formal bendaharanya adalah orang lain, namun keuangan organisasi tetap di bawah tanggung jawabnya. Pada saat organisasi sedang krisis keuangan, Kawan Bina rela menggunakan uang pribadinya untuk kegiatan organisasi dan ketika hendak dikembalikan oleh organisasi, Kawan Bina meminta untuk diputihkan sebagai sumbangan pribadinya untuk organisasi.

Kawan Bina adalah seorang yang sangat ulet dan pekerja keras baik di tempat kerja maupun di organisasi. Namun seringkali kawan Bina lupa untuk menjaga kesehatannya, termasuk makan dan istirahat. Hal ini yang membuatnya beberapa kali harus dirawat di RS, yang paling parah adalah saat muntah darah akibat pembuluh darah di lambungnya pecah, hingga harus di-endoskopi dan “dilaminating”. Semangat Kawan Bina luar biasa, meskipun harus makan bubur sumsum selama lebih dari setahun dan larangan memakan beberapa jenis makanan, Kawan Bina tetap aktif menjalankan tugas-tugas organisasi, termasuk berbagai kegiatan aksi pun dia tidak pernah alfa. Bahkan dia mengambil tugas sebagai pemegang bendera. Dia tidak pernah minta ganti atau melepaskannya, maka dia juga mendapat julukan “sang pemegang bendera”.

Jabatan terakhir Kawan Bina adalah sebagai Sekum FSBKU yang dipilih pada Kongres ke-5 (Lima) tahun 2013 di Serang, Banten. Aktivitas dan tanggung jawab sebagai Sekum dia emban dengan segenap tenaga, pikiran dan rasa. Dia mulai jarang pulang ke rumahnya di perumahan Daun. Istirahatnya sangat kurang di tahun-tahun terakhir, dan berbagai pekerjaan yang macet atau tidak dijalankan oleh petugasnya, dia pegang juga. Bukan karena ingin mendominasi, tetapi lebih karena tidak enak, maka dia sering juga diolok-olok sebagai “pemborong pekerjaan.”

Ya demikianlah selayang pandang tentang kawan, sahabat, saudara, Kamerad Bina Wuryanto yang sangat membanggakan. Dia layak untuk kita junjung tinggi, kita hormati, sebagai kader maju penggerak-pelopor-perubahan. Tentu berbagai organisasi mulai dari SBTP PT KMK, FSBKU, KSN, PRP, dan KPRI akan bangga memiliki kader seperti Kawan Bina.

Tangerang, 04 September 2014

1 COMMENT

  1. Pulangnya sang Penggerak

    Dalam gelap Engkau datang
    Membawa cahaya terangi langkah kita
    Di lingkaran Engkau setia
    Bersama bergerak dan tak pernah lelah Menemani
    Hari ini
    Kau telah pergi Titipkan pesan pada kami
    Jadilah pelita Seperti matahari Yang setia dalam memberi
    Menyinari Dan menjaga Perjuangan

    Selamat jalan Kawan juang
    Sang pelopor penggerak perubahan
    (Tangerang 060914)

LEAVE A REPLY