Kerja Perempuan dari Perspektif Teori Nilai Kerja: Suatu Kajian Teoritis

buruh perempuan
@aips

Dani Radja

The labour of women and children was, therefore, the first thing sought by capitalist who used machinary – Karl Marx (1867)

Hubungan kelas proletariat dan perempuan sangat erat, setidak-setidaknya demikianlah yang dinyatakan oleh Karl Marx dalam karyanya Kapital, Jilid I. Marx lah yang mengatakan bahwa ketika revolusi industri pertama kali dilansir di Inggris pada abad ke-19, perempuan (dan anak) adalah target pertama kapitalis untuk dijadikan operator-operator mesin. Dan sampai sekarang hal ini masih berlangsung!

Tulisan ini bermaksud untuk meletakan fondasi teoritis kerja perempuan berdasarkan teori nilai kerja sebagaimana yang diuraikan Marx dalam Kapital, Jilid I. Feminisasi proletariat sebagai proses peningkatkan rasio perempuan dalam kelas pekerja merupakan  suatu tuntutan logis, keniscayaan, yang inheren dalam kapitalisme.

Produksi Nilai Lebih Relatif Sebagai Strategi Eksploitasi Kapital

Kapitalisme adalah sistem ekonomi politik perampasan nilai lebih. Nilai lebih adalah kerja buruh yang diberikan gratis oleh buruh kepada kapitalis. Kapital, Jilid I menjelaskan dua cara perampasan nilai lebih yakni penciptaan nilai lebih absolut dan penciptaan nilai lebih relatif.

Dengan penciptaan nilai lebih absolut, kapitalis mempekerjakan buruh lebih panjang daripada waktu yang diperlukan untuk menghasilkan barang-barang senilai dengan kebutuhan hidupnya (buruh). Akan tetapi cara ini tidak dapat bertahan terus menerus. Sebanding dengan peningkatan kesadaran dan perlawanan buruh, waktu kerja sehari yang diberlakukan suatu bangsa akan berkurang dan kemudian bertahan hingga tingkat tertentu.

Bagaimana kapitalis meningkatkan porsi nilai lebih apabila waktu kerja tidak dapat diperpanjang? Dengan memperpendek waktu kerja yang dibutuhkan buruh untuk memproduksi barang-barang kebutuhan hidupnya dan dengan demikian memperpanjang porsi waktu untuk penciptaan nilai lebih. Strategi ini hanya bisa digunakan apabila kapitalis telah berhasil melakukan peningkatan produktivitas entah itu melalui inovasi manajemen produksi atau penggunaan teknologi baru.

Melalui peningkatan produktivitas waktu kerja yang dipergunakan untuk memproduksi sejumlah barang menjadi berkurang. Dapat juga dikatakan bahwa dengan waktu kerja yang sama, jumlah barang yang dihasilkan menjadi meningkat. Jadi melalui penciptaan nilai lebih relatif dengan waktu kerja yang tetap porsi nilai lebih dapat diperbesar. Peningkatan produktivitas menyebabkan peningkatan kuantitas komoditas sehingga hal tersebut umumnya bergandengan dengan melimpahnya barang-barang konsumsi dan murahnya harga barang-barang tersebut.

Produksi nilai lebih relatif merupakan pintu masuk menuju kajian kerja perempuan dalam industri modern. Pembaca yang teliti dapat memperhatikan bahwa Marx menempatkan bahasan mengenai kerja perempuan, pengunaan mesin dan industri modern dalam bagian yang sama yakni pada bagian keempat mengenai produksi nilai lebih relatif [lihat Karl Marx, Kapital, Jilid I, Hasta Mitra, 2004, Bagian Keempat, Bab XII – XV, Hal. 322 – 521]. Bagian keempat ini merupakan bagian terpanjang dalam Kapital, Jilid I dan merupakan jantung teori nilai kerja.

Sampai di sini pembaca musti waspada, bahwa meski produksi nilai lebih relatif merupakan fondasi teoritis kerja perempuan dalam industri modern bukan berarti kita meninggalkan sepenuhnya produksi nilai lebih absolut. Pada negeri-negeri yang kurang beradab, di mana gerakan buruhnya masih lemah dan masih terjadi akumulasi primitif, produksi nilai lebih relatif eksis berdampingan dengan produksi nilai lebih absolut. Bahkan tidak mustahil yang belakangan lebih dominan.

Pengunaan Mesin-Mesin dan Feminisasi Proletariat

Seperti telah dikemukakan di atas bahwa  produksi nilai lebih relatif dapat dilakukan dengan cara inovasi manajemen produksi atau penggunaan teknologi. Dalam Kapital, Jilid I, cara yang pertama dibahas dalam Bab XIII tentang kooperasi dan Bab XIV tentang pembagian kerja dan manufaktur, sedangkan cara yang kedua dibahas dalam Bab XV tentang mesin-mesin dan industri berskala besar. Kita tidak membahas tentang kooperasi dan manufaktur, tetapi akan menyorot penggunaan mesin sebagai pembuka peluang masuknya perempuan dalam industri modern.

Hakikat mesin menurut Marx ialah:

“Seperti setiap perkakas lain untuk meningkatkan produktivitas kerja, mesin dimaksudkan untuk membikin murah komoditi dan, dengan memperpendek bagian hari kerja di mana pekerja bekerja untuk dirinya sendiri, memperpanjang bagian lainnya, yaitu bagian yang diberikan cuma-cuma. Mesin merupakan alat untuk memproduksi nilai lebih.” [Ibid., hal. 389]

Penggunaan mesin-mesin dalam industri skala besar bertambah hingga berukuran raksasa. Kini kooperasi bukan berlangsung antar pekerja melainkan antar mesin-mesin yang berbeda jenis. Marx menyebutnya sebagai “sistem permesinan yang kompleks.” Melalui sistem ini pembagian kerja dalam sistem manufaktur tidak berlaku lagi. Mesin adalah faktor utama produksi, kerja manusia hanya merupakan bagian dari produksi. Segala keterampilan khusus pada corak produksi sebelumnya menghilang digantikan dengan kerja umum mengoperasikan mesin.

Konsekuensi dari pengunaan mesin sebagai alasan rasional kemungkinan masuknya perempuan sebagai operatornya dinyatakan oleh Marx sebagai berikut:

“Sejauh mesin tidak memerlukan tenaga otot, ia menjadi sebuah alat untuk mempekerjakan para pekerja dengan tenaga otot yang ringan, atau yang perkembangan fisiknya belum lengkap, tetapi anggota tubuhnya semakin lebih lentur. Oleh karena itu kerja wanita dan anak-anak merupakan akibat pertama dari penggunaan secara kapitalis! Pengganti perkasa untuk kerja dan kaum pekerja itu langsung diubah menjadi suatu cara untuk meningkatkan jumlah pekerja-upahan dengan mendaftarkan, di bawah kekuasaan langsung kapital, setiap anggota keluarga pekerja, tanpa membedakan usia maupun jenis kelamin. Kerja paksa untuk si kapitalis merampas tempat, tidak hanya bermainnya anak-anak, melainkan kerja bebas di rumah di dalam batas-batas kebiasaan untuk keperluan keluarga itu sendiri.” [Ibid., hal. 416 – 417]

Dengan demikian mesin mereduksi tenaga otot yang dikeluarkan dalam bekerja, sehingga produksi tidak lagi dibatasi hanya untuk laki-laki dewasa, melainkan terbuka untuk perempuan atau anak atau sering kali kedua kategori menyatu menjadi anak perempuan. Meski bukan tujuan makalah singkat ini memaparkan bukti empiris, tetapi penulis berkeyakinan bahwa tidak sulit untuk menampilkan bukti statistik peningkatan porsi perempuan yang terserap dalam lapangan pekerjaan industri atau bahkan peningkatan perempuan dalam angkatan tenaga kerja secara global.

Penulis menyebut proses pembesaran rasio perempuan dalam kelas proletariat sebagai proses feminisasi proletariat. Proses tersebut, penulis berargumen, bukanlah suatu produk ekstern proses produksi kapitalis, melainkan muncul dari logika keniscayaan inheren kapitalisme sehingga peningkatan tersebut bukanlah dipandang sebagai peningkatan kesetaraan gender yang terkait dengan peningkatan kesetaraan akses terhadap pendidikan atau partisipasi politik perempuan.

Perlu digarisbawahi bahwa motif utama feminisasi proletar ialah tuntutan kerja umum di mana kerja otot yang berat digantikan oleh kerja sekedar operator mesin. Pekerjaan semacam itu tidak berkaitan dengan status pendidikan operatornya. Kita bisa mencocokan kriteria ini dengan kenyataan bahwa seringkali industri mempekerjakan perempuan muda dengan latar pendidikan yang rendah (maksimal SMP). Hasilnya ialah suatu angkatan kerja yang bodoh dan yang mudah ditindas.

Selanjutnya sisa bagian keempat diisi oleh Marx dengan uraian dokumentasi penyalahgunaan pekerja perempuan dan anak oleh kapitalis dengan memanfaatkan laporan-laporan resmi. Suatu dokumentasi yang hidup yang dituliskan Marx jauh sebelum para aktivis HAM kontemporer membuat laporan pelanggaran hak kaum perempuan dan anak, di mana setiap goresan tintanya membuat kita menarik nafas panjang.

Kesimpulan

Produksi kapitalis menciptakan nilai lebih secara relatif dengan meningkatkan produktivitas. Salah satu bentuk peningkatan produktivitas tersebut ialah penggunaan sistem kompleks mesin raksasa dalam industri skala besar. Corak produksi semacam ini akan mengeser kerja oleh kaum pekerja laki-laki dengan pekerja perempuan. Produksi nilai lebih relatif merupakan basis teoritis marxisme mengenai kerja perempuan dalam industri modern.

Kapital bukan saja merupakan karya Marx yang berbicara tentang teori nilai kerja, melainkan juga merupakan traktat penting bagi gerakan perempuan. Ia menyatakan bahwa mustahil memisahkan gerakan perempuan dengan kelas pekerja.

11 Maret 2012, ditulis dalam rangka Hari Perempuan Internasional

Referensi

Karl Marx, Kapital, Jilid I, Hasta Mitra, 2004.

2 COMMENTS

  1. Trims linknya, dan trims juga sudah membuat gw banyak tidak puas dan terganggu dengan kesimpulan2 dalam tulisan ini. Penulis sdh jelaskan bhw tulisan ini ‘terbatas pada fondasi kerja perempuan berdasarkan teori nilai kerja dalam kapital jilid 1.’ Aku sendiri bukan pembaca kapital yg baik (tentu tidak bangga atas ini), namun beberapa gangguan yg membuat sesak kepala gw dan mudah2an akan menginspirasi tulisan baru, adl (1) jiwa dari tulisan ini: menempatkan kerja perempuan sebatas pada hubungan produksi kerja-upahan formal di pabrik. Setahuku kapital lebih akbar daripada kerja-upahan di pabrik. Kapital adalah produk historis, hasil dari relasi produksi SOSIAL, makna sosial di sini tidak terbatas kerja-upahan di pabrik dan tidak sebatas di masa kapitalisme. Perempuan sudah menyumbang kerja (tanpa diupah) sejak dari awal kemanusiaan: (maaf) produksi bayi dan memeliharanya, bangun lebih pagi, masak dan siapkan sarapan, mandiin anak, masak buat suami-anak-kakek-nenek, bersihkan rumah, merawat yg sakit–dari anak, suami, sampai org tua, dst, yg kesemua kerja tersebut memperbesar surplus untuk akumulasi kapital. Mau disebut nilai apa ini? Masa nilai lebih relatif? 

    Selain dari jiwa tulisan, penggunaan kata “masyarakat tidak beradab” juga sangat menganggu. tapi, sudahlah, bukan disitu prioritas gangguan saat ini yang mau direspon, melainkan beberapa detail kesimpulan yang antara lain (1) feminisasi proletar akibat peningkatan produktivitas kapital melalui peningkatan teknologi, seperti dalam kalimat: “Salah satu bentuk peningkatan produktivitas tersebut ialah penggunaan sistem kompleks mesin raksasa dalam industri skala besar. Corak produksi semacam ini akan mengeser kerja oleh kaum pekerja laki-laki dengan pekerja perempuan.”

    Bagaimana? Secara umum perempuan mulai masuk ke “pasar kerja upahan formal” di masa awal kapitalisme karena membutuhkan lebih banyak akumulasi dengan peningkatan produktivitas “pekerja bebas”, seperti kata Marx. Butuh data untuk memperkuat penggunaan tenaga kerja perempuan krn ‘tidak butuh otot/cuma tingggal mencet mesin’ sebagai pengganti pekerja laki2, di pabrik. 

    Data yg gampang dicari saat ini adl feminisasi kemiskinan, bukan feminisasi tenaga kerja upahan. Data yg aku punya, misalnya, tenaga kerja perempuan dalam hubungan kerja formal upahan di Indonesia 2010 adalah 38% saja dari total tenaga kerja upahan–masih minoritas. Justru yg banyak jadi diskursus adl perempuan yg semakin banyak terlempar dari kerja upahan karena peningkatan teknologi–seperti kerja tukang ketik.

    Apakah ada data bahwa, misalnya, operator mesin paling banyak perempuan di masa awal kapitalisme (seperti kesimpulan Marx)–bila harus dibedakan dengan kapitalisme saat ini dikarenakan hubungan kapital-tenaga kerja juga banyak perubahan signifikan? BUkankah perempuan malah ditempatkan pada kerja massal (padat karya) minim teknologi (garmen-tekstil) karena bisa diperas habis2an serta rendah sumber daya manusianya? BUkankah sampai sekarang kapitalisme–yg sudah maju produktivitas dan teknologinya itu–masih menggunakan tenaga kerja anak untuk potong (gigit) kabel atau pasang kancing atau mute bagi perempuan2 ibu rumah tangga secara manual?

    (2) Karena “Produksi nilai lebih relatif merupakan basis teoritis marxisme mengenai kerja perempuan dalam industri modern” maka “mustahil memisahkan gerakan perempuan dengan kelas pekerja.” Hmmm… Basis teoritis Marxisme mengenai kerja perempuan rasa2nya sudah berkembang melampaui tulisan ini, khususnya menyangkut apa itu kerja perempuan (juga apa itu kelas pekerja); mengapa Marx tidak mengkategorikan kerja reproduksi sebagai “kerja produktif”?; apa hubungan kapital dengan kerja perempuan?; mengapa dan dalam wujud apa kapital mempertahankan relasi sosial patriarki untuk kelangsungan akumulasi surplusnya?; bahwa relasi sosial (produksi) dalam produksi kapital dan reproduksi keseluruhan formasi sosial kapitalisme tidak sekadar bangunan bawah (infrastruktur) yang buta jender, buta kebangsaan, buta teritori, buta etnik, buta agama, buta ras, buta identitas seksual – bahwa relasi sosial produksi tersebut memanfaatkan semua problem2 antagonisme yg sudah ada di dalam masyarakat berkelas pra kapitalisme untuk semakin luas dan sistemtis memecah belah kekuatan para pekerja (para penyumbang nilai lebih yang tidak saja dalam hubungan formal kerja-upahan), dan dalam upaya pemecahbelahan kekuatan ini, posisi jender perempuan adalah penanggung derita yang paling hebat! 

    Baiklah, makasih sudah kasi beban pikiran yg penting untuk mengurai hubungan2 ini semua, demi membela perspektif feminisme sosialis, tentu saja.

  2. Feminisasi kerja sosial justru akan lebih maksimal dalam masyarakat sosialis (yang benar) karena perjuangan sosialisme: menempatkan tenaga produktif pada/sesuai dengan hukum obyektifnya–tanpa bias jender, tanpa bias SARA, tanpa bias patriarki, dllnya.

    Pembebasan kaum perempuan untuk kesetaraan jender (dan SARA) adalah pembebasannya sebagai tenaga produktif, dan itu tidak akan tercapai sepenuhnya bila hasil kebebasan tersebut tidak diarahkan untuk membebaskan tenaga produktif lainnya yang harus bebas dari pemilikan pribadi dan bias jender, yakni: alat-alat/sarana-sarana produksi. Itulah sebabnya, dalam sosialisme yang benar, pembebasan kaum perempuan menuju kesetaraan akan lebih mudah dan penuh. Dengan demikian, program pembebasan kaum perempuan adalah: pembebasan kaum perempuan dari ideologi dan perwujudan patriarki; pembebasan kaum perempuan dari diskriminasi lainnya–seperti SARA; pembebasan alat-alat/sarana-sarana produksi dari pemilikan produksi; pembebasan teknologi alat-alat/sarana-sarana produksi dari bias jender. Lalu, apa konsekwensi politik (strategi-taktik) program-program tersebut secara kongkrit dalam realitas politik lingkungan kita, lingkungan Indonesia, dan lingkungan internasional agar kerja politiknya tidak semrawut dan memiliki basis kekuatan politik massa yang besar?

    Bukan saja untuk pembebasan sebagai tenaga produktif (pembebasan jender dan SARA) tapi juga, bila sudah terbebas secara jender (dan SARA), maka kaum perempuan akan lebih mudah menyumbangkan dirinya bagi pembebasan alat-alat/sarana-saran produksi (dari pemilikian pribadi), revolusi; Ingat: kaum perempuan itu menghidangkan revolusi, bukan menghidangkan kopi.
    Pertanyaannya sederhana: dalam rangka menekan constant capital dan variable capital, menambah value added, dan semakin menumpuk surplus value, mengapa kapitalis menggunakan kaum perempuan–termasuk mengapa pekerjaan domestik (kaum perempuan) tidak dimasukkan dalam kerja sosial yang terintegrasi dalam nilai produksi pabrik/perusahaan atau perhitungan APBN negara?; Dan apa yang menyebabkan sistim kapitalisme kontradiktif–terhadap hukum (akumumulasi kapital) nya sendiri sehingga bisa tidak memaksimalkan kerja sosial kaum perempuan? 

LEAVE A REPLY