Martani: “Partai Politik Lain Hanya Memanfaatkan Buruh!”

Roma
Sekretaris PRP Kota Depok

Martani adalah seorang buruh PT Keramindo Megah Pertiwi di Balaraja, Tangerang. Selain menjadi anggota Partai Rakyat Pekerja (PRP), ia adalah anggota serikat buruh SPSI KEP di pabriknya. Namun sudah sejak tahun 2008 serikatnya itu vakum. Kegagalan serikat dalam perundingan PKB di pabrik  membuat pengurusnya mengundurkan diri. Hingga saat ini kondisi serikatnya masih sama, tanpa pengurus dan vakum. “Itu merupakan kegagalan dalam berserikat, serikat, akhirnya jadi momok yang menakutkan bagi kawan-kawan sendiri”, tandas Martani mengomentari serikat di pabriknya. Ketika ditanya kenapa hal itu bisa terjadi, ia mengatakan penyebabnya adalah karena tidak adanya pendidikan di serikatnya itu. Akibatnya, anggota tidak terdidik dan buta terhadap aturan ketenagakerjaan. “Ketika diusulkan untuk membuat pendidikan, dari pengurus tidak ada tindak lanjut. Malah mengundurkan diri”, sambungnya.

Apa yang terjadi di pabriknya bukan akhir dari segalanya bagi Martani. Hal itu justru menjadi arus balik yang membawanya keluar dari keadaannya yang lama. Menurutnya, hal yang dialaminya sekarang hanya bisa diatasi dengan belajar, “karena kesimpulanku anggota tidak terdidik, maka aku berpikir bagaimana agar kawan-kawan dan aku bisa belajar. Karena serikat tidak merespon, maka aku mencari-cari sendiri”. Setelah mencari-cari kontak sana sini, akhirnya Martani menemukan situs PRP di Internet, dan kemudian ia mengirim email ke PRP, “Terus aku kirim email ke PRP, karena menurutku (PRP) bagus untuk belajar, aku menanyakan apakah ada PRP di kabupaten Tangerang. Kemudian aku dihubungkan ke kawan Agus dari PRP Kabupaten Tangerang”

Selanjutnya, Martani dikenalkan dengan Federasi Serikat Buruh Karya Utama (FSBKU) oleh kawan Agus dari PRP Tangerang, “Di FSBKU aku ikut kegiatan belajar yang namanya sekolah malam,” ungkap Martani. Sekolah malam adalah salah satu kegiatan pendidikan yang diadakan oleh FSBKU. Materi yang diajarkan tidak hanya tentang keserikatburuhan atau aturan ketenagakerjaan saja seperti pada umumnya di serikat lain. Tetapi, ada pendidikan ekonomi politik, filsafat, dan sejarah gerakan buruh di Indonesia. “Dari sini pikiran aku mulai terbuka, ternyata urusan serikat itu bukan hanya soal anggota, pengurus, dan urusan di pabrik saja, tapi berkaitan juga dengan negara. Sistem kerja kontrak dan outsourcing itu jelas-jelas negara yang bikin, juga politik upah murah yang jelas berpihak pada kaum modal pengusaha. Dengan demikian pada tahun 2009, aku memutuskan bergabung dengan PRP”, kata Martani. Singkatnya, menurut Martani, kondisi buruk yang dialami buruh sekarang disebabkan oleh negara melalui kebijakannya yang anti rakyat pekerja.

Pendidikan politik yang diberikan PRP, diakui mampu membuka pikirannya sehingga menjadi lebih luas, “Aku sebagai buruh kini tidak hanya berpandangan tentang masalah di pabrik saja, tetapi menjadi lebih luas lagi. Misalnya buruh dan keluarganya itu butuh kesehatan, anak-anak butuh pendidikan, yang semuanya itu kini dijauhkan dari buruh oleh negara melalui kebijakan-kebijakan pemerintah yang komersil,” tandas Martani. Setelah mendapatkan materi analisa kelas, kini dia meyakini bahwa masyarakat sesungguhnya terbagi ke dalam dua kelas atau kelompok, yakni kelas penindas dan kelas yang ditindas. Kelas penindas yang kini berkuasa memperoleh kekuasaan dan kekayaan dengan cara menghisap kelas yang ditindas, tanpa perlu bekerja keras.

Kegiatan-kegiatan lain yang ada di PRP Komite Kabupaten Tangerang adalah diskusi dan aksi. Diskusi yang diadakan, sangat membuka ruang bagi peserta, termasuk Martani, untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. Dengan demikian, diakui olehnya bahwa sekarang dia mampu berbicara di dalam forum atau di depan umum, padahal sebelumnya ia suka gagap berbicara di depan umum. Ketika mengadakan aksi/demonstrasi, Martani dilibatkan dalam proses rapat-rapat dan persiapan teknis, sehingga dari yang tadinya hanya menjadi peserta saja, kini dia mampu menjadi perangkat aksi. “Aku merasa ada peningkatan kualitas, beda ketika sebelum bersama kawan-kawan di PRP,” demikian pejelasannya.

Materi filsafat yang diberikan ketika di pendidikan sekolah malam, diakui Martani, mampu membuat dia berpikir lebih kritis, bukan hanya dalam hal politik dan perburuhan, melainkan juga ketika bermasyarakat dan dalam keluarga. “Meski masih terus belajar, kini aku mampu lebih kritis dalam menganalisa sebuah masalah di masyarakat maupun di keluarga. Melihat dulu kontradiksi-kontradiksi di dalamnya, tidak lagi langsung menyimpulkan,” kata Martani. Menurutnya hal itu mampu mengesampingkan emosi yang berdampak buruk.

Menurut Martani, partai-partai politik lain, khususnya partai besar yang sedang berkuasa hanya memikirkan kepentingan elit-elit politik di lingkaran mereka sendiri, sekaligus melanggengkan dominasi kelas penindas yang berkuasa. Sekalipun ada di antara partai-partai borjuis tersebut yang seolah-olah membela buruh, itu hanya pencitraan saja. Sesungguhnya mereka tetap anti buruh. “Partai-partai politik lain hanya memanfaatkan buruh, menggunakan massa buruh untuk kepentingan politik kelompok mereka. Ketika aksi menuntut kenaikan UMK, apakah ada di antara parpol tersebut yang ikut aksi bersama buruh? Tidak ada sama sekali.” Baginya, hal itulah yang membedakan parpol-parpol borjuis dengan PRP. Di Kabupaten Tangerang, PRP bersama serikat-serikat buruh dan organisasi rakyat sektor lainnya menginisiasi terbentuknya Aliansi Rakyat Tangerang Raya (ALTAR), aliansi yang mendorong aksi kenaikan UMK 2013 di kabupaten Tangerang pada akhir tahun 2012 lalu.

Ia juga mempertegas, “Yang jelas-jelas membedakan PRP dengan parpol lainnya adalah mendorong kelas pekerja untuk menjadi pimpinan dan mengontrol penuh kekuasaan, dan menggantikan kapitalis penindas buruh seperti sekarang.” Pernyataan tersebut juga sesuai dengan harapannya bergabung dalam PRP, yakni berjuang untuk mengakhiri sistem yang menindas, agar kesejahteraan yang sejati bisa dicapai oleh buruh dan rakyat pekerja pada umumnya,  bukan kesejahteraan-kesejahteraan semu seperti yang sering dilontarkan oleh pemerintah yang berkuasa.

Kini, menurutnya, yang harus dia lakukan sebagai buruh adalah, mendorong kembalinya organisasi/serikat buruh di pabriknya. Semua itu akan diawali dengan menanamkan kesadaran tentang pentingnya berorganisasi, bukan hanya di tempat kerja, tetapi juga di masyarakat. Selain itu, Martani akan mendorong dan menyadarkan pentingnya pendidikan-pendidikan yang menjelaskan kondisi masyarakat saat ini di bawah sistem yang menindas. Sebab, menurutnya, kelas penindas yang berkuasa akan terus memperbaharui sekrup-sekrup dan mesin penindasan mereka melalui sistem pendidikan yang sekarang.

3 COMMENTS

  1. seharusnya ada partai pekerja yang bisa ikut pemilu, tahun 2012 pekerja telah menunjukan taringnya lewat demo2 menuntut upah layak dan hapus outsourching.. masa yang banyak sangat disayangkan jika hanya dimanfaatkan oleh partai yang isinya pro pengusaha

  2. kapankah buruh bersatu yg betul betul bersatu dalam satu wadah besar dan tidak terpecah seperti layaknya partai politik ,satu bendera buruh pekerja indonesia ,sehingga mudah membentuk pula satu partai buruh yg betul betul bersatu.

  3.  maksudnya bagus tapi kok sekelas partai pekerja yang tentunya secara kapasitas harusnya lebih maju tapi tulisannya kaya gini, hmm kaya tulisan anak SD. hadewwwww

LEAVE A REPLY