Martin Suryajaya
Anggota Komunitas Marx

Teori nilai adalah pokok kunci dalam sejarah panjang perdebatan ekonomi-politik Marxian. Persoalan ini sudah diperdebatkan bahkan sejak terbitnya buku Kapital jilid I oleh kritikus seperti Adolph Wagner. Terbitnya Kapital jilid III juga memicu perdebatan lebih lanjut tentang teori nilai Marx yang diawali dengan kritik Eugen von Böhm-Bawek. Perdebatan tentangnya mewarnai sejarah perkembangan ekonomi Marxian abad ke-20 dengan deretan kontributor ternama seperti Rudolf Hilferding, Isaak Illich Rubin, Maurice Dobb, Paul Sweezy dan sebagainya. Perdebatan ini berjalan nyaris tanpa putus sampai hari ini—tepatnya, satu setengah abad sejak Kapital terbit—dengan para ekonom Marxis di awal abad ke-21 seperti, antara lain, Guglielmo Carchedi, Duncan Foley, Gerard Duménil, Andrew Kliman dan Simon Mohun. Kendati konsep nilai itu sendiri tidak secara langsung menjelaskan konjungtur aktual kapitalisme, namun konsep tersebut menjadi ‘fondasi’ teoretik dari totalitas kajian ekonomi-politik Marx.[1]  Di bawah ini, kita akan mengkaji posisi Marx berkenaan dengan teori nilai-kerja, mulai dari asumsi dasar yang digunakan Marx hingga pembuktiannya atas aktualitas teori tersebut.

Kondisi Hipotetik Analisis: Komoditas Dijual Sesuai dengan Nilainya

Kita mulai dari persoalan metodologis. Untuk menjelaskan teori Marx tentang nilai, kita akan mulai dari makalahnya di tahun 1865, Value, Price and Profit (dalam edisi Moskow: Wages, Price and Profit). Kita akan berfokus pada hubungan antara nilai dan harga. Dalam teks itu dikatakan bahwa pada dasarnya, harga “tidak lain ketimbang ekspresi moneter dari nilai.”[2]  Bagi Marx, ekspresi atau bentuk penampakan (Erscheinungsform) dari sesuatu tidak identik dengan sesuatu itu sendiri. Marx, sebagaimana Smith dan Ricardo, mengakui perbedaan antara nilai dan harga. Nilai sebuah komoditas adalah jumlah waktu kerja sosial yang dicurahkan untuk memproduksinya. Sementara harganya (atau ‘harga pasar/aktual’ dalam kosakata Klasik) adalah proporsi permintaan dan penawaran terhadap komoditas terkait.

Kemudian Marx juga sepakat dengan Smith yang mengatakan bahwa ‘harga alamiah’ suatu komoditas (‘nilai’ dalam kosakata Marx, kendati minus sewa dan laba) adalah pusat gravitasi bagi fluktuasi harga pasar. Marx sendiri mengakui adanya fluktuasi harga yang disebabkan oleh disproporsi antara penawaran dan permintaan komoditas. Namun fluktuasi yang terjadi sehari-hari ini sejatinya menyembunyikan struktur dasar yang melandasinya. Dengan berpijak pada penelitian Samuel Tooke dalam bukunya, History of Prices, Marx menunjukkan bahwa harga pasar nyatanya hanyalah harga pada jangka pendek, sementara dalam jangka panjang harga pasar cenderung mengalami ekuilibrasi (penghapusan disproporsi supply-demand) sehingga berkisar di sekitar nilainya.[3] Argumen Marx kemudian adalah apabila kita menggunakan asumsi jangka panjang yang lebih struktural itu, maka penjelasan tentang laba yang berbasis pada argumen tentang penjualan komoditas di atas nilainya mesti ditolak. Argumen bahwa laba diperoleh karena pedagang menjual komoditas di atas nilainya ini ditolak karena argumen itu bergantung pada persoalan tipu-menipu—persoalan etis yang serba relatif dan kontinjen. Kita tidak bisa menggunakan sesuatu yang relatif untuk mengukur yang relatif.

Berdasarkan pertimbangan itulah Marx kemudian menyatakan bahwa asumsi bahwa komoditas dijual sesuai dengan nilainya mesti kita pegang untuk menemukan hukum dasar tentang relasi antara nilai dan harga. Marx menulis:

Untuk menjelaskan hakikat umum laba, kau harus berangkat dari teorema bahwa, pada tingkat rata-rata, komoditas-komoditas dijual pada nilai aslinya dan bahwa laba diturunkan dari penjualan komoditas-komoditas itu pada nilainya, yakni dalam proporsi terhadap jumlah kerja yang terealisasi di dalamnya. Jika kau tidak dapat menjelaskan laba dengan pengandaian ini, maka kau tidak akan bisa menjelaskannya sama sekali. Ini nampak seperti paradoks dan berlawanan dengan pengamatan sehari-hari. Adalah juga paradoks bahwa bumi berputar mengelilingi matahari dan bahwa air mengandung dua gas yang mudah terbakar [hidrogen dan oksigen]. Kebenaran ilmiah selalu merupakan paradoks apabila dilihat dari kerangka pengalaman sehari-hari yang hanya menangkap penampakan semu benda-benda.[4]

Sejalan dengan pengertian ini, Marx menyatakan asumsi dasar yang akan ia gunakan dalam Kapital jilid I:

Jika harga secara aktual berbeda dari nilai, kita mesti pertama-tama mereduksi harga pada nilai, dengan kata lain, menangani perbedaan itu sebagai sesuatu yang aksidental agar fenomenanya dapat diamati dalam kemurniannya, dan pengamatan kita tidak dihambat oleh gangguan yang tak ada hubungannya dengan proses yang sedang dikaji.[5]

Ia akan berpegang pada asumsi ini dalam Kapital jilid I dan II. Asumsi itu baru akan ditinggalkan di Kapital jilid III ketika Marx mau menganalisis situasi aktual dengan melibatkan faktor penawaran dan permintaan ke dalam analisisnya. Ini akan kita lihat nanti ketika membicarakan ‘problem transformasi’.

Apa fungsi asumsi ‘Hukum Nilai’ ini? Pertama, di sana secara tersirat ada upaya Marx untuk menyelam ke balik dunia fenomena (dunia fluktuasi harga pasar yang berubah-ubah setiap detik) untuk menemukan hukum dasar yang mengatur fenomena itu. Hukum dasar ini menyatakan syarat minimal bagi keberadaan tata ekonomi kapitalis, yakni bahwa komoditas dijual sesuai dengan nilainya. Kedua, melalui titik tolak ‘Hukum Nilai’ Marx akan leluasa membaca dan mengkritik modus produksi kapitalis tanpa menjatuhkan putusan-putusan moral atasnya. Dengan memulai analisisnya dengan asumsi bahwa komoditas dijual sesuai nilainya, Marx mengecualikan semua perkara yang timbul berkenaan dengan problem moralitas seperti ketamakan (menjual di atas nilai komoditas) dan kekejian (buruh tidak dibayar sesuai hasil yang diproduksinya). Ketiga, berangkat dari asumsi tersebut Marx dapat menjalankan kritik imanen atas ekonomi-politik—kritik dari titik pijak ekonomi borjuis itu sendiri—dan dengan itu membuktikan kontradiksi sistem berdasarkan kriteria yang internal terhadap sistem. Di balik ketiga fungsi ini, terdapat sebuah pengertian mendasar tentang apa yang dimengerti sebagai ekonomi dalam totalitasnya.

Materialisme Historis dalam Ekonomi: Produksi Mengkondisikan Sirkulasi

Dari cara Marx memilih pendekatan teori nilai-kerja (ketimbang teori nilai-utilitas kaum merkantilis dan Say) dan memilih asumsi ‘Hukum Nilai’ sebagai prakondisi analisis dasar, kita dapat melihat bahwa Marx sedang mengajukan sebuah posisi pijak dasar dalam memandang totalitas ekonomi-politik. Posisi pijak dasar itu adalah produksi. Dalam ekonomi-politik dikenal adanya pembagian momen dari totalitas realitas ekonomi ke dalam empat momen besar: produksi, distribusi, sirkulasi dan konsumsi. Momen produksi mencakup keseluruhan proses pembuatan barang-barang, momen distribusi berkenaan dengan pembagian pendapatan (atau alokasi barang hasil produksi) dalam kelas-kelas sosial, sirkulasi merupakan momen pertukaran riil barang-barang dan, terakhir, momen konsumsi memuat proses subjektif pemakaian barang-barang hasil produksi tersebut. Kekhasan ekonomi-politik Klasik terletak dalam pandangannya tentang hierarki prioritas di antara keempat momen itu: produksi menentukan distribusi menentukan sirkulasi menentukan konsumsi. Pandangan ini sepenuhnya berkebalikan dengan ekonomi Neoklasik yang berangkat dari konsumsi dan sirkulasi untuk menjelaskan produksi dan distribusi.

Berdasarkan posisi pijak Klasik, oleh karena produksi adalah jantung ekonomi, maka analisis selalu dimulai dengan analisis pembagian kerja dan analisis kelas. Ini terlihat jelas dalam Smith yang mengawali Wealth of Nations dengan teori pembagian kerja dan distribusi pendapatan ke dalam tiga kelas (pekerja, tuan tanah, kapitalis). Akibatnya, pada aras metodologisnya, ekonomi-politik Klasik selalu berangkat dengan holisme metodologis. Keseluruhan (totalitas) menjelaskan bagian-bagian: adanya pembagian kerja dan stratifikasi kelas menjelaskan individu, baik itu personal maupun badan usaha individual. Dengan kata lain, supply menentukan demand. Berkebalikan dengan itu, oleh karena ekonomi Neoklasik berangkat dengan proses sirkulasi dan konsumsi, maka analisis selalu dimulai dengan perilaku individu dan preferensinya. William Stanley Jevons, salah seorang pendiri ekonomi Neoklasik, pernah menyatakan bahwa “teori ekonomi mesti diawali dengan teori yang benar tentang konsumsi.”[6] Oleh karenanya, ekonomi Neoklasik selalu menganut individualisme metodologis. Bagian-bagian menjelaskan keseluruhan: analisis tentang individu dan hasratnya menjadi microfoundation untuk menjelaskan realitas ekonomi dalam totalitasnya. Dengan kata lain, demand menentukan supply.

Di manakah posisi Marx? Menurut tafsiran tradisional (Paul Sweezy, Maurice Dobb, Ronald Meek), Marx berada pada jajaran ekonomi-politik Klasik. Meek, misalnya, mencatat bahwa dalam labour theory of value itu sendiri sudah terdapat materialisme historis secara implisit.[7] Mengatakan bahwa cara masyarakat berproduksi mengkondisikan cara masyarakat itu berpikir adalah sama dengan mengatakan bahwa cara masyarakat berproduksi mengkondisikan cara masyarakat itu  bertukar dan mengkonsumsi. Dalam Poverty of Philosophy, Marx menyatakan hal ini:

Pada prinsipnya, tidak ada pertukaran produk-produk—yang ada ialah pertukaran kerja yang berkooperasi dalam produksi. Modus pertukaran produk bergantung pada modus pertukaran tenaga produktif. Secara umum, bentuk pertukaran produk berkorespondensi dengan bentuk produksi. Ubahlah bentuk produksinya dan bentuk pertukaran akan berubah sebagai akibatnya. Maka dalam sejarah masyarakat kita melihat bahwa modus pertukaran produk diregulasi oleh modus produksinya. Pertukaran individual berkorespondensi juga terhadap modus produksi yang tertentu yang pada dirinya berkorespondensi dengan antagonisme kelas. Karenanya, tidak ada pertukaran individual tanpa antagonisme kelas.[8]

Sentralitas produksi ini juga mengemuka dalam naskah draf pengantar Kapital yang kemudian diterbitkan dalam Grundrisse:

Adalah suatu opini yang diterima orang banyak bahwa pada periode tertentu orang hidup dari penjarahan semata. Namun, agar penjarahan dimungkinkan, diperlukan adanya sesuatu untuk dijarah—dan karenanya produksi. Dan modus penjarahan itu sendiri pada gilirannya ditentukan oleh modus produksi.[9]

Tidak ada sirkulasi kalau tidak ada sesuatu yang mau disirkulasikan. Dan sesuatu itu dihasilkan dari aras produksi. Oleh karena itu, kondisi-kondisi produksi lah yang membentuk ruang gerak bagi kemungkinan sekaligus keterbatasan sirkulasi. Dalam draf yang sama Marx juga menyatakan bahwa produksi adalah “titik berangkat yang sesungguhnya” dari realitas ekonomi sementara konsumsi adalah “titik berangkat bagi realisasi”-nya.[10] Dengan itu terlihat bahwa nilai muncul dari aras produksi dan tidak tiba-tiba saja ada di momen sirkulasi atau dikreasikan dalam imajinasi konsumen. Kendati begitu, realisasi nilai memang ikut ditentukan oleh sirkulasi dan konsumsi. Kesimpulannya, Marx memahami keempat momen ekonomi itu (produksi, distribusi, sirkulasi, konsumsi) sebagai sebuah kesatuan yang terpimpin oleh produksi.[11]

Distingsi Nilai dalam Kapital Bab I [12]

Sesudah memahami kerangka metodologis Marx, kini kita akan mulai membiasakan diri dengan kategori-kategori dasar yang dipakai Marx berkenaan dengan nilai. Das Kapital jilid I dibuka Marx dengan kategori ‘komoditas’. Kesejahteraan dalam modus produksi kapitalis mengemuka sebagai timbunan komoditas. Analisis ekonomi Marx berangkat dari pembedahan atas penampakan ini. Marx membedah komoditas untuk menemukan elemen dasarnya. Elemen yang pertama adalah nilai-pakai (use-value), yaitu kegunaan komoditas yang dikondisikan oleh karakter materialnya. Air bersih memiliki nilai-pakai karena ia dapat mencukupi kebutuhan untuk minum, kayu bakar memiliki nilai-pakai karena ia dapat mencukup kebutuhan untuk menghangatkan badan, dan seterusnya. Elemen yang kedua adalah nilai-tukar (exchange-value), yakni nilai sebuah komoditas dalam relasi pertukarannya dengan komoditas lain. Sekarung beras memiliki nilai-tukar yang setara dengan lima karton rokok, misalnya. Marx bertanya: apa arti persamaan ini? Menyatakan bahwa A = B berarti menyatakan A = C dan B = C. Artinya, mesti ada ‘elemen bersama’ (common element) yang menjadi basis untuk menyatakan kesamaan di antara keduanya.[13] Elemen bersama itu—inilah elemen ketiga komoditas—adalah nilai (value): sekarung beras dan lima karton rokok memiliki nilai yang sama. Apabila nilai-pakai ditentukan oleh karakter fisik komoditas, bagaimana nilai ditentukan?

Sekarung beras dan lima karton rokok sama-sama merupakan pencurahan sejumlah kerja tertentu. Kerja inilah yang membuat kedua barang itu dapat diperbandingkan: sementara, misalnya, produksi yang satu memakan waktu x jam kerja, produksi yang lain memakan waktu y jam kerja. Dengan kata lain, kerja menentukan nilai sebuah komoditas. Inilah posisi dasar teori nilai-kerja (labour theory of value) yang direkonstruksi Marx dari ekonomi Klasik. Kemudian Marx menunjukkan adanya dua jenis kerja yang mesti dibedakan. Yang pertama adalah kerja yang menciptakan nilai-pakai—ini disebut kerja konkrit (concrete labour). Kerja konkrit yang satu berbeda secara kualitatif dari kerja konkrit yang lain. Kerja memancing ikan berbeda dari kerja menyamak kulit karena keduanya menghasilkan kegunaan yang berbeda. Yang kedua adalah kerja yang menciptakan nilai—inilah yang disebut kerja abstrak (abstract labour). Berbagai macam kerja yang tergolong dalam kategori ini tidak berbeda secara kualitatif satu sama lain, melainkan hanya berbeda secara kuantitatif. Diabstraksikan dari kegunaan yang dihasilkannya, kerja memancing ikan dan kerja menyamak kulit hanyalah berbeda dari segi waktu kerja yang dicurahkan.

Nilai-tukar adalah ‘bentuk tampilan’ (form of appearance) dari nilai. Proses tampilnya nilai-tukar inilah yang dianalisis Marx dalam seksi ‘bentuk-nilai’ (value-form). Dalam bentuknya yang sederhana atau elementer, relasi nilai dapat diungkapkan dalam persamaan sederhana seperti berikut ini:

2 meter linen = 1 mantel,
atau diformalkan sebagai:
x komoditas A = y komoditas B

Marx kemudian menganalisis masing-masing ruas dari persamaan itu. Ruas sebelah kiri disebut sebagai bentuk relatif nilai karena nilai komoditas yang bersangkutan ditentukan oleh relasinya dengan nilai-pakai komoditas yang lain. Sementara ruas sebelah kanan disebut sebagai bentuk ekuivalen nilai karena melaluinyalah nilai suatu komoditas lain (pada ruas sebelah kiri) mendapatkan kesepadanannya. Dalam ungkapan Marx: “Linen mengekspresikan nilainya dalam mantel; mantel berperan sebagai materi yang melaluinya nilai tersebut diekspresikan.”[14] Apakah di sini Marx berbicara tentang penentuan nilai berdasarkan relasi dengan nilai-pakai komoditas lain? Tidak. Apa yang dibicarakan Marx di sini ialah penentuan nilai-tukar berdasarkan relasi antara nilai sebuah komoditas dengan nilai-pakai komoditas lain.[15] (Di sinilah letak pentingnya distingsi yang jelas antara konsep nilai dan nilai-tukar.) Nilai-tukar, berdasarkan pengertian ini, adalah proporsi antara nilai sebuah komoditas yang diperbandingkan dengan nilai-pakai komoditas lain. Ini dapat kita gambarkan melalui diagram berikut.

Nilai-tukar linen terhadap mantel mengemuka ketika sejumlah jam kerja untuk memproduksi linen diekspresikan dalam kuantitas tertentu mantel. Artinya, nilai-tukar identik dengan ongkos produksi sebuah barang yang dibahasakan dalam sejumlah barang lain. Nilai-tukar adalah ekspresi nilai suatu komoditas (bentuk relatif) dalam nilai-pakai komoditas lain (bentuk ekuivalen). Dalam arti inilah nilai-tukar disebut sebagai ‘bentuk tampilan’ dari nilai.

Dari penjelasan di muka kita saksikan bagaimana Marx mampu mengargumentasikan kemungkinan bagi pertukaran dari titik pijak produksi semata—dengan kata lain, tanpa bertumpu pada argumen tentang permintaan dan penawaran pasar. Apa yang belum nampak bagi kita adalah asal-usul laba. Apabila, konsisten dengan asumsi Marx, komoditas dipertukarkan sesuai dengan nilainya sehingga pertukaran tidak menghasilkan laba lalu dari mana asal-usul laba? Untuk menjawab ini kita mesti mempelajari analisis Marx tentang kerja.

Asal-Usul Nilai-Lebih

Ada dua komponen utama dalam proses produksi, yakni bahan dasar (termasuk sarana produksi) dan tenaga kerja.[16] Kapitalis membeli keduanya untuk memproduksi komoditas. Sekarang andaikan bahwa sang kapitalis membelinya pada tingkat harga ekuilibrium dan menjual hasilnya juga pada tingkat harga ekuilibrium. Kalau dari penjualan ini sang kapitalis memperoleh laba, maka kita pantas bertanya: dari mana asal mula laba ini? Tidak mungkin dari bahan dasar dan alat produksi sejauh keduanya bukan merupakan benda gaib yang secara misterius menelurkan nilai. Nilai keduanya (dipotong penyusutan) hanya akan ditransfer menjadi nilai output komoditas. Kalau begitu, apakah laba itu muncul dari ranah sirkulasi (misalnya, karena kecerdasan sang kapitalis dalam mencari peluang pasar)? Kalau laba sepenuhnya dihasilkan dalam sirkulasi, maka setiap kapitalis bisa saja menjual komoditasnya dengan harga setinggi mungkin sehingga akibatnya tak ada seorang kapitalis pun yang mampu membeli bahan dasar yang ia perlukan sendiri. Maka satu-satunya kemungkinan adalah tenaga kerja.

Pertanyaannya: apabila kerja adalah sumber nilai, berapakah nilai dari sumber nilai ini? Melampaui ekonom-politik Klasik, Marx membuat distingsi penting antara kerja dan tenaga kerja. Dalam modus produksi kapitalis, pekerja tidak menjual kerjanya pada sang pemodal. Artinya, si pekerja tidak menjual keseluruhan hidupnya seperti seorang budak. Apa yang dibeli oleh kapitalis adalah ‘kapasitas kerja’-nya (Arbeitsvermörgen) atau ‘tenaga kerja’-nya (Arbeitskraft).[17] Yang dijual oleh pekerja adalah kemampuannya untuk bekerja selama jangka waktu tertentu. Di sini Marx menunjukkan letak kunci permasalahannya: adanya diskrepansi antara nilai-pakai tenaga kerja dan nilainya.[18] Nilai-pakai tenaga kerja adalah sejumlah nilai produk yang dapat dihasilkannya. Sementara nilai tenaga kerja adalah sejumlah nilai yang proporsional terhadap syarat-syarat produksinya (seperti bahan pokok dan pelatihan) dan dibayarkan sebagai upah. Andaikan hasil kerja dan upah pekerja diekspresikan dalam satu komoditas yang sama, misalnya jagung. Apabila nilai-pakai dan nilai tenaga kerja diekspresikan dalam sejumlah jagung, maka kita bisa segera melihat selisih jumlah dari keduanya. Dalam sehari seorang pekerja dapat menghasilkan komoditas yang setara dengan 20 jagung. Sementara dalam sehari juga si pekerja hanya membutuhkan komoditas senilai 10 jagung untuk mereproduksi tenaga kerjanya. Oleh karena 10 jagung itu sudah memenuhi syarat produksi dari adanya tenaga kerja dalam satu hari, maka upahnya adalah 10 jagung. Dengan kata lain, nilai tenaga kerja adalah 10 jagung. Di sini kita dapat lihat selisih nilai-pakai tenaga kerja dari nilainya, yakni selisih 10 jagung yang diperoleh dari pengurangan 10 jagung yang diperlukan untuk hidupnya sehari terhadap 20 jagung yang dihasilkannya per hari. Selisih 10 jagung itulah laba yang masuk ke gudang kapitalis. Itulah nilai-lebih.

Derivasi Nilai ke dalam Kapital dan Laba [19]

Setelah mengerti sumber nilai-lebih pada jantung produksi, kini kita akan mempelajari bagaimana nilai sejatinya menstruktur totalitas ekonomi kapitalis, bagaimana kategori nilai menjelaskan keseluruhan kategori yang bermain dalam kapitalisme. Kita akan mengikuti rekonstruksi Paul Sweezy dalam The Theory of Capitalist Development (1942). Dalam sistem produksi komoditas yang sederhana (simple commodity production), surplus komoditas yang tidak berguna bagi pemiliknya dijual agar dapat membeli komoditas yang berguna. Ini dapat digambarkan dengan kumparan Ka – U – Kb (komoditas a dijual dan uang hasil penjualan itu digunakan untuk membeli komoditas b). Masing-masing ujung dari kumparan ini berbeda secara kualitatif. Dalam modus produksi kapitalis, yang terjadi tidak demikian. Uang digunakan untuk membeli komoditas tertentu yang dapat menghasilkan uang lebih banyak. Ini digambarkan dengan kumparan U – K – U’. Berbeda dengan kumparan pertama, masing-masing ujung dari kumparan ini hanya berbeda secara kuantitatif. Dalam modus produksi kapitalis, kumparan ini dapat diuraikan sebagai berikut:

Artinya, kapitalis membelanjakan uangnya untuk membeli sarana produksi (SP) termasuk bahan baku dan tenaga kerja (TK) untuk menghasilkan komoditas yang dapat dijual dan merealisasikan laba. Proses peningkatan uang inilah (kumparan U – K – U’) yang disebut Marx sebagai formula umum kapital. U’ adalah kapital yang dapat digunakan untuk memperbaharui proses ini dan selisih uang pada akhir proses ini, yakni U’ – U atau ΔU, adalah nilai-lebihnya.

Berdasarkan pengertian tentang kumparan kapital ini, kita dapat memecah kapital ke dalam dua komponen, yakni kapital konstan (constant capital) atau kapital dalam rupa sarana produksi dan kapital variabel (variable capital) atau kapital dalam wujud tenaga kerja (upah). Nilai-lebih, seperti sudah kita lihat, mengemuka lewat kapital variabel. Ketiganya—kapital konstan, kapital variabel dan nilai-lebih—mengkonstitusikan nilai total dari komoditas yang diproduksi. Marx merumuskan nilai total sebuah komoditas dalam formula sederhana ini:

k + v + s = t

Marx untuk menghitung nilai komoditas apapun. Sweezy menyatakan bahwa formula ini dapat digunakan untuk menghitung pendapatan nasional. Apabila huruf kapital K dan V masing-masing menandai agregat kapital konstan dan agregat kapital variabel, maka apa yang dimaksud dengan ‘pendapatan nasional bruto’ (gross national income)—atau nilai total komoditas yang dihasilkan oleh warga negara dalam jangka waktu tertentu—sebenarnya dapat dirumuskan sebagai V + S + nilai susut dari K. Sementara ‘pendapatan nasional neto’ (net national income)—atau jumlah pendapatan seluruh warga negara—sebenarnya bisa dirumuskan sebagai V + S.[20]

Rumusan dasar di muka dapat diderivasikan ke dalam beberapa rumusan lain. Yang pertama adalah rumus ‘tingkat nilai-lebih’ (rate of surplus value). Yang dimaksud dengan tingkat nilai-lebih adalah rasio atau proporsi antara nilai-lebih dan kapital variabel yang memproduksi nilai-lebih tersebut. Kalau tingkat nilai-lebih dinotasikan dengan s’, maka rumusannya adalah sebagai berikut.

Tingkat nilai-lebih ini adalah nama lain dari ‘tingkat eksploitasi’ (rate of exploitation). Alasannya karena tingkat ini juga menggambarkan proporsi pengambilan nilai-lebih yang diproduksi oleh pekerja. Contohnya, apabila nilai tenaga kerja (upahnya) adalah setara dengan nilai enam jam kerja dan nilai-lebih yang dihasilkannya setara dengan dua belas jam kerja maka tingkat eksploitasinya (12 / 6 x 100%) adalah 200%.

Rumusan derivat kedua adalah apa yang disebut Marx sebagai ‘komposisi organik kapital’ (organic composition of capital). Yang hendak dinyatakan dengan ini adalah proporsi antara kapital konstan terhadap total kapital. Apabila komposisi organik ini kita notasikan dengan o, maka rumusnya demikian.

Rumusan ini merefleksikan tingkat penggunaan teknologi (permesinan) dalam proses produksi. Sejauh kapital konstan adalah hasil terdahulu dari kapital variabel (mesin merupakan hasil dari tenaga kerja terdahulu), maka kapital konstan ini disebut Marx sebagai ‘kerja yang mati’ (dead labour) berkebalikan dengan kapital variabel yang disebut sebagai ‘kerja yang hidup’ (living labour). Komposisi organik kapital, karenanya, memotret tingkat dominasi kerja mati terhadap keseluruhan proses produksi.

Rumusan ketiga adalah ‘tingkat laba’ (rate of profit) yang menunjukkan proporsi antara nilai-lebih dan keseluruhan kapital yang dilibatkan dalam proses produksi. Kalau tingkat laba ini kita notasikan dengan L, maka kita mendapat rumus berikut.

Dalam rumus ini kita menyaksikan bahwa apa yang dimaksud dengan laba, dari perspektif produksi, tidak lain adalah ΔU atau selisih antara U’ dan U dalam kumparan kapital di muka. ΔU atau laba ini tidak dilihat dari perspektif pertukaran (K – U – K), melainkan dari perspektif produksi (U – K {SP + TK} – U’). Tingkat laba, karenanya, mengekspresikan proporsi antara ΔU terhadap SP dan TK.

Berdasarkan rumusan-rumusan yang diderivasikan dari persamaan k + v + s = t, kita dapat membangun persamaan tentang tingkat laba (L) sebagai fungsi dari tingkat nilai-lebih (s’) dan komposisi organik kapital (o). Persamaan itu adalah:

L = s’ (1 – o)

Berdasarkan rumus ini kita dapat melihat bahwa, dengan mengandaikan tingkat nilai-lebih (s’) tetap, kenaikan komposisi organik kapital (o) meniscayakan turunnya tingkat laba (L).[21] Inilah yang dikenal sebagai ‘hukum tentang kejatuhan tendensial tingkat laba’ (falling rate of profit). Melalui rumusan di muka terlihat bahwa hukum tersebut bertumpu pada dua asumsi: 1) ada tendensi historis dalam kapitalisme yang mendorong kenaikan komposisi organik kapital (kenaikan kapital konstan di atas kapital variabel); 2) tingkat nilai-lebih diandaikan tetap (sebab bila ada kenaikan tingkat nilai-lebih hal ini dapat mengkompensasi kenaikan komposisi organik kapital sehingga membuat tingkat laba tidak jatuh). Melalui hukum ini ditunjukkan bahwa ada kontradiksi internal dalam kapitalisme yang tak terpecahkan oleh modus produksi itu.

Akan tetapi selain bertumpu pada asumsi aktual-historis di muka, hukum kejatuhan tendensial tingkat laba ini juga bertumpu secara mendasar pada asumsi yang sifatnya teoretis—sebuah asumsi yang tidak boleh berhenti sebagai asumsi melainkan mesti dibuktikan secara teoretis. Asumsi tersebut adalah Hukum Nilai atau pengertian bahwa nilai komoditas yang dikonstitusikan oleh jumlah tenaga-kerja merupakan pusat gravitasi dari harga-harga yang aktual. Dengan kata lain, Marx mesti membuktikan bahwa harga pada hakikatnya adalah nilai dan karenanya ikut ditentukan juga oleh jumlah tenaga-kerja. Pembuktian atas hakikat kontradiktif dari kapitalisme mensyaratkan pembuktian—dan bukan sekedar asumsi arbitrer—tentang keberlakuan aktual Hukum Nilai.

Transformasi Nilai ke Harga Produksi

Sesudah Kapital jilid I terbit, banyak komentator yang mengkritik Marx karena tidak mengawali paparannya, sebagaimana Ricardo dan ekonom-politik pada umumnya, dengan sebuah Bab tentang nilai. Tidak hanya itu, Bab tentang nilai bahkan sama sekali tidak ada di dalam risalah tersebut. Marx menanggapi ini dalam suratnya kepada Kugelmann tanggal 11 Juli 1868:

Bahkan jika tidak ada Bab tentang ‘nilai’ dalam buku saya, analisis tentang relasi riil yang saya berikan telah mengandung bukti dan demonstrasi atas relasi nilai yang nyata. […] Sains terletak dalam pembuktian bagaimana hukum nilai berlaku. Jadi jika kita ingin ‘menjelaskan’ pada awal mula semua fenomena yang nampak berlawanan dengan hukum itu, kita akan menghadirkan sains sebelum sains. Di sinilah letak kekeliruan Ricardo yang pada Bab pertamanya tentang nilai mengandaikan keterberian semua kategori yang masih harus dirumuskan bagi kita hanya untuk membuktikan kecocokannya dengan hukum nilai.[22]

Terlihat melalui surat tersebut bahwa bagi Marx, yang terpenting bukanlah mempostulatkan Hukum Nilai melainkan membuktikannya. Apabila kita mempostulatkan keberadaan Hukum Nilai, maka kita akan ‘menghadirkan sains sebelum sains’ karena penjelasan tentang nilai mensyaratkan penjelasan tentang aras material dari manifestasi nilai—yakni komoditas—dan tentang bagaimana bentuk kerja yang tertentu menghasilkan nilai. Hukum Nilai, karenanya, bukan titik berangkat analisis di mana semua kategori lain dideduksikan darinya melainkan merupakan hasil yang tak terelakkan dari formasi modus produksi yang tertentu, modus produksi kapitalis, dengan evolusi bentuk kerja yang tertentu, yakni kerja sebagai substansi abstrak-homogen. Penjelasan itulah yang mengisi Bab-Bab awal Kapital jilid I.

Namun pembuktian keberlakuan Hukum Nilai juga mensyaratkan pembuktian bahwa harga-harga produksi (prices of production) rata-rata yang ada di berbagai cabang industri yang ada dalam sebuah masyarakat, pada hakikatnya, identik dengan nilai. Artinya, Marx mesti membuktikan teori nilai-kerjanya dengan membuktikan bahwa nilai yang dihasilkan oleh sejumlah tenaga-kerja adalah sama dengan harganya. Harga-harga produksi rata-rata ini mensyaratkan terbentuknya ‘tingkat laba rata-rata’ (average rate of profit) yang mengemuka dari penyetaraan tingkat laba di berbagai industri akibat kompetisi. Semua ini harus bisa dibuktikan berdasarkan determinasi nilai oleh waktu kerja sosial. Marx menulis dalam Theories of Surplus Value:

Laba rata-rata, dan karenanya juga harga-harga produksi, akan jadi sepenuhnya imajiner dan tanpa dasar jika kita tidak menggunakan nilai yang dideterminasi sebagai fondasi. Penyetaraan nilai-lebih di berbagai ranah produksi tidak akan menghasilkan perbedaan dalam besaran absolut dari total nilai-lebih melainkan hanya mengubah distribusinya di antara berbagai ranah produksi. Determinasi atas nilai lebih itu sendiri, kendati begitu, hanya muncul dari determinasi nilai oleh waktu kerja. Tanpa ini, laba rata-rata akan menjadi ketiadaan rata-rata, menjadi hasil imajinasi belaka.[23]

Jika laba rata-rata yang melandasi harga produksi tidak didasari oleh determinasi waktu kerja, maka laba rata-rata itu tidak dapat kita ukur secara pasti. Laba rata-rata akan menjadi sepenuhnya arbitrer tergantung fluktasi pasar. Tugas sains adalah mencari landasan fiks-objektif dari fluktuasi aksidental dunia penampakan ini. Dengan kata lain, determinasi waktu kerja mesti dibuktikan sungguh berlaku sampai pada level harga produksi. Inilah yang Marx jalankan dalam Kapital jilid III Bab 9 dengan transformasi nilai ke harga produksi.

Kita sudah mendapatkan rumusan nilai total komoditas, yakni t = k + v + s. Berdasarkan rumus ini kita dapat menentukan ‘harga ongkos’ (cost price) dari sebuah komoditas. Jika ongkos produksi dinotasikan dengan ‘h’, maka rumusnya adalah

h = k + v

Rumusan di muka[24] memotret ongkos produksi minimal yang diperlukan bagi adanya produksi komoditas tertentu dengan mengesampingkan nilai lebih. Melalui rumus ini, nilai total komoditas dapat dirumuskan sebagai t = h + s. Berbekal pemahaman ini kita akan mulai mengikuti skenario transformasi yang ditawarkan Marx.

Dalam rancangan transformasinya, Marx membuat tiga asumsi penting: pertama, setiap cabang produksi komoditas bersifat independen (tidak ada komoditas yang disyaratkan di dalam produksi komoditas yang lain), kedua, terbentuknya tingkat laba rata-rata dalam setiap cabang produksi sebagai akibat dari kompetisi dan, ketiga, hanya sebagian dari kapital konstan yang dikonsumsi secara produktif dalam proses produksi (sisanya tetap utuh). Marx kemudian menggambar tabel berikut:[25]

Basis penghitungan kapital konstan di dalam tabel di muka adalah kapital konstan yang terpakai dalam proses produksi (kolom kedua). Jadi, misalnya, harga ongkos untuk cabang produksi I adalah 70 karena itu merupakan penjumlahan dari kapital konstan yang terpakai di cabang produksi I (50) dan kapital variabelnya (20). Demikian pula dengan nilai (t = h + s). Harga produksi (dinotasikan sebagai ‘hp’) diperoleh dari penjumlahan harga produksi (h) dan laba (L). Skenario transformasi Marx sejatinya memuat watak ganda. Apa yang mau ditransformasi awalnya adalah perwujudan persamaan berikut:

Artinya, membuktikan identitas antara nilai dan harga (t = hp) berarti membuktikan identitas antara nilai-lebih (s) dan laba (L). Identitas ini terjadi pada level global, mencakup keseluruhan cabang produksi yang ada. Dengan demikian, identitas ini mesti ditunjukkan dalam level agregat total. Kita mesti menunjukkan bahwa total nilai-lebih dari cabang industri I sampai V sama dengan total laba dari totalitas cabang industri itu. Bagaimana laba diturunkan dari nilai-lebih? Caranya adalah dengan—berdasarkan asumsi kompetisi yang menyetarakan tingkat laba—membagi agregat nilai-lebih, yakni 110, ke dalam lima cabang produksi sehingga masing-masing memperoleh laba 22. Setelah nilai-lebih berhasil ditransformasi menjadi laba, kemudian kita mesti menentukan harga produksi. Karena harga produksi adalah penjumlahan dari harga ongkos dan laba (hp = h + L), maka kita memperoleh hasilnya dalam tabel di muka. Dapat kita lihat bahwa total harga produksi identik dengan total nilai produk. Sehingga kendati deviasi harga terhadap nilai tetap ada dalam masing-masing cabang produksi, secara global deviasi itu = 0. Dengan demikian, nilai sepenuhnya ditransformasi menjadi harga produksi. Harga aktual yang bergravitasi pada harga produksi mengalami ‘determinasi pada pokok terakhir’ oleh nilai.

Keberhasilan transformasi yang dibuat Marx ini masih dikondisikan oleh batasan asumsi yang ia gunakan. Asumsi yang paling problematis secara aktual adalah asumsi tentang independensi dari masing-masing cabang produksi. Dalam kenyataan sehari-hari, apalagi dalam era industri maju seperti sekarang ini, jarang sekali ada komoditas yang agar bisa diproduksi tidak mensyaratkan input komoditas dari cabang produksi lain. Industri kecap, misalnya, mensyaratkan input agrikultural kacang kedelai. Marx sendiri tidak mencoba membuktikan transformasinya dalam kondisi interdependensi cabang produksi seperti itu. Ia hanya menyatakan bahwa apa yang ia buktikan di sini juga pada prinsipnya berlaku untuk kasus di mana terdapat interdependensi produksi.[26] Inilah yang kemudian menjadi sumber permasalahan. Banyak kritikus yang menunjukkan bahwa transformasi nilai ke harga tidak bisa dibuktikan dalam kasus yang diperluas (dalam kondisi interdependensi cabang-cabang produksi). Dalam kasus yang diperluas itu, input juga merupakan hasil output sebelumnya. Problemnya, output pada periode sebelumnya merupakan hasil transformasi nilai ke harga. Jadi input pada periode sekarang yang berwujud nilai mestilah merupakan hasil dari transformasi harga ke nilai yang belum ditunjukkan Marx. Jadi kita mesti mentransformasi harga output terdahulu ke nilai input sekarang dan juga mentransformasi nilai input sekarang ke harga output sekarang. Dengan ini dimulailah perdebatan panjang berkenaan dengan ‘problem transformasi’ (Transformation Problem).

Catatan:

[1] Lih. Diane Elson, Introduction dalam Diane Elson (ed.), Value: The Representation of Labour in Capitalism (London: CSE Books), 1979, hlm. i.

[2] Karl Marx, Wages, Price and Profit dalam Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works Volume I (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1962, hlm. 422.

[3] Ibid., hlm. 423.

[4] Ibid., hlm. 424.

[5] Seperti dikutip dalam Maurice Dobb, Theories of Value and Distribution since Adam Smith (Cambridge: Cambridge University Press), 1973, hlm. 147.

[6] Seperti dikutip dalam Ronald L. Meek, Studies in the Labor Theory of Value (New York: Monthly Review Press), 1973, hlm. 248.

[7] Lih. ibid., hlm. 129.

[8] Karl Marx, Poverty of Philosophy (New York: International Publishers), 1971, hlm. 78.

[9] Karl Marx, Grundrisse diterjemahkan oleh Martin Nicolaus (London: Allen Lane), 1973, hlm. 98.

[10] Ibid., hlm. 94.

[11] “The conclusion we reach is not that production, distribution, exchange and consumption are identical, but that they all form the members of a totality, distinctions within a unity. Production predominates not only over itself, in the antithetical definition of production, but over the other moments as well. The process always returns to production to begin anew.” Ibid., hlm. 99.

[12] Bagian ini pernah dipresentasikan pada kesempatan lain.

[13] “1 quarter of corn = x cwt of iron. What does this equation signify? It signifies that a common element of identical magnitude exists in two different things, in 1 quarter of corn and similarly in x cwt of iron. Both are therefore equal to a third thing, which in itself is neither the one nor the other. Each of them, so far as it is exchange-value, must therefore be reducible to this third thing.” Karl Marx, Capital Volume I diterjemahkan oleh Ben Fowkes (London: Penguin), 1979, hlm.127.

[14] Ibid., hlm. 139.

[15] “[A] commodity A […] expressing its value in the use-value of a commodity B“. Ibid., hlm. 147.

[16] Paparan ini mengikuti Paul Sweezy, The Theory of Capitalist Development (New York: Modern Readers), 1968, hlm. 60-61.

[17] Karl Marx, Capital I, hlm. 270.

[18] Lih. ibid., hlm. 300-301.

[19] Bagian ini pernah dipresentasikan pada kesempatan lain.

[20] Lih. Paul Sweezy, op.cit., hlm. 63.

[21] Ibid, hlm. 96.

[22] Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works Volume II (Moscow: Foreign Languages Publishing House), 1958, hlm. 461-462.

[23] Seperti dikutip dalam Ronald L. Meek, op.cit., hlm. 189.

[24] Lih. Karl Marx, Capital Volume III diterjemahkan oleh David Fernbach (London: Penguin Books), 1981, hlm. 118. Marx memberikan bentuk rumusan yang berbeda, yakni h = t – s. Namun karena t = c + v + s, maka t – s = k + v dan artinya h = k + v.

[25] Ibid., hlm. 256. Tabel yang saya buat mengacu pada tabel Ronald Meek yang memuat keterangan lebih lengkap. Lih. Ronald L. Meek, op.cit., hlm. 190.

[26] Lih. Ronald L. Meek, ibid., hlm. 191.

DAFTAR PUSTAKA

Dobb, Maurice. 1973. Theories of Value and Distribution since Adam Smith. Cambridge: Cambridge University Press.

Diane Elson ed. Value: The Representation of Labour in Capitalism. London: CSE Books.

Marx, Karl. 1958. Letter to Kugelman, 11 July 1868 dalam Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works Volume II. Moscow: Foreign Languages Publishing House.

________. 1962. Wages, Price and Profit dalam Karl Marx dan Frederick Engels, Selected Works Volume I. Moscow: Foreign Languages Publishing House.

________. 1971. The Poverty of Philosophy. New York: International Publishers.

________. 1973. Grundrisse diterjemahkan oleh Martin Nicolaus. London: Allen Lane.

________. 1979. Capital Volume I diterjemahkan oleh Ben Fowkes. London: Penguin.

________. 1981. Capital Volume III diterjemahkan oleh David Fernbach. London: Penguin.

Meek, Ronald L. 1973. Studies in the Labor Theory of Value. New York: Monthly Review Press.

Sweezy, Paul. 1968. The Theory of Capitalist Development. New York: Modern Readers.

 | Ditampilkan 22/02/2012
  • Anonymous

    Aku ingin menambahkan beberapa hal. 

    1. Nilai bukan harga. 

    Seperti sudah diterangkan di atas, harga adalah ekspresi dari nilai. Hematku, semua benda hasil produksi manusia memiliki nilai, orang akan menggunakan nilai ini sebagai dasar untuk proses tawar-menawar dalam penentuan nilai tukar (=harga). 

    Selisih antara nilai hakiki dan nilai tukar terjadi karena perimbangan kuasa antara penjual dan pembeli. Perimbangan ini dipengaruhi oleh antara lain: jumlah permintaan dan ketersediaan penawaran, informasi yang tersedia mengenai proses produksi dan mengenai pasar (contoh: kalau kita “tahu harga” kita akan lebih pede menawar), dan kondisi sosial-politik (inilah peran “pencitraan” di mana gengsi bisa meningkatkan harga)

    Namun sebagaimana ditunjukkan oleh Marx, juga para ekonom pasar sebetulnya, secara statistik rata-rata nilai tukar ini akan menghasilkan “harga kesetimbangan” (equilibrium price). Hematku, harga kesetimbangan inilah yang paling dekat besarannya dengan “nilai hakiki”.

    2. Semua nilai hakiki diukur berdasarkan jam kerja

    Ini hal yang paling aku tidak pahami dari teori Marx tentang nilai kerja. Namun, secara spekulatif, aku menganggap bahwa Marx menggunakan “waktu” adalah satu-satunya hal di atas dunia ini yang dimiliki sama rata sama rasa oleh semua orang tanpa kecuali. Tiap orang punya 24 jam untuk satu hari, tidak peduli dia raja atau pengemis. Karena itulah “waktu” menjadi tolok ukur paling objektif untuk memperhitungkan “nilai”. 

    Tentu saja “waktu kerja sosial” ini merupakan kategori yang menutupi kenyataan bahwa orang menggunakan waktu secara berbeda-beda. Ada soal kerajinan, ketekunan, keuletan, ketrampilan. Tapi, sekali lagi, Marx bekerja berdasarkan statistik, jadi yang kita lihat adalah nilai rata2nya. 

    3. Dalam teori Marx tidak ada “faktor produksi”

    Ini satu hal yang membuat aku sendiri kebingungan pada awalnya, karena teori ekonomi yang dipelajari di sekolahan kapitalis mengajarkan pembedaan antara “modal” dan “faktor produksi”. Dalam teori Marx, semuanya adalah kapital. Marx hanya membedakan “kapital konstan” dan “kapital variabel”. Semua “modal” dan “faktor produksi” (kecuali tenaga kerja) adalah “Kapital Konstan” sedangkan tenaga kerja menempati posisi istimewa sebagai “kapital variabel”. 

    4. Kapitalisme juga memiliki tahap “rente”

    Kapitalisme tidak selamanya bekerja pada kondisi “ideal” di mana secara objektif ia hanya melakukan penghisapan melalui nilai lebih. Dalam banyak kasus, terutama pada masa-masa krisis ekonomi, kapitalisme memasang jaring pengaman sosialnya: penjarahan primitif. Penjelasan mengenai ekonomi-politik Indonesia kontemporer justru harus bersandar para mekanisme akumulasi primitif ini, pada hematku.

    5. Masa depan teori Marx ini

    Sebagaimana gamblang dari sejarah penulisan Das Kapital, Marx mendasarkan analisisnya pada statistik yang dihasilkan ketika industri kapitalis baru beranjak dari sistem gilda. Dalam jaman Marx, industri baru saja mencapai tahap independensinya. Jika mengambil paralel pada dunia fisika, teori Marx sejajar dengan teori Newton tentang gerak: sebuah teori universal yang dapat menjelaskan gejala-gejala dunia pada tingkat yang relatif bergerak lambat dan sistem yang sederhana. Namun, kita masih membutuhkan satu teori lain yang merupakan padanan dari “teori Einstein” dalam ilmu sosial: sebuah teori yang mengangkat teori Marx ini ke tingkat lebih tinggi.

    Persoalan transformasi yang disebutkan di akhir pembahasan di atas sesungguhnya bukan persoalan Marx tepat atau keliru, melainkan persoalan theoretical breakdown. Dalam 99% kasus dalam dunia modern, teori Marx masih sangat berguna. Hanya saja, makin banyak kasus yang sudah sangat sulit dijelaskan oleh teori Marx karena kerumitan hubungan sosialnya. Barangkali, jika ada yang berhasil menginkorporasi chaos mathematics dalam teori Marx, kita akan mendapatkan teori baru yang berlaku lebih umum, terutama menjelaskan tentang sistem dunia kontemporer, yang jauh lebih kompleks dibanding pada jaman Marx. 

    • http://www.facebook.com/people/Endang-Saprudin/100000081121027 Endang Saprudin

       Terima kasih. Dimana saya bisa dapat Shangrila Bung N’daru .. ( Ozy…karawang )

  • Anonymous

    Aku ingin menambahkan beberapa hal. 

    1. Nilai bukan harga. 

    Seperti sudah diterangkan di atas, harga adalah ekspresi dari nilai. Hematku, semua benda hasil produksi manusia memiliki nilai, orang akan menggunakan nilai ini sebagai dasar untuk proses tawar-menawar dalam penentuan nilai tukar (=harga). 

    Selisih antara nilai hakiki dan nilai tukar terjadi karena perimbangan kuasa antara penjual dan pembeli. Perimbangan ini dipengaruhi oleh antara lain: jumlah permintaan dan ketersediaan penawaran, informasi yang tersedia mengenai proses produksi dan mengenai pasar (contoh: kalau kita “tahu harga” kita akan lebih pede menawar), dan kondisi sosial-politik (inilah peran “pencitraan” di mana gengsi bisa meningkatkan harga)

    Namun sebagaimana ditunjukkan oleh Marx, juga para ekonom pasar sebetulnya, secara statistik rata-rata nilai tukar ini akan menghasilkan “harga kesetimbangan” (equilibrium price). Hematku, harga kesetimbangan inilah yang paling dekat besarannya dengan “nilai hakiki”.

    2. Semua nilai hakiki diukur berdasarkan jam kerja

    Ini hal yang paling aku tidak pahami dari teori Marx tentang nilai kerja. Namun, secara spekulatif, aku menganggap bahwa Marx menggunakan “waktu” adalah satu-satunya hal di atas dunia ini yang dimiliki sama rata sama rasa oleh semua orang tanpa kecuali. Tiap orang punya 24 jam untuk satu hari, tidak peduli dia raja atau pengemis. Karena itulah “waktu” menjadi tolok ukur paling objektif untuk memperhitungkan “nilai”. 

    Tentu saja “waktu kerja sosial” ini merupakan kategori yang menutupi kenyataan bahwa orang menggunakan waktu secara berbeda-beda. Ada soal kerajinan, ketekunan, keuletan, ketrampilan. Tapi, sekali lagi, Marx bekerja berdasarkan statistik, jadi yang kita lihat adalah nilai rata2nya. 

    3. Dalam teori Marx tidak ada “faktor produksi”

    Ini satu hal yang membuat aku sendiri kebingungan pada awalnya, karena teori ekonomi yang dipelajari di sekolahan kapitalis mengajarkan pembedaan antara “modal” dan “faktor produksi”. Dalam teori Marx, semuanya adalah kapital. Marx hanya membedakan “kapital konstan” dan “kapital variabel”. Semua “modal” dan “faktor produksi” (kecuali tenaga kerja) adalah “Kapital Konstan” sedangkan tenaga kerja menempati posisi istimewa sebagai “kapital variabel”. 

    4. Kapitalisme juga memiliki tahap “rente”

    Kapitalisme tidak selamanya bekerja pada kondisi “ideal” di mana secara objektif ia hanya melakukan penghisapan melalui nilai lebih. Dalam banyak kasus, terutama pada masa-masa krisis ekonomi, kapitalisme memasang jaring pengaman sosialnya: penjarahan primitif. Penjelasan mengenai ekonomi-politik Indonesia kontemporer justru harus bersandar para mekanisme akumulasi primitif ini, pada hematku.

    5. Masa depan teori Marx ini

    Sebagaimana gamblang dari sejarah penulisan Das Kapital, Marx mendasarkan analisisnya pada statistik yang dihasilkan ketika industri kapitalis baru beranjak dari sistem gilda. Dalam jaman Marx, industri baru saja mencapai tahap independensinya. Jika mengambil paralel pada dunia fisika, teori Marx sejajar dengan teori Newton tentang gerak: sebuah teori universal yang dapat menjelaskan gejala-gejala dunia pada tingkat yang relatif bergerak lambat dan sistem yang sederhana. Namun, kita masih membutuhkan satu teori lain yang merupakan padanan dari “teori Einstein” dalam ilmu sosial: sebuah teori yang mengangkat teori Marx ini ke tingkat lebih tinggi.

    Persoalan transformasi yang disebutkan di akhir pembahasan di atas sesungguhnya bukan persoalan Marx tepat atau keliru, melainkan persoalan theoretical breakdown. Dalam 99% kasus dalam dunia modern, teori Marx masih sangat berguna. Hanya saja, makin banyak kasus yang sudah sangat sulit dijelaskan oleh teori Marx karena kerumitan hubungan sosialnya. Barangkali, jika ada yang berhasil menginkorporasi chaos mathematics dalam teori Marx, kita akan mendapatkan teori baru yang berlaku lebih umum, terutama menjelaskan tentang sistem dunia kontemporer, yang jauh lebih kompleks dibanding pada jaman Marx. 

  • Rowland Pasaribu

    “Suatu interpretasi yang mencerahkan, terima kasih bung Martin sudah membaginya. “Bagi yang belum dan ingin mengetahui karya2 Marx-Engel edisi Indonesia lainnya silahkan ke sini… http://www.scribd.com/my_document_collections/3480514 Sudah bisa di copas dan di print…..”

  • Pingback: Teori Nilai-Kerja Karl Marx | dedensofyan